Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 **SMA DHS ( Diaskara High Schooll )**
Pagi itu, mobil Bryan memasuki parkiran sekolah elite yang ternama di kota Bandung. DHS (Diaskara High Schooll ) yang pemilik nya asli Jakarta.
Gedungnya tinggi, halaman luas, dan dipenuhi siswa berseragam rapi yang lalu-lalang. Ila duduk manis di kursi penumpang depan, matanya membulat sempurna menatap sekeliling dengan kagum.
"Tutup mulutnya princess, "Bryan terkekeh melihat wajah menggemaskan sang putri.
"Ayah lihat, sekolahnya sangat bagus." ucap Ila senang.
"Didalam lebih bagus sayang, ayo kita turun dan temui kepala sekolahnya, "ajak Bryan dan Ila bergegas membuka pintu mobil. Dia begitu senang dan bersemangat karena ini untuk pertama kali nya dia Bersekolah.
Murid-murid yang masih diparkiran menatap mobil yang belum pernah mereka liat sebelumnya masuk parkiran sekolah mereka, mereka penasaran siapa yang berada di dalam mobil itu. Ila keluar dari mobil dengan riang dan melompat-lompat kecil sehingga membuat pipi chubby nya bergoyang.
Para murid terpekik histeris melihat bocil yang menggemaskan ada disekolah mereka.
"Bocil woyy...."
"Gemes banget astagaa..."
"Ya ampun lucu bangett .."
"Tubuhnya pendek berisi, uhh gemes bangett..."
Begitulah pekikan murid-murid yang melihat Ila sedang melompat-lompat kecil itu.
"Ayah lihat, mereka liatin Ila terus, Ila jelek?" tanya Ila saat menyadari murid-murid DHS itu sedang menatapnya.
Bryan terkekeh, "Ila cantik dan lucu maka dari itu orang-orang liatin Ila. "ujar Bryan yang mendengar pujian atas putrinya itu.
"Ila cantik seperti bunda hihi, "Ila terkikik.
Bryan terkekeh gemas melihat sang putri.
“Ayah… kalau Ila nyasar pulangnya gimana?”
“Ada Ayah, ada abang-abangmu.”
“Oh.” Ila tersenyum puas.
Bryan menggenggam tangan mungil putrinya dan berjalan melalui murid-murid yang masih menatap gemes Ila. Di Koridor sekolah Alzian dan Elzion menghampiri ayah dan adek mereka itu.
"Ayah," panggil Elzion.
"Abang kembar," sapa Ila senang, Bryan hanya melirik sekilas saja pada putra kembarnya itu.
Saat ini mereka berempat sudah didepan ruangan kepala sekolah.
Tak.. tok.. tok..
Bryan mengetuk pintu dan terdengar suara yang menyuruh mereka masuk. Bryan masuk dengan Ila, saat Alzian dan Elzion hendak ikut masuk Bryan segera mencegah dan menyuruh mereka berdua menunggu di luar saja. Alzian dan Elzion hanya menghela nafas pasrah.
"Permisi Pak Edo," ucap Bryan kepada kepala sekolah DHS
Pak Edo berdiri menyambut tamunya itu, "silakan duduk Pak Bryan, mereka bertiga pun duduk disofa yang berada di ruangan kepala sekolah tersebut.
"Seperti yang saya katakan ditelpon tadi malam, putri bungsu saya akan bersekolah disini."ucap Bryan to the point.
"Ah iya Pak Bryan, Putri anda akan masuk kelas X IPA2, "ujar Pak Edo dan Bryan mengangguk.
"Ial belajar yang rajin ya sayang, kalau mau ke kantin tunggu abang jemput aja yaa, "ucap Bryan pada putri nya itu.
"Why tunggu abang?" tanya Ila.
"Karena kamu masih baru disini sayang, jadi perlu ditemani abang." sahut Bryan dan Ila menganggukkan kepalanya.
"Mari saya antar ke kelas "ajak pak Edo.
"Yeayy, ayo pak, "antusias Ila dan membuat pak Edo germes.
Pak Edo berdiri dan berjalan diikuti oleh Bryan yang sedang menggenggam tangan mungil Ila. Mereka keluar. Alzian dan Elzio masih stay didepan pintu menunggu adek bungsu mereka keluar.
"Kalian kalau mau ke kantin jemput Ila, jangan biarkan dia pergi sendiri. " ujar Bryan kepada anak-anak kembar nya itu.
"Siap ayahh. "sahut mereka bersamaan.
"Kalian pergilah ke kelas, ayah akan mengantarkan Ila ke kelasnya dulu." titah Bryan.
"Heleh anak kesayangan aja masuk diantar sampe kelas, lahh kami dulu sampai parkiran sekolah aja. "cibir Elzion merasa iri. Bryan mengabaikan cibiran dari anak keduanya itu dan terus berjalan mengikuti pak Edo.
"Ck, ayah pilih kasih." decak Bryan saat ayahnya mengabaikan nya.
"Dia adek kita, tidak perlu merasa iri." ujar Alzian lalu pergi meninggalkan Elzion yang masih menggerutu itu.
...****************...
"Ayah ikut ke kelas?" tanya Ila saat ayahnya juga mengikuti pak Edo.
