NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:424k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Malam Minggu itu udara di rumah Pak Darma terasa lebih padat dari biasanya. Sejak sore Kirana, Rafka, dan Gita sudah tiba. Aroma bumbu tumis dan santan memenuhi dapur, bercampur dengan suara panci dan wajan yang beradu. Kirana berdiri sejak tadi, tangannya cekatan, kakinya mondar-mandir tanpa jeda. Ia tidak mengeluh mengerjakan itu semua.

“Ki, garamnya pakai agak banyak, biar mantap!” pinta Bu Maya dari ruang tengah, suaranya terdengar seperti perintah yang sudah terbiasa dilontarkan.

“Iya, Bu,” jawab Kirana cepat.

Padahal punggungnya sudah terasa panas, pergelangan tangannya pegal. Namun ia tetap tersenyum ketika Gita menghampiri, memeluk pahanya.

“Mama capek?” bisik Gita polos.

Kirana mengelus rambut anaknya. “Enggak. Mama kuat.”

Di ruang tengah, Kinanti baru datang. Pakaiannya rapi, wajahnya segar, rambutnya ditata. Ia duduk bersandar di sofa, Ara di sampingnya, sesekali melirik ke arah dapur. Tatapannya bukan ke Kirana, melainkan ke Rafka, yang sedang membantu Pak Darma mengangkat galon. Tatapan itu cepat. Tapi sarat makna.

Rafka merasakannya. Ia menunduk, berpura-pura sibuk. Di depan keluarga, ia suami dan menantu yang baik. Ia menjaga jarak, menjaga sikap. Namun, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.

“Tidak terasa besok usia Kinanti sudah tiga puluh lima tahun, ya, Yah?” ucap Bu Maya ketika mereka berkumpul di ruang keluarga menjelang malam.

“Iya,” sahut Pak Darma sambil menyalakan rokok. “Kinanti, ingat enggak anaknya Pak Supri?”

Kinanti mengangkat kepala. “Yang mana, Yah? Sandy atau Tomy?”

“Tomy. Yang jadi tentara itu.”

“Oh, iya. Kenal,” jawab Kinanti ringan.

“Dia lagi cari istri,” lanjut Pak Darma. “Pak Supri tanya sama Ayah, apa kamu mau dijodohkan sama Tomy.”

Kalimat itu seperti pisau tipis yang menggores udara. Rafka refleks menoleh ke Kinanti.

Kinanti juga menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu sesaat cukup lama untuk menyimpan ketegangan, cukup singkat untuk tak disadari orang lain.

Kirana yang baru selesai memasak tidak melihatnya, karena masih berada di dapur. Ia juga sibuk merapikan rambut Gita yang bergelombang dan sulit diatur, jadi harus diikat.

“Enggak, deh, Yah,” jawab Kinanti akhirnya. “Aku enggak mau punya suami dari kalangan tentara. Harus siap ditinggal, bahkan siap kehilangan di medan perang. Sekarang aku fokus mengurus Ara saja.”

Nada suara Kinanti terdengar dewasa, penuh pertimbangan. Padahal di dalam kepalanya, wajah Rafka muncul jelas. Lelaki yang ada, dekat, hangat, meski bukan miliknya secara sah.

Sebenarnya sudah sejak lama Kinanti ingin menikah lagi. Sebagai wanita muda yang penuh semangat dan hasrat, dia ingin dicintai dan disayangi. Namun, pria yang ingin dinikahinya itu adalah Rafka.

“Tuh, kan,” sahut Bu Maya cepat. “Ibu juga sudah bilang. Kinanti itu belum bisa move on dari Dipta. Mana ada laki-laki sesempurna Dipta.”

Kinanti tersenyum kecil. Senyum yang sopan. Senyum seorang anak yang tidak pernah membantah. Padahal hatinya selalu mengkerut setiap kali nama almarhum suaminya diagungkan.

Malam semakin larut. Setelah semua masuk kamar, rumah menjadi senyap. Namun, tidak bagi Rafka. Matanya terbuka. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya tidak. Sore tadi, ia sudah tertidur di hotel bersama Kinanti.

