Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Jingga menutup pintu kamar dengan pelan. Begitu mendengar bunyi klik dari gagang pintu, barulah kedua kakinya terasa lemas. Ia bersandar di balik pintu, menundukkan kepala, lalu mengusap pipinya yang masih terasa panas.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, karena ia akhirnya menyadari bahwa selama ini dirinya benar-benar sendirian dalam pernikahan tersebut.
Dulu, kamar ini menjadi tempat yang paling disukainya. Setiap pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, Jingga selalu disambut Rangga yang terkadang sengaja menunggunya di depan pintu kamar. Pria itu akan mengambil tasnya, menyuruhnya duduk, lalu memijat bahunya yang pegal setelah seharian merawat pasien.
“Kasihan istriku, pasti capek sekali, ya?” begitu biasanya Rangga berkata sambil tersenyum.
Jingga bahkan masih ingat bagaimana pria itu pernah membawakannya makanan tengah malam karena dirinya mengidam sesuatu saat hamil. Meski hujan deras, Rangga tetap pergi mencarikannya tanpa banyak mengeluh.
Saat itu Jingga merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Sayangnya, semua kenangan manis itu sekarang justru terasa seperti ejekan.
Ia berjalan menuju tempat tidur, lalu duduk di tepinya. Matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang terletak di atas nakas. Foto dirinya bersama Rangga ketika mereka menggendong putra mereka yang baru berusia beberapa bulan.
Jingga mengambil foto itu dengan tangan gemetar.
“Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini, Nak?” bisiknya.
Wajah mungil putranya dalam foto membuat dadanya kembali sesak. Ia mengusap permukaan kaca bingkai itu, seolah bisa menyentuh pipi anaknya sekali lagi.
Selama tiga bulan terakhir, Jingga masih sering terbangun pada malam hari karena merasa mendengar tangisan anaknya. Kadang-kadang, ia bahkan refleks bangkit dari tempat tidur ketika mendengar suara bayi dari rumah tetangga. Untuk beberapa detik, ia lupa bahwa putranya sudah tidak ada.
Lalu kenyataan kembali menghantamnya. Anaknya telah pergi, dan suaminya tidak pernah benar-benar berada di sisinya ketika ia membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Jingga meletakkan kembali bingkai foto itu. Ia tidak ingin terus menangis. Bukan karena rasa sakitnya sudah hilang, tetapi karena ia lelah menghabiskan air mata untuk orang-orang yang bahkan tidak peduli dengan keadaannya.
Ketika hendak membuka lemari, terdengar suara tawa dari luar kamar. Suara itu sangat dikenalnya, Dira. Jingga berhenti bergerak. Entah mengapa, mendengar suara wanita itu saja sudah cukup membuat perutnya terasa mual.
Jingga bisa mendengar percakapan yang berlangsung di ruang keluarga.
“Rangga, kamu jangan terlalu keras sama Jingga. Bagaimanapun, dia istrimu,” ujar Dira.
Untuk sesaat, Jingga hampir mengira Dira sedang membelanya. Namun, jawaban Rangga membuatnya mengurungkan niat untuk merasa lega.
“Dia sendiri yang membuatku marah. Aku tidak mungkin diam saja ketika Varel sampai sakit gara-gara perbuatannya.”
“Tapi kamu juga harus ingat, dia baru pulang dari makam anaknya.”
“Lalu aku harus bagaimana? Membiarkannya menyakiti Varel hanya karena dia kehilangan anak?”
Jingga memejamkan mata, lagi-lagi anak Dira dijadikan alasan untuk menyudutkannya. Padahal, jika mereka mau memeriksa rekaman CCTV, kebenaran itu bisa diketahui dengan mudah. Namun, Rangga bahkan tidak bersedia melakukannya. Pria itu lebih memilih memercayai prasangkanya sendiri daripada mendengarkan penjelasan istrinya.
“Aku cuma tidak mau kalian bertengkar karena aku,” kata Dira lagi, terdengar lembut.
“Jangan berpikir macam-macam. Kamu tidak salah apa-apa, Dir.”