"Iya princess, ini pertama Ila sekolah SMA jadi ayah harus nganterin sampe kelas dong "sahut Bryan mengacak rambut Ila gemes.
"Ihh ayahh, rambut Ila berantakan, nanti Ila gak cantik kek Bunda lagi..." cemberut Ila karena rambutnya berantakan.
Pak Edo yang mendengar protesan Ila terkekeh kecil,
"Ila selalu cantik sayang." Bryan terkekeh melihat bibir anaknya yang maju beberapa centi itu.
"Ayah gak tipu-tipu Ila kan?"
"Ayah serius princess, " gemes sekali Bryan dengan anak bontot nya ini, dulu jangankan mengantar anaknya sekolah dirumah saja Aqila selalu dikamar dan jarang bertemu dengannya jadi dia bersyukur karena sekarang anaknya tidak pendiam lagi bahkan anaknya ini sangat manja dan Bryan menyukai itu.
"Nah ini kelas kamu," ucap pak Edo pada Ila saat meraka sudah berada didepan kelas X IPA 2.
Ila mendongak dan melihat papan yang bertuliskan kelas X IPA 2 diatas pintu lalu dia tersenyum cerah.
"Terimakasih pak.... Ayahh Ila mau belajar sama teman-teman hihi, "Ila berucap sambil cekikikan senang.
Pak Edo dan Bryan gemes dengan Ila.
"Mari masuk Ila, "titah pak Edo dan Ila berpamitan pada sang ayah.
"Ayah Ila masuk dulu ya,," pamit Ila
"Belajar yang rajin sayang, pulang nanti kamu bersama abeng yah, ayah ada kerjaan." ucap Bryan.
Cup..
Ila mengangguk lalu mengecup pipi sang ayah. "Papayy ayahh. "Ila melambai lalu masuk kedalam kelas. Bryan hanya tersenyum dengan sikap childish anaknya itu.
Suasana kelas X IPA 2 hening karena guru yang mengajar sudah masuk kelas.
"Permisi bu Tari," ucap pak Edo.
Bu Tari yang sedang menjelaskan materi itu terhenti dan menatap pak kepala sekolah.
"Eh iya Pak, ada apa?" tanya bu Tari ramah.
"Ini bu ada murid baru yang akan masuk kelas ini "tunjuk pak Edo pada Ila yang sedang menampilkan senyum manisnya.
"senyumnya ya ampun manis banget."
"Gemess banget sihh."
"Pipi nya wehhh."
"Bocil woy itu masuk kelas kita."
Kelas yang awalnya hening mendadak ramai seperti pasar malam saat melihat Ila didepan mereka.
"Ah iya Pak," ujar bu Tari.
"Kalau begitu saya permisi kembali dulu Bu." pamit pak Edo lalu berjalan keluar, sebelum keluar pak Edo menyorot tajam menatap para murid kelas X ipa 2 itu.
Ila maju satu langkah, menatap Bu Guru dan murid-murid lainnya dengan mata bulat.
“Selamat pagi… Ila izin numpang belajar ya.”
Kelas langsung riuh tertawa.
Bu Guru tersenyum lebar.
“Silakan. Perkenalkan diri dulu ya, "titah bu Tari pada Ila.
Ila mengangguk lucu, "hai teman-teman perkenalkan nama Ila..."ucapan Ila terhenti karena dia tidak tau nama panjang Aqila. " Ila apa yahh..." Ila mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari mungilnyaa itu, dia nampak berpikir.
"Bu guru, Ila lupa namanya." Ujar Ila polos, karena memang dia tidak tau nama pemilik tubuh yang di tempatinya sekarang.
Mereka yang melihat Ila lupa dengan namanya sendiri jadi terkekeh, sangat menggemaskan pikir mereka semua.
Bu Tari ikut terkekeh, "yasudah kalau Ila belum hapal nama panjangnya tidak apa-apa, kamu silakan duduk disebelah Luna ya. "titah bu Sari
Ila mengerjap polos lalu mengangguk lucu.
"Luna yang mana ibu guru?" tanya Ila.
"Gue," Luna melambaikan tangannya dan Ila menoleh kearah murid yang melambaikan tangan nya itu.
"Duduklah, "titah bu Tari dan Ila mengangguk lalu dia berjalan kearah Luna.
"Sini cil," Luna membenarkan kursi disamping nya untuk diduduki oleh bocil itu.
Ila tersenyum lalu duduk di samping Luna. "Terimakasih," ucap Ila
Luna gemes dengan Ila yang tembem itu, "sama-sama bocil "Luna mencubit pelan pipi chubby Ila.
"Ishh Luna kaya abang El deh suka cubit pipi dan panggil Ila bocil, padahal kan Ila sudah besar. "cemberut Ara dan semua yang melihat itu tertawa gemess
"Lo emang bocil La,"
"lya bocil,"
Murid-murid kelas itu menyebut Ila dengan sebutan bocil. Bu Tari hanya geleng-geleng kepala.
"Sudah mari kita lanjutkan pelajarannya," ujar bu Tari dan mereka semua kembali mendengarkan penjelasan materi dari bu Tari.
...****************...