NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Mimpi Buruk

Malam itu, suasana penthouse sudah benar-benar hening. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Begitu pula di kamar utama kediaman itu, Nala dan Junho sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing, seolah tidak ada kejadian apa pun yang terjadi beberapa jam sebelumnya.

Tangan pria itu masih melingkar di pinggang polos istrinya. Tubuh keduanya berdekatan, menciptakan kehangatan yang tenang setelah hari yang panjang. Tidak ada percakapan, tidak ada ketegangan. Hanya dua orang yang akhirnya membiarkan lelah membawa mereka menuju tidur.

Hingga suara ketukan dari luar pintu perlahan memecah keheningan.

Tok... Tok... Tok...

“Mommy.”

Suara itu terdengar lirih dari balik pintu.

Mata Nala yang masih berat terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya temaram kamar.

“Mommy...”

Nala segera mengenali suara itu. Ia bangkit perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan Junho. Namun, gerakannya tetap membuat pria di sampingnya terusik. Junho mengerjap, masih setengah sadar, lalu menoleh.

“Kenapa?” Suaranya terdengar berat dan serak karena baru terbangun.

“Seok sepertinya ada di luar... Sepertinya,” jawab Nala pelan.

Nala menyalakan lampu kamar, kemudian menoleh ke lantai. Pakaian mereka yang tadi tergeletak berserakan membuatnya menghela napas kecil. Ia segera turun dari ranjang dan memungut pakaiannya satu per satu, lalu mengenakannya dengan cepat.

Junho hanya diam dengan mata yang masih setengah terpejam. Rasa kantuk masih jelas terlihat di wajahnya, tetapi ia tetap bangun. Pria itu meraih celananya yang tergeletak tidak jauh dari ranjang, kemudian mengenakannya sebelum menyusul Nala menuju pintu.

Suasana kantuk masih melekat pada keduanya, tetapi suara Jun-seok dari balik pintu membuat rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh kekhawatiran.

Saat pintu kamar terbuka, tidak ada siapa pun di baliknya. Nala terdiam, lalu menatap Junho.

“Tidak ada?” ucapnya pelan.

Junho menggaruk kepalanya, masih diliputi kantuk.

“Kamu salah dengar?” tanyanya.

Nala menggeleng cepat.

“Tidak, Oppa. Aku mendengarnya.”

Nala menatap sekeliling. Ia bahkan melangkah keluar kamar dan melongok ke lantai atas. Saat itulah pandangannya tertuju pada pintu kamar putra mereka yang sedikit terbuka, dengan cahaya lampu masih menyala dari dalam.

“Sudahlah... Ayo tidur. Kamu pasti masih lelah,” ujar Junho. Ia kembali melangkah menuju ranjang.

Namun, Nala masih mematung di tempatnya. Ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang.

“Aku lihat Seok sebentar. Oppa tidur duluan,” katanya akhirnya.

Nala tidak menunggu jawaban. Ia segera menaiki tangga menuju lantai atas sembari merapikan jubah tidurnya. Langkahnya sedikit tergesa, didorong oleh firasat yang semakin kuat.

Begitu sampai di kamar Jun-seok, Nala langsung masuk dan saat tiba pemandangan di hadapannya membuat langkahnya terhenti.

Jun-seok duduk di atas ranjang dengan kedua lutut tertekuk. Di tangannya terdapat sebuah foto yang memperlihatkan dirinya bersama Nala dan Junho. Wajah anak itu tampak sembap, matanya memerah seperti baru saja menangis cukup lama.

Hati Nala seketika mencelos dia tanpa ragu berjalan mendekat.

“Seok...” panggilnya lembut.

Jun-seok terperanjat. Anak itu segera mengangkat wajahnya, seolah baru menyadari keberadaan ibunya.

Hening beberapa saat hingga kemudian, tanpa mengatakan apa-apa, Jun-seok langsung menghambur ke pelukan Nala. Tangisnya pecah begitu saja. Tubuh kecilnya bergetar, sementara kedua tangannya mencengkeram erat pakaian tidur ibunya, seakan takut Nala akan menghilang jika ia melepaskannya.

Tangis itu berlangsung lama dan terdengar menyayat hati.

Nala tidak banyak bertanya. Ia hanya memeluk putranya erat. Satu tangannya mengusap punggung Jun-seok perlahan, membiarkan anak itu menumpahkan ketakutannya terlebih dahulu tanpa memaksanya untuk segera tenang.

“Kenapa, sayang?” tanya Nala setelah tangis Jun-seok mulai mereda.

