Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Perjalanan menuju kantor polisi terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Sepanjang jalan, Marta hanya memandangi pemandangan di balik jendela mobil dinas yang membawanya. Bibirnya bergerak pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Lucas pasti bisa menjelaskan semuanya. Ini pasti cuma salah paham. Iya ... pasti begitu."
Namun, semakin dekat mobil itu memasuki halaman kantor polisi, keyakinan yang berusaha ia bangun perlahan runtuh. Perutnya terasa melilit, telapak tangannya dingin, Marta benar-benar merasakan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Di ruang pemeriksaan, suasana terasa sunyi. Beberapa lembar rekening koran dan dokumen transaksi sudah terbentang rapi di atas meja.
Seorang penyidik mendorong berkas itu ke hadapan Marta. "Apakah rekening ini milik Ibu?"
Marta mengangguk pelan. "Iya."
Penyidik menunjuk deretan transaksi berikutnya. "Kalau transaksi-transaksi ini, apakah Ibu mengenalinya?"
Mata Marta menyusuri satu per satu angka yang tercetak di atas kertas. Nominal ratusan juta. Ada pula transfer bernilai miliaran. Semuanya berasal dari rekening Lucas.
"Ini ... uang dari anak saya," jawabnya lirih.
Penyidik kembali bertanya, "Untuk apa uang sebanyak ini diberikan kepada Ibu?"
Marta menelan ludah dengan susah payah. "Saya ... saya tidak ingat."
Penyidik membuka dokumen lain. "Ibu membeli mobil."
Halaman berikutnya dibalik. "Perhiasan."
Lembar berikutnya. "Renovasi rumah."
Lalu kembali dibalik. "Perjalanan ke luar negeri."
Penyidik menatap Marta lekat-lekat. "Semua pembayaran ini menggunakan dana yang berasal dari rekening tersebut."
Wajah Marta semakin pucat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Baru saat itulah ia benar-benar menyadari bahwa hampir seluruh gaya hidup mewah yang selama ini ia nikmati uang kiriman dari Lucas, itu menjadi masalah baginya. Dan kini, semua transaksi itu berubah menjadi barang bukti.
"Ibu mengetahui dari mana asal uang tersebut?" tanya penyidik sekali lagi.
Marta buru-buru menggeleng. "Tidak. Lucas hanya bilang itu bonus. Kadang dia bilang hasil investasi. Saya ... saya tidak pernah bertanya."
Penyidik mencatat setiap jawaban Marta tanpa memotong sedikit pun.
Beberapa saat kemudian ia menutup map di hadapannya. "Baik, Bu."
"Untuk sementara, kami meminta Ibu tetap berada di kota sampai proses penyelidikan selesai. Apabila sewaktu-waktu dibutuhkan, kami akan kembali memanggil Ibu."
Kalimat itu membuat napas Marta tercekat. Ia keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah gontai. Tatapannya kosong, bahunya turun lemas, seolah seluruh tenaga di tubuhnya habis terkuras.
Untuk pertama kalinya, wanita yang selama ini selalu merasa paling benar, selalu memandang rendah Astrid, dan selalu membela putranya tanpa syarat, benar-benar merasakan ketakutan yang sesungguhnya.
Kini Marta mulai menyadari bahwa semua kemewahan yang selama ini ia banggakan bisa saja berubah menjadi awal dari kehancurannya sendiri.
Sementara itu, di sisi lain kota, suasana justru dipenuhi gelak tawa. Hari itu akhir pekan. Langit membentang cerah dengan semilir angin yang berembus pelan. Matahari tidak terlalu terik, membuat taman rekreasi yang dipenuhi pepohonan rindang itu terasa nyaman dipenuhi keluarga yang sedang menikmati waktu bersama.
Begitu mobil berhenti di area parkir, Ariana sudah tidak sabar membuka pintu.
"Om Teo ...!" panggilnya riang sambil menepuk-nepuk paha kecilnya. "Main ... main."
Mateo tertawa pelan. Ia segera turun, lalu membuka pintu di sisi Ariana. Dengan hati-hati ia mengulurkan kedua tangannya.
"Iya, Ariana. Pelan-pelan dulu," ujar pria itu dengan nada lembut.
Begitu kedua kakinya menginjak tanah, Ariana langsung menyambar tangan Mateo. Senyum mungilnya mengembang lebar hingga kedua matanya nyaris membentuk garis.
"Mau naik kuda putel."
Mateo berpura-pura berpikir sambil mengusap dagunya. "Hmm ... kuda putar, ya?"
Ariana mengangguk cepat.
"Iyaa, kuda putel."
"Baik. Om antar sekarang."
Tanpa menunggu lagi, gadis kecil itu menarik tangan Mateo sekuat tenaga. Cara berjalannya yang masih sedikit terhuyung membuat Mateo beberapa kali menyesuaikan langkah agar Ariana tidak tersandung.
Astrid mengikuti mereka dari belakang sambil tersenyum kecil. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Ariana terlihat begitu nyaman bersama Mateo. Tidak ada rasa canggung sedikit pun. Seolah-olah lelaki itu memang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama.
Sesampainya di area komidi putar, Ariana langsung bersorak kegirangan. "Mama, liat!"
Astrid mengangguk sambil mengangkat ponselnya. "Iya, Sayang. Mama lihat."
Mateo membantu Ariana naik ke salah satu kuda berwarna putih. Setelah memastikan sabuk pengamannya terpasang dengan benar, ia berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan Ariana.
"Nggak takut?"
Ariana menggeleng mantap. "Ana belani."
Mateo terkekeh geli. "Wah, Ariana anak pemberani."
Saat komidi putar mulai berputar perlahan, Ariana melambaikan tangan sekuat tenaga.
"Mamaa ...! Om Teooo ...!"
Mateo membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. "Iya. Om di sini. Hati-hati, ya!"
Tawa Ariana terdengar renyah memenuhi udara. Tawanya begitu lepas, begitu tulus, hingga beberapa pengunjung di sekitar ikut tersenyum melihat tingkah lucunya.
Astrid memandangi putrinya tanpa berkedip. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ariana sebahagia ini. Tanpa sadar, ingatannya melayang ke masa lalu.
Dulu, saat Lucas masih tinggal bersama mereka, momen seperti ini hampir tidak pernah terjadi. Lucas selalu punya alasan.
"Aku capek."
"Lain kali saja."
"Aku ada urusan."
Kalaupun akhirnya mereka keluar bersama, wajah Lucas sering terlihat tidak nyaman.
Belakangan Astrid baru memahami penyebabnya. Lucas malu berjalan berdampingan dengannya saat berat badannya mencapai lebih dari seratus kilogram. Ia takut menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Takut citranya sebagai dokter sukses tercoreng hanya karena memiliki istri bertubuh besar.
Kenangan itu sempat menusuk hati Astrid. Namun, rasa sakit itu perlahan memudar ketika kembali mendengar suara tawa Ariana.
"Melamun?"
Suara Mateo membuyarkan lamunan Astrid. Wanita itu pun menoleh.
"Kamu capek?" tanya Mateo sambil berdiri di sampingnya.
Astrid menggeleng pelan. "Nggak."
"Lalu?"
Astrid mengalihkan pandangan ke arah Ariana yang masih tertawa riang. "Aku cuma senang."
Mateo mengikuti arah pandang Astrid. "Ariana memang kelihatan jauh lebih ceria sekarang."
"Iya." Astrid tersenyum tipis.."Sudah lama aku nggak lihat dia sebahagia ini."
Mateo mengangguk pelan.."Anak kecil sebenarnya nggak butuh tempat yang mahal. Mereka cuma butuh ditemani."
Astrid menoleh. Kalimat sederhana itu membuat Astrid terdiam.
Selama ini Ariana tidak pernah meminta mainan mahal ataupun liburan mewah. Yang ia butuhkan hanyalah seseorang yang mau menggandeng tangannya, tertawa bersamanya, dan meluangkan waktu untuknya.
Menjelang siang mereka beristirahat di sebuah kafe kecil yang berada di dalam taman. Ariana duduk di kursi khusus anak sambil sibuk mencocol kentang goreng ke saus tomat hingga wajah mungilnya belepotan.
Melihat itu, Mateo langsung mengambil tisu. "Aduh, wajah cantik Ariana kok belepotan saus begini?"
Ariana cekikikan geli.
Mateo mengusap sudut bibir gadis kecil itu dengan hati-hati. "Nah, sudah cantik lagi."
Astrid yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Tatapan Mateo kepada Ariana begitu lembut dan penuh kesabaran. Seolah tidak pernah merasa terganggu sedikit pun.