NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28:Kehangatan Sebelum Hari Besar

Pengakuan resmi atas kemenangan Aristha Group di Singapura mengubah peta politik korporasi di ibu kota secara drastis. Tidak ada lagi dewan komisaris yang berani meragukan integritas maupun kapasitas Aira Anindita. Dalam kurun waktu singkat, nama Aira berubah dari sekadar mantan asisten pribadi menjadi figur wanita muda paling berpengaruh di lingkaran bisnis nasional.

​Namun, di balik semua hiruk-pikuk publikasi media dan rapat evaluasi pasca-Singapura, suasana di penthouse pribadi Reynand malam itu terasa begitu hangat dan menenangkan.

​Hujan gerimis menyapu kaca-kaca balkon penthouse, memantulkan pendar lampu kota Jakarta yang samar dari kejauhan. Di dalam ruangan, aroma terapi lavender menguar lembut. Aira duduk di sofa santai, mengenakan kemeja longgar yang nyaman, sembari memeriksa draf desain undangan pernikahan yang baru saja dikirimkan oleh tim perancang busana dan event organizer.

​Langkah kaki tanpa alas memecah keheningan ruangan. Reynand mendekat setelah membersihkan diri. Pria itu mengenakan kaus polos hitam dan celana santai, menanggalkan sepenuhnya aura dingin berjas rapi yang biasa ia tampilkan di Aristha Tower.

​Reynand duduk di samping Aira, lalu tanpa ragu menyandarkan kepalanya di bahu Aira, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang calon istrinya tersebut.

​"Masih belum selesai memilih warna undangannya, Aira?" bisik Reynand lembut dengan suara bariton yang parau, membiarkan napas hangatnya menyapu leher Aira.

​Aira terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya ke kepala Reynand. Jemarinya mengelus lembut rambut hitam pekat pria di sampingnya. "Aku hanya ingin memastikan semuanya sempurna, Reynand. Ibu minta warna champagne gold, tapi aku rasa aksen emerald ini sedikit lebih anggun."

​"Gunakan pilihanmu," sahut Reynand mantap tanpa ragu. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap manik mata bening Aira dengan pendar cinta yang amat pekat. "Apapun yang kamu pilih, itu yang akan kita gunakan. Ini adalah hari pernikahan kita."

​Aira meletakkan tablet desain di meja, lalu membalikkan badannya menghadap Reynand. Tangan lentiknya terulur mengusap garis rahang kokoh Reynand yang menegang akibat kelelahan bekerja berhari-hari.

​"Terima kasih, Reynand," bisik Aira penuh keharuan. "Terima kasih karena selalu berdiri paling depan untuk melindungiku... bahkan ketika seluruh dunia sempat meragukanku."

​Reynand menatap Aira lekat-lekat. Pria itu meraih jemari Aira, mengecup punggung tangannya, lalu menyatukan kening mereka berdua.

​"Aku yang harus berterima kasih padamu, Aira," balas Reynand, suaranya sarat akan emosi yang mendalam. "Kamu yang mengajariku arti kepercayaan dan cinta sejati. Bersamamu, aku bukan hanya seorang CEO... aku adalah pria paling beruntung di dunia."

​Reynand memagut bibir Aira lembut, menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa syukur, dan janji setia yang telah mengakar kuat di dadanya. Kehangatan itu menyapu seluruh sisa-sisa kelelahan dan rasa cemas yang sempat hinggap dalam beberapa pekan terakhir.

​Namun, seperti tenang sebelum badai, kehidupan di puncak kekuasaan Aristha Group tidak pernah benar-benar sepi dari perhatian musuh-musuh terselubung.

​Sementara Reynand dan Aira menikmati momen manis di penthouse, sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor terparkir tak jauh dari gerbang komplek apartemen mewah tersebut. Di dalam mobil, seorang pria berpakaian serba gelap menutup lensa kamera berfoto jarak jauh setelah mengambil puluhan gambar Aira dan Reynand dari sudut balkon.

​Pria itu menekan tombol panggil pada telepon genggam khususnya.

​"Foto-foto dan jadwal pergerakan Aira Anindita untuk dua minggu ke depan sudah terkumpul," ujar pria itu dengan suara berat berbisik. "Kapan kita bertindak?"

​Dari seberang telepon, suara serak seorang pria paruh baya yang terdistorsi menjawab dingin: "Tunggu sampai persiapan pesta pernikahan mereka mencapai puncaknya. Kita akan hancurkan kebahagiaan keluarga Aristha tepat di hari paling sakral mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!