Perkataan pria itu membuat Jingga membuka mata. Kata sederhana yang selalu diberikan Rangga kepada Dira, sementara Jingga tidak pernah mendapat kesempatan yang sama. Sejak Tara meninggal, apa pun yang terjadi di rumah ini seolah menjadi tanggung jawabnya untuk dimaklumi.
Dira sedih karena kehilangan suami? Semua orang harus mengerti.
Dira membutuhkan perhatian? Rangga akan selalu ada.
Namun, ketika Jingga kehilangan anaknya sendiri, ia justru diminta menerima keadaan dan berhenti bersedih.
Jingga mengusap wajahnya kasar. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak percakapan itu. Dengan langkah pelan, ia kembali menuju lemari dan mulai mengeluarkan beberapa pakaian dari dalamnya.
Ia belum tahu akan pergi ke mana. Tabungannya memang masih ada, tetapi tidak banyak. Selama menikah, ia tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan hidup tanpa Rangga. Sebagian besar kebutuhannya dipenuhi suaminya, sementara gajinya sendiri lebih sering ia sisihkan untuk keperluan anak mereka.
Namun, Jingga masih memiliki pekerjaan. Ia masih bisa mencari tempat tinggal sederhana dan memulai hidup dari awal. Setidaknya, ia tidak perlu lagi tinggal serumah dengan orang-orang yang membuatnya merasa tidak berharga.
Baru saja ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper, pintu kamar terbuka dengan kasar.
Rangga berdiri di ambang pintu.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Jingga terus melipat satu potong pakaian, kemudian memasukkannya ke dalam koper. “Aku sedang berkemas.”
“Untuk apa?”
“Aku mau pergi.”
Rangga tertawa pendek, seolah ucapan itu adalah lelucon yang tidak lucu. “Pergi ke mana? Jangan kekanak-kanakan, Jingga. Hanya karena aku marah, kau langsung mau kabur dari rumah?”
Jingga berhenti melipat pakaian, lalu menoleh.
“Kalau menurutmu ini cuma karena kau marah, berarti selama ini kau memang tidak pernah memperhatikanku.”
“Aku tidak punya waktu untuk meladeni drama seperti ini.”
“Kalau begitu, kau juga tidak perlu meladeniku lagi.”
Wajah Rangga mengeras. "Kau mulai berani melawanku sejak kapan?!”
“Sejak aku sadar... kalau diam saja tidak membuatmu berhenti menyakitiku.”
Rangga melangkah masuk dan melirik koper di atas tempat tidur. Tatapannya kemudian beralih kepada Jingga, seolah tidak percaya istrinya benar-benar berniat pergi. “Jingga, dengarkan aku. Jangan membuat masalah semakin besar. Kalau kau keluar dari rumah ini, jangan berharap aku akan menjemputmu kembali!”
Jingga tersenyum tipis. Dulu, ancaman seperti itu mungkin akan membuatnya takut. Ia akan menangis, meminta maaf, lalu membatalkan keinginannya demi mempertahankan rumah tangganya. Namun, sekarang ia justru merasa lega mendengarnya.
“Aku tidak akan memintamu menjemputku, Mas.”
“Jangan menyesal nanti!”
“Aku sudah cukup lama menyesal.”
Jingga kembali memasukkan pakaian ke dalam koper. Ia tidak membawa banyak barang, hanya pakaian seperlunya, beberapa dokumen penting, tabungan, serta foto putranya yang tadi ia ambil dari nakas.
Saat melihat bingkai foto itu dimasukkan ke dalam tas, wajah Rangga berubah kesal. “Tidak perlu membawa foto itu. Kau malah membuat dirimu semakin sedih.”
“Ini foto anakku! Aku tidak membutuhkan izinmu untuk membawanya!” Jingga menatap suaminya tajam.
“Dia juga anakku!”
“Benarkah?” Jingga bertanya lirih. “Kalau dia memang anakmu, kenapa malam itu aku harus menghadapi semuanya sendirian?”