“Jangan tinggalkan Seok... Mommy, tadi... tadi...” Suaranya kembali bergetar, lalu tangisnya pecah lagi.

Nala kembali memeluknya tanpa memaksa. Ia menunggu hingga napas putranya sedikit lebih teratur, sementara telapak tangannya terus mengusap punggung kecil itu dengan gerakan lembut dan menenangkan.

“Seok... mimpi Mommy pergi. Seok mimpi Mommy dan Daddy pergi.” Jun-seok menarik napas tersendat, suaranya semakin lirih. “Mommy... Seok takut.”

Mendengar itu, hati Nala mencelos. Ia segera meraih kepala putranya, menariknya lebih erat ke dalam pelukan. Anak berusia sepuluh tahun itu terlihat begitu rapuh dalam dekapannya ternyata jauh lebih kecil daripada usianya, seolah seluruh keberanian yang selama ini ia tunjukkan runtuh hanya karena sebuah mimpi.

“Mommy dan Daddy tidak akan ke mana-mana, sayang. Tidak akan...” ucap Nala pelan sambil mengusap rambut putranya. “Itu hanya mimpi... eum?”

Namun, Jun-seok justru semakin terisak.

“Mommy... Seok tak mau seperti Hae-cul...” katanya dengan suara patah-patah. “Dia ditinggalkan ibunya... ayahnya juga tidak peduli padanya. Seok tidak mau...”

Nala terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar nama itu keluar dari bibir putranya.

“Seok sudah jadi anak baik dan penurut, kan, Mommy?” Jun-seok mendongak dengan mata yang basah. “Seok tidak mau seperti Hae-cul... Seok akan lakukan apa pun...”

Tangisnya kembali pecah.

Nala mendekap erat tubuh putranya. Kali ini ia tidak mampu lagi menahan air matanya. Setetes demi setetes jatuh membasahi pipinya sendiri, sementara tangannya tetap mengusap punggung Jun-seok seolah sentuhan itu satu-satunya cara yang ia miliki untuk meyakinkan anaknya bahwa ia masih ada di sana.

Untuk sesaat, Nala tidak melihat seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun di hadapannya. Ia hanya melihat seorang anak yang ketakutan akan kehilangan rumahnya, kehilangan kedua orang tuanya, dan merasa bahwa untuk tetap dicintai, ia harus menjadi sempurna.

Dan sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar putranya sendiri merasa bahwa cinta harus diperjuangkan dengan menjadi anak yang selalu baik.

“Sayang... Mommy dan Daddy tidak akan ke mana-mana, Nak,” ucap Nala lembut. Ia mengusap sisa air mata di pipi putranya dengan ibu jarinya. “Seok kan anak baik... penurut. Jadi, Seok tidak akan seperti siapa pun. Dan sekalipun Seok melakukan kesalahan, Mommy tidak akan pergi, Nak. Tidak akan pernah.”

Nala kembali memeluk Jun-seok. Lama. Sangat lama. Ia membiarkan putranya menangis hingga napas kecil itu perlahan menjadi lebih teratur, sementara tangannya tak berhenti mengusap punggungnya dengan gerakan lembut.

Rasa bersalah muncul perlahan di dalam dada Nala.

Mungkin semua ini terjadi karena kesalahannya. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, terlalu larut dalam pekerjaan dan berbagai hal yang harus diselesaikan, hingga tidak menyadari bahwa putranya menyimpan ketakutan sebesar ini seorang diri.

Tangan Nala terus mengusap punggung Jun-seok. Sesekali ia mengecup rambut putranya, menahan sesak yang kembali memenuhi dadanya.

Hingga akhirnya, Nala kembali berkata,

“Ayo tidur. Ini masih malam,” ucapnya sembari perlahan melepaskan pelukan.

“Mommy... eum...” Jun-seok memanggil ragu.

“Kenapa?” tanya Nala sambil menatap mata putranya yang masih basah oleh sisa air mata.

“Seok... tidur dengan Mommy, boleh?” pintanya pelan.

Nala terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.

“Boleh, sayang. Ayo tidur,” ajaknya.

Nala bergeser ke sisi ranjang, kemudian menarik selimut hingga menutupi bahu kecil Jun-seok.

Anak itu segera merebahkan diri. Namun, tangannya masih mencengkeram lengan jubah tidur Nala, seolah takut jika genggamannya terlepas sedikit saja, dunia yang baru saja berhasil ia percayai akan kembali runtuh.

Nala tidak menegur sama sekali, ia justru berbaring menyamping, menghadap putranya. Satu lengannya menopang kepala, sementara tangan lainnya mengusap rambut Jun-seok dengan ritme lambat ritme yang sama seperti yang selalu ia lakukan sejak Jun-seok masih balita.

“Sekarang sudah tenang?” tanya Nala lirih, nyaris berbisik.

Jun-seok mengangguk kecil, napasnya mulai teratur, meski matanya masih terbuka. Ia terus menatap wajah ibunya dengan sorot yang terasa terlalu dewasa untuk anak seusianya.

“Mommy,” panggilnya lagi.

“Hmm?”

“Di sekolah... Seok dapat tugas menggambar lagi,” katanya pelan, seolah takut ceritanya tidak cukup penting untuk didengar. Nala tersenyum kecil, lalu mengusap rambut putranya.

“Tugas apa?” tanya Nala antusias.

“Gambar rumah. Semua anak menggambar rumah besar. Ada kolam renang, ada taman luas.” Jun-seok berhenti sejenak, kemudian tersenyum kecil. “Seok juga menggambar rumah kita.”

Nala ikut tersenyum.

“Tapi Seok gambar lampunya menyala semua,” lanjutnya pelan.

Alis Nala berkerut samar.

“Kenapa lampunya menyala semua?” tanyanya lembut.

Jun-seok berpikir sebentar, lalu menjawab jujur tanpa hiasan.

“Supaya kelihatan ada orang di dalam. Supaya rumahnya tidak kelihatan kosong.” Ia menatap wajah ibunya dengan sorot mata serius. “Mommy, kalau rumah kita terang berarti penghuninya bahagia, bukan?”

Kalimat sederhana itu jatuh begitu saja, tetapi terasa begitu rapuh di dada Nala senyumnya masih bertahan, meski tenggorokannya mendadak mengeras. Tangannya yang sejak tadi mengusap rambut Jun-seok sempat berhenti sesaat sebelum kembali bergerak, kali ini jauh lebih pelan dan hati-hati.

“Heeh... Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang selalu bersama. Itu gambar yang bagus. Pasti guru Seok suka,” jawab Nala lembut.

Jun-seok tersenyum kecil.

“Guru bilang rumah Seok hangat,” katanya lirih.

Senyum Nala perlahan memudar.

“Mommy...” Jun-seok kembali bersuara setelah beberapa saat. “Tadi Seok mimpi... rumah ini gelap semua.”

Nala terdiam, membiarkannya melanjutkan.

“Seok cari Mommy, cari Daddy, tapi yang ada cuma suara langkah Seok sendiri.” Suaranya semakin kecil. “Itu sebabnya Seok terbangun dan takut. Seok... bingung. Makanya Seok turun dan cari Mommy.”

Nala hanya diam mendengarkan karena tanpa sadar setiap kata putranya terasa seperti mengetuk bagian paling dalam dari hatinya. Ia baru menyadari bahwa bagi Jun-seok, rumah bukan sekadar tempat mereka tinggal. Rumah adalah suara langkah, cahaya lampu, suara kedua orang tuanya, dan keyakinan bahwa ketika ia membuka mata, seseorang akan selalu ada di sana.

Nala menatap wajah putranya lama. Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa, ia kembali mengusap rambut Jun-seok dengan lembut.

“Mommy,” panggil Jun-seok lagi. Suaranya kini semakin berat oleh kantuk. “Daddy tidak akan marah, kan?”

Pertanyaan itu membuat tangan Nala yang sedang mengusap rambutnya berhenti.

“Marah kenapa?” tanya Nala pelan.

“Karena Mommy di sini? Karena Seok mengganggu kalian?” tanyanya polos.

Nala menahan napas. Ada sesuatu yang mencelos di dadanya mendengar pertanyaan sesederhana itu. Ia segera meraih tangan kecil Jun-seok, menggenggamnya erat, seolah ingin memastikan melalui sentuhan itu bahwa putranya benar-benar berada di hadapannya dan tidak perlu takut kehilangan tempat di dalam rumah ini.

“Tidak, sayang... Daddy tidak akan marah.” Nala tersenyum tipis. “Dan kalau mimpi itu datang lagi, tolong ingat satu hal—”

Kalimatnya menggantung, membuat Jun-seok membuka mata yang sudah hampir terpejam.

“Apa?” tanyanya pelan.

