Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Lonceng yang Menghapus Nama
Dong!
Dentang lonceng hitam mengguncang Desa Qingyuan. Suaranya tidak terlalu keras, tetapi setiap kali bergetar, udara di sekeliling desa seolah kehilangan warna. Burung-burung jatuh dari langit. Daun-daun berhenti bergerak. Bahkan aliran sungai di dekat jalan tampak membeku sesaat.
Lalu terdengar jeritan.
Puluhan orang berteriak dari dalam desa, seolah mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang mengerikan. Gu Chen melihat seorang lelaki tua berlari keluar dari sebuah rumah sambil memegangi kepalanya. Di belakangnya, seorang perempuan menangis memanggil nama seseorang yang tidak terlihat.
“Apa yang terjadi?” Lin Yue bertanya.
Gu Chen tidak menjawab. Matanya tertuju pada lelaki berjubah abu-abu yang memegang lonceng di pintu masuk desa.
Di samping lelaki itu berdiri tiga orang bertopeng. Topeng mereka berwarna putih dengan sembilan garis hitam dan sebuah lingkaran kosong di tengahnya. Simbol yang sama dengan ukiran pada lempengan kayu pemberian Shen Mo.
Gu Chen segera menarik Lin Yue ke balik pohon.
“Jangan mendekat dulu.”
“Kau mengenali mereka?”
“Tidak. Tapi aku mulai muak melihat simbol itu di mana-mana.”
Lin Yue mengintip dari balik batang pohon. “Mereka tidak terlihat seperti anggota Sekte Pedang Awan.”
“Bagus. Berarti musuh kita semakin banyak.”
“Kau bisa tidak berhenti bercanda dalam situasi seperti ini?”
“Kalau aku berhenti, mungkin aku akan mulai menangis. Kau mau melihatnya?”
Lin Yue meliriknya dengan jijik. “Aku lebih memilih melihatmu jatuh dari tebing.”
“Keinginan yang sangat mengharukan.”
Meski saling menyindir, keduanya tetap memperhatikan keadaan desa. Gu Chen segera menyadari sesuatu yang ganjil. Orang-orang yang keluar dari rumah bukan sekadar ketakutan. Mereka tampak kebingungan, seolah tidak lagi mengenali lingkungan sendiri.
Seorang anak kecil berlari ke arah ibunya.
“Ibu! Di mana Kakak?”
Perempuan itu menatapnya kosong.
“Kakak siapa?”
Anak tersebut berhenti. Wajahnya perlahan pucat.
“Kakak yang tidur di sebelahku. Kakak yang kemarin membelikanku permen.”
Perempuan itu menggeleng, kemudian memeluk anaknya dengan bingung.
“Ibu tidak punya anak lain.”
Gu Chen merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Lonceng itu bukan sekadar membuat orang ketakutan. Benda tersebut menghapus sesuatu dari pikiran mereka.
Ingatan.
Papan Ketiga mengatur ingatan.
Kalimat dari catatan kuno itu kembali terngiang di kepalanya.
“Benda itu sedang menghapus seseorang,” bisik Gu Chen.
Lin Yue menatapnya. “Seseorang?”
“Lihat mereka. Mereka bukan hanya melupakan kejadian tertentu. Mereka melupakan orang-orang yang seharusnya mereka kenal.”
“Kalau begitu, kita harus menghentikannya.”
“Benar. Tapi sebelum itu, kita perlu tahu siapa targetnya.”
Seolah menjawab pertanyaannya, lelaki berjubah abu-abu itu mengangkat lonceng sekali lagi. Kali ini, ia tidak membunyikannya. Ia hanya memandang ke arah sebuah rumah kecil di ujung desa.
Rumah Gu Chen.
“Target telah ditemukan,” ujar lelaki itu. Suaranya terdengar tenang. “Mulai penghapusan.”
Salah satu pria bertopeng mengangkat tangannya. Sebuah cahaya putih muncul di udara, membentuk tulisan yang hanya bisa dilihat Gu Chen dari tempat persembunyiannya.
\[PROSES PENGHAPUSAN DIMULAI.\]
\[TARGET: GU YUAN.\]
\[STATUS: TELAH MATI.\]
\[PERINTAH TAMBAHAN: HAPUS SELURUH JEJAK KEBERADAANNYA.\]
Gu Chen membeku.
Mereka tidak sedang membunuh ayahnya. Gu Yuan sudah mati.
Mereka sedang mencoba membuat dunia melupakan bahwa lelaki itu pernah ada.
