Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Skenario licik Vera yang mulai goyah
Keesokan harinya, Larissa mendampingi Elang sarapan di ruang makan utama. Bocah itu tidak lagi menunjukkan tanda-tanda tantrum; dia duduk dengan tenang di samping Larissa, sesekali menyuapkan potongan buah ke mulutnya sendiri sembari mata bulatnya terus menatap Larissa dengan binar keterikatan yang sangat kuat.
Bayu yang duduk di kepala meja, mengamati interaksi tersebut di balik tablet yang ia pegang.
"Jadwal terapi bicara Elang sore ini akan didampingi oleh tim medis di ruang tengah, Pak" ujar Larissa.
"Saya sudah memastikan bahwa atmosfer ruangannya diatur agar tetap familier bagi Elang, sehingga dia tidak akan merasa terintimidasi oleh kehadiran orang baru."
"Bagus," sahut Bayu. Pria itu meletakkan tabletnya, lalu menatap Larissa lekat-lekat.
"Kerjamu di hari pertama melampaui ekspektasi saya, Bu Larissa. Harris telah memindahkan seluruh basis data koordinasi harian untukmu. Mulai hari ini, Anda juga akan mulai menyaring beberapa draf proposal eksternal yang masuk ke meja saya."
Larissa mengangguk mengerti. "Saya akan menyelesaikannya dengan baik, Pak."
Akses untuk menyaring draf proposal eksternal Megah Corp adalah sebuah senjata baru yang luar biasa mematikan. Dia tahu betul bahwa Baskoro Konstruksi sedang sekarat dan sangat mengemis proyek dari Megah Corp.
Berada di posisi ini berarti Larissa memiliki kuasa penuh untuk membuang proposal milik mantan suaminya ke kotak sampah tanpa perlu meminta izin siapa pun.
Sementara Larissa mulai menggenggam kendali di langit tertinggi Megah Corp, kehancuran justru sedang bersiap meledak di dalam keluarga Baskoro.
Suasana di dalam ruang makan mewah kediaman Baskoro terasa kian menyesakkan. Ketegangan yang telah menumpuk selama dua minggu terakhir akhirnya mencapai titik jenuh yang siap meledak kapan saja.
Plak!
Suara benturan keras memecah keheningan. Ibu Maya melemparkan sebuah buklet tebal berlapis kertas krat premium beserta selembar kartu janji temu resmi ke atas meja tepat di hadapan tempat duduk Bram dan Vera.
"Ibu tidak mau mendengar alasan apa pun lagi dari mulutmu. Besok pagi Ibu sendiri yang akan mengawal kalian berdua untuk menemui Profesor Subroto," ujar Bu Maya dengan suara yang mengalun datar.
Ibu Maya melipat kedua tangannya di depan dada. "Besok, seluruh sampel darah dan pemeriksaan sistem reproduksi kalian akan dites secara transparan. Kita lihat, siapa sebenarnya yang membawa sial di rumah ini."
Deg.
Menyadari ruang geraknya telah terkunci mati untuk esok hari, otak manipulatif Vera berputar cepat dalam hitungan detik. Dia harus menggunakan senjata andalannya: air mata dan gaslighting emosional.
Vera meletakkan sendoknya, lalu sedetik kemudian air mata palsu mulai merebak membasahi sepasang matanya. Bahunya dibuat bergetar gemetar, seolah-olah dia adalah korban yang paling tersakiti di dalam ruangan ini.
"I-Ibu... kenapa Ibu tega sekali menekan Vera seperti ini?" rintih Vera, suaranya dibuat bergetar hebat penuh dengan nada terluka yang dramatis.
Dia menyeka sudut matanya dengan sapu tangan. "Vera ini istri sah Mas Bram. Mengapa Ibu terus-menerus mencurigai Vera seolah-olah Vera adalah wanita yang bermasalah? Sikap Ibu yang tidak memercayai ketulusan Vera ini... Ibu sama saja dengan menyamakan Vera dengan Larissa?!"
Vera sengaja membawa-bawa nama Larissa untuk memicu rasa bersalah Ibu Maya dan memancing pembelaan dari Bram. Biasanya, Bram akan langsung murka jika nama mantan istrinya disebut-sebut di rumah itu.
Tapi kali ini perhitungan Vera meleset total. Ibu Maya tidak sedikit pun goyah oleh tangisan dramatis menantu barunya.
Wanita paruh baya itu justru mendengus kencang, menatap Vera dengan pandangan yang kian dingin dan muak. Kesombongannya membuat beliau tidak mempan digertak oleh air mata murahan.
"Jangan bawa-bawa nama si mandul itu untuk lari dari tanggung jawab, Vera!" sembur Ibu Maya, suaranya meninggi memotong sandiwara Vera.
"Kalau kamu memang sehat, kalau rahimmu memang subur seperti yang kamu agung-agungkan sebelum menikah dulu, kenapa kamu harus ketakutan setengah mati setiap kali Ibu minta periksa?! Seorang wanita yang rahimnya bersih tidak akan gemetar melihat kartu janji temu rumah sakit! Sikap menghindarmu yang terus-menerus ini justru membuat Ibu semakin curiga!"
"Cukup, Ibu!"
Brak!
Bram tiba-tiba berdiri dari kursinya, menggebrak meja makan marmer dengan tinjunya hingga membuat gelas kristal di atas meja bergeser kasar. Bram yang sedang stres akibat penurunan omset bisnis seketika tersulut oleh perdebatan di depan matanya.
Sebagai pria yang mengagungkan otoritas mutlak, dia merasa harga dirinya sebagai kepala rumah tangga diinjak-injak oleh desakan ibunya yang terus-menerus mengatur urusan ranjangnya.
"Jangan terus-menerus membuat keributan di meja makan hanya karena urusan ini!" bentak Bram, napasnya memburu kasar dengan urat-urat yang menegang di pelipisnya.
Pria itu menatap ibunya dengan pandangan berang, mencoba membela Vera demi menjaga harga diri pilihannya sendiri. "Vera benar, Ibu terlalu berlebihan! Kami baru menikah dua bulan, wajar jika belum ada tanda-tanda kehamilan!"
Ibu Maya ikut berdiri, menatap putranya dengan tatapan yang tidak kalah tajam. "Ibu melakukan ini demi masa depan keluarga kita, Bram! Ibu tidak mau harta Baskoro jatuh ke tangan orang asing karena kamu tidak punya keturunan! Ingat kata-kata Ibu, besok jam sepuluh pagi kita berangkat, atau Ibu akan meminta dewan komisaris untuk membekukan seluruh dana operasional pribadimu!"
Dengan langkah kaki yang dihentak kasar, Ibu Maya membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan, membanting pintu penghubung dengan sangat keras hingga gema suaranya memekakkan telinga.
Suasana di ruang makan seketika jatuh ke dalam keheningan yang luar biasa mencekam. Para pelayan yang berjaga di sudut ruangan buru-buru menundukkan kepala, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Vera mengembuskan napas lega yang sangat tipis di dalam hatinya, mengira pembelaan kasar dari Bram barusan telah menyelamatkannya untuk sementara.
Dia bergerak mendekati Bram, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh lengan kemeja suaminya dengan gaya manja yang biasa untuk meredam kemarahan pria itu.
"Mas Bram... terima kasih karena sudah membela—"
"Lepaskan."
Suara Bram mengalun dengan sangat dingin. Pria itu tidak menatap Vera dengan pandangan penuh kasih sayang seperti biasanya. Sebaliknya, Bram perlahan memutar tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata Vera dengan sorot mata yang penuh dengan selidik.
Vera tersentak, langkah kakinya refleks mundur setengah senti melihat perubahan drastis pada tatapan suaminya. "M-Mas Bram... ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Bram memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana bahannya, sementara tangan yang lain mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat dan mengintimidasi.
Otaknya mulai menghubungkan beberapa titik keganjilan yang selama ini dia abaikan karena terlalu fokus pada urusan bisnisnya yang merosot.
Dia ingat bagaimana Vera selalu panik setiap kali topik anak dibahas, bagaimana Vera selalu membuang vitamin kesuburan ke dalam tempat sampah toilet, dan bagaimana histerisnya Vera malam ini hanya karena sebuah kartu janji temu rumah sakit dari ibunya.
"Kenapa kamu selalu menghindar dan ketakutan setiap kali Ibu membahas soal pemeriksaan anak?" tanya Bram, suaranya terdengar sangat datar namun menusuk bagai belati.
Pria itu melangkah maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka, mengunci fokus Vera di bawah bayangan tubuh tingginya.
Mata Bram menyipit tajam, menembus langsung ke dalam bola mata Vera yang mulai bergerak gelisah menatap ke segala arah.
"Seorang wanita yang yakin dirinya subur akan dengan senang hati datang ke rumah sakit dan membungkam mulut Ibuku untuk selamanya. Tapi kamu... kamu justru menangis histeris seolah-olah tempat itu adalah ladang pembantaianmu."
Bram menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di depan wajah Vera yang kini sudah mandi keringat dingin akibat cengkeraman rasa takut.
"Katakan padaku yang sebenarnya, Vera... apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku? Apa ada rahasia tentang rahimmu yang sengaja kamu tutupi dariku sebelum kita menikah?"
Deg!
Pertanyaan penuh selidik dari Bram mendarat bagai hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh rasa aman Vera dalam sekejap.
Skenario liciknya perlahan berubah menjadi bumerang mematikan yang siap menghancurkan dirinya esok hari, sementara di sudut lain kota, Larissa sedang berdiri di paviliun milik Bayu menanti runtuhnya istana pasir keluarga Baskoro.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut