Carter Bruce pernah kehilangan segalanya dalam satu malam—istri yang ia cintai pergi demi pria kaya, meninggalkannya sendirian bersama tiga anak kecil dan hati yang hancur. Kini ia bangkit sebagai pengacara paling ditakuti di dunia hitam, tangan kanan seorang bos mafia, seorang pria berdarah dingin yang dijuluki "Sang Algojo". Kekayaan, kuasa, dan ketakutan tunduk di kakinya. Hanya satu hal yang tak bisa ia beli: sebuah keluarga yang utuh.
Meghan Pirs hanyalah seorang guru TK muda, yatim, dan berhati lembut—sampai takdir mempertemukannya dengan si sulung Carter yang manis, lalu dengan sang ayah yang dingin dan berbahaya. Ketika hidup Meghan runtuh dan ia terdesak tanpa pilihan, Carter menawarkan sebuah kesepakatan yang mustahil ditolak: menikah dengannya, berpura-pura menjadi pasangan penuh cinta selama satu tahun. Tak lebih.
Tapi tak ada yang memberi tahu mereka betapa berbahayanya berpura-pura mencintai seseorang—karena kadang, kepura-puraan itu berubah menjadi sungguhan.
Di antara pelukan hangat anak-anak yang memanggilnya "Mami", ancaman dari musuh-musuh yang mengintai dari kegelapan, dan rahasia masa lalu yang tak sanggup mereka lupakan, Meghan dan Carter mulai menemukan sesuatu yang tak pernah mereka duga. Namun dunia mafia tak pernah tidur, dan setiap orang yang berani menyentuh keluarga Sang Algojo akan belajar satu hal dengan cara yang paling mengerikan: tak ada yang boleh menyentuh apa yang menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Reveca Díaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan yang Berhasil
Dimitri Petrov, seorang mafia terkenal yang membutuhkan bantuan untuk menutupi sejumlah bisnisnya.
Tuan Carlos memanggil Carter, yang langsung datang ke kantornya.
Ketika pengacara satunya menjelaskan apa yang ia butuhkan—dan bahwa Carter akan mendapat imbalan besar atas jasa serta kerahasiaannya—Carter berpikir sejenak, lalu menerima pekerjaan itu.
Ia berangkat bersama Tuan Gregor Salvador menuju mansion Petrov.
Begitu tiba, tampak mansion itu dikelilingi orang-orang bersenjata.
Saat masuk, Carter terpukau oleh kemewahan yang menyelimuti mansion itu—dan di dalam ternyata jauh lebih megah lagi.
Mereka diantar ke ruang kerja Tuan Petrov. Ketika masuk, seorang pria berumur yang duduk di balik mejanya menyambut mereka. Ia bertubuh tinggi dan kekar, sekitar lima puluh tahun, dengan raut wajah keras. Tatapannya yang dalam membuat orang gemetar ketakutan; di balik sepasang mata kelabu itu tersembunyi banyak hal.
Carter balas menatapnya dengan cara yang sama, sedikit pun tak menunjukkan rasa takut. Saat berjabat tangan, genggamannya mantap dan matanya tak lepas dari mata Dimitri—sesuatu yang membuat Dimitri suka padanya.
"Baik, langsung ke urusan yang membawa kalian kemari. Pengacara Gregor sudah menjelaskannya?" tanya Dimitri.
"Benar, Tuan Petrov, Tuan Salvador sudah memberi tahu saya. Boleh saya baca dokumennya?"
Dimitri menyerahkan berkas itu, dan Carter membacanya dengan saksama, tanpa melewatkan satu detail pun.
Carter menemukan solusi atas masalah itu. Ia mengusulkan pendirian jaringan restoran yang harus dibangun secara bertahap; dengan begitu, uang hasil keuntungan ilegal Dimitri bisa dicuci.
Dimitri puas dan memberi perintah untuk memulai bisnis itu persis seperti yang diusulkan Carter.
"Mulai sekarang kau bekerja untukku, dengan gaji yang sangat besar."
Carter berpikir sejenak. "Saya terima, Tuan Petrov."
"Kau tahu risikonya?" tanya Dimitri.
"Ya, Tuan."
"Kalau begitu, mari kita rayakan. Kita pergi ke sebuah restoran kesukaanku."
Ketiga orang itu pergi ke restoran terkenal tempat mereka biasa makan siang, sambil membahas rencana jaringan restoran tadi. Tiba-tiba beberapa petugas polisi masuk dan menahan Dimitri. Gregor dan Carter ikut menemaninya ke kantor polisi. Sesampainya di sana, para petugas menyampaikan dakwaan atas penahanannya.
"Petugas, di mana bukti-buktinya?" tanya Carter.
"Anda siapa?"
"Carter Bruce, pengacara Tuan Petrov."
Jaksa masuk. "Baik, Tuan Petrov. Dengan saksi yang kami miliki, ditambah rekaman dan bukti-bukti lainnya, Anda akan bertahun-tahun mendekam di balik jeruji."
"Sebagai pengacaranya, kami berhak meminta untuk melihat bukti-bukti itu," kata Carter.
"Pengacara, semuanya akan diberikan pada waktunya," jawab jaksa.
"Saya tidak mengerti. Atau saya harus bicara dengan atasan Anda?"
Jaksa itu naik pitam menghadapi sikap Carter, sementara Dimitri justru menyukai gayanya yang agresif.
Ketika tiba waktu persidangan, Carter sudah menyiapkan pembelaan yang matang. Ia menemukan sebuah kesalahan dalam bukti-bukti jaksa—sebuah celah teknis yang terlewatkan dan menguntungkan pihak mereka.
Saat sidang dibuka, jaksa memaparkan perkara, mengungkap hasil penyadapan, foto, dan video, juga kesaksian saksi.
Carter bersiap membacakan pembelaannya. Ia yakin.
Ia memaparkan bahwa ketika foto, video, dan penyadapan yang menampilkan kliennya itu diambil, tidak ada surat perintah hakim yang sah—tanggal penandatanganannya berselisih beberapa bulan. Dan saat diinterogasi, saksi tak pernah bisa menempatkan Petrov di gudang tempat barang-barang yang bahkan bukan milik Dimitri itu disimpan.
Hakim memanggil jaksa dan pihak pembela secara tertutup. Karena kesalahan pihak kejaksaan dan kurangnya bukti, ia menyatakan sidang batal.