NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. Di Balik Dinding Paviliun Fengyi

Ketika lonceng pengangkatan Ratu berdentang, Wang Laoyin sedang duduk seorang diri di dalam kamarnya. Tubuhnya terlihat menyusut dengan cepat, seakan semua masalah yang menimpanya dalam setengah bulan terakhir ini benar-benar menguras semua energinya

Ia telah mengganti jubah merah kebesarannya dengan pakaian sederhana berwarna putih pucat. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya diikat dengan pita kain. Tidak ada mahkota, tidak ada gelang giok, dan tidak ada tusuk konde emas yang dahulu menghiasi kepalanya.

Di atas meja kecil terdapat semangkuk bubur, sepoci teh, dan sebuah vas porselen berisi bunga prem yang mulai layu.

Ia tidak menyentuh makanan itu.

Dari balik jendela, suara musik upacara terdengar samar. Bunyi genderang, seruling, dan lonceng kecil berpadu menjadi alunan megah yang mengalir melewati halaman istana.

Wang Laoyin mengenali lagu itu.

Lagu yang dahulu dimainkan ketika ia menerima gelar Permaisuri.

Ia masih ingat hari tersebut dengan jelas. Ia mengenakan jubah merah yang berat, berdiri di samping Raja Han Quan, dan mendengar para pejabat bersumpah untuk menghormatinya sebagai pemimpin kediaman dalam. Saat itu, ia percaya bahwa kedudukannya akan memberinya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

Kini, lagu yang sama dimainkan untuk perempuan yang menggantikannya.

Wang Laoyin menutup mata. Sakit, pedih dan perih seakan menggerogoti hatinya. Dadanya seakan ditimpa batu besar. Berat dan sesak, membuatnya merasa kesulitan bernafas.

Untuk sesaat, ia membiarkan kenangan lama mengalir melewati pikirannya. Ia mengingat wajah Raja yang dahulu tampak lebih muda, senyum yang pernah diberikan lelaki itu ketika mereka berdiri di bawah pohon prem, serta janji-janji yang pernah mereka ucapkan pada malam-malam ketika istana terasa seperti tempat paling aman di dunia.

Hari-hari yang manis. Malam-malam yang indah bersama Han Quan seakan kembali berlompatan lewat di ingatannya, cinta yang dulu pernah diterimanya dengan tumpah ruah, sanjungan yang membuai semua masa mudanya, kemuliaan sebagai istri raja itu, semuanya tergambar bergantian semakin membuatnya semakin sesak.

Lalu ia membuka mata kembali.

Tidak ada gunanya memeluk kenangan yang telah digunakan orang lain untuk melukainya.

Ia berdiri dan berjalan menuju jendela.

Dari sana, ia dapat melihat sebagian atap Aula Naga Emas yang berkilau di bawah matahari. Para pelayan bergerak membawa nampan, para pengawal berdiri di sepanjang tangga, dan bendera kerajaan berkibar di atas menara.

Di kejauhan, suara seorang pejabat terdengar samar, mengucapkan gelar baru Lan Zifey.

Ratu Weiyang.

Wang Laoyin menatap langit.

“Selamat,” bisiknya.

Kata itu tidak mengandung doa.

Tidak pula mengandung kutukan.

Hanya pengakuan dingin bahwa seseorang telah mengambil tempatnya, sementara dirinya dipaksa berdiri di luar kehidupan yang dahulu menjadi miliknya.

Ia menunduk dan memandang kedua tangannya.

Tangan yang pernah menandatangani dokumen kerajaan.

Tangan yang pernah memegang segel Permaisuri.

Tangan yang kini tidak memiliki kuasa untuk membuka pintu kamarnya sendiri tanpa izin pengawal.

Namun, tangan itu masih dapat menggenggam pena.

Masih dapat memegang pedang.

Masih dapat menyelamatkan seseorang.

Selama ia masih hidup, tidak semua yang dimilikinya telah dirampas.

Wang Laoyin menarik napas dalam-dalam.

Ia harus bertahan.

Bukan demi mahkota.

Bukan demi kedudukan yang telah hilang.

Melainkan demi kebenaran yang masih terkubur, demi nama yang telah dicemarkan, dan demi dirinya sendiri yang tidak akan ia biarkan hancur hanya karena keputusan seorang Raja.

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu.

“Siapa?” tanyanya.

“Qing'er, Yang Mulia.”

Wang Laoyin terdiam sesaat, lalu memperbaiki panggilannya sendiri.

“Masuklah.”

Qing'er masuk membawa sepiring makanan hangat. Matanya masih sembap, tetapi ia berusaha tersenyum.

“Upacara telah dimulai,” katanya tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya atas apa yang terjadi pada majikannya itu

“ Istana sedang melakukan upacara penghormatan resmi di aula, Para pejabat memberikan penghormatan kepada Ratu Lan Zifey.” Ucapnya Agi sekedar memberikan informasi apa yang dia tahu tentang apa yang terjadi di luar sana.

Wang Laoyin mengangguk. Senyumnya tergambar di wajahnya pucatnya. Senyum itu terlihat hambar dan terluka.

“Apakah semuanya berjalan lancar?”

“Menurut kabar yang hamba dengar, seperti itu....” Jawab Qing'er dengan kesal yang menurutnya mewakili perasaan perempuan yang berdiri di depannya itu

“Bagus.”

Qing'er tampak terkejut mendengar jawaban itu. Satu kata itu tak disangkanya akan di ucapkan Wang Laoyin dalam situasinya sebagai ratu yang di paksa melepaskan jabatannya itu.

