Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
.
“Aisyah, ini…?”
Raka menatap lembaran laporan keuangan yang baru saja dilemparkan kepadanya lalu ke arah wajah Aisyah dan berbalik lagi menatap berkas.
Ada stabilo warna kuning yang digoreskan oleh Aisyah di beberapa bagian sebagai tanda. Raka kemudian mengambil berkas lainnya. Dan tanda yang sama seperti itu juga ada. Bagaimana Aisyah bisa melihat semua itu? Bagaimana Aisyah bisa menemukan kecurangannya? Bukankah dulunya Aisyah hanya seorang cewek lulusan SMA?
“Kamu bisa mengenali tanda-tanda itu?” tanya Aisyah datar.
Raka seketika menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pertanyaan dari Aisyah. Tentu saja mengenalinya, itu adalah laporan keuangan toko dan restoran yang selama beberapa bulan ini telah Ia manipulasi. Beberapa jumlah transaksi penggelapan uang dalam jumlah besar yang sama sekali tak ia jelaskan tujuan atau kegunaannya.
Tetapi Raka sama sekali tak mau disalahkan. “Memangnya kenapa?” Tanya pria itu tanpa rasa bersalah. “Aku memang mengambil uang dari toko. Apanya yang salah? Yang aku ambil adalah uangku sendiri.”
Aisyah menggelengkan kepala seraya menatap Wajah pria itu dengan sorot matanya yang datar. Uangnya sendiri? Raka menganggap semua itu adalah hasil kerjanya dan miliknya sendiri? Jadi selama lima belas tahun ini, apa arti keberadaannya bagi pria itu?
“Jangan lupa,” ucap Aisyah. “Di dalam uang itu juga ada tetes keringatku selama Lima belas tahun. Lalu sekarang kamu mengatakan bahwa uang itu adalah milikmu? Apa menurutmu aku yang mendampingimu selama ini sama sekali tidak memiliki andil?”
Pria itu terdiam. Ia sama sekali tidak bisa membantah karena apa yang baru saja diucapkan oleh Aisyah adalah benar. Dia mengambil uang-uang itu untuk memberikan sesuatu bagi Nabila. Selama ini dirinya berpikir bahwa Aisyah tidak akan pernah tahu apa yang ia lakukan di belakang wanita itu. Siapa sangka ternyata Aisyah malah menemukan bukti itu?
Raka membalik halaman demi halaman. Dan semuanya menunjukkan pola yang sama. Uang dalam jumlah besar keluar dari rekening usaha, tetapi tidak ada keterangan yang jelas mengenai penggunaannya.
“Aku sedang membutuhkan uang waktu itu,” jawab Raka akhirnya.
“Untuk apa?” kejar Aisyah. “Untuk apa, Raka?” ulang Aisyah karena Raka masih membisu.
“Aku lupa.” Raka memalingkan wajah tak ingin berhadapan dengan Aisyah.
Aisyah tertawa pendek tanpa rasa geli. “Kamu lupa mengambil uang dalam jumlah sebesar itu?”
“Sudahlah, Aisyah. Itu sudah lama.” Raka tidak terima dirinya dipojokkan sehingga membuat nada suaranya setelah naik satu oktaf.
Aisyah mengangguk. “Biar aku ingatkan kalau kamu lupa. Kamu menggunakan uang itu untuk membahagiakan Nabila. Orang yang sama sekali tidak memiliki andil dalam terkumpulnya uang itu.”
Raka mulai kehilangan kesabaran. “Itu juga uangku!”
“Kalau memang uangmu, kenapa kamu mengambilnya diam-diam?” Aisyah ikut berteriak. Dada wanita itu terlihat naik turun.
Aisyah kemudian mengambil berkas laporan keuangan itu, dan memukul-mukulkannya di atas meja. “Transaksi ini terjadi dimulai dari 5 bulan yang lalu. Jadi saat kamu mengambil uang ini, Nabila belum menjadi istrimu. Itu artinya kamu bukan hanya berselingkuh di belakangku, tapi juga menggunakan uang yang hasil keringatku untuk menghidupi wanita lain.”
Raka tidak mampu menjawab. Pria itu hanya mengepalkan tangan.
“Dulu, aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang sudah kamu gunakan untuk dirimu sendiri. Aku juga tidak pernah melarangmu memakai uang hasil usaha.” Aisyah kembali melemparkan berkas itu di atas meja. “Tapi aku berhak marah karena kamu menggunakannya untuk wanita lain.”
Raka mengusap wajahnya kasar. “Aku akan mengembalikannya.”
“Kapan?” tanya Aisyah cepat membuat Raka terdiam. “Lihat?” Aisyah tersenyum hambar. “Bahkan sekarang kamu tidak bisa menjawab.”
“Aisyah, jangan memperlakukanku seperti pencuri!”
“Kenyataannya kamu memang mencuri.” Aisyah tersenyum miring. “Mulai sekarang, aku akan memeriksa seluruh laporan keuangan toko dan restoran. Jangan harap kamu bisa mengambil sesuatu yang seharusnya adalah hak aku dan anak-anakku untuk kamu berikan pada pelakor itu.”
“Kamu tidak percaya padaku?” tanya Raka tak percaya.
Aisyah menatapnya beberapa saat. “Setelah menemukan semua ini?” Ia menggeleng pelan. “Tidak lagi.”
*
Di rumah Akbar yang ada di kota.
Sore itu, Akbar baru saja pulang dari perusahaan. Dan baru saja pria itu menginjakkan kakinya di teras, pak Rozak sudah menyambut kedatangannya dengan wajah antusias. Pria paruh baya itu bahkan mengambil tas kerja dari tangan putranya.
“Bagaimana? Apakah sudah ada informasi dari anak buahmu tentang Mbak Aisyah?”
Agar membuang nafas lelah mendengar pertanyaan ayahnya. “Setidaknya biarkan aku masuk dan minum dulu, Yah,” ucapnya lalu masuk ke dalam rumah mendahului ayahnya.
Pak Rozak dengan bibirnya yang maju sepanjang 5 cm mengikuti dari belakang sambil memeluk tas Akbar di dadanya.
“Ayah kan cuma tanya, memangnya Ayah salah?” ucap pria paruh baya itu dengan suara memelas.
Akbar mendudukkan tubuhnya di atas salah satu sofa begitu ia sampai di ruang tengah. Pak Rozak yang sudah tidak sabar, meletakkan tas yang tadi ia bawa di salah satu sofa kemudian bergegas mengambil segelas air putih dari ruang makan dan memberikannya kepada putranya.
“Nih, minum!” ucapnya menyodorkan gelas itu pada Akbar. “Habis gitu buruan cerita!”
Akbar lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Tetapi pria itu menerima gelas yang diulurkan oleh ayahnya kemudian menenggak isinya hingga tandas. Setelah meletakkan gelas kosong itu di atas meja kaca di hadapannya pria itu mengambil tas kerjanya dan membuka nya. Dari dalam tas itu ia mengeluarkan sebuah map yang kemudian diberikan kepada ayahnya.
“Dia sudah menikah dan punya dua orang anak,” ucap Akbar sebelum Pak Rozak sempat membuka map itu.
“Apa?” tanya Pak Rozak tak percaya. “Masa sih? Kok kelihatannya masih single?”
Dengan cepat Ia membuka map yang ada di tangannya kemudian membuka lembar demi lembar, selalu membaca huruf demi huruf yang tertulis di atas kertas. Seketika itu juga tubuh pria paruh baya itu lemas lalu jatuh terduduk di atas sofa.
“Yaah… gagal deh punya mantu cantik dan baik,” keluh pria itu sambil menyangga dagunya menggunakan kepalan tangan. Sikunya bertumpu di atas pegangan sofa hingga posisi duduk pria itu sedikit membungkuk.
Akbar memutar bola matanya melihat tingkah ayahnya yang bagaikan anak kecil yang tidak jadi diajak ke pasar.
Akan tetapi hanya beberapa menit setelah suasana menjadi hening. Tiba-tiba Pak Akbar menegakkan kembali punggungnya dan menyambar map yang tadi ia letakkan di atas meja. Tangannya dengan cepat membuka kembali map itu. Dan seketika itu matanya berbinar cerah.
“Tapi suaminya sudah nikah lagi. Ya too?” tanyanya dengan mata menatap ke arah Akbar dan berkas di tangannya bergantian. “Suaminya itu sudah selingkuh. Jadi tidak masalah kalau kita merebutnya.”
“Ayah…!”
km merampas kebahagiaan dan hak Aisyah,,
skarang ap yg di alami Aisyah ,, di alami juga ma km bahkan lebih parah ,,
harta hasil nipu ya gak berkah