“Jadi ini yang mereka lakukan,” gumamnya.
Lin Yue memandangnya. “Apa?”
“Mereka tidak puas membunuh seseorang. Mereka ingin memastikan tidak ada yang bisa mengingat korban mereka.”
Gu Chen mengepalkan tangan. Selama ini, ia mengira kematian ayahnya adalah awal dari seluruh masalah. Sekarang ia mulai memahami bahwa kematian itu mungkin hanya salah satu tahap dalam sebuah proses yang jauh lebih besar.
Jika penghapusan tersebut selesai, bukan hanya penduduk desa yang akan melupakan Gu Yuan. Catatan, kenangan, bahkan bukti keberadaannya mungkin akan lenyap.
Dan jika semua itu terjadi, kebenaran akan semakin sulit ditemukan.
Gu Chen melangkah keluar dari balik pohon.
“Lin Yue, tunggu di sini.”
Gadis itu langsung menarik lengan bajunya. “Kau gila? Mereka membawa benda yang bisa mengubah ingatan puluhan orang, dan kau mau berjalan ke sana sendirian?”
“Kalau aku menunggu sampai keadaan aman, aku mungkin harus menunggu sampai mati.”
“Setidaknya mati dengan teman!”
Gu Chen menatapnya sesaat, kemudian menghela napas.
“Baik. Tapi kalau keadaan memburuk, lari.”
“Kalau keadaan memburuk, kau yang akan kuseret.”
Mereka keluar dari persembunyian bersama-sama.
Salah satu pria bertopeng segera menoleh. “Ada dua penyimpangan.”
Lelaki pemegang lonceng mengangkat kepalanya. Ketika melihat Gu Chen, ia tersenyum seolah sedang menyambut tamu yang telah lama dinantikan.
“Ah. Putra Gu Yuan akhirnya pulang.”
Gu Chen berhenti beberapa langkah darinya.
“Kau mengenal ayahku?”
“Aku mengenal banyak orang yang sudah dilupakan dunia.”
“Kalau begitu, sebutkan namamu.”
Lelaki itu tertawa pelan. “Kau masih berpikir nama adalah sesuatu yang bisa dipercaya?”
Gu Chen mengeluarkan pisaunya.
“Aku tidak membutuhkan namamu untuk memotong lehermu.”
“Keberanian yang menarik. Sayangnya, kau tidak akan bisa membunuhku.”
“Semua orang selalu mengatakan hal itu sebelum mencoba membunuhku.”
Senyum lelaki itu sedikit melebar.
“Kalau begitu, mari kita lihat apakah kau masih bisa berkata demikian setelah kehilangan namamu sendiri.”
Ia membunyikan lonceng.
Dong!
Gu Chen merasakan sesuatu mencengkeram pikirannya. Desa, pepohonan, dan sosok Lin Yue di sampingnya seketika tampak kabur. Ia mencoba mengingat namanya sendiri.
Gu Chen.
Ia masih mengingatnya.
Namun, beberapa detik kemudian, ingatan tentang wajah ayahnya mulai memudar. Bentuk mata, garis rahang, bahkan suara lelaki yang membesarkannya perlahan menghilang dari pikirannya.
Tidak!
Gu Chen menggigit lidahnya hingga darah memenuhi mulut. Rasa sakit membuat pikirannya sedikit jernih.
Ia berlutut, menahan tekanan yang terus menggerogoti ingatannya.
Di sampingnya, Lin Yue terjatuh. Gadis itu memegangi kepalanya sambil menggeleng keras.
“Siapa… siapa kau?” bisiknya.
Gu Chen menoleh.
Lin Yue sedang menatapnya dengan mata penuh ketakutan.
“Lin Yue! Ini aku!”
Gadis itu mundur ketika ia berusaha mendekat.
“Jangan sentuh aku!”
Kalimat itu menusuk Gu Chen lebih dalam daripada serangan apa pun.
Ia tahu bagaimana rasanya dilupakan. Ia pernah melihat Lin Yue kehilangan ingatan tentang dirinya di ruang cermin. Namun, kali ini berbeda. Lonceng itu tidak sekadar mengacaukan kenangan. Ia sedang menghapus ikatan yang menghubungkan mereka.
Gu Chen memaksa dirinya berdiri.
Lelaki pemegang lonceng memandangnya dengan tenang.
“Menarik. Ingatanmu lebih sulit dihapus daripada yang diperkirakan.”
Gu Chen mengangkat wajah. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Aku sudah sering melupakan banyak hal.”