“Yang Mulia tidak marah?” Tanyanya dengan penasaran, kalau dia jadi Wang Laoyin mungkin dia akan mengamuk di kamar itu mencaci maki ratu baru yang jelas-jelas sedang menggunakan kesempatan kesialan Wang Laoyin untuk melucuti gelar ratu darinya.

Wang Laoyin memandang pelayannya itu dengan tajam. Matanya berkilat tetapi sikapnya begitu tenang dan dingin.

“Tentu saja aku marah.”

Ia mengucapkannya tanpa berusaha menyembunyikan kepahitan di dalam suaranya.

“Aku marah karena seseorang dapat mengambil kedudukan yang bukan haknya dengan memanfaatkan kematian seorang pengawal dan kebohongan yang belum terbukti. Aku marah karena Raja lebih memilih ketenangan daripada keadilan. Aku marah karena para pejabat menundukkan kepala ketika mereka seharusnya mengajukan pertanyaan.”

Ia berhenti sejenak.

“Tetapi kemarahan tidak boleh membuatku kehilangan akal sehat.”

Qing'er meletakkan nampan di atas meja, memandangi majikannya itu dengan tatapan kagum yang tak bisa disembunyikannya.

“Apa yang akan Yang Mulia lakukan sekarang?”

Wang Laoyin memandang bunga prem yang mulai layu.

“Aku akan mengingat semuanya.”

Ia menoleh kepada Qing'er, dalam dan lama seakan sedang mencatat banyak hal di ingatannya.

“Siapa yang hadir ketika mahkotaku dicabut. Siapa yang berbicara untuk mendukung pengangkatannya. Siapa yang tampak takut. Siapa yang terlalu tenang. Dan siapa yang menghindari tatapanku.” desisnya dengan bara dendam yang di tekannya dalam-dalam.

“Karena suatu hari nanti, ketika mereka tidak lagi dapat bersembunyi di balik titah kerajaan, aku akan membutuhkan lebih dari sekadar kemarahan untuk membuktikan kebenaran.” Lanjutnya dengan tegas.

Ia melangkah kembali menuju meja, lalu duduk.

“Bawakan aku kertas jika kau bisa mendapatkannya. Aku ingin mencatat semua yang kuingat tentang malam kematian Shen Rui.”

Qing'er terdiam.

“Bukankah alat tulis Yang Mulia telah disita?”

“Kalau begitu, carilah cara lain.”

Wang Laoyin menatapnya dengan keteguhan yang tidak dapat disamarkan oleh pakaian sederhananya.

“Bahkan jika aku tidak memiliki mahkota, aku masih memiliki pikiranku. Dan selama aku masih dapat mengingat, mereka belum berhasil menghapus seluruh kebenaran.”

Qing'er membungkuk dalam-dalam.

“Baik, Yang Mulia.”

Wang Laoyin mengoreksi dengan suara lembut, “Wang Laoyin. Namaku Wang Laoyin, aku bukan lagi Yang Mulia permaisuri, aku bukan lagi ratumu... ”

Qing'er menundukkan kepala lagi, begitu sedihnya dia sampai tak bisa berkata-kata.

“Baiklah...nyo...nyonya....nyonya Wang.” Sungguh terasa aneh saat dia menghilang panggilan yang mulia dari perempuan yang dilayaninya tu.

Setelah pelayan itu pergi, Wang Laoyin kembali menatap jendela.

Musik upacara masih terdengar dari kejauhan. Di Aula Naga Emas, Lan Zifey mungkin sedang menerima penghormatan, sementara Raja Han Quan duduk di sampingnya, meyakinkan dirinya bahwa sebuah keputusan politik telah menyelamatkan kehormatan kerajaan.

Namun, Wang Laoyin mengetahui sesuatu yang tidak mereka pahami.

Mahkota dapat dipindahkan.

Segel dapat dirampas.

Gelar dapat dihapus dari catatan istana.

Tetapi kebenaran tidak berubah hanya karena seseorang yang berkuasa memerintahkannya untuk diam.

Ia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Wajahnya tampak pucat, tetapi matanya masih menyimpan nyala yang belum padam.

“Ambillah mahkotaku,” bisiknya. “Ambillah kedudukanku. Ambillah segala sesuatu yang dapat kalian rampas dengan kekuasaan.”

Ia mengangkat dagu.

“Tetapi jangan pernah mengira bahwa aku akan menyerahkan kebenaran dengan tanganku sendiri.”

Di luar, lonceng upacara terakhir berdentang.

Dan pada saat yang sama, di dalam Paviliun Fengyi yang terkunci, Wang Laoyin memulai perang yang tidak akan menggunakan pasukan, melainkan ingatan, kesabaran, dan keberanian untuk menunggu saat yang tepat.

Ia belum mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung.

Ia belum mengetahui bahwa kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimnya kelak akan menjadi ancaman terbesar bagi kekuasaan Lan Zifey.

Dan ia belum mengetahui bahwa mahkota yang dirampas hari itu hanyalah awal dari pengasingan yang akan mengubah seluruh takdirnya.

Namun, satu hal telah pasti.

Ratu baru telah memperoleh mahkota. Wang Laoyin telah kehilangan kedudukan. Tetapi pertarungan untuk menentukan siapa yang benar-benar berhak atas masa depan Weiyang baru saja dimulai.

( Bersambung....🥰)

1
Mama Hasby
ku tunggu penyesalanmu wahai raja bodoh.....😠😠
itu pun jika kau pnya hati....🙄🙄
Mama Hasby
sampai bab ini aku ikut sakit hati+emosi thor....😔😭🥹
serasa aku yang jdi wang laoyin...😁
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ᵐᵃᵘˡ✰͜͡v᭄W⃠
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!