NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkungkung Rahasia Dan Ancaman

"Sayang, sepertinya sakit yang kau alami cukup parah. Kulitmu terasa dingin sekali dan wajahmu semakin pucat saja. Bagaimana kalau Ibu antarkan ke rumah sakit untuk diperiksa lebih teliti oleh dokter? Siapa tahu ada penyakit tersembunyi yang sedang menyerangmu," ucap Bu Gendis dengan nada penuh kekhawatiran. Ia memapah bahu Mawar yang terasa kaku dan keras seperti kayu kering, lalu menuntun langkah gadis itu perlahan berjalan masuk ke dalam kamar tidur.

Namun begitu mendengar kata "rumah sakit", seluruh tubuh Mawar seketika menegang kaku bagaikan dipatuk petir. Matanya melotot lebar, napasnya tersendat di tenggorokan hingga dadanya terasa sesak luar biasa.

"Rumah sakit? Tidak, Bu! Tidak perlu! Aku tidak mau ke sana!" tolak Mawar dengan cepat, suaranya nyaris melengking keras, namun ia segera diredam secepat mungkin agar tidak terdengar mencurigakan atau berlebihan.

"Aku tidak sakit apa-apa kok, Bu. Hanya kelelahan saja. Kemarin aku kurang tidur dan terlalu banyak bergerak, jadi tubuhku terasa berat dan lemas begini. Cukup istirahat sebentar, nanti juga pulih sendiri seperti sedia kala," Mawar berusaha menenangkan, ia mengatur nada bicaranya agar terdengar tenang dan wajar, meski keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

Bu Gendis berhenti melangkah, lalu menatap Mawar lekat-lekat, menelusuri setiap perubahan ekspresi di wajah anak bungsunya itu. Ia sudah melahirkan dan membesarkan Mawar selama bertahun-tahun, ia tahu betul setiap gerak-gerik, kebiasaan, dan cara bicara anak itu. Di balik wajah pucat yang ketakutan dan jawaban yang terburu-buru itu, Bu Gendis bisa merasakan ada sesuatu yang berat, gelap, dan menyakitkan yang sedang disembunyikan Mawar rapat-rapat. Namun Bu Gendis memilih untuk diam saja, ia tahu betul sifat Mawar, ia tidak akan mau membuka suara dan bercerita sebelum hatinya benar-benar siap dan ia merasa aman. Memaksa hanya akan membuatnya semakin tertutup.

"Baiklah kalau itu keinginanmu. Istirahatlah yang cukup, jangan banyak bergerak dulu. Kalau nanti makin parah, baru kita berpikir lagi ya," Bu Gendis membantu Mawar berjalan perlahan hingga sampai di tepi ranjang.

Bu Gendis membantu Mawar berbaring dengan lembut, lalu berniat menarik selimut tebal itu menutupi tubuh sang putri hingga sebatas dada. Namun tangan renta wanita tua itu terhenti melayang di udara. Pandangannya terkunci pada bercak merah gelap yang mengotori permukaan sprei bermotif bunga itu, bercak itu masih terlihat segar, jelas, dan tidak bisa disangkal keberadaannya.

"Mawar... darah siapa ini? Apa kau terluka di bagian tubuh mana? Kenapa tidak pernah katakan pada Ibu?" tanya Bu Gendis dengan nada tegas namun penuh kekhawatiran yang mendalam, jantungnya ikut berdebar cemas melihat jejak itu.

Mawar merasakan seolah dunia berhenti berputar tepat saat itu juga. Jantungnya berdegup kencang seolah mau pecah. Ia menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya terasa kering dan perih. Otaknya berputar cepat, berusaha menyusun alasan yang masuk akal secepat kilat agar kebenaran yang mengerikan itu tidak terbongkar.

"Itu... itu darah dari hidungku, Bu. Belakangan ini aku sering begadang, kurang istirahat, dan kelelahan berlebihan, jadi pembuluh darahku mudah pecah dan aku sering mengalami mimisan. Tadi pagi juga sempat keluar darah lagi, mungkin jatuh ke kasur tanpa aku sadari," jawab Mawar, ia berusaha tersenyum tipis, meski senyum itu terlihat jauh lebih mirip seringai kepedihan dan keputusasaan.

