NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Penghianat Desa

Nama yang tertulis di lembar pertama map hitam itu membuat tangan Ara gemetar.

KEPALA DESA LANGGUR - BAPAK SIMON - 2000 METER PERSEGI - LUNAS Rp 50.000.000.

Cap jempol darah berwarna kehitaman menempel di samping tanda tangannya.

Mama Ino yang melihat kertas itu langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Bapak Simon? Kepala desa kita? Dia jual tanah adat kita? Padahal dia yang suruh kita jaga tanah!"

Pak RT Unus merebut kertas itu dari tangan Ara. Matanya yang sudah tua harus menyipit untuk membaca tulisan kecil di bawah daftar. Di sana ada tulisan tangan: TANAH ADAT DIJUAL UNTUK BANGUN JALAN ASPAL DAN SEKOLAH BARU. ADA TAMBAHAN BONUS 10 JUTA UNTUK YANG BANTU BUJUK WARGA LAIN.

Pak RT langsung meremas kertas itu sampai kusut. "Pantas saja bulan lalu dia keliling-keliling bagi-bagi beras dan minyak goreng! Ternyata mau beli suara warga biar mau jual tanah! Pengkhianat!"

Berita itu menyebar dengan cepat ke seluruh Langgur. Dalam waktu satu jam, semua warga berkumpul di depan rumah Kepala Desa yang besar dan bercat hijau di ujung desa. Rumah itu adalah rumah paling mewah di Langgur, ada parabola besar dan dua motor baru parkir di depannya. Rumah itu baru direnovasi bulan lalu, padahal sebelumnya rumahnya papan lapuk sama seperti rumah warga lain.

Bapak Simon, Kepala Desa yang gemuk dan selalu pakai kemeja batik rapi, keluar dari rumahnya dengan wajah pucat melihat kerumunan warga yang marah. Di belakangnya ada istrinya yang juga gemuk dan memakai perhiasan emas banyak.

"Warga, ada apa ini? Kenapa ramai-ramai di depan rumah saya?" tanya Bapak Simon dengan suara dibuat-buat ramah, tapi suaranya gemetar.

Jali maju ke depan dan melempar map hitam itu ke depan kaki Bapak Simon. Lembaran kertas yang berisi daftar nama warga yang sudah menjual tanah berhamburan di tanah.

"Jelaskan ini! Kamu jual tanah adat kita ke perusahaan tambang! Kamu dapat lima puluh juta! Kamu jual kami!" teriak Jali dengan marah.

Bapak Simon melihat kertas-kertas itu dan langsung terduduk lemas di teras rumahnya. Istrinya langsung berteriak histeris.

"Saya... saya terpaksa... mereka ancam saya... kalau saya tidak bantu, mereka tidak akan bangun jalan aspal di Langgur... anak saya butuh biaya kuliah di Ambon..." kata Bapak Simon dengan suara pelan, hampir menangis.

"Bohong! Jalan aspal apa? Lima tahun tidak ada jalan aspal! Sekolah baru mana? Anak-anak masih sekolah di bangunan bambu bocor!" teriak Bu Ani sambil menggendong anaknya yang masih kecil.

Warga semakin marah. Beberapa pemuda sudah mengambil batu dan kayu. Suasana memanas.

Ara yang melihat itu takut warga akan main hakim sendiri. Dia maju dan berdiri di antara warga dan rumah Kepala Desa.

"Jangan! Jangan pukul dia! Kalau kita pukul dia, kita sama saja seperti mereka! Kita harus bawa dia ke pohon mangga raksasa! Biar Revan dan nenek moyang kita yang adil!" teriak Ara sekuat tenaga.

Mendengar nama Revan dan nenek moyang, warga langsung terdiam. Mereka masih ingat bagaimana beko besar ditelan bumi kemarin. Mereka takut.

Pak RT Unus mengangguk. "Benar kata Ara. Bawa dia ke pohon itu. Biar tanah yang menghukum dia."

Akhirnya, dua pemuda besar menarik Bapak Simon dari teras rumahnya. Bapak Simon tidak melawan, dia hanya menangis dan terus bilang ampun. Istrinya mencoba menghalangi tapi didorong mundur oleh ibu-ibu.

Rombongan warga berjalan ramai-ramai dari rumah Kepala Desa menuju halaman belakang rumah Ara, tempat pohon mangga raksasa itu berdiri. Sepanjang jalan, warga lain yang melihat ikut bergabung, sampai jumlahnya hampir seratus orang. Mereka membawa obor meski masih siang, karena langit mulai gelap lagi, kabut kuning kecoklatan datang lagi.