Ia menghapus darah dengan punggung tangan.
“Sayangnya, aku punya kebiasaan buruk. Aku selalu mengingat orang yang ingin kubunuh.”
Ia menerjang.
Pria bertopeng di sebelah kiri bergerak untuk menghalangi. Gu Chen memutar tubuh, menghindari serangan pedang, lalu menghantamkan pisaunya ke pergelangan tangan lawan. Pria itu mendesis dan mundur.
Gu Chen tidak cukup kuat untuk menghadapi mereka secara langsung. Ia tahu itu. Karena itu, ia tidak mencoba mengalahkan mereka dengan kekuatan.
Ia mengincar lonceng.
Lelaki berjubah abu-abu menggeser tangannya sedikit. Gelombang tak terlihat menghantam dada Gu Chen dan melemparkannya ke tanah.
Napasnya terputus. Tulang rusuknya terasa seperti retak.
“Gerakanmu masih sama,” kata lelaki itu.
Gu Chen mengangkat kepala.
“Apa maksudmu?”
Lelaki itu tampak menyadari kesalahannya sendiri. Senyumnya menghilang sesaat sebelum kembali muncul.
“Tidak ada.”
Gu Chen menangkap perubahan itu. Ia mungkin tidak mengetahui siapa lelaki tersebut, tetapi satu hal sudah jelas: lelaki itu mengenali gerakannya.
Bukan gerakan Gu Chen yang sekarang.
Melainkan gerakan seseorang yang pernah menjadi dirinya.
Gu Chen tertawa pendek sambil memaksa dirinya bangkit.
“Sepertinya kau tahu lebih banyak daripada yang ingin kau katakan.”
“Aku tahu bahwa kau akan gagal.”
“Kalau begitu, kenapa kau terlihat gugup?”
Untuk pertama kalinya, lelaki itu tidak menjawab.
Gu Chen melirik Lin Yue. Gadis itu masih berlutut, berusaha mengingat sesuatu. Busurnya tergeletak di dekat kaki. Di lehernya, liontin bulan sabit perak mulai bergetar.
Cahaya tipis muncul dari permukaannya.
Gu Chen teringat ruang kesepuluh. Liontin itu pernah bereaksi terhadap lempengan kayu dan membuka jalan menuju reruntuhan. Mungkin benda tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kunci.
Mungkin ia juga mampu melindungi ingatan.
“Lin Yue!” teriak Gu Chen. “Liontinmu! Pegang liontinmu!”
Gadis itu mengangkat wajah dengan bingung.
“Aku… tidak tahu siapa kau!”
“Tidak masalah! Kau tidak perlu mengingatku. Cukup percaya bahwa kau sendiri yang memilih untuk menyelidiki keluargamu!”
Kalimat itu membuat Lin Yue terdiam.
Ia menatap liontin di lehernya. Jari-jarinya gemetar ketika menyentuh permukaan perak tersebut.
“Aku… memilih sendiri?”
“Ya!”
“Aku tidak diperintahkan oleh ayahku?”
“Tidak sepenuhnya. Kau punya alasanmu sendiri!”
Lin Yue menggertakkan gigi. Ia memejamkan mata dan menggenggam liontin itu sekuat tenaga.
Cahaya perak menyebar dari dadanya.
Dong!
Lonceng hitam kembali berdentang, tetapi kali ini suara tersebut bertabrakan dengan getaran liontin. Udara di sekitar mereka beriak. Para penduduk desa terhuyung, sementara lelaki berjubah abu-abu menatap benda perak itu dengan ekspresi terkejut.
“Mustahil. Kunci Pengamat seharusnya tidak mampu menolak penghapusan secara langsung.”
Lin Yue membuka mata.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” katanya dengan suara serak. “Tapi aku tahu satu hal.”
Ia mengambil busurnya dan berdiri di samping Gu Chen.
“Aku tidak suka orang asing yang berusaha mengatur pikiranku.”
Gu Chen tersenyum tipis.
“Nah, itu baru Lin Yue.”
“Jangan terlalu senang. Aku masih belum yakin siapa kau.”
“Tidak apa-apa. Aku juga belum yakin kau benar-benar menyenangkan.”
Lin Yue memelototinya, lalu melepaskan anak panah.
Anak panah itu melesat ke arah tangan lelaki berjubah abu-abu. Ia menghindar dengan mudah, tetapi gerakan tersebut membuat lonceng hitam terlepas dari genggamannya.
Benda itu jatuh.
