Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 pernikahan impian
Satu minggu setelah kejadian Rizal menerobos rumah, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari pernikahan Una dan Pak Arya Mahendra.
Pernikahan ini tidak diadakan di gedung mewah, tapi diadakan di masjid besar dan di taman rumah mewah Pak Arya yang dihias seperti negeri dongeng. Bunga mawar putih dan pink ada di mana-mana, lampu-lampu kecil berkelap-kelip, dan karpet merah terbentang panjang.
Una tidak percaya melihat dirinya di cermin. Ia memakai gaun pengantin putih yang sangat cantik dan mewah, buatan desainer terkenal Jakarta. Gaun itu menutupi perutnya yang hamil 2 bulan dengan sempurna. Wajahnya dirias cantik natural oleh MUA artis. Di kepalanya ada mahkota kecil berlian.
"Ya Allah, apakah ini aku? Apakah aku bermimpi?" bisik Una sambil menangis haru melihat dirinya sendiri di cermin besar.
Pak Arya masuk ke kamar rias dengan jas hitam gagah dan dasi putih. Matanya berkaca-kaca melihat Una.
"MasyaAllah, calon istriku sangat cantik seperti bidadari," kata Pak Arya pelan.
Una tersenyum malu. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah mau menikahi janda hamil sepertiku."
Pak Arya mendekat dan memegang kedua tangan Una. "Jangan pernah bilang begitu lagi. Kamu adalah wanita paling suci dan kuat yang pernah aku kenal. Hari ini kamu resmi menjadi Nyonya Una Mahendra."
Di luar, para tamu undangan sudah datang. Ada banyak pengacara terkenal, pengusaha kaya, bahkan pejabat. Semua penasaran dengan sosok janda miskin yang berhasil meluluhkan hati pengacara paling tampan dan kaya di kota itu.
Namun, ada juga ibu-ibu dari kampung kontrakan dulu yang diundang khusus oleh Pak Arya, termasuk Bu Ratna yang dulu mengusir Una. Mereka datang dengan wajah tertunduk malu melihat betapa mewahnya pernikahan Una sekarang.
Akad nikah dimulai jam 9 pagi. Suasana masjid menjadi sangat khusyuk dan haru. Penghulu duduk di depan Pak Arya.
Pak Arya dengan suara tegas, lantang, dan tanpa gugup sedikit pun mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Una binti Abdullah dengan mas kawin cincin berlian 10 gram dan seperangkat alat sholat serta uang 100 juta rupiah dibayar tunai!"
"SAH! SAH!" teriak semua saksi dengan keras.
Una langsung menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, setelah semua penderitaan, hinaan, diusir di tengah hujan, kelaparan, ia resmi menikah lagi dengan pria yang jauh lebih baik. Air matanya tumpah.
Setelah sah, Pak Arya mengangkat tangan dan mencium kening Una dengan lembut di depan semua orang. Semua tamu bertepuk tangan dan ada yang sampai menangis terharu melihat cinta mereka.
Resepsi di taman dimulai. Una dan Pak Arya duduk di pelaminan mewah seperti raja dan ratu. Satu per satu tamu memberi selamat.
Tiba-tiba, Bu Ratna maju dengan wajah malu dan tertunduk. Ia membawa kado kecil.
"Una, maafkan Ibu ya nak. Ibu dulu jahat sama kamu, mengusir kamu di hujan. Ibu iri dan salah. Sekarang Ibu lihat kamu bahagia, Ibu ikut bahagia. Semoga kamu dan bayi kamu sehat selalu ya," kata Bu Ratna sambil menangis dan memeluk Una.
Una yang hatinya sangat baik memaafkan dengan tulus. "Iya Bu, tidak apa-apa. Saya sudah maafkan. Terima kasih sudah datang."
Semua warga kampung yang dulu menghina Una kini satu per satu meminta maaf dan mencium tangan Una. Mereka tidak menyangka janda yang dulu mereka hina sekarang menjadi nyonya besar.
Pesta berlangsung meriah. Makanan enak berlimpah, musik gambus mengalun indah. Una makan dengan lahap karena sejak hamil ia jadi mudah lapar, membuat Pak Arya tertawa gemas melihatnya.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, hanya tinggal Una dan Pak Arya di kamar pengantin yang dihias dengan kelopak mawar merah di atas ranjang besar.
Pak Arya mendekati Una yang duduk gugup di tepi ranjang.
"Sayang, mulai malam ini, kamu tidak perlu takut lagi. Aku akan jadi suami terbaik, jadi ayah terbaik untuk anak kita. Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu seperti mantan suamimu," bisik Pak Arya sambil mengelus perut Una yang mulai sedikit membuncit.
Una tersenyum dan memeluk Pak Arya erat. "Aku percaya sama kamu, Mas Arya. Terima kasih sudah menyelamatkan aku dan anakku."
Malam pertama mereka dilalui dengan penuh cinta, doa, dan air mata bahagia. Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang, menjadi saksi bahwa cinta sejati memang ada untuk orang yang sabar dan tulus seperti Una.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada sepasang mata dari balik pagar rumah yang mengintip dengan penuh dendam. Itu adalah Rizal dan Siska, mantan suami Una dan selingkuhannya, yang sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk menghancurkan pernikahan baru Una.