Ketika mereka sampai di halaman belakang, pohon mangga raksasa itu terlihat berbeda. Daunnya yang tadi lebat, sekarang menguning dan rontok banyak. Batangnya yang besar mengeluarkan getah hitam lebih banyak dari kemarin, dan baunya sangat busuk, seperti bangkai. Tanah di sekitarnya retak-retak besar, dan dari dalam retakan itu terdengar suara tangisan bayi pelan.

Bapak Simon yang dibawa ke depan pohon itu langsung jatuh tersungkur dan muntah melihat pohon itu. Wajahnya pucat pasi.

"Revan... ampun... saya salah..." bisik Bapak Simon dengan suara sangat pelan.

Angin kencang tiba-tiba datang. Daun-daun kuning beterbangan. Dari dalam batang pohon yang mengeluarkan getah hitam, muncul Revan. Tapi kali ini Revan tidak sendirian dan wajahnya tidak marah. Wajahnya sangat sedih. Di samping Revan ada arwah bayi Bu Ani yang meninggal karena keracunan air sumur dulu, yang sekarang terlihat lebih besar, sudah bisa berjalan.

Bayi itu berjalan pelan mendekati Bapak Simon yang masih tersungkur di tanah. Bayi itu tidak menangis, dia hanya menatap Bapak Simon dengan mata hitam kosong, lalu menunjuk ke arah perutnya sendiri yang terlihat membusuk.

Bapak Simon menjerit histeris. "Bukan saya! Bukan saya yang racuni sumur! Itu Pak Hendra! Dia yang suruh anak buahnya! Saya cuma disuruh diam! Saya dapat uang tutup mulut sepuluh juta!"

Mendengar pengakuan itu, Bu Ani langsung menjerit dan hampir pingsan lagi. Suaminya harus memegangnya erat.

Ara yang mendengar itu langsung lemas. Jadi Bapak Simon tahu sumur diracuni dan dia diam saja demi uang sepuluh juta, padahal bayi Bu Ani mati karena itu.

Revan yang melihat Bapak Simon mengakui dosanya, mengangkat tangannya pelan. Akar merah dari dalam tanah keluar lagi, tapi kali ini tidak melilit kaki Bapak Simon untuk menyakiti. Akar itu melilit tangan Bapak Simon dan menariknya pelan untuk berdiri.

Revan menatap Bapak Simon lama, lalu berkata dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Ara dan Pak RT yang berdiri paling depan.

"Pulang. Kembalikan uangnya. Bangun lagi sumur yang kamu biarkan diracuni. Kalau tidak, tanah ini akan ambil anakmu yang kuliah di Ambon sebagai gantinya. Tanah ini adil. Darah dibayar darah. Air mata dibayar air mata."

Bapak Simon mengangguk sambil menangis keras, ingusnya keluar semua. "Saya janji! Saya janji akan kembalikan! Saya akan bongkar sertifikat palsu itu! Saya akan bantu lawan perusahaan tambang itu!"

Setelah berkata itu, Revan dan bayi itu menghilang kembali masuk ke dalam batang pohon. Pohon mangga raksasa itu berhenti mengeluarkan getah hitam, tapi daunnya tetap kuning dan banyak yang rontok.

Akar yang melilit tangan Bapak Simon lepas dan masuk kembali ke tanah.

Warga yang melihat kejadian itu semua terdiam ketakutan, tapi juga merasa puas karena keadilan tanah sudah bicara.

Bapak Simon berdiri dengan kaki gemetar dan berjanji di depan semua warga, di bawah pohon mangga raksasa itu, bahwa dia akan pergi ke kota besok pagi untuk mencabut semua sertifikat palsu dan akan membantu warga melawan PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA.

Tapi malam itu juga, ketika Ara sedang tidur di dalam rumah dengan jaket hitam Revan di sampingnya, dia terbangun karena mendengar suara deru mesin mobil yang sangat banyak dari arah jalan utama.

Dia mengintip dari jendela kamarnya.

Di jalan depan, ada sepuluh truk besar dengan lampu sorot terang, dan di atas truk itu ada tulisan besar: PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA - OPERASI PENEBANGAN.

Dion kembali, dan kali ini dia bawa lebih banyak orang dan gergaji mesin besar untuk menebang pohon mangga raksasa itu malam ini juga.

Dan di atas salah satu truk, Ara melihat Bapak Simon diikat dengan tali dan mulutnya dilakban, dibawa sebagai sandera.

Perang sesungguhnya baru akan dimulai malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!