Di dalam hati gadis itu, ia berdoa sekuat tenaga agar sang ibu percaya. Ia berharap jangan sampai Bu Gendis tahu bahwa itu sama sekali bukan darah dari hidung, melainkan sisa kehormatan, kesucian, dan harga dirinya yang telah direnggut paksa, dirusak oleh Bima semalam.

"Oh... begitu rupanya," Bu Gendis mengangguk pelan, meski rasa curiga yang samar masih mengganjal kuat di benaknya. Ia menatap bercak itu lagi, lalu kembali menatap wajah putrinya yang berusaha tampak tenang. Bu Gendis tidak bisa sepenuhnya merasa tenang dan lega, namun saat ini belum ada bukti yang cukup kuat untuk mendesak atau menuntut penjelasan.

"Kalau begitu Ibu tidak akan mengganggu lagi. Kau istirahatlah dengan tenang dan cukup ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja Ibu dari luar," ucap Bu Gendis lembut, lalu menarik selimut itu perlahan menutupi tubuh Mawar sebatas dada saja.

Gadis itu tidak menjawab sepatah kata pun, hanya mengangguk kaku dengan kepala berat, lalu segera memejamkan matanya rapat-rapat, berpura-pura sudah terlelap nyenyak agar sang ibu tidak bertanya lebih jauh lagi atau memperhatikannya lebih lama.

Baru setelah pintu kamar tertutup rapat dan suara langkah kaki Bu Gendis perlahan menghilang menjauh di lorong kayu, Mawar berani membuka matanya kembali dan menarik napas panjang yang berat. Rasa lega yang besar menyelinap sejenak di dadanya, namun ketenangan itu tak bertahan lama.

Belum sempat detik berjalan berlalu, gagang pintu kamar itu kembali berputar perlahan dan senyap.

Hati Mawar mencelos. Matanya terbuka lebar, pandangannya terkunci kaku pada sosok yang menyelinap masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kembali dari dalam dengan hati-hati namun tegas dan pasti.

Di sana, berdiri dengan senyum tipis yang terlihat begitu tenang namun mengerikan dan dingin.

Mawar mundur serapat mungkin hingga punggungnya menabrak dinding kayu yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat hingga kasur ikut bergetar, wajahnya pucat pasi seolah telah kehilangan seluruh darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Seluruh rasa takut yang baru saja sempat mereda kini kembali menyerbu masuk berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.

"Kak Bima...?" suara Mawar bergetar, "Kau... kau mau apa di sini? Kenapa kau masuk ke kamarku?"

Pintu terkunci pelan. Bunyi klik kunci itu terdengar nyaring dan jelas di keheningan kamar, bagaikan bunyi gembok penjara yang baru saja dikunci. Bima melangkah mendekat perlahan, langkah demi langkah dengan santai, seolah menikmati setiap detik ketakutan yang semakin membekap dan menyesakkan dada Mawar.

"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu kalau kau mau mendengarkan dan bersikap patuh," ucap Bima pelan, nada suaranya rendah, berat, dan dingin, sama sekali tidak seperti nada bicara sopan dan ramah yang biasa ia gunakan di depan semua anggota keluarga.

Mawar merapatkan diri semakin erat ke sudut dinding, kakinya ditekuk rapat di bawah selimut, kedua tangannya memeluk lututnya erat-erat. "Keluar... tolong keluar dari kamarku... Aku tidak mau bertemu denganmu... Aku tidak mau bicara denganmu..." suara Mawar nyaris tak terdengar, namun jari-jarinya yang mencengkeram tepi kasur terlihat putih pucat karena menahan tegang yang luar biasa.

Bima justru tersenyum miring, senyum yang penuh penghinaan dan kemenangan. Ia berhenti tepat di sisi ranjang, berdiri tegak dan menatap tajam ke arah gadis yang meringkuk ketakutan itu.

"Kau pikir aku datang ke sini cuma untuk melihat keadaanmu atau memastikan kau baik-baik saja? Tidak, Mawar. Aku datang untuk mengingatkan satu hal penting, satu hal yang harus kau ingat," ucap Bima, lalu ia mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak di antara mereka kini makin sempit.

