NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback: Awal Mula Pengkhianatan

Raya akhirnya tiba di kamarnya.

Tatapannya menyapu setiap sudut kamar yang selama lima tahun menjadi tempatnya beristirahat dan menyimpan begitu banyak kenangan bersama Zevan.

Namun, setelah apa yang baru saja terjadi, kamar itu terasa berbeda.

Raya mengembuskan napas panjang. Ia berjalan menuju balkon sambil meletakkan tasnya di atas meja. Pintu kaca ia buka, membiarkan udara pagi yang hangat menyentuh wajahnya.

Cahaya matahari masih memenuhi halaman rumah.

Raya berdiri di balkon dengan kedua tangan bertumpu pada pagar. Tatapannya kosong, mengarah pada halaman tempat beberapa mobil masih terparkir.

Pikirannya kembali berputar pada kejadian yang baru saja ia saksikan.

Ingatannya menariknya kembali pada dua bulan sebelumnya.

. . .

Dua bulan sebelumnya.

Malam itu, Raya sedang makan malam bersama keluarganya di rumah orang tuanya di desa.

Suasana di meja makan begitu tenang. Hanya suara detak jarum jam dan bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Raya baru saja hendak menyuapkan makanan ketika suara ibunya membuat gerakannya terhenti.

“Raya...”

Raya mengangkat wajah saat suara sang ibu terdengar.

“Iya, Bu?” sahutnya.

“Besok kamu sama Nak Zevan kembali ke kota, kan?”

Raya mengangguk kecil. “Iya, Bu. Memangnya ada apa?”

Bu Rodiah tampak ragu sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

“Begini, Rara diterima kuliah di Universitas Gunadarma di kota.”

Raya langsung menoleh kepada adiknya. “Benarkah, Ra?”

Rara mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Iya, Mbak.”

Senyum ikut terbit di bibir Raya. “Alhamdulillah, Ra. Akhirnya sebentar lagi kamu dapat gelar sarjana.”

Namun, ibunya kembali melanjutkan perkataan.

“Ibu mau minta tolong. Untuk sementara, boleh nggak Rara tinggal di rumah kalian?”

Raya terdiam.

“Ibu takut kalau Rara ngekos sendiri. Ibu khawatir ada orang jahat.”

Raya mengusap ujung jarinya pada permukaan meja. Ia tidak langsung memberikan jawaban. Pandangannya justru beralih kepada Zevan yang duduk di sampingnya.

“Bagaimana, Mas?” tanyanya.

Zevan menoleh sekilas.

“Keputusan ada di tanganmu, Ray. Lagi pula, urusan rumah dan segala macamnya kamu yang pegang, dan rumah itu milik kamu.”

Raya mengangguk pelan. Ia kembali menatap ibu dan adiknya.

“Baiklah, Bu. Dan untuk biaya kuliah, biar Raya yang tanggung. Ibu nggak perlu mengeluarkan uang.”

Wajah Bu Rodiah tampak lega.

“Benarkah, Nduk?”

Raya tersenyum. “Iya, Bu. Rara fokus saja kuliah.”

Kemudian ia menoleh kepada adiknya.

“Ra, kamu siapkan barang-barang yang perlu dibawa. Besok kita berangkat bersama.”

“Iya, Mbak Raya,” jawab Rara sambil mengangguk.

Raya kembali mengambil sendoknya.

. . .

Satu minggu setelah Rara mulai tinggal di rumah mereka.

Selama beberapa hari itu, semuanya berjalan seperti biasa. Rara sibuk dengan kuliahnya, sementara dirinya tetap menjalani rutinitas sebagai istri sekaligus Asisten CEO.

Sampai suatu sore, ketika Raya baru saja pulang dari kantor.

Ia menaiki tangga menuju kamar dengan langkah lelah. Tas kerja masih menggantung di bahunya ketika tangannya terulur hendak membuka pintu.

Namun, sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, suara dari dalam membuat langkahnya terhenti.

“Mas, hentikan.”

Raya mengerutkan kening. “Itu kan suaranya Rara? Kenapa ada di kamarku?”

Rasa penasaran membuatnya menempelkan telinganya sesaat pada pintu. Tidak terdengar percakapan yang jelas setelah itu.

Ia akhirnya menggenggam gagang pintu dan membukanya perlahan, hingga memperlihatkan kondisi kamar.

Namun saat Raya menapakkan kakinya di dalam kamar. Pemandangan di tepat di atas kasur membuat langkahnya seketika terhenti.

“Apa yang kalian lakukan?!”

Keduanya langsung menoleh.

Tatapan Rara tampak gugup, sementara Zevan buru-buru mengubah posisi duduknya.

“Mbak Raya...”

Raya masih berdiri di ambang pintu. Matanya bergantian menatap keduanya.

“Apa yang kalian lakukan di kamarku?”

Zevan tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya bersuara.

“Sayang, kapan kamu pulang?”

“Baru saja. Jadi… Kenapa kalian ada di sini?”

Rara segera turun dari ranjang. Tangannya sibuk merapikan jilbab dan pakaian.

“Mbak, Mas Zevan nakal sekali,” ujarnya terbata. “Tadi kami cuma bermain. Karena Mas Zevan kalah, Rara menghukumnya dengan mengoleskan lipstik, karena Rara nggak punya lipstik jadi, Rara ke kamar Mbak Raya buat ambil lipstik.”

Raya mengalihkan pandangan kepada Zevan.

Benar saja, ada sedikit noda lipstik di sisi bibir pria itu.

Raya terdiam beberapa detik. Namun, ia melihat wajah adiknya yang tampak gugup, dan memilih mengabaikannya.

“Oh... begitu.”

Raya meletakkan tasnya di atas meja.

“Mbak tadi beli makanan buat makan malam kita. Tolong pindahkan ke piring ya, Ra.”

Rara mengangguk cepat. “Iya, Mbak. Awas kamu, Mas Zevan,” ucap Rara mengancam

Raya kemudian melirik Zevan. Sudut bibirnya terangkat tipis.

. . .

Beberapa hari kemudian setelah hari itu.

Sebuah pekerjaan mengharuskan dirinya pergi ke luar kota bersama atasannya, Kansa. Proyek besar yang sedang mereka tangani membuat Raya harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu.

Namun malam itu, setelah seharian berada di lokasi proyek, Raya akhirnya kembali ke penginapan.

Tatapannya berhenti pada layar.

“Mas Zevan sedang apa, ya?” gumamnya.

Raya duduk di tepi ranjang. Jemarinya mencari nama Zevan di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar.

Namun, beberapa saat kemudian panggilan tidak terjawab.

Raya mengernyit.

“Aneh, biasanya Mas Zevan langsung angkat telepon dariku, sekarang kenapa akhir-akhir ini lama sekali. Apa mungkin Mas Zevan sedang sibuk.”

Ia mencoba menghubungi sekali lagi.

Dan beberapa saat kemudian. Hasilnya sama. Tidak ada jawaban.

Raya mengembuskan napas.

“Kalau begitu, aku hubungi Rara saja. Aku kangen banget sama dia.”

Ia kembali membuka daftar kontak dan mencari nama adiknya.

Tak lama, sambungan tersambung.

“Assalamualaikum, Mbak.”

Mendengar suara Rara, wajah Raya seketika sedikit melunak.

“Waalaikumsalam, Ra. Kamu sedang apa?”

“Lagi buat tugas, Mbak. Besok dikumpulkan.”

“Oh, tugas kuliah?” Raya bersandar pada kepala ranjang. “Sudah makan belum?”

Ada jeda beberapa detik.

“Euh... S-sudah, Mbak.”

Kening Raya langsung berkerut.

“Kamu kenapa, Ra?” tanyanya. “Kok suara kamu begitu?”

“Rara makan ayam geprek, Mbak.” Suara Rara terdengar sedikit tertahan. “Pedas banget. Ssshhh... Ahh.”

Raya terkekeh kecil.

“Oalah. Makanya suaramu begitu.”

“Iya, Mbak.”

“Ya sudah, lanjutkan saja makannya. Jangan lupa minum.”

“Iya, Mbak.”

“Kalau tugasnya sudah selesai, jangan tidur terlalu malam.”

“I-iya, Mbak.”

Sambungan telepon tiba-tiba berakhir.

Raya menatap layar ponselnya yang kembali menampilkan halaman utama.

Ia mengerutkan kening.

“Lupa salam, ya?”

Raya menggeleng pelan.

“Mungkin Rara memang sedang makan.”

Ia meletakkan ponsel di atas meja samping ranjang, kemudian merebahkan tubuh.

Pandangan Raya terpaku pada langit-langit kamar yang diterangi cahaya lampu redup.

“Kenapa perasaanku nggak enak begini, ya?”

Ia memejamkan mata.

Raya mencoba menepis kegelisahan itu.

.

Ingatan tentang berbagai kejanggalan itu perlahan memudar dari benak Raya.

‘Kenapa aku bodoh sekali sampai enggak menyadarinya sejak awal?’

Bibirnya bergetar.

Seandainya sejak awal ia lebih memperhatikan lebih detail. Mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini.

1
Adinda
lanjut thor
Adinda
benalu banget punya suami dan keluarga seperti ini lebih baik tendang raya
Adinda
lebih baik cerai udah penghianat mokondo pula🤣🤣🤣
ary daramita
lanjut thor
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
Eneng Farida
suami dan adik tqk thu diri pengen d jorokin ke jurang jdinya d telqn bumi udah rya tinggalin pak kanza bakalan membantu untuk lepas sm 2 dua benalu
sunaryati jarum
Lelaki monokondo kok hamili, adik,suami dan mertua sama tidak tahu malu.Sudah terlalu lama memendam luka,usir saja mereka ,toh itu rumahmu.Walaupun serupiah jangan dikasih
sunaryati jarum
Percaya saja terus sama Rara, setelah miskin,dipecat baru nyesel.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!