Mengingat kejadian di hotel tadi siang, tubuh Rafka meremang. Hatinya bergejolak kembali. Dia bangkit pelan, membuka pintu kamar. Lorong rumah remang. Lampu dapur redup.

Kinanti pun muncul dari kamar sebelah.Ia tidak memakai baju tidur biasa. Wanita itu memakai lingerie yang bahan kainnya terlalu tipis, sehingga Rafka bisa melihat apa yang ada dibalik kain itu. Rambut Kinanti tergerai, langkahnya pelan namun pasti.

“Tidak bisa tidur, Mas?” tanyanya lirih.

Rafka menelan ludah. “Iya.”

Kinanti mendekat dengan tatapan menggoda. Tangannya menyentuh lengan Rafka sekilas, seolah tak sengaja.

“Mas kelihatan gelisah,” kata Kinanti, suara mesra berlapis niat.

“Kita di rumah orang tua kamu,” jawab Rafka pelan, berusaha mundur.

“Itu yang bikin deg-degan,” balas Kinanti nyaris berbisik. Senyum nakal pun tercipta dari bibir ranum bergincu merah. “Beda rasanya.”

Rafka menggeleng. “Jangan.”

“Cuma sebentar,” Kinanti mendesak, wajahnya mendekat. “Aku kangen.”

Rafka ragu. Namun keraguan itu kalah ketika Kinanti mencium bibirnya. Pagutan bibir mereka liar, berani, dan penuh hasrat yang ditekan seharian.

Pintu kamar kembali terbuka. Bunyinya membuat kedua orang yang sedang diselimuti gelora nafsu, terkejut.

“Mama….”

Ara berdiri di ambang pintu, matanya setengah terpejam.

Keduanya langsung menjauh.

Kinanti tersentak. “Ara!”

Rafka mundur satu langkah, jantungnya nyaris pecah.

“Kenapa bangun?” tanya Kinanti cepat, berubah menjadi ibu penuh perhatian.

“Mama enggak ada,” gumam Ara.

“Maaf, Mama ke kamar mandi,” Kinanti menggendong anaknya, lalu menoleh sekilas ke Rafka.

Keesokan harinya rumah Pak Darma dipenuhi orang. Acara ulang tahun Kinanti digelar cukup meriah. Beberapa kerabat dekat datang. Keluarga Rafka juga diundang. Suasana rumah Pak Darma sangat ramai.

Seperti biasa, Kirana yang paling sibuk. Sejak jam tiga dini hari ia sudah bangun dan sibuk di dapur. Memotong, menumis, mengaduk. Tangannya bergerak otomatis. Matanya berat. Kakinya nyeri. Dia banyak masak makanan berat, sementara makanan ringan Bu Maya memesannya dari Bu RT.

“Ki, gulainya kurang asin,” kata Bu Maya tanpa menoleh.

Kirana mencicipi. “Baik, Bu.”

Padahal menurut Kirana rasa masakannya sudah pas. Namun, Bu Maya selalu saja minta untuk menambahkan sedikit lagi garamnya.

Rafka ikut membantu mencuci piring. “Kamu istirahat sebentar,” katanya lirih.

Kirana menggeleng. “Nanti saja.”

Kinanti? Ia duduk manis di ruang tamu, tertawa, menerima ucapan selamat, memamerkan tas barunya. Sesekali matanya melirik ke arah dapur. Takut ketahuan sama Rafka dan Kirana.

Tidak ada rasa bersalah di sana. Hanya kepuasan.

Sore hari, setelah semua tamu pulang, Kirana pamit lebih dulu.

Begitu juga dengan Bu Maya selaku tuan rumah. Tidak ada inisiatif untuk mencari seorang pekerja harian yang bisa membantu. Dengan alasan, buang-buang uang kalau mempekerjakan orang lain hanya untuk mencuci piring.

“Mas, jaga Gita, ya. Aku mau tidur,” kata Kirana lemah.

“Iya. Istirahatlah,” jawab Rafka, hatinya teriris melihat wajah istrinya pucat.

