Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Matahari pagi baru saja mengintip di balik atap Paviliun Damai, memantulkan cahaya keemasan yang tenang ke halaman kedai. Namun, suasana di dalam ruang pengobatan jauh dari kata damai.
Mei Lan, yang semalam sempat tersenyum lega setelah mengingat kembali nama dan wajah tunangannya, kini terbaring kaku di atas sofa bambu.
Wajahnya yang pucat kini dihiasi oleh keringat dingin bercampur darah segar yang keluar dari sudut bibir dan matanya.
Kutukan hitam yang kemarin tersedot ke dalam kendi giok mendadak memberontak dari dalam wadah, berbalik merayap keluar dan mencakar-cakar kesadaran wanita itu.
Jiang Yui berdiri di sisi sofa, rahangnya mengeras. Kedua tangannya yang memancarkan cahaya keemasan bergetar hebat sebuah pemandangan yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya.
"Paman! Ada apa?!" seru Murong Chen panik, melihat kendi giok di tangannya retak bercabang seribu, mengeluarkan uap hitam beracun yang mulai membekukan udara di dalam ruangan.
"Kendi penahan kutukannya tidak sanggup menahan energi balik dari jiwa gadis ini!"
Bai Ling segera mengalirkan hawa es spiritual untuk membekukan uap hitam agar tidak menyebar, tetapi aura hitam itu jauh lebih beringas dari perkiraan.
Kutukan penyerap jiwa tersebut ternyata memiliki ikatan darah langsung dengan formasi kematian tingkat tinggi dari Sekte Jiwa Bayangan di dimensi utara.
Saat Jiang Yui mencoba merajut kembali memori Mei Lan, kutukan itu memicu mekanisme pertahanan diri,
jika memori sang gadis pulih, inti jiwanya akan otomatis hancur berkeping-keping bersama si pemberi kutukan!
"Sial..." gumam Jiang Yui, gigi gerahamnya bergemeretak. Darah segar perlahan menetes dari hidungnya akibat benturan energi balik yang langsung menyerang meridian utamanya.
"Jiang Yui!" seru Bai Ling cemas, hampir kehilangan konsentrasi pertahanan esnya.
"Kutukan ini sudah menyatu dengan sisa umur jiwanya! Jika dipaksa ditarik keluar sekarang, jiwa Mei Lan akan ikut tercabut!"
"Kalau dibiarkan, dia tetap mati dalam hitungan jam!" balas Jiang Yui tegas, matanya memerah menahan beban energi kosmik yang menghantam dadanya.
Di ranjang, tubuh Mei Lan mulai melayang perlahan akibat tekanan energi yang mengamuk.
Retakan-retakan transparan mulai muncul di udara sekelilingnya—tanda bahwa ruang kesadaran wanita itu runtuh menuju kehancuran total.
"Tolong... biarkan aku pergi..." rintih Mei Lan dengan suara putus asa, darah segar mengalir deras dari matanya. "Jiwa... jiwaku sudah terlalu rusak... Jangan celakai dirimu demi aku, Yang Mulia..."
"Diam!" bentak Jiang Yui, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat dinding kedai berderit ngeri.
"Aku adalah Makcomblang Agung! Di bawah langit ini, tidak ada jiwa yang boleh mati sia-sia hanya karena kutukan pengecut dari orang-orang bodoh!"
Jiang Yui menutup matanya rapat-rapat. Ia mengerahkan seluruh sisa kultivasi kosmik asmaranya, membakar intisari jiwanya sendiri untuk menembus batasan dimensi utara secara paksa guna memutus kutukan dari akarnya.
BOM...!
Ledakan energi spiritual yang luar biasa dahsyat meledak dari tubuh Jiang Yui.
Gelombang kejut berwarna emas dan perak menyapu seluruh Kota Qing dalam sekejap, membuat ribuan kultivator di berbagai sekte terperanjat sujud seketika akibat tekanan aura yang melampaui batas hukum alam.
Namun, harga dari tindakan nekat itu sangat mahal. Di tengah pendar cahaya yang menyilaukan, Jiang Yui terhuyung ke belakang, memuntahkan seteguk darah segar yang langsung mengotori jubah putih bersihnya.
Pendar cahaya di tangannya padam seketika, dan tubuhnya ambruk ke lantai kayu, kehilangan kesadaran.
"Jiang Yui!" teriak Bai Ling histeris, menghentikan pertahanannya dan langsung berlari menangkap tubuh suaminya yang terkulai lemas.
Murong Chen terperanjat ngeri, melihat kendi giok di tangannya hancur berkeping-keping, sementara di atas sofa bambu, tubuh Mei Lan terdiam kaku dalam keheningan total.
"Jiang Yui! Bangun, Jiang Yui!" teriak Bai Ling panik, tangannya bergetar hebat saat ia merangkul kepala suaminya yang terkulai lemas di atas lantai kayu yang berlumuran darah segar.
Murong Chen menjatuhkan pecahan kendi giok di tangannya, wajahnya sepucat kertas melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.
"P-paman... Tidak mungkin! Paman Jiang tidak mungkin tumbang hanya karena satu kutukan sialan itu!"
"Jangan diam saja, Murong Chen! Cepat alirkan energi spiritualmu untuk menopang meridian jantungnya!" seru Bai Ling tajam, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya.
"B-baik, Bibi!" Murong Chen segera berlutut di sisi lain, menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Jiang Yui dan menyalurkan seluruh sisa energi kultivasinya dengan panik.
Namun, di tengah kepanikan yang mencengkeram ruangan itu, sebuah keajaiban kecil terjadi di atas sofa bambu.
Cahaya hitam pekat yang selama ini merusak raga Mei Lan perlahan-lahan menguap ke udara, musnah tak bersisa seiring hancurnya formasi kutukan jarak jauh dari dimensi utara. Garis-garis hitam di wajah wanita itu lenyap sepenuhnya, menyisakan kulit halusnya yang kembali bersih.
Mei Lan membuka matanya perlahan. Napasnya kini teratur, dan yang terpenting, tatapan matanya begitu jernih, penuh dengan kenangan utuh tentang pria yang dicintainya, Feng Yi.
Mei Lan menoleh lemah ke arah lantai, tempat Jiang Yui terbaring tak sadarkan diri di pangkuan Bai Ling.
"Y-Yang Mulia..." bisik Mei Lan dengan suara serak, air mata haru menetes di pipinya. "Beliau... beliau mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan jiwaku..."
"Jangan banyak bicara dulu, Nak," kata Bai Ling dengan suara tercekat, berusaha keras menjaga kestabilan energi esnya agar tidak runtuh. "Fokuslah memulihkan ragamu sendiri. Jiang Yui... dia hanya kehabisan tenaga karena terlalu keras kepala."
"Tapi... tapi darah di bajunya..." rintih Mei Lan, mencoba bangkit dari sofa meski sekujur tubuhnya masih terasa remuk.
"Aku tidak boleh membiarkan beliau mati demi aku! Aku memiliki sisa inti energi kehidupan dari leluhur lembah kami, biarkan aku membaginya untuk menyembuhkannya!"
"Jangan bodoh, Mei Lan!" seru Murong Chen sambil menahan napas karena kelelahan menyalurkan energi.
"Kalau kau nekat mendonorkan inti kehidupanmu sekarang, tubuhmu yang baru pulih itu bakal hancur berkeping-keping!"
Tiba-tiba, suara batuk pelan memecah ketegangan di dalam ruangan.
Uhuk.... uhuk!
Jiang Yui membuka matanya perlahan, mengerjap-kerjap menyesuaikan cahaya pagi yang menembus jendela kedai. Ia meringis pelan sambil memegang dadanya yang terasa nyeri akibat benturan energi balik.
"Astaga..." gerutu Jiang Yui lemah, suaranya terdengar serak.
"Kutukan murahan begitu saja sudah bikin aku pusing kepala... Umurku belum tua-tua amat, tapi rasanya sudah mau dipanggil malaikat pencatat takdir."
Bai Ling langsung memeluk erat suaminya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jiang Yui sambil terisak pelan.
"Kau ini... kenapa selalu bertindak senekat itu, Jiang Yui?! Kalau terjadi apa-apa padaku... pada kita... bagaimana aku harus hidup sendiri?!"
Jiang Yui tersenyum lemah, mengangkat tangannya yang gemetar untuk membelai lembut rambut perak istrinya.
"Sst... Jangan menangis, Bai Ling. Seorang Makcomblang Agung tidak mungkin mati semudah itu... Terlalu banyak urusan asmara di galaksi ini yang belum sempat kurapikan."
Murong Chen menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya terduduk di lantai karena kelelahan luar biasa.
"Ampun deh, Paman... Jantung hampir copot tahu tidak! Jangan bikin aksi heroik tanpa izin manajer operasional lagi lain kali!"
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