“Setiap kali Seok membuka mata, Mommy selalu ada di dunia nyata. Dan dunia nyata lebih kuat daripada mimpi.” Nala mengusap punggung tangan putranya dengan ibu jarinya. “Seok juga tidak boleh menyembunyikan apa pun dari Mommy dan Daddy. Ceritakan apa pun yang Seok rasakan. Kalau Mommy dan Daddy tidak ada, tunggu kami. Kami pasti pulang untukmu... hanya untukmu.”

Jun-seok terdiam bibir kecilnya bergerak perlahan, nyaris tidak mengeluarkan suara.

“Mommy janji?”

Ada keraguan yang begitu jelas dalam pertanyaan itu hingga hati Nala kembali terasa sesak. Nala menunduk, lalu menyentuhkan keningnya ke kening Jun-seok.

“Janji.” Ia tersenyum lembut. “Sekarang tidur. Ini masih malam. Kamu tidak boleh mengantuk di sekolah, kan?”

Jun-seok hanya mengangguk kecil tanpa menjawab tak lama napasnya perlahan menjadi semakin lambat dan teratur. Genggaman tangannya mulai mengendur, meski belum sepenuhnya terlepas. Matanya akhirnya tertutup, meninggalkan bulu mata yang masih basah tanpa getaran.

Tubuh kecilnya tenggelam ke dalam tidur yang lebih dalam; tidur seorang anak yang akhirnya kembali merasa aman.

Nala tidak langsung bergerak untuk beberapa saat dia tetap berada di sana, menatap wajah putranya dalam diam. Wajah yang begitu mirip Junho pada sudut rahangnya, tetapi memiliki kelembutan yang sepenuhnya miliknya.

Jari Nala kembali menyisir rambut Jun-seok perlahan. Kali ini tidak ada tangis, tidak ada isak, hanya keheningan malam yang menemani seorang ibu memandangi anaknya.

Namun di dalam hati, Nala tahu satu hal mimpi buruk Jun-seok mungkin telah berakhir malam ini, tetapi ketakutan yang melahirkannya tidak boleh lagi ia abaikan.

Saat itulah air mata Nala jatuh.

Bukan tangis keras, bukan isak. Hanya air mata yang meluncur pelan, satu demi satu, membasahi bantal di bawah kepalanya. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang selama ini ia tekan rapi di balik jadwal rapat, konsep kreatif, dan dunia profesional yang ia banggakan.

Ia menyadari sesuatu dengan kejam: Jun-seok telah belajar mandiri bukan karena siap tetapi karena terpaksa. Tangannya bergetar saat menyentuh pipi putranya, menyeka sisa air mata yang sudah kering.

“Maaf…” bisiknya tanpa suara.

“Maaf karena Mommy terlalu sering pulang terlambat. Maaf karena Mommy mengira kehadiran bisa digantikan dengan fasilitas. Maaf karena Mommy lupa… anak sepuluh tahun hanya butuh satu hal: merasa dipilih.” Ia memejamkan mata, menahan tangis yang kembali naik.

Tangannya melingkar lebih erat di tubuh Jun-seok, seolah ingin melindungi bukan hanya anak itu, tapi juga dirinya sendiri, versi ibu yang kini ia ragukan. Tanpa sadar, lelah yang menumpuk sepanjang hari akhirnya menuntut balas. Tangisnya mereda, napasnya melambat, dan kesadarannya perlahan surut.

Di ranjang sedang itu, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Nala tertidur sambil memeluk putranya dengan mata sembab, hati penuh janji yang belum terucap, dan satu tekad diam-diam yang mulai tumbuh: bahwa esok hari, sesuatu harus berubah.

Dan di luar kamar itu, malam tetap sunyi, menyimpan semua yang belum sempat dikatakan.

☾ ── ❖ ── ☾

Mentari pagi menembus tirai tipis kamar utama, memantulkan cahaya ke dinding marmer yang dingin namun elegan. Sinar itu jatuh tepat di wajah seorang pria yang masih terlelap di atas ranjang besar; ranjang yang pagi itu terasa terlalu luas untuk satu tubuh saja.

Junho mengerjap pelan kesadarannya kembali sedikit demi sedikit, disertai rasa kosong yang langsung ia rasakan begitu tangannya meraba sisi ranjang di sampingnya. Kosong. Seprai berantakan, bantal yang biasanya rapi kini tergeser, menyisakan aroma samar sabun yang dikenalnya terlalu baik.

Nala.

Junho terduduk, menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Sunyi. Tidak ada suara langkah, tidak ada dengusan napas halus yang biasanya menjadi latar pagi-paginya. Ingatannya bergerak mundur pada malam tadi, pada ketukan pintu, pada suara kecil yang memanggil ibunya.

