NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24.

Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Bella, terdengar sangat menyayat hati hingga membuat udara di dalam ruangan rawat VIP itu mendadak terasa begitu menyesakkan.

​Alan terpaku di tempatnya. Pria paruh baya yang biasanya selalu tampak tenang, tegas, dan memegang kendali penuh dalam setiap situasi bisnis itu kini tampak kehilangan kata-katanya. Rahangnya yang biasa mengeras kini bergetar hebat, sementara matanya menatap Bella dengan sorot kepedihan yang teramat sangat.

​"Bella... dengarkan Papa..." suara Alan tercekat di tenggorokan, pria itu melangkah maju dengan tangan terulur seolah ingin menyentuh putrinya, namun terhenti saat melihat kilatan rasa bersalah yang luar biasa di mata gadis itu.

​Bella menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya semakin deras mengalir, membasahi kerah baju rumah sakit yang dikenakannya. Isakannya lolos begitu saja, mencerminkan kehancuran batin yang telah lama ia pendam seorang diri.

​"Maafin Bella, Pa... Maafin Bella..." rintih Bella dengan suara parau yang nyaris tak berbentuk. "Selama ini Bella benar-benar bodoh... Bella hidup dalam kebohongan, merasa paling tersakiti, merasa paling dikekang. Padahal... padahal selama ini fasilitas mewah yang Bella nikmati, uang yang Bella hambur-hamburkan untuk menutupi rasa sepi Bella... itu sama sekali bukan hak Bella."

​Karin menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah seketika mendengar pengakuan penuh siksa itu. "Jangan ngomong begitu, sayang... Kamu bukan beban..."

​"Bella bukan siapa-siapa, Ma!" potong Bella lirih namun penuh penekanan yang menusuk ulu hati. Suaranya bergetar hebat, mencurahkan segala kebencian pada dirinya sendiri. "Bella cuma orang asing yang menumpang hidup di keluarga ini. Selama ini Bella pakai uang perusahaan, Bella hidup dari jerih payah Papa, Bella bangga menggunakan nama besar Allegra... tapi ternyata Bella tidak punya hak apa pun atas semua itu!"

​Bella menundukkan kepalanya, mencengkeram selimut rumah sakit dengan jemarinya yang gemetar hebat.

​"Dan yang paling hancur... Bella udah mencoreng reputasi keluarga Allegra..." lanjut Bella dengan napas tersengal-sengal, suaranya berubah menjadi bisikan putus asa. "Gosip tentang kelakuan Bella di club, kemarahan rekan-rekan bisnis Papa... Bella tahu semuanya, Pa. Bella tahu kalau kehadiran Bella sekarang cuma jadi racun yang siap menghancurkan kerja keras Papa membangun perusahaan selama bertahun-tahun."

​Alan menggeleng pelan, matanya ikut memerah basah oleh air mata yang selama ini mati-matian ia tahan sebagai kepala keluarga. Pria itu akhirnya mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu meraih kedua tangan Bella yang sedari tadi gemetar dingin.

​"Bella, lihat Papa," ucap Alan dengan suara berat yang sarat akan kelembutan, kontras dengan ketegasannya selama ini. "Siapa yang mengajarkanmu berpikir serumit dan sekejam itu tentang dirimu sendiri, hm?"

​Bella mengangkat wajahnya, menatap manik mata sang ayah dengan tatapan terluka. "Bukan siapa-siapa, Pa... Tapi itu kenyataan. Bella cuma bikin malu keluarga Allegra."

​"Cukup!" sergah Alan tegas namun penuh kasih, menggenggam tangan Bella semakin erat. "Dengarkan Papa baik-baik, Arabella. Sejak hari pertama kamu hadir di rumah itu, sejak detik pertama Papa menggendongmu... statusmu di keluarga ini tidak pernah berubah. Kamu adalah putri kandung Papa dan Mama di mata hukum, di mata dunia, dan yang paling penting, di dalam hati kami."

​Karin ikut maju, merengkuh bahu putrinya dan menciumi pipi Bella yang basah. "Anakku... uang yang kamu pakai, fasilitas yang kamu nikmati, itu semua adalah hakmu sebagai anak kami, Bella. Jangan pernah merasa berutang budi atau merasa menjadi benalu. Kamu adalah darah daging di rumah itu, terlepas dari apa pun hasil tes atau rahasia yang baru saja terungkap."

​"Tapi bagaimana dengan perusahaan Papa...? Bagaimana dengan omongan para pemegang saham dan rekan bisnis?" tanya Bella putus asa, suaranya gemetar. "Karena Berita tentang Bella di club tersebar, saham keluarga kita anjlok..."

