NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Sudah dua hari berlalu sejak malam penuh napas terputus itu, malam kulit bertemu kulit di jok mobil, malam desahan yang masih bergema di ingatan mereka berdua bagai gaung yang enggan padam. Dua hari ketika Leonardo dan Zaira terpisah secara fisik, tapi tak pernah sedekat itu dalam pikiran masing-masing. Seakan tubuh mereka tertinggal di masa lalu, sementara jiwa mereka terjalin dalam ikatan tak kasat mata.

Pagi itu kota bangun dengan warna kelabu. Langit tertutup awan tebal, seolah menindih gedung-gedung bagai selimut basah, mengaburkan garis-garis pencakar langit. Gerimis halus nyaris tak terasa menabuh lembut kaca-kaca berembun, sementara udara berbau tanah basah, dedaunan lapuk, dan kopi baru diseduh yang mengambang dari suatu jendela terbuka, juga janji akan sesuatu yang belum sempat dinamai.

Di dalam perpustakaan kampus, keheningan terasa pekat, hampir sakral. Hanya derit kursi sesekali, lembar halaman yang membalik pelan, dan dengung berat sistem penghangat yang memecah kesenyapan. Zaira ada di sana, tenggelam dalam ketenangan yang terpaksa itu. Ia mengenakan sweter tebal warna mustard, lengannya digulung sampai siku, rambutnya disanggul tinggi agak berantakan, menyisakan beberapa helai nakal jatuh di tengkuknya.

Kedua sikunya bertumpu di meja kayu, kasar dan penuh goresan bekas generasi mahasiswa, sebuah buku analisis sastra terbuka di hadapannya. Tapi ia tak membaca. Matanya terpaku, hilang entah ke mana, berhenti pada satu titik tak terlihat di antara baris-baris tulisan. Halaman itu seolah balik memandangnya, seakan tahu bahwa dirinya tak sedang dipahami.

Jemarinya mempermainkan sudut buku, memutar, melipatnya pelan, seakan bisa mencabut sebuah jawaban dari sana. Namun pikirannya tak berada di gedung itu. Ia melayang ke malam saat Leonardo meraihnya ke dalam pelukan dengan sesak dan penuh takzim. Ke cara suara pria itu pecah di sela belaian. Ke ciuman-ciumannya, ke napasnya yang bergetar di lehernya.

Kemeja pria itu masih terlipat di laci Zaira. Ia menaruhnya dengan sangat hati-hati, seperti orang menyimpan relikui. Kemeja putih, dengan aroma parfum dan tubuh Leonardo yang membekas. Setiap kali membuka laci itu, jantungnya berdegup begitu keras, seakan ingin melompat keluar dan berlari kepada pria itu.

Lalu ponsel bergetar malu-malu di atas meja. Suaranya nyaris membuatnya tersentak. Zaira langsung menyambarnya, dengan semacam ketergesaan yang biasa disimpan orang untuk dorongan-dorongan paling pribadi.

Sebuah pesan dari Tatiana:

Tatiana: Kamu bawa catatan analisis? Dosen minta dikumpulkan hari ini.

Zaira menghela, perlahan kembali ke dunia nyata. Gumam samar para mahasiswa kembali memenuhi telinganya, dan bau kertas tua mengembalikan kesadarannya akan tempat itu.

"Fokus, Zaira..." gumamnya, lebih sebagai usaha meyakinkan diri ketimbang perintah sungguhan.

Ribuan kilometer jauhnya, di sebuah kota asing yang bermandi cahaya keemasan senja, Leonardo bersandar pada dinding kaca sebuah hotel mewah. Dindingnya berlapis kayu mengkilap, lantainya berkarpet meredam segala suara, dan udara berbau anggur mahal, kulit koper para eksekutif, serta bunga-bunga yang baru ditata petugas kebersihan.

Ia mengenakan setelan biru tengah malam tanpa dasi, kancing teratas kemejanya terbuka, alisnya sedikit berkerut. Rahangnya menegang. Dadanya gelisah. Ia menggenggam ponsel seolah benda itu membakar, belum juga membukanya. Di belakangnya, dinding kaca lantai empat puluh memantulkan matahari terbenam di atas kota: ledakan warna ambar, emas, dan merah tua yang menodai cakrawala.

Dari ketinggian itu, semuanya tampak tenang. Jalanan, mobil-mobil, orang-orang yang bergerak seperti semut. Namun di dalam dirinya, badai mengaum dengan suara rendah dan tak henti. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sebuah perjalanan bisnis tak lagi terasa seperti kebebasan. Rapat-rapat, sulang minuman, jamuan makan eksklusif... semuanya terasa hambar. Bagai lukisan tanpa warna. Pikirannya, jiwanya, hasratnya... semuanya kembali, tak terelakkan, kepada Zaira.