Gu Chen langsung bergerak. Ia menerjang ke depan, mengabaikan rasa sakit di dadanya, lalu menyambar lonceng sebelum menyentuh tanah.
Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan hitamnya, dunia menjadi sunyi.
Tidak ada suara angin.
Tidak ada teriakan penduduk desa.
Tidak ada napas Lin Yue.
Bahkan detak jantungnya sendiri menghilang.
Di hadapannya terbentang ruang putih yang pernah ia lihat dalam penglihatannya. Kali ini, tidak ada papan catur raksasa. Tidak ada tangan raksasa yang memindahkan bidak.
Hanya ada sebuah pintu hitam.
Di permukaan pintu itu terukir tiga kata.
ARSIP YANG DIHAPUS.
Gu Chen mengangkat tangan untuk menyentuhnya, tetapi sebuah suara terdengar dari belakang.
“Jangan buka pintu itu.”
Ia berbalik.
Seorang anak laki-laki berdiri beberapa langkah darinya. Usianya sekitar sepuluh tahun. Rambutnya berantakan, pakaiannya berlumuran darah, dan wajahnya sangat mirip dengan Gu Chen.
Anak itu menatapnya dengan kebencian.
“Kalau kau membuka pintu itu, kau akan mengingat semuanya.”
Gu Chen menatap anak tersebut.
“Bukankah itu yang kucari?”
Anak itu menggeleng.
“Tidak. Kau hanya mencari kebenaran yang bisa kau terima.”
Ia menunjuk pintu hitam.
“Di balik pintu itu, kau akan mengetahui siapa yang membunuh Gu Yuan. Kau juga akan mengetahui siapa yang memintanya mati.”
Gu Chen terdiam.
“Siapa?”
Anak itu menundukkan kepala.
“Dirimu sendiri.”
Sebelum Gu Chen sempat menjawab, seluruh ruang putih bergetar. Retakan menjalar di permukaan pintu. Dari baliknya terdengar suara yang sangat dikenalnya.
Suara ayahnya.
“Chen'er, jangan percaya pada anak itu.”
Gu Chen membeku.
Anak laki-laki tersebut mengangkat wajah. Matanya kini berubah menjadi hitam sepenuhnya.
“Lihat? Bahkan sekarang, dia masih berusaha membohongimu.”
Pintu hitam terbuka sedikit.
Dari celahnya, Gu Chen melihat sosok seorang pria berjubah hitam duduk di atas takhta. Di tangannya terdapat pedang berlumuran darah. Di bawah takhta, ribuan bidak tergeletak hancur.
Pria itu mengangkat kepala.
Wajahnya adalah wajah Gu Chen.
Lalu sosok tersebut tersenyum dan mengucapkan satu kalimat.
“Sudah berapa kali kau membunuhku, Ayah?”
Gu Chen tersentak kembali ke dunia nyata.
Ia masih memegang lonceng hitam. Namun, permukaannya kini dipenuhi garis-garis tipis yang berkilau seperti retakan pada kaca.
Lelaki berjubah abu-abu berdiri beberapa langkah darinya. Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya benar-benar lenyap.
“Letakkan lonceng itu,” katanya.
Gu Chen memandangnya.
“Kenapa? Bukankah kau yang membawanya ke sini?”
“Letakkan sekarang!”
Suara lelaki itu menggema di seluruh desa. Para pria bertopeng segera mundur. Bahkan Lin Yue tampak terkejut melihat reaksinya.
Gu Chen justru menggenggam lonceng itu lebih erat.
“Tidak.”
Retakan pada lonceng semakin melebar.
Sebuah tulisan muncul di udara, tepat di depan mata Gu Chen.
\[ARSIP YANG DIHAPUS TELAH MENEMUKAN PEMILIKNYA.\]
\[IDENTITAS TERLARANG TERDETEKSI.\]
\[PERINGATAN: PEMAIN PERTAMA TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MENGHAPUS TARGET INI.\]
Lelaki berjubah abu-abu menatap tulisan itu dengan wajah pucat.
Kemudian ia berbisik, nyaris tidak terdengar.
“Jadi, kau benar-benar telah kembali.”
Gu Chen menatapnya tajam.
“Kembali dari mana?”
Namun, lelaki itu tidak menjawab. Ia justru menatap lonceng di tangan Gu Chen dengan ketakutan yang sulit disembunyikan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Gu Chen tiba di Desa Qingyuan, lelaki itu tampak seperti seseorang yang sedang menunggu kematiannya sendiri.
Bersambung ke Bab 12.