Rafka dan Gita pun bermain ular tangga. Keduanya tertawa ketika melihat pion lawan jatuh meluncur ketika di kotak ulat.

Malam itu Kirana tidur cepat. Tubuhnya terasa remuk.

Pagi itu, setelah menyiapkan bekal sederhana untuk Rafka, Kirana masuk ke kamar. Udara masih dingin, sprei belum sempat dirapikan. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai, bergerak pelan agar debu tidak beterbangan.

Saat itulah matanya menangkap sesuatu di sudut lantai, dekat kaki meja rias. Selembar kertas kecil. Terlipat-lipat. Seperti sengaja disembunyikan, tetapi tidak cukup rapi untuk benar-benar hilang.

Kirana berhenti menyapu.

“Apa ini?”

Entah kenapa, Kirana merasa jantung berdetak lebih cepat. Ada rasa ganjil yang tidak bisa ia jelaskan. Ia memungut kertas itu, menimbang-nimbang sejenak, lalu membukanya perlahan.

Satu detik.

Dua detik.

Mata Kirana membelalak. Deretan angka itu seperti menghantam kepalanya tanpa ampun. Angka yang tidak pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Angka yang terasa mustahil untuk sesuatu yang disebut tas.

Tangan Kirana gemetar.

1
Naufal Affiq
lebih baik kamu jujur ara,kasihan gita,
Nar Sih
bnr arra ,lebih baik jujur ,biar gita juga tante mu bisa bantu mslh mu,
Sugiharti Rusli
ayolah Ara, kamu jangan terus bersembunyi dan diam saja saat sang sepupu kena fitnah tentang photo usg, karena toh suatu saat kehamilan kamu juga ga bisa disembunyikan lagi sih,,,
Sugiharti Rusli
dan si Vira juga kekeuh mengaku bukan dia, terus kenapa IP penyebar pertama dari no hp nya🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
meski sekarang Gita tahu dari Kaisar siapa pemilik akun yang menyebarkan fitnah terhadap dirinya, tapi dia juga belum habis pikir sih kalo itu sahabatnya sendiri
Sugiharti Rusli
dan pada akhirnya Gita malah curhat ke sepupunya yang sebenarnya pemilik photo usg itu,,,
Sugiharti Rusli
kan yang menemukannya di kost an Gita hanya mereka dan entah tujuan apa disebar kan hasil usg yang diklaim milik Gita,,,
Sugiharti Rusli
kalo dipikir memang yang patut dicurigai yang menyebarkan fitnah yah salah satu sahabat Gita sih,,,
martiana. tya
Gita kan calon dokter.... ayolah sedikit peka
martiana. tya
Gita kenapa ngga peka ya....
Noor hidayati
siapa yang nyebarin gosip itu ya,kalau vira kekeh ga ngerasa melakukan fitnah terhadap gita
Agunk Setyawan
dulu emaknya kinanti sekarang Ara anaknya bikin ulah Mulu meski pun Ara g sengaja tetep aja bikin riweh
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
harusnya kamu jujur Ara daripada Gita dan Kirana tahu dari orang lain,pasti mereka menyangka kamu yang memfitnah Gita dengan sengaja menjatuhkan foto USG dikontrakkannya🥹
Dew666
💜💜💜💜
efridaw995@gmail.com
jujur saja Ara biar ada solusi nya
Oma Gavin
kalau bukan vira pasti perempuan lain yg iri sama kedekatan gita dan kaisar serta ingin menghancurkan persahabatan mereka dgn ancaman ke vira sehingga mau tidak mau vira yg menyebarkan dan pastinya perempuan itu punya rahasia vira sehingga vira tidak bisa berkutik
Nar Sih: mungkin juga begitu oma
total 1 replies
Yuliana Tunru
ayo ara jujur pada gita biar ada yg nolong setdk x kau tak merasa sendiri kakiqn saudara gita pasti bantu yg kuat ya ara
Tasmiyati Yati
kenapa gak saling terbuka sih biar saling membantu
Ita rahmawati
pasti ketemu raja LG kmu Ra kalo kerja SM mama ratu
Aprisya
semoga jodoh kalian kakak adik, raja n kaisar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!