Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01. Sikap yang aneh
''Ssssh, aduh perih sekali.'' Rina membetulkan bra yang ada di dalam baju dia.
''Emang kenapa, Mbak?'' Rania menoleh sambil bersiap-siap membawa bekal untuk ke sekolah.
''Enggak kok.'' Rina menggeleng dengan wajah yang terlihat begitu pucat sekali.
''Mbak kan tidak punya bayi ya tapi kenapa kok memiliki ASI yang sangat banyak seperti ini?'' Rania bertanya dengan nada yang begitu Penasaran sekali.
Mendengar pertanyaan dari sang adik membuat Rina menjadi gelagapan untuk menjawab, terlebih lagi saat ini bukti sudah ada di depan mata ketika kau sedang dia pakai terlihat basah pada bagian payudara itu sehingga Rania pun menyadari bahwa itu adalah air susu milik sang kakak.
Rania sudah cukup dewasa karena saat ini dia berada di kelas tiga SMA, tentu dia bisa membedakan mana ASI dan juga mana air biasa. dari cairan itu saja sudah terlihat sangat berbeda sehingga dia yakin bahwa Rina memang memiliki air susu tersebut sehingga membuat Dia sangat Penasaran sekali.
Rina terlihat membetulkan kaos yang sedang dia pakai itu karena tidak mau bila sampai ada orang lain yang melihat, melihat wajah Kakak yang begitu panik sehingga Rania menjadi semakin penasaran dan Dia terkadang juga bertanya-tanya kenapa Rina terlihat cukup kebingungan ketika sedang menyembunyikan rasa sakit itu.
Bukan cuma sekali atau dua kali saja Dia terlihat meringis ketika sedang membenarkan bra yang ada di dalam baju, semula Rania berpikir bahwa bisa saja itu adalah ulah dari suami kakak dia sendiri ketika mereka sedang bercinta, namun keanehan itu bukan hanya sekali saja sehingga Rania mulai cemas dengan nasib sang kakak.
Maksud gadis ini adalah bila memang Rina merasa tidak nyaman dengan tubuh ini maka mereka bisa berobat, namun ketika mendapat pertanyaan seperti itu saja sudah membuat rona wajah Rina berubah seratus persen sehingga membuat Rania juga kebingungan atas pertanyaan yang sudah keluar dari mulut dia tadi, Mungkinkah pertanyaan itu sudah menyinggung perasaan Rina.
''Ini tadi kena percikan air saat sedang mencuci piring.'' Rina menjawab dan terus sambil bekerja membereskan rumah.
''Maksud ku bila Mbak Rina merasa tidak nyaman maka lebih baik bila kita berobat saja lah.'' Rania semakin mendekati.
''Ah tidak perlu seperti itu karena aku baik-baik saja.'' Rina menolak dengan suara yang cukup sewot.
''Ya sudah kalau memang tidak mau pergi berobat.'' Rania berkata pelan dan dia segera pergi ke sekolah.
''Hahhhh.'' Rina menarik nafas sendirian ketika sudah tidak ada orang di dalam rumah ini.
Rumah yang begitu besar namun terasa begitu kosong sekali karena penghuni rumah itu hanya mereka bertiga, suami Rina ada dan juga Rania yang memang tinggal bersama dia sejak kecil hingga sampai saat ini. kehidupan Rina dulu tidak mewah seperti sekarang, bahkan dulu untuk makan saja mereka begitu kesulitan sekali karena keuangan yang begitu sulit.
''Dik, Mas mau pergi ke kota nanti siang.'' Ilham keluar dari kamar dan menegur Rina.
''Ya.'' Rina hanya mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaan rumah.
''Kamu kalau memang sedang tidak enak badan maka tidak usah membereskan rumah terlebih dahulu, istirahat saja sampai pulih.'' Ilham berusaha memberikan perhatian.
''Kamu tentu tahu bahwa aku akan tetap seperti ini meski sudah melakukan istirahat!'' Rina menoleh dan memberikan tatapan tajam.
''Em ya maksud ku...
''Aku sudah muak dengan ini semua!'' Rina membanting piring yang sedang dia pegang dan segera pergi dari bagian dapur.
''Rin kamu mau kemana?!'' Ilham berteriak dan mengikuti sang istri yang terlihat begitu emosi sekali.
Braaaaak.
''Astaga!'' Ilham sampai terjingkat kaget ketika dia ingin mengejar masuk ke dalam kamar namun pintu itu sudah tertutup rapat.
Tak lama dia mendengar suara tangis yang begitu memilukan sekali dan Ilham menyadari bahwa itu adalah suara tangisan istri, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa terdiam duduk meratapi nasib dengan pandangan begitu jauh sekali.
''Assalamualaikum!'' terdengar suara orang mengucap salam dari luar rumah.
''Waalaikumsalam.'' Ilham bergegas bangkit untuk menemui tamu yang datang ini.
''Maaf saya datang pagi begini karena kalau siang Mas Ilham jarang ada di rumah.'' Pak RT Berkata sambil tersenyum.
''Iya, saya kalau siang memang bekerja agar mendapat uang dan tidak hidup miskin yang penuh dengan hinaan lagi.'' Ilham tersenyum sambil menjawab.
Mendengar ucapan Ilham itu maka tentu saja Pak RT menjadi tertunduk malu, sebab selama ini dia yang banyak menghina ketika keluarga Ilham sedang berada dalam kesulitan dan bahkan ketika dia sedang memberikan undangan Bansos maka akan dilengkapi dengan undangan hinaan yang tidak terkira.
''Oh ya, Ada apa Pak RT mencari saya?'' Ilham langsung bertanya.
''Ini, Desa kita kan sedang dalam pembangunan jalan jadi saya meminta sumbangan dari warga yang mampu.'' Pak RT menjelaskan kepada Ilham.
''Jadi Saya sekarang sudah masuk dalam kategori yang mampu ya Pak RT?'' Ilham kembali memberikan serangan telak.
''Ahahaa, Iya Mas Ilham.'' Pak RT tersenyum kaku karena dia tahu bahwa itu adalah sindiran berat.
''Tunggu sebentar karena saya akan mengambil uang dulu di kamar.'' Ilham segera masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil uang Karena pak RT datang untuk meminta sumbangan pada dia.
Pak RT mengangguk dengan cepat dan ketika Ilham sudah tidak ada di depannya maka senyum itu berubah menjadi wajah menghina, Bahkan dia menatap rumah besar ini seolah penuh dengan rasa jijik Sehingga siapa saja yang melihat pasti akan bertanya-tanya Kenapa Pak RT bisa bersikap seperti itu kepada warga dia sendiri.
Tapi selama ini tidak ada yang mempermasalahkan sikap Pak RT itu, Sebab mereka semua sama ketika melihat ada yang miskin maka akan langsung menjauhi dan memberikan hinaan begitu besar, sehingga terkadang hidup orang miskin menjadi semakin berat karena memikirkan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka.
''Pak RT datang untuk meminta sumbangan pada kita.'' Ilham berusaha berbicara lembut kepada sang istri yang sedang berbaring menghadap dinding.
''Terserah.'' Rina menjawab tanpa menoleh.
''Aku berikan sejuta rupiah untuk dia ya?'' Ilham tetap meminta izin kepada sang istri.
''AKU BILANG TERSERAH YA TERSERAH!'' Rina berteriak keras sehingga membuat Ilham dan merasa kaget sekali.
Ilham segera mengambil uang yang dia butuhkan dan keluar dari dalam kamar, sebab dia tahu bahwa saat ini perasaan sang istri terguncang namun dia juga tidak tahu bagaimana untuk menghentikan ini semua, namun yang jelas dia akan berusaha mencari cara agar Rina bisa kembali seperti dulu lagi.
Selamat siang, kita berjumpa lagi di cerita Novita Jungkook dan semoga kalian menyukai cerita kali ini, jangan lupa tinggalkan jejak untuk kalian semua yang sudah mampir di cerita autor Novita Jungkook.