Rangga tidak bisa menjawab.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Jingga berharap pria itu setidaknya mau mengakui kesalahannya, tetapi harapan kecil itu segera lenyap ketika Rangga mengembuskan napas kesal.
“Aku tidak mau membahas kejadian itu lagi.”
“Tentu saja, kau memang selalu begitu.”
Jingga menutup koper, lalu mengangkatnya dari atas tempat tidur. Sebelum melangkah keluar, ia sempat memandang sekeliling kamar yang pernah menjadi saksi kebahagiaannya.
Di sudut ruangan masih ada kursi kecil tempat ia biasa menyusui putranya. Di atas lemari tersimpan beberapa mainan yang belum sempat ia berikan kepada anak mereka. Semua benda itu menyimpan kenangan yang tidak mungkin ia buang begitu saja. Namun, ia tidak bisa terus tinggal di tempat yang membuatnya terluka setiap hari.
Ketika Jingga keluar dari kamar, Dira dan Bu Farah sudah berdiri di ruang keluarga. Keduanya menatap koper di tangan Jingga dengan ekspresi berbeda. Dira tampak terkejut, sedangkan Bu Farah langsung mengerutkan kening.
“Kamu mau ke mana, Jingga?” tanya Bu Farah.
“Saya mau tinggal di tempat lain untuk sementara waktu, Ma.”
“Jangan berlebihan begitu. Masalah rumah tangga tidak seharusnya diselesaikan dengan pergi dari rumah.”
Jingga menahan senyum pahit. "Kalau saya tetap tinggal, apakah ada yang menjamin saya tidak akan ditampar lagi?”
Dira menunduk, sementara Rangga yang berjalan di belakang Jingga langsung menyela. “Jangan membesar-besarkan masalah! Aku sudah bilang aku marah karena Varel sakit.”
“Kalau begitu, periksa CCTV-nya! Aku tidak keberatan kalau memang terbukti bersalah.” Jingga meletakkan kunci kamar di atas meja. “Sampai kebenarannya diketahui, jangan pernah menuduhku lagi!”
Ia kemudian berjalan menuju pintu utama. Tidak ada yang benar-benar berusaha menghentikannya. Bu Farah hanya berdiri sambil menggelengkan kepala, sedangkan Dira tetap diam di tempatnya.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Rangga terdengar sekali lagi.
“Kalau kau pergi sekarang, jangan kembali kepadaku saat kau kesulitan!”
Jingga berhenti sejenak, tetapi tak sedikit pun menoleh. “Aku sudah pernah hancur saat anakku meninggal. Jadi jangan terlalu percaya diri mengira aku akan kembali hanya karena hidupku sedang sulit.”
Pintu depan terbuka, udara malam menyambutnya dengan dingin. Jingga melangkah keluar sambil menarik kopernya, meninggalkan rumah besar yang selama ini disebutnya rumah sendiri.
Air matanya kembali mengalir, tetapi langkahnya tidak berhenti. Ia tidak tahu bagaimana hari esok akan berjalan. Ia juga tidak tahu apakah dirinya sanggup menghadapi hidup tanpa keluarga yang selama ini dianggapnya sebagai tempat bernaung.
Namun setelah sekian lama, keputusan itu benar-benar miliknya sendiri.
Malam itu, Jingga pergi tanpa membawa banyak barang. Ia hanya membawa kenangan tentang putranya, luka dari pernikahannya, dan keberanian kecil untuk memulai kembali.
Sementara di dalam rumah, Rangga masih berdiri dengan wajah kesal. Ia yakin Jingga hanya sedang mencari perhatian dan akan kembali dalam beberapa hari. Ia belum menyadari bahwa kali ini, wanita itu benar-benar sudah menyerah. Dan ketika suatu hari nanti ia menyadari siapa yang telah ia sia-siakan, mungkin Jingga sudah terlalu jauh untuk dijangkau.
Sebab... terkadang seorang wanita tidak pergi karena berhenti mencintai. Ia pergi karena akhirnya sadar bahwa dirinya juga pantas dicintai.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu