NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 05

Part 05

Tina terdiam di dalam mobil Alfan, ekspresinya tampak ingin memangsa manusia, saking kesalnya ia dengan kelakuan bosnya. Kalau bukan karena lelaki itu atasannya, Tina juga tidak mungkin menahan emosinya lama-lama.

Sebenarnya Tina sendiri tipe wanita yang mudah marah, hatinya gampang sekali memanas hanya dengan hal-hal kecil yang membuatnya kesal. Karena posisinya yang cuma bawahan, ia harus ekstra sabar menghadapi bosnya yang sering memperlakukannya dengan semena-mena.

"Kamu marah?" tanya Alfan sembari fokus menyetir. Setelah acara pertunangan adiknya selesai, ia disuruh mamanya untuk mengantarkan Tina pulang. Namun sepertinya asistennya itu sedang marah, Alfan tahu penyebabnya, apalagi kalau bukan karena tingkah lakunya.

Alfan sangat sadar dengan sikapnya saat berada di kamar bersama asistennya, ia sempat setuju saat Tina ingin ia menjelaskan semuanya terutama statusnya yang akan menjadi istrinya. Namun bila dipikir lagi, rasanya Alfan tidak bisa membuang kesempatan besar itu dengan mudah, karena sejak awal ia memang tertarik dengan Tina. Itulah kenapa ia memainkan peran yang dibuatnya, yang membuat Tina marah dengan sikapnya.

"Bapak ini bagaimana sih, katanya Bapak mau menjelaskan semuanya, tapi kenapa Bapak masih mengakui saya sebagai calon istri?" tanya Tina dengan mata berkaca-kaca, merasa ingin marah meski tidak bisa, membuat Alfan merasa bersalah meski tak terlalu tampak di wajahnya.

"Saya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya di hari bahagia adik saya kan? Apalagi Mama saya sangat senang mendengar saya akan menikah, apa kamu tega membuat mereka kecewa?"

"Ini semua juga tidak akan terjadi andai Bapak tidak menyuruh saya ke sana, apalagi di hari saya libur kerja." Tina memejamkan matanya, masih berusaha menahan amarahnya.

"Saya minta maaf, semua juga sudah terlanjur terjadi kan? Sebagai ganti ruginya, saya akan bayar waktu kamu sebagai calon istri saya." Alfan menjawab lugas yang kali ini ditatap tanya oleh Tina yang mulai tenang dari sebelumnya.

"Maksud Bapak saya akan dibayar lain dari gaji saya bekerja di perusahaan?" tanya Tina penasaran yang langsung diangguki oleh Alfan. Jujur saja, Tina memang sangat membutuhkan uang, bila bosnya mau membayar waktunya sebagai calon istri bohongan, tentu saja Tina tidak akan membuang kesempatan itu dengan mudah.

"Iya. Bagaimana? Kamu setuju?" tanya Alfan kali ini yang disenyumi penuh arti oleh Tina.

"Iya, Pak. Saya setuju. Saya cuma harus menjadi calon istri bohongan Bapak kan?" tanya Tina mulai terdengar antusias, air mata yang sempat ditahannya kini menguap entah ke mana.

"Iya. Kamu hanya perlu menuruti perintah saya, tapi jangan sekali-kali kamu membongkar kesepakatan kita ke orang lain apalagi ke keluarga saya."

"Iya, Pak. Saya janji, saya pasti akan menuruti permintaan Bapak apapun itu." Tina menjawab bersemangat yang diangguki oleh Alfan.

"Bagus."

"Pak, saya turun di sini saja ya." Tina menatap ke arah jendela, di mana mobil yang ditumpanginya masih berada di kawasan jalan raya.

"Kenapa? Memangnya rumah kamu di daerah sini?"

"Tidak kok, Pak. Saya akan naik angkot dari sini. Tolong berhenti ya, Pak." Tina tampak berbinar-binar dengan kesepakatan yang terjalin antara ia dan bosnya sampai lupa bila ia ingin marah, itu karena ada uang di antara mereka, bagi Tina hal itulah yang paling utama.

"Kamu yakin?"

"Yakin, Pak."

"Ya, terserahlah."

"Terima kasih, Pak." Tina menyunggingkan senyumnya sebelum turun dari mobil bosnya.

"Iya," jawab Alfan singkat lalu kembali fokus menyetir mobilnya, Alfan sendiri tak mengerti dengan kepribadian Tina yang seolah sangat membutuhkan banyak uang, Alfan jadi merasa penasaran dengan jalan hidup asistennya, hidup wanita yang disukainya.

***

Alfan berdiri di depan kantornya bak model yang memperlihatkan ketegasan sekaligus kewibawaannya. Semua karyawan yang datang menunduk dan menyapa sopan saat melewatinya. Sedangkan yang Alfan lakukan hanya berdeham, menjawab semuanya dengan nada tanpa minat.

Sebenarnya sikap Alfan yang seperti itu sudah biasa untuk para karyawannya, bos mereka itu memang terlalu tak acuh dan dingin setiap waktu. Namun yang membuat mereka heran, bosnya berdiri di sana seolah sedang menunggu seseorang. Ekspresi wajahnya juga seperti itu, seperti resah dan malas berada di tempatnya, namun harus tetap berada di sana.

Sebenarnya siapa yang sedang Alfan tunggu, pertanyaan seperti itu terlintas hampir di semua karyawan yang baru datang. Meski semuanya tidak berani bertanya, namun tetap saja mereka bertanya-tanya.

Sedangkan di sisi lainnya, Tina membulatkan matanya setelah turun dari bis, saat mengetahui bosnya sudah sampai di kantor. Dengan cepat, Tina berlari sembari berdoa di dalam hati agar ia tidak dimarahi.

"Selamat pagi, Pak." Tina menunduk sopan, nafasnya terdengar ngos-ngosan setelah sampai di hadapan Alfan.

"Pagi. Kenapa kamu telat? Saya sudah pernah bilang kan, kamu harus berada di ruangan saya sebelum saya sampai di sana." Alfan berujar seperti biasa, dingin dan mengintimidasi.

"Bapak yang terlalu cepat sampai kantor, biasanya kan Bapak berangkat sedikit lebih siang." Tina menjawab sopan.

"Oh jadi maksud kamu saya yang salah dalam hal ini? Berani ya kamu menyalahkan saya sebagai bos di sini?"

"Bukan begitu, Pak."

"Lalu apa?"

"Bukan apa-apa, Pak. Iya saya yang salah, Pak. Saya minta maaf." Tina menjawab pasrah, ia juga tidak mau mendapatkan masalah dari bosnya.

"Saya minta alamat rumah kamu!" Alfan menjulurkan tangannya ke arah Tina yang tampak bingung.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!