​"Biarkan urusan perusahaan menjadi urusan Papa dan Nathan," potong Alan mutlak, tatapannya menyalang lurus penuh keyakinan. "Papa tidak peduli seberapa besar kerugian finansial yang harus Papa hadapi, atau seberapa banyak kerja sama bisnis yang batal. Nyawa, kebahagiaan, dan masa depanmu jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan yang Papa miliki, Bella. Jangan pernah berpikir untuk mengorbankan dirimu demi menyelamatkan perusahaan Papa."

​Bella tertegun. Kalimat itu begitu hangat, begitu tulus, hingga membuat pertahanan terakhirnya runtuh. Gadis itu kembali menangis tersedu-sedu, namun kali ini bukan karena ketakutan atau rasa asing, melainkan karena rasa bersalah yang teramat dalam sekaligus kehangatan cinta yang ternyata tidak pernah pudar dari kedua orang tua yang membesarkannya.

​*

Sementara suasana di ruang rawat inap VIP itu dipenuhi isak tangis dan kehangatan kasih sayang keluarga, di belahan kota yang lain, atmosfer yang tercipta justru jauh dari kata damai.

SUV hitam mewah yang dikemudikan oleh pengawal kepercayaan Christian berhenti tepat di depan sebuah bangunan beton berdinding tinggi dengan kawat berduri di atasnya—sebuah rumah tahanan privat yang berada di bawah yurisdiksi khusus kepolisian, tempat di mana penegakan hukum berjalan di balik pintu tertutup.

Christian melangkah turun dari mobil dengan setelan jas rapi dan aura dingin yang mengintimidasi. Langkah kakinya yang tegas menggema di lantai semen koridor yang lembap, diiringi oleh dua orang anak buahnya yang berjalan sigap di belakang.

Tujuan Christian ke sana sudah sangat jelas. Sebenarnya, sebagai seorang pria berkuasa dengan jaringan luas, sangat mudah bagi Christian untuk menghukum mati Vero dengan tangannya sendiri atas apa yang telah diperbuat pemuda itu pada Bella. Namun, ia tidak melakukannya.

Christian membutuhkan proses hukum yang sah melalui kepolisian. Publikasi penangkapan Vero atas kasus-kasus kriminal berlapis akan menjadi pukulan telak yang membersihkan nama baik keluarga Allegra dari segala gosip murahan dan skandal yang merusak reputasi perusahaan.

Begitu pintu sel tahanan khusus dibuka, bau pengap dan aroma keputusasaan langsung menyergap. Di sudut ruangan berjeruji besi itu, Vero tampak duduk meringkuk di atas kursi kayu dengan tangan terborgol. Wajah pemuda berusia delapan belas tahun itu tidak menyiratkan rasa takut sedikit pun, melainkan seringai sinis yang menjengkelkan—menandakan betapa terbiasanya ia hidup di dalam dunia kelam.

Namun, bukan hanya Vero yang ada di sana. Di hadapan jeruji besi tersebut, tampak sepasang paruh baya berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Mereka adalah Hermawan dan istrinya, orang tua Vero.

Christian tahu betul siapa Hermawan. Pria paruh baya itu dulunya adalah seorang pengusaha properti yang cukup disegani di kota ini, sebelum akhirnya perusahaannya mengalami kebangkrutan total akibat skandal dan salah investasi bertahun-tahun lalu. Jatuhnya keluarga Hermawan menyeret mereka ke dalam kemiskinan dan kehancuran moral.

Melihat kedatangan Christian, Hermawan langsung berlari tersandung-sandung menghampiri, lalu berlutut memohon di lantai semen yang dingin.

"Tuan Christian! Saya mohon... ampunilah anak saya, Tuan!" teriak Hermawan putus asa, air matanya tumpah membasahi pipinya yang keriput. "Vero masih muda! Dia khilaf! Tolong cabut tuntutannya, bebaskan anak saya dari penjara ini, Tuan!"

Istri Hermawan ikut bersimpuh di samping suaminya, menangis histeris sambil menyatukan kedua tangan memohon belas kasihan.

Christian menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, menatap rendah pasangan suami istri itu dengan sorot mata setajam elang. Tidak ada secercah pun rasa iba di wajah tampannya.

Christian bergeming. Ia hanya diam, namun keheningan itu justru jauh lebih menakutkan daripada bentakan keras.

Di dalam benaknya, Christian sudah merangkai seluruh teka-teki busuk ini. Selama ini, Christian tahu betul ke mana perginya uang dan fasilitas mewah yang dimiliki Bella. Gadis naif itu sering diam-diam memberikan uang dalam jumlah besar kepada Vero.