“Dia tidur di atas?” gumamnya lirih.

Junho bangkit, melangkah menuju kamar mandi. Air hangat mengalir dari shower, membasahi tubuhnya, namun tidak sepenuhnya meluruhkan beban di bahunya. Di balik uap air yang memenuhi ruangan, pikirannya tetap terjaga tentang Jun-seok, Nala, dan tentang diam yang terlalu panjang untuk diabaikan.

Ia menyelesaikan mandinya cepat, mengenakan kemeja kerja berwarna netral, mengancingkannya satu per satu dengan gerakan mekanis. Di depan cermin, ia berhenti sejenak, menatap refleksinya sendiri; seorang pria yang tampak rapi dan berwibawa, namun matanya menyimpan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.

Keluar dari kamar, Junho langsung mengambil ponselnya. Tanpa banyak pikir, ia memesan sarapan cukup untuk tiga orang. Menu sederhana, hangat, yang ia tahu bisa diterima Jun-seok dan tidak akan merepotkan Nala pagi ini.

Langkah kaki nya membawanya naik ke lantai atas. Setiap detik terasa lebih lambat dari biasanya. Lorong lantai atas masih sunyi. Pintu kamar Jun-seok sedikit terbuka, cahaya lampu tidur temaram masih menyala, seolah malam belum benar-benar pergi dari ruangan itu. Junho melangkah mendekat, lalu berhenti di ambang pintu.

Pemandangan itu membuatnya terdiam.

Nala tertidur di sisi ranjang itu, tubuhnya menyamping, satu lengannya melingkar melindungi Jun-seok. Rambutnya tergerai berantakan, wajahnya pucat dengan jejak lelah yang nyata mata sembab, napasnya dangkal namun tenang. Sementara Jun-seok tidur memeluk ujung jubah ibunya, wajahnya jauh lebih damai dibanding malam sebelumnya.

Junho tidak langsung masuk.

Ada rasa bersalah yang menyelinap pelan, menghantamnya tanpa suara. Ia menyadari sesuatu yang selama ini luput: Nala tidak sekadar lelah karena pekerjaan. Ia lelah karena terus berusaha menyeimbangkan segalanya tanpa pernah benar-benar diminta untuk beristirahat.

Junho melangkah masuk, pelan, nyaris tanpa suara. Mendekat ke sisi ranjang, ia berlutut, memperhatikan wajah putranya yang masih terlelap. Tangannya terulur, merapikan selimut Jun-seok, lalu berhenti sejenak di udara sebelum akhirnya menyentuh rambut anak itu, sentuhan singkat, penuh kehati-hatian.

“Nanti bangun kesiangan,” gumamnya sangat pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Pandangan Junho beralih pada Nala. Ia ragu sejenak, lalu menyentuh bahu istrinya perlahan.

“Nala,” panggilnya lembut.

Tidak ada reaksi hingga akhirnya dia kembali mencoba sedikit lebih dekat, suaranya rendah dan hangat.

“Yeobo… sudah pagi,” ucap nya lagi.

Nala mengerjap pelan. Kesadarannya kembali perlahan, seolah ditarik dari tidur yang terlalu singkat. Matanya terbuka, menatap Junho beberapa detik sebelum akhirnya fokus.

“Oppa…” suaranya serak, jelas kelelahan. Junho tersenyum kecil senyum yang jarang, tapi tulus.

“Sarapan sudah aku pesan. Kamu dan Seok harus bersiap. Kamu juga ke agency hari ini, kan?” tanya nya yang membuat Nala mengangguk pelan, lalu menoleh ke Jun-seok yang masih tertidur.

Ada keraguan di wajahnya, seolah enggan melepaskan momen damai itu.

“Aku yang bangunkan dia nanti, kamu mandi dulu, setelah sarapan kita berangkat bersama,” kata Junho, membaca keraguan itu.

Nala menatapnya, lama. Lalu mengangguk sekali lagi.

“Terima kasih,” ucapnya pelan bukan sekadar tentang sarapan, tapi tentang pagi ini, tentang pengertian yang akhirnya datang tanpa diminta.

Junho berdiri, melangkah mundur pelan, memberi ruang. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi, memastikan keduanya baik-baik saja.

Pagi itu, di penthouse yang biasanya terlalu sunyi, ada sesuatu yang perlahan berubah, bukan dengan kata-kata besar, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang akhirnya memilih untuk saling mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!