Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat
Pagi berikutnya, suasana rumah Azka terasa jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.
Setelah kejadian Vania datang dan membuat keributan, Reatha memilih tidak memikirkan semuanya terlalu dalam. Ia hanya ingin memastikan Azka benar-benar pulih.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Reatha sudah berada di dapur. Kali ini ia tidak membuat nasi goreng, roti, ataupun telur. Ia sengaja membuat sesuatu yang menurutnya lebih cocok untuk orang yang sedang sakit. Bubur sumsum.
Reatha berdiri di depan kompor sambil mengaduk adonan tepung beras dengan santan. Sesekali ia mencicipi sedikit kuah gula merah yang sudah dibuatnya.
“Kurang manis sedikit,” gumamnya.
Reatha kembali mengaduk sambil tersenyum kecil. “Semoga Tuan Besar enggak banyak protes," gumamnya.
“Selamat pagi, istriku," sapa Azka.
“AAAA!” jawab Reatha terkejut mendengar sapaan pria itu.
Reatha hampir saja menjatuhkan sendok sayur. Ia langsung menoleh dengan mata membulat. Azka berdiri tepat di belakangnya.
Pria itu sudah terlihat lebih segar pagi ini. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tetapi tidak separah kemarin. Rambutnya juga sudah rapi meskipun masih terlihat sedikit berantakan.
Reatha memegangi dadanya. “Ya ampun, Azka!”
Azka mengangkat alis. “Kenapa?” tanyanya.
“Kamu bikin kaget," jawab Reatha.
“Maaf," ucap Azka.
Reatha menatapnya beberapa detik. Namun, yang membuatnya bukan sekadar terkejut adalah satu kata yang baru saja keluar dari mulut pria itu. Azka baru saja memanggilnya istriku. Bukan Raisa. Bukan sekadar nama yang selama ini selalu terdengar begitu dingin dari bibirnya.
Reatha tidak tahu kenapa satu kata sederhana itu terasa begitu berbeda pagi ini.
“Kok diam?” tanya Azka.
Reatha buru-buru menggeleng. “Enggak apa-apa.”
Azka tersenyum tipis. “Selamat Pagi," ulangnya.
Reatha akhirnya membalas dengan senyuman kecil. “Selamat pagi.”
Azka kemudian melirik ke arah panci di atas kompor. “Kamu masak apa?” tanya pria itu.
“Bubur sumsum.”
Azka mengangguk pelan. “Pasti enak.”
Lagi-lagi Reatha hanya membalas dengan senyuman. Ia kemudian menunjuk kursi di meja makan.
“Kamu duduk aja. Nanti pusing," ujar Reatha.
Azka mengangguk. “Iya, istriku.”
Reatha terdiam lagi. Entah pria itu sengaja atau tidak, tetapi setiap kali mengucapkan kata itu, jantung Reatha seperti kehilangan ritmenya. Ia berusaha tidak memperlihatkannya.
“Jangan banyak bicara,” ucapnya sambil kembali mengaduk bubur. “Katanya masih sakit.”
Azka berjalan menuju meja makan sambil terkekeh kecil. “Iya, Bu Dokter.”
Reatha cemberut dan membalas, “Aku serius.”
“Aku juga serius.”
“Duduk aja!" seru Reatha.
“Iya.”
Untuk pertama kalinya, Reatha merasa pagi di rumah itu terasa begitu ringan. Hanya ada aroma santan, gula merah, dan suara kecil Azka yang sesekali menggodanya.
Beberapa menit kemudian, Reatha mematikan kompor. Ia menuangkan bubur sumsum ke dalam mangkuk, kemudian menyiramkan kuah gula merah di atasnya.
“Sudah siap!" seru Reatha.
Azka langsung memperhatikan mangkuk yang diletakkan di hadapannya. “Wah.”
Reatha menarik kursi. “Makan pelan-pelan.”
Azka mengambil sendok. Suapan pertama masuk ke mulut. Ia terdiam.
Reatha memperhatikannya. “Gimana?” tanyanya.
Azka kembali menyendok. “Enak.”
Reatha tersenyum lega. “Benaran?” tanyanya lagi.
“Benaran.”
Azka bahkan tidak berhenti makan. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya. Reatha sampai mengerutkan kening.
“Kamu makannya kayak belum dikasih makan tiga hari," ucap Reatha.
Azka berhenti sebentar. “Aku lapar.”
“Tadi katanya sakit.”
“Sakit bukan berarti enggak boleh lapar.”
Reatha tertawa kecil. “Ya sudah, makan.”
Tidak sampai sepuluh menit, bubur sumsum itu habis. Azka meletakkan sendok.
“Enak banget," ujar Azka.
“Syukurlah.”
“Besok buat lagi," pintanya.
Reatha menatapnya. “Besok kamu sudah sehat.”
“Kalau begitu aku pura-pura sakit.”
Reatha langsung melotot. “Jangan macam-macam.”
Azka tertawa. Entah sejak kapan mereka bisa bercanda seperti itu. Setelah sarapan selesai, Reatha hendak membereskan meja. Namun Azka tiba-tiba berdiri.
“Sudah.”
“Aku beresin dulu," ucap Reatha.
“Nanti saja.” Azka menunjuk ruang keluarga. “Nonton, yuk.”
