Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Kamar Bocor
Jangan lupa untuk like dulu sebelum baca😘
Happy Reading 🤗
.
Setelah Wu Lian menutup pintu dengan keras, Qinqin mendecih dan membuang pandangannya ke arah lain. Matanya tertuju pada sebuah sudut yang mengepulkan asap dupa. Di sana, terpampang lukisan seorang wanita cantik dengan rambut emas yang serupa dengannya.
Menurut ingatan pemilik tubuh, itu adalah mendiang ibunya. Qinqin mendekat, memberikan senyum singkat yang tulus ke arah lukisan itu, sebelum teringat pada satu sosok penting lainnya ; Bibi Sun.
Qinqin segera melenggang santai menuju Paviliun Belakang. Langkahnya terasa ringan meski kakinya harus menginjak tanah yang sedikit basah karena sengaja disiram air agar tidak berdebu.
Ia mencari kamar yang paling besar dengan hiasan rangkaian bunga mawar layu, tanda cinta Qinqin kecil untuk pengasuhnya.
Tok, tok.
"Halo Bibi, bagaimana keadaanmu?" sapa Qinqin sambil langsung duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan Bibi Sun dengan penuh kasih. "Terima kasih atas bantuanmu, ayahku bisa diselamatkan."
Bibi Sun tersenyum sangat tipis, matanya berkaca-kaca. "Sudah kewajiban saya untuk melindungi Anda, Nona. Saya sudah menganggap Nona sebagai anak sendiri. Saya akan menjaga Anda dan Tuan Xu, sesuai janji saya pada mendiang Nyonya."ujar bibi sun tulus.
Hati Qinqin tersentuh melihat perban yang membungkus tubuh ringkih itu. Ia mengeluarkan salep dan sisa akar naga dari kantungnya.
"Bibi, aku ingin mengobatimu. Jangan menolak ya, kalau berani menolak, Bibi akan kupecat!" canda Qinqin sambil mulai mengoleskan salep.
Qinqin lalu mengambil sisa Akar Naga Putih, menumbuk nya dengan hati hati hingga menjadi bubuk, wanita itu kemudian meneteskan air sekitar satu sendok teh. Qinqin lalu mengaduk nya cepat. Setelah ramuan siap, Ia menyodorkan cawan berisi Akar Naga Putih kepada Bibi Sun. "Minum ini, Bi."
Perubahannya dahsyat. Tak lama setelah meminumnya, rasa kelu di tubuh Bibi Sun mulai memudar. Setelah memastikan Bibi Sun nyaman, Qinqin berpamitan untuk kembali ke paviliunnya.
Namun, baru saja ia berbalik, pemandangan aneh menyambutnya. Beberapa pelayan dan kasim tampak lari terbirit-birit membawa ember berisi adukan semen, genteng tanah liat, hingga tangga, menuju kamarnya.
"Ehhhhh, ada apa ini!" pekik Qinqin kaget. Ia melipat lengan hanfu-nya dan berlari kecil menghampiri rombongan itu.
Para pelayan segera menunduk hormat. "Salam, Nona Muda. Maafkan kami, sepertinya atap kamar Nona sudah keropos dan bocor karena lama tidak ditempati. Kami sudah melihatnya sejak kemarin, tapi tidak berani bertindak karena masih ada Nyonya Besar."
Qinqin menyilangkan tangan di dada, matanya menyipit penuh selidik. "Bocor? Padahal semalam tidak hujan. Siapa yang memerintahkan kalian memperbaiki ini sekarang?"
Salah satu pelayan senior menjawab tanpa berani menatap mata Qinqin. "Ayah Anda, Nona. Beliau ingin merenovasi kamar ini agar lebih layak setelah setahun tak tersentuh."
Qinqin mendengus pelan. Ia tahu ini akal-akalan ayahnya yang licik sekaligus perhatian. "Baiklah, silakan perbaiki. Tapi itu berarti aku tidak punya kamar. Apa aku harus pindah ke paviliun belakang?"
"Ah, tidak perlu, Nona!" sahut pelayan itu dengan senyum tertahan. "Paviliun belakang hanya untuk tamu dan beberapa pelayan senior. Saran saya, Nona bisa sekamar dengan Jenderal Wu terlebih dahulu sementara perbaikan dilakukan."
Qinqin tertegun. Ia menoleh ke arah kamar Wu Lian yang tertutup rapat. Bayangan harus berbagi ranjang dengan Jenderal kaku itu membuat jantungnya mendadak berulah.
"Sekamar dengan patung es itu?" gumam Qinqin pelan. Ia menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tantangan. "Baiklah. Kalau memang itu maunya Ayah, mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu tidak tahan berada dalam satu ruangan."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