Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
"Jangan pernah berpikir bahwa data hanya sekadar angka di atas kertas."
Pak Yudha menggeser kursi putarnya, menatap tajam ke arah Arlan, Tegar, dan Maya yang baru saja duduk. Suasana di dalam ruang rapat itu terasa sangat menekan, meskipun tidak ada suara lain selain ketukan ujung bolpoin Pak Yudha di atas meja kayu jati yang mengilat.
{Kenapa tatapannya seolah bisa menembus pikiranku?}
Arlan meremas ujung kemejanya di bawah meja. Di depannya, layar hologram kecil dari sistem panduan karier sudah menyala redup, hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri.
[Analisis Subjek: Pak Yudha] [Tingkat Ketelitian: 99.8%] [Kondisi Mental: Kurang Puas dengan Laporan Bulan Lalu] [Saran: Jangan memberikan data yang bersifat asumsi.]
Tegar berdeham, mencoba memecah keheningan yang kaku itu. Dia meletakkan tablet mahalnya di tengah meja dengan gerakan yang sengaja dibuat elegan.
"Mohon izin, Pak Yudha. Saya sudah menyiapkan analisis awal mengenai penurunan efisiensi di divisi logistik. Saya yakin temuan saya ini adalah kunci yang Bapak cari selama ini."
Pak Yudha hanya mengangguk kecil, memberikan isyarat dengan tangannya agar Tegar memulai.
Tegar mulai berbicara dengan nada yang sangat percaya diri. Dia menampilkan grafik-grafik warna-warni yang terlihat sangat canggih. Dia menjelaskan bagaimana penggunaan koneksi dan latar belakang pendidikannya di luar negeri membantunya memahami pola distribusi global yang kompleks.
"Jadi, kesimpulan saya adalah kita perlu memangkas tiga puluh persen biaya operasional di bagian kurir lapangan, Pak," tutup Tegar dengan senyum kemenangan.
Pak Yudha tidak tersenyum. Dia justru beralih menatap Arlan. "Bagaimana denganmu, Arlan? Kamu baru masuk hari ini, tapi saya dengar kamu punya 'sesuatu' yang ingin ditunjukkan."
Arlan berdiri perlahan. Tangannya sedikit gemetar saat mencolokkan flashdisk ke laptop di depan meja.
[Sistem: Mengaktifkan Mode Presentasi Strategis...] [Peringatan: Tegar telah melewatkan variabel anomali pada data cuaca bulan lalu. Gunakan ini untuk mematahkan argumen pemotongan biayanya.]
Arlan menarik napas panjang. Dia melihat barisan kode dan angka yang diberikan sistem di sudut matanya. Namun, saat dia akan membacakan data tersebut, dia melihat wajah Pak Yudha yang tampak sangat lelah.
"Terima kasih, Pak Yudha," Arlan memulai suaranya. "Saya sudah melihat data yang sama dengan Mas Tegar. Secara logika sistem, saran Mas Tegar memang masuk akal untuk menaikkan profit dalam jangka pendek."
Tegar mendengus pelan, terlihat bangga. Tapi Arlan belum selesai.
"Tapi, ada satu hal yang tidak tertulis di dalam angka-angka ini," lanjut Arlan. "Bulan lalu, daerah distribusi utama kita mengalami curah hujan ekstrem. Kalau kita memangkas biaya kurir sekarang, kita bukan cuma memangkas biaya, tapi kita menghancurkan kesejahteraan para pekerja lapangan yang sudah berjuang menembus banjir demi paket sampai ke pelanggan."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Maya di samping Arlan tampak menahan napas.
[Sistem: Bahaya! Argumen emosional memiliki risiko penolakan 70%. Segera kembali ke data teknis!]
{Tidak. Aku tahu rasanya jadi orang kecil yang bekerja di bawah hujan.}
"Arlan, saya tidak butuh ceramah moral," potong Pak Yudha dengan suara dingin. "Saya butuh data teknis yang valid. Apa kamu punya solusi yang lebih baik?"
"Saya punya, Pak. Tapi saya harus jujur," Arlan menatap mata Pak Yudha dengan berani. "Ada bagian data di minggu ketiga yang tidak lengkap di server. Sistem menyarankan saya untuk melakukan imputasi statistik atau menebak trennya berdasarkan tahun lalu."
"Lalu?" tanya Pak Yudha.
"Saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk mengosongkan bagian itu dan memberikan catatan disclaimer. Karena menurut saya, lebih baik kita kekurangan data daripada kita mengambil keputusan besar berdasarkan sebuah kebohongan yang terlihat cantik di atas kertas."
Tegar tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat meremehkan di ruangan yang sunyi itu. "Lucu sekali. Pak Yudha, Arlan ini sepertinya belum paham kalau di Megantara Group, kita dituntut untuk selalu punya jawaban. Mengaku tidak tahu itu sama saja dengan mengaku tidak kompeten."
Maya ingin membela, tapi dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dia tahu betapa kerasnya Pak Yudha dalam hal akurasi.