Kepada tawa malu-malunya. Kepada cara gadis itu memandangnya seakan dirinya lebih dari apa yang sebenarnya. Kepada bulu kuduk yang meremang hanya karena mengingat namanya bergetar di bibir gadis itu.

Ia menyandarkan dahi ke kaca yang dingin. Uap tipis terbentuk di tempat ia mengembuskan napas.

"Sialan, apa yang sedang kaulakukan padaku, putriku...?" bisiknya, nyaris tak terdengar, seakan kota itu sendiri bisa mendengar.

Marcelo mengiriminya pesan tadi pagi. Pesan singkat penuh ejekan:

Marcelo: Masih pasang wajah bodoh orang jatuh cinta, atau sudah sembuh?

Tidak. Ia belum sembuh. Dan takkan pernah sembuh.

Ia menekan nomor gadis itu tanpa banyak berpikir. Sekali, dua kali, tiga kali nada sambung berdering. Lalu, suara Zaira menembusnya bagai kilat.

"Leonardo?"

Ia memejamkan mata mendengarnya. Suara itu seperti balsam hangat di atas luka-lukanya yang tak kasat mata.

"Halo, putriku," katanya, dengan suara lebih rendah, hampir serak. "Kamu sibuk?"

Zaira langsung bangkit, seolah didorong per. Ia keluar dari perpustakaan, ponsel menempel erat di telinga. Udara dingin menyambutnya sekaligus, memotong napasnya. Tetes hujan memercik ke dahinya, tapi ia nyaris tak menyadarinya.

"Enggak. Yah... aku lagi belajar," gagapnya, "tapi ada apa?"

"Aku cuma ingin mendengar suaramu," aku Leonardo tanpa berbelit.

Zaira merasa tanah luruh di bawah kakinya. Ia berjalan tergesa di bawah kanopi sebuah lorong, sampai menemukan bangku basah dan duduk di sana tanpa peduli dingin yang menusuk pahanya.

"Aku juga memikirkanmu. Banyak."

Leonardo menyandarkan punggung ke dinding, dengan setengah senyum yang lebih menyerupai rindu ketimbang bahagia.

"Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit setelah malam itu?"

Zaira tertawa, gugup, dengan rona di pipi yang bahkan angin dingin pun tak mampu menyamarkan.

"Enggak... ha, ha, ha... aku baik-baik saja."

Leonardo memejamkan mata. Tiap tawa gadis itu adalah kail yang menancap di dadanya.

"Zaira, apa yang sedang kaulakukan padaku?"

Sunyi. Tapi bukan sunyi yang canggung. Ini kesunyian yang hidup, penuh aliran listrik. Seakan kata-kata tak diperlukan untuk sesaat.

"Kapan kamu pulang?" tanya Zaira, merendahkan suara, seolah takut jawabannya akan melukainya.

"Dua hari lagi. Dan aku ingin melihatmu begitu aku menginjak kota ini."

"Aku juga ingin melihatmu," bisiknya, tanpa ragu.

Leonardo mengeratkan genggaman pada ponsel. Jemarinya bergetar. Jantungnya berdetak dengan irama liar. Segala hal tentang gadis itu membuatnya rapuh.

"Zaira..." Ia ingin mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam.

Zaira memejamkan mata, menyandarkan dahi ke lututnya. Ia tak lagi merasakan dingin maupun lembap. Hanya kehangatan lembut, seperti bara yang menyala di tengah dadanya.

"Kamu terpatri di kepalaku, sayang," kata Leonardo dengan suara serak.

"Aku juga tak berhenti memikirkanmu," sahut Zaira, dengan suara pecah oleh haru. "Setiap kali aku memejamkan mata... aku kembali ke sana bersamamu."

Keduanya terdiam, saling menghirup napas satu sama lain. Membiarkan sunyi mereka bersentuhan bagai kulit dengan kulit.

Akhirnya, Leonardo berbisik:

"Jaga dirimu baik-baik, ya? Janji kamu akan tetap fokus, belajar, berkembang. Aku tak mau jadi penghalang bagimu."

Zaira merasakan sengat di dadanya. Ia memejamkan mata erat-erat.

"Kamu bukan penghalang. Kamu penyelamatku."

Leonardo menelan ludah. Kalimat itu menembusnya bagai peluru cinta.

Panggilan itu baru berakhir ketika Leonardo harus menghadiri jamuan makan malam bersama para pengusaha. Namun rasa dari percakapan tadi tertinggal di lidahnya bagai anggur tua.

Malam itu, Zaira tidur memeluk kemeja yang masih menguarkan aroma pria itu, dengan cahaya redup lampu yang menyala dan senyum di bibirnya.

Dan Leonardo, sendirian di kamar hotelnya, berbaring sembari berharap waktu berlari lebih cepat, agar hari-hari berlalu bagai dedaunan tertiup angin.

Sebab kini gairah masih berdenyut di bawah kulit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!