Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 : Skandal yang tak bisa ditutupi
Alena beserta Putri tiba di sekolah TK Nusa Indah Bandung yang jaraknya bisa ditempuh hanya dalam waktu 20 menit dari rumah orangtuanya.
Mereka segera pergi menemui kepala sekolah itu dan mendaftarkan Alea masuk ke sekolahan itu.
Semua dokumen lengkap, tak ada masalah, semua berkat Andini yang bantu mengurusi kepindahan sekolah Alea dari Jakarta ke Bandung karena saat itu ia sibuk dengan urusan perceraiannya.
"Baik Bu, semua data sudah lengkap. Tinggal biaya uang masuk dan gedung saja, total semua 4 juta dan Alea sudah bisa mulai masuk senin depan," ujar si kepala sekolah memberi penjelasan dan menyimpan dokumen milik Alea ke dalam laci meja kerjanya.
Alena terdiam setelah mendengar nominal uang yang harus ia setorkan ternyata cukup banyak. Ia melirik ke arah Putri lalu menatap kembali wanita di depannya.
"Kalau saya bayar setengahnya dulu, apa bisa?" Tanyanya berharap.
"Oh, ya gak masalah Bu, bisa kok," jawab si kepala sekolah sambil tersenyum ramah. "Kalau memang dianggap berat, Ibunya juga bisa mencicil tiap bulan sebesar 500rb rupiah," ujarnya dengan alternatif lain.
Alena langsung bernapas lega, senyumnya mengembang kembali. Ia membuka tas hitam yang dibawa dan mengeluarkan sebuah amplop yang di dalamnya berisi uang.
"Saya baru bisa menyerahkan setengahnya saja. Nanti sisanya akan segera saya lunasi di akhir bulan," ucap Alena sambil menyerahkan amplop tersebut kepada si kepala sekolah.
"Baiklah, kalau begitu, saya buatkan administrasi nya dulu ya, Bu. Tunggu sebentar." Wanita itu kemudian berdiri dan berjalan keluar ruangan sambil membawa amplop tersebut.
Putri sempat menoleh ke belakang untuk memastikan wanita itu sudah keluar ruangan. Lalu ia berbalik menatap Alena, dan mendekatkan diri kepadanya.
"Teh, kalau uangnya memang kurang, kenapa enggak minta saja sama Mas Arinta?" Ujarnya mengusulkan.
"Aku gak mau melibatkan dia dalam hal ini. Selagi aku bisa akan aku lakukan sendiri tanpa bantuannya," balas Alena yang tampaknya sedikit tersinggung dengan saran dari Putri.
"Aduh, bukan itu maksudnya, Teh..., tapi itu 'kan masih haknya Alea, jangan semua beban jadi Teteh yang ambil seorang diri." Putri mencoba berbicara halus. Dia tau kalau kakak sepupunya itu sedang sangat sensitif kalau membahas masalah Arinta.
"Pokoknya aku gak butuh bantuannya! Aku dan Alea tidak akan bergantung sama dia!" Ucap Alena dengan keras. Putri pun hanya bisa menghela napas, tampak pasrah.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka dan si kepala sekolah datang sambil membawa kertas. Ia duduk kembali di bangkunya, sedikit melempar senyum lalu memberikan kuitansi, bukti pembayaran yang sudah dilakukan Alena.
"Ini tanda pembayarannya ya, Bu," ujarnya memperlihatkan kuitansi tersebut. "Silahkan ditandatangani dulu." Ia memberikan sebuah pulpen kepada Alena.
Alena mengambil secarik kertas itu dan melakukan tandatangan di atasnya. Lalu menyerahkan pulpen itu kembali kepada sang pemilik.
"Berarti ini sudah selesai ya, Bu Alena. Tinggal sisa pembayarannya di akhir bulan," ujar wanita itu sekali lagi sebagai penegasan.
"Kalau begitu, kami pulang dulu. Terimakasih atas bantuannya," ucap Alena yang langsung berdiri dari bangku lalu menyalami si kepala sekolah dengan sopan.
"Ya, silahkan Bu Alena." Wanita itu menyambut dengan ramah uluran tangan Alena dan Alea.
Keduanya berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut.
.
.
Sementara itu Arinta yang sedang mencoba untuk menikmati sarapannya dengan tenang merasa sedikit terganggu.
Gadis-gadis yang duduk di pojok itu terus berbicara dan berbisik-bisik sambil sesekali melihat ke arah dirinya. Entah mengapa ya, Arinta jadi merasa mereka sedang membicarakan dirinya.
Dasar gadis-gadis labil!
Arinta hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia tetap melanjutkan makannya dan berusaha tampak seperti tidak terpengaruh.