Reatha mengerutkan kening. “Nonton?”
“Iya.”
“Kamu enggak kerja?” tanya Reatha.
“Aku masih sakit," jawab Azka sekenanya.
Reatha menatapnya curiga. “Benar-benar sakit atau cuma malas kerja?”
Azka memegang dadanya dengan ekspresi dramatis. “Aku sakit hati mendengar istriku menuduh suaminya malas.”
Reatha langsung tertawa. “Lebay.”
“Jadi mau nonton atau tidak?”
Reatha akhirnya mengangguk. “Ya sudah.”
Mereka kemudian duduk berdampingan di sofa. Televisi menyala menampilkan sebuah film komedi. Awalnya Reatha hanya berniat menemani Azka agar pria itu tidak bosan.
Namun beberapa menit kemudian, ia justru ikut tertawa. Azka yang duduk di sampingnya juga sesekali tertawa. Suasana terasa begitu nyaman.
Sampai tiba-tiba Azka menggeser tubuhnya. Reatha masih fokus menonton. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan sesuatu menyentuh pahanya. Ia menoleh.
Azka sudah membaringkan kepalanya di paha Reatha. Mata Reatha langsung membesar.
“Azka ...!"
“Hm?”
“Kamu ngapain?” tanya Reatha.
“Pusing.”
Reatha langsung panik. “Pusing lagi?”
“Sedikit.”
“Kenapa enggak bilang?”
“Sudah bilang.”
Reatha menatap wajah pria itu. “Terus kenapa kepalamu di sini?”
Azka memejamkan mata. “Nyaman.”
Reatha membeku. Tak tahu harus menjawab apa lagi.
“Pahamu empuk," ujar Azka.
“AZKA!”
Azka tertawa kecil tanpa membuka mata. “Bercanda.”
Reatha ingin memindahkan kepala pria itu, tetapi tangannya justru berhenti. Ia menghela napas. “Ya sudah. Lima menit.”
Azka tersenyum puas. “Terima kasih, istriku.”
Pipi Reatha kembali memanas. Ia mencoba fokus pada televisi. Namun jantungnya sudah tidak bisa diajak bekerja sama.
Tanpa sadar, tangannya perlahan mengusap rambut Azka. Pria itu tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum. Dan tepat ketika suasana mulai terasa terlalu manis—
“ASTAGA!” Suara Mama terdengar dari arah pintu.
Reatha langsung membeku. Azka membuka mata. Di sana sudah berdiri Mama dan Papa.
Mama menutup mulut dengan kedua tangannya, sementara Papa berdiri di sampingnya dengan ekspresi yang tidak kalah heboh.
“Pa .…” Azka langsung bangun.
Terlambat. Mama sudah berjalan mendekat dengan senyum lebar.
“Ini yang Mama lihat benar?” tanya Mama dengan tersenyum.
“Ma, jangan mulai.”
Mama menunjuk sofa. “Anakku yang katanya paling dingin sedunia sekarang tiduran di paha istrinya?”
“Kepalaku pusing, Ma," jawab Azka.
Papa mengangguk sok serius. “Iya, Ma. Sepertinya penyakitnya cukup parah.”
Azka menatap ayahnya..“Papa juga?”
Papa menahan tawa. “Papa cuma mengamati.”
Mama kemudian melirik Reatha yang wajahnya sudah merah seperti tomat.
“Raisa, kamu jangan malu.”
Reatha menunduk. “Ma .…”
Mama duduk di sofa seberang. Lalu dengan santainya ia berkata, “Kayaknya sebentar lagi kita akan memiliki cucu.”
“MA!” Azka langsung berdiri tegak.
Wajah Reatha semakin merah.
Papa malah mengangguk sambil tersenyum. “Sepertinya iya, Ma.”
Azka menatap kedua orang tuanya tidak percaya. “Papa!”
Mama tertawa puas. “Kenapa? Mama cuma berharap.”
Reatha menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ya Tuhan. Kenapa pagi yang awalnya begitu romantis berubah menjadi mimpi buruk?
Azka mengusap wajahnya. “Cucu itu prosesnya panjang, Ma.”
Mama mengangkat alis. “Memangnya Mama enggak tahu?”
Papa tertawa. “Sudah, Ma. Jangan ganggu mereka.”
Mama berdiri. “Iya, iya. Mama pergi.”
Namun sebelum berbalik, Mama sempat menatap Reatha dan tersenyum penuh arti. “Pokoknya Mama tunggu kabar baik.”
“MA!”
Tawa Mama dan Papa langsung memenuhi ruang keluarga. Sementara Reatha hanya bisa menundukkan wajahnya.
Azka menatap istrinya. Beberapa detik kemudian, ia berbisik pelan. “Maaf.”
Reatha menggeleng. “Orang tuamu memang luar biasa.”
Azka tersenyum. “Makanya aku bilang, jangan terlalu sayang sama mereka.”
Reatha menatapnya. “Kenapa?”
“Karena nanti mereka makin semangat cari cucu.”
Reatha langsung memukul pelan lengan Azka. “Azka!”
Tawa pria itu kembali pecah. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, rumah yang dulu terasa begitu asing bagi Reatha perlahan mulai terasa seperti rumahnya sendiri.