Pak Yudha berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekati layar presentasi Arlan, mengamati catatan kecil di pojok bawah yang menyatakan ketidaklengkapan data tersebut. Dia terdiam cukup lama, membuat Arlan merasa seolah waktu sedang melambat dengan cara yang menyiksa.
"Tegar," ucap Pak Yudha tiba-tiba.
"Iya, Pak?" jawab Tegar dengan sigap.
"Kamu tahu kenapa perusahaan logistik saingan kita bangkrut dua bulan lalu? Karena analis mereka terlalu takut untuk berkata 'saya tidak tahu'. Mereka memalsukan data demi menyenangkan atasan, dan akhirnya meledak saat realita di lapangan tidak sesuai dengan grafik cantik mereka."
Wajah Tegar mendadak pucat. Senyumnya hilang seketika.
Pak Yudha berbalik ke arah Arlan. "Arlan, kejujuranmu itu mahal harganya. Tapi jangan berpikir kamu sudah aman. Saya beri kamu waktu dua hari untuk melengkapi data yang kosong itu. Kalau kamu gagal, kejujuranmu tidak akan bisa menyelamatkan posisimu di sini."
"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Arlan dengan mantap.
"Rapat selesai. Maya, bantu Arlan akses ke arsip fisik. Mungkin datanya terselip di sana," ucap Pak Yudha sebelum berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Tegar berdiri dengan kasar, kursinya berderit tajam di atas lantai marmer. Dia menatap Arlan dengan mata yang penuh kebencian.
"Jangan pikir ini kemenangan buat kamu, anak daerah. Kamu cuma beruntung karena Pak Yudha lagi dalam mood yang aneh hari ini," desis Tegar sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Maya menghela napas lega, bahunya yang tegang akhirnya merosot. "Arlan, kamu gila ya? Tapi aku kagum. Baru kali ini ada anak baru yang berani bilang data tidak lengkap di depan Pak Yudha."
"Aku cuma merasa tidak enak saja kalau harus berbohong, Mbak," jawab Arlan sambil merapikan peralatannya.
Setelah Maya pergi untuk kembali ke mejanya, Arlan duduk sendirian di ruang rapat yang luas itu. Dia menatap tangannya yang kini sudah berhenti bergetar.
[Status: Kepercayaan Diri Meningkat +15%] [Reputasi di Mata Pak Yudha: Terpercaya (Level 1)] [Pesan Sistem: Subjek Arlan berhasil melampaui logika algoritma. Memulai pembaruan protokol empati...]
Arlan tersenyum tipis. Ternyata sistem ini pun bisa belajar darinya.
Dia keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju pantry yang sepi di ujung lorong. Dia mengeluarkan ponselnya, mencari sebuah nomor di daftar kontak yang paling sering dia hubungi.
Satu nada sambung. Dua nada sambung.
"Halo, Lan? Sudah makan siang, Nak?" suara lembut ibunya terdengar dari seberang telepon.
Mendengar suara itu, pertahanan Arlan mendadak runtuh. Matanya terasa panas. Dia harus menyandarkan keningnya ke dinding dispenser agar suaranya tidak terdengar bergetar.
"Sudah, Bu. Arlan baru selesai rapat pertama," jawab Arlan sambil berusaha menahan isak tangisnya.
"Gimana rapatnya? Lancar? Jangan dipaksakan ya kalau capek. Kalau memang berat di sana, pulang saja. Sawah kita meskipun kecil masih bisa kasih kita makan, Lan."
"Lancar kok, Bu. Bos Arlan orangnya baik. Teman-teman Arlan juga... ya, ada yang baik," Arlan mencoba tersenyum meskipun ibunya tidak bisa melihatnya. "Arlan cuma kangen saja sama sayur lodeh Ibu."
"Sabar ya, Nak. Nanti kalau kamu sudah gajian, pulang ya. Ibu masakkan yang banyak."
"Iya, Bu. Arlan tutup dulu ya, mau lanjut kerja lagi."
"Iya, Lan. Hati-hati. Doa Ibu selalu ada buat kamu."
Arlan mematikan teleponnya. Dia menghapus air mata di sudut matanya dengan punggung tangan. Perasaan emosional itu memberinya kekuatan baru. Dia tahu dia tidak boleh gagal. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk harapan yang dibawa ibunya di setiap doa.
{Aku tidak akan menyerah. Biarpun aku harus mencari data itu di tumpukan sampah sekalipun.}
Saat dia kembali ke meja kerjanya, dia melihat ada sebuah memo kecil tertempel di layar monitornya. Tulisan tangannya sangat rapi, khas tulisan tangan wanita.
"Arlan, aku tadi cek sela-sela meja resepsionis lagi, dan aku nemu sesuatu yang mungkin kamu cari. Datang ke ruang HRD kalau kamu senggang. -Siska."
Arlan menoleh ke arah kotak sistem yang kembali muncul di depannya.
[Misi Baru: Mengambil Kepingan Terakhir] [Hadiah: Kelulusan Masa Percobaan Lebih Cepat]
Arlan menarik napas dalam-dalam. Perjalanannya merintis karier di gedung tinggi ini baru saja dimulai, dan dia tidak lagi merasa sendirian. Dia melangkah menuju lift dengan semangat yang membara di dadanya.