Namun, usahanya langsung buyar ketika salah seorang gadis di antara mereka berlima itu berdiri dari sana lalu ia berjalan menuju ke arah Arinta.
Dia gak mungkin bakal kemari..., kan...?
Arinta ragu tapi fakta mengkhianati batin. Gadis itu benar-benar berjalan ke arah tempatnya. Sampai akhirnya gadis itu membungkuk sedikit.
"Hai, boleh duduk di sini sebentar?" Aroma parfum yang lembut mengejar dari tubuh gadis itu.
"Ada perlu apa, ya?" Tanya Arinta berusaha bersikap netral.
"Sebelumnya kenalkan, namaku Adinda, mahasiswi fakultas psikologis." Tanpa permisi gadis berparas cukup manis itu langsung duduk, kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Arinta sambil tersenyum lebar.
"Lalu?" Arinta hanya mengernyit sedikit, tak membalas uluran tangan si gadis.
"Hmm, begini..., saya ingin melakukan wawancara untuk tugas akhir saya, apa bisa?" Gadis yang bernama Adinda itu terlihat sedikit canggung karena sikap dingin Arinta sambil mengutarakan niatnya.
"Wawancara tentang apa?" Arinta masih memperlihatkan sikap yang datar.
"Tentang alasan dibalik selingkuhnya seorang suami," jawab Adinda dengan tatapan yang intens. Tidak ada sorot penghakiman di sana tapi murni rasa ingin tau.
Untuk sesaat Arinta tidak bisa berkata apa-apa, waktu seolah berhenti beberapa detik sebelum akhirnya ia dapat kembali mengendalikan diri.
Apa maksud dari gadis ini? Kenapa dia menanyakan hal seperti itu kepadaku?
Pikiran Arinta spontan tak tenang, namun secara permukaan dia berhasil memasang wajah datarnya kembali.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu kepada saya? Memangnya enggak ada orang lain di sini yang bisa kami tanya?" Ucap Arinta yang terdengar tajam dan agak sinis.
Tapi gadis itu tidak gentar, dia malah masih sempat menyeringai tipis. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Dia tak banyak bicara tapi memperlihatkan sebuah ponsel yang memang sedang digenggamnya kepada Arinta.
"Itu anda 'kan," ujarnya sambil menunjukkan sebuah video.
Video itu. Wajah Arinta langsung memucat ketika menyadari itu adalah video dirinya dengan Melinda yang sempat tersebar luas itu. Tangannya kemudian bergerak secara reflek, hendak merebut ponsel di tangan gadis itu. Tapi Adinda dengan cepat bereaksi, menarik ponsel itu terlebih dahulu.
"Kamu...! Hapus video itu!" Arinta menatapnya dengan geram.
"Sebelum anda bersedia jadi bahan penelitian untuk tugas akhir ku," balas Adinda dengan berani. Dia sama sekali tidak mengindahkan sorot mata tajam dari Arinta.
Arinta tidak berpikir panjang dan langsung mengiyakan permintaan gadis itu dengan mudah.
"Baiklah, baiklah, tapi video tolong hapus!" Ucap Arinta yang lebih peduli sama keberadaan video mesum itu dibanding apapun.
"Kalau begitu saya butuh kontak anda." Andini menatap Arinta dengan tangan yang sudah bersiap akan mengetikkan sesuatu di layar ponselnya, menunggu Arinta menjawab.
Arinta pun tak punya pilihan selain memberikan nomor kontaknya kepada Andini.
"Oke, terimakasih." Ia tampak puas dan tersenyum simpul.
Setelah mendapatkan nomor kontak Arinta, gadis itu pun bangkit dari posisi duduknya dan berjalan kembali ke tempatnya dengan senyuman lebar seperti baru saja mendapat kemenangan besar.
Arinta yang melihat gadis-gadis itu bersorak riang hanya bisa memijat keningnya sambil berusaha mencerna semua kejadian absurd pagi ini.
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi..., ujarnya dengan perasaan lelah.
Di sisi lain, Alena yang sedang berada dalam perjalanan pulang baru saja menyadari kalau Aditya membalas pesannya.
Waalaikumsalam, maaf baru di balas.
Mau tanya apa ya??
Entah kenapa Alena tersenyum saat mendapat balasan singkat itu dari Aditya, membuat Putri yang sedang menyetir menatapnya heran.
Teteh lagi senyumin apa yah?
Rasa heran dan penasaran muncul dalam benar Putri. Pikirannya berkeliaran hingga akhirnya dia curiga.
Wah..., apa Teteh sudah dapat pengganti Arinta???
.
.
Bersambung....
rubah sifatmu lena jng sampai calon suamimu jg merasa tertekan oleh sifatmu