Bella mengira ia sedang menolong seorang kekasih yang kesulitan ekonomi. Padahal, kenyataannya jauh lebih busuk dari itu. Uang dari Bella tidak lain digunakan untuk menutupi tumpukan utang keluarga Hermawan, membiayai gaya hidup mewah Vero di klub malam, dan mencukupi kebutuhan keluarga mereka yang jatuh miskin.

Tidak hanya sampai di situ. Berdasarkan hasil investigasi anak buah Christian, kebejatan Vero ternyata jauh lebih dalam dari yang dibayangkan. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Vero sudah sangat berpengalaman dalam dunia prostitusi gelap.

Dan semua itu bukan tanpa alasan; kakak kandung Vero adalah seorang buronan bandar narkotika besar sekaligus mucikari licik yang menjerumuskan adiknya sendiri ke dalam lingkaran hitam tersebut. Vero memanipulasi kepolosan Bella, menjadikannya sapi perah sekaligus tameng untuk menutupi kejahatannya di belakang layar.

"Tuan Christian... kumohon..." rintih Hermawan lagi, mencengkeram ujung celana Christian dengan tangan gemetar. "Kami sudah tidak punya apa-apa lagi... Jangan hancurkan masa depan Vero..."

Mendengar permohonan itu, Christian akhirnya membuka suara. Suara baritonnya terdengar rendah, dingin, dan menusuk hingga ke tulang sumsum.

"Masa depan?" ulang Christian sinis, sudut bibirnya terangkat sebelah membentuk senyuman penuh penghinaan. Ia melirik sekilas ke arah Vero yang duduk di balik jeruji dengan santai. Christian kemudian melangkah mendekati jeruji besi, menatap tajam pemuda berandalan itu.

Vero sama sekali tidak menunjukkan rasa menyesal. Ia justru mendengus meremehkan, mengangkat dagunya menantang Christian meskipun tangannya terborgol.

"Aku tak sepenuhnya salah, ingat itu.." ucap Vero tanpa rasa bersalah sedikit pun, suaranya terdengar angkuh. "Si Bella sendiri yang bodoh dan gampangan. Aku tinggal merengek sedikit, minta uang buat ini-itu, dia langsung kasih tanpa mikir panjang. Kalau bukan karena dia gampangan dikibuli, aku nggak mungkin bisa senang-senang."

Mendengar kalimat kotor itu keluar dari mulut pemuda brengsek tersebut, urat di pelipis Christian mengeras. Kesabarannya yang tipis hampir habis.

"Kurang ajar!" maki salah satu anak buah Christian, hendak melayangkan bogem mentah ke arah Vero, namun Christian mengangkat tangannya memberi isyarat untuk berhenti.

Christian maju selangkah lagi, menatap mata Vero dengan tatapan penuh ancaman maut.

"Kamu benar, Vero," ucap Christian dengan nada berbahaya yang membuat udara di dalam ruangan tahanan itu mendadak membeku. "Arabella memang terlalu naif dan bodoh karena sudah berbaik hati pada sampah sepertimu. Tapi kebodohannya itu berhenti sampai hari ini."

Christian menoleh tajam ke arah Hermawan dan istrinya yang masih bersimpuh menangis.

"Dan kalian..." lanjut Christian dingin, menatap kedua orang tua Vero tanpa ampun. "Kalian gagal mendidik anak, membiarkan darah daging kalian hidup sebagai parasit dan penjahat. Nikmatilah sisa hidup anak kalian di balik jeruji besi ini, karena kepolisian tidak akan pernah memberikan keringanan hukuman. Dan pastikan kalian bersiap... karena kehancuran yang sebenarnya baru saja dimulai."

*

*

*

1
Nurmalia Lia
aishhh gak sabar nunggu bella nih thor😍👍
+1
kapan plok2 🌚
Vira Anisah
lanjut
Ita Putri
munafik tingkat dewa si Alan 🤭
+1
lama 😗
Mia Camelia
rasakan kau nathan di jutekin Clarisa🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 😍😍😍
Mia Camelia
ceritain Clarisa dan nathan dulu thor, makin penasaran nih 🤭
+1
jodoh anda 🌚
+1
bisa dipercepat alurnya 🌚🌚🌚
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
Ita Putri
pret lah....
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang
Mia Camelia
plis bella jangan kabur2an mulu, capek nih🤭🤭
+1
kejar om.. borgol kakinya 🌚
+1
mati🌚
MissSHalalalal: eh, jangan donk kak..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!