"Apa yang terjadi semalam... itu adalah rahasia kita berdua. Dan harus tetap menjadi rahasia selamanya, sampai kapan pun, tak ada satu orang pun yang boleh tahu. Kalau kau berani membuka mulut sedikit saja, kau akan menanggung akibatnya." lanjut Bima dengan nada penuh ancaman dan intimidasi yang mendalam.

Mawar menggeleng kuat berulang kali, air mata kembali menggenang deras di sudut matanya dan jatuh membasahi pipi. "Itu bukan rahasia! Kau memaksaku! Kau merampas segalanya dariku! Kau merusak hidupku!" isak Mawar tertahan.

Tangan Bima terulur cepat, mencengkeram dagu Mawar dengan cengkeraman kuat dan kasar namun gerakannya cukup pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh atau bekas luka yang terlihat jelas. Wajah pria itu berubah seketika menjadi buas dan mengancam, hilang sudah topeng sopan santun dan keramahannya yang selama ini ia pertahankan.

"Dengar baik-baik ucapanku ini, Mawar. Jangan pernah bermimpi untuk membuka mulut pada siapa pun, apalagi pada Jingga atau Ibu. Kalau sampai satu kata saja lolos dari bibirmu... kalau sampai ada satu orang pun yang tahu..." Bima berhenti sejenak, lalu merogoh saku celananya dan mengangkat ponsel pintarnya tepat di depan mata Mawar yang membelalak ketakutan.

Jantung Mawar berhenti berdetak sejenak, rasanya seolah napasnya putus seketika.

"Aku punya bukti. Banyak foto, bahkan rekaman video kejadian semalam. Semuanya cukup jelas, cukup lengkap, dan cukup untuk disebarkan ke siapa saja, ke seluruh keluarga, ke tetangga, bahkan ke seluruh kota ini," ancam pria itu pelan namun kata-katanya terasa tajam seperti pisau yang menancap ke ulu hati.

"Dan ingat satu hal lagi... kalau sampai hal ini terbongkar, aku akan bilang pada semua orang kalau kau lah yang mendekatiku duluan, kau lah yang merayuku, kau lah yang menggoda, dan kau lah yang menginginkan semuanya terjadi. Kau pikir siapa yang akan percaya pada gadis sepertimu yang sering dianggap nakal, dibandingkan aku? Aku adalah suami Jingga, orang yang terhormat, berpendidikan, dan sudah dikenal baik oleh semua orang selama bertahun-tahun. Siapa yang akan membelamu? Siapa yang akan percaya padamu?" ancam Bima semakin tajam.

Rasa takut yang jauh lebih besar, lebih dingin, dan lebih mencekam dari sebelumnya kini merayap perlahan di sekujur tubuh Mawar, merembes hingga ke tulang sumsum. Ia menatap layar ponsel itu dengan pandangan kosong dan kaku, rasa jijik bercampur keputusasaan mulai menggerogoti hatinya perlahan-lahan. Ia sadar betul, posisinya sangat lemah, tidak ada bukti, tidak ada saksi, dan orang jahat itu justru memegang segala senjata untuk menghancurkannya.

"Kau bajingan, Kak... Kau manusia yang tidak punya hati nurani..." bisik Mawar dengan suara lemah dan bergetar, air matanya mengalir deras tak terputus.

Bima melepaskan cengkeramannya dari dagu Mawar, lalu menepuk-nepuk pipi gadis itu pelan, gerakan yang seolah menenangkan anak kecil, padahal penuh penghinaan dan kekuasaan.

"Pilihannya ada di tanganmu sekarang, Mawar. Diam dan biarkan semuanya tetap tenang, aman, dan baik-baik saja. Atau bicara dan hancurkan nama baikmu sendiri, menjadi bahan gunjingan dan aib seumur hidupmu. Ingat itu baik-baik, jangan sampai kau salah mengambil keputusan."

Bima berdiri tegak kembali, merapikan pakaiannya dengan tenang, lalu berbalik badan seolah tak ada hal berat dan kejam yang baru saja ia lakukan dan ucapkan. Ia membuka pintu sedikit demi sedikit, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara.

"Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kau berbuat bodoh," ucap Bima terakhir sebelum ia lenyap perlahan di balik pintu, menutupnya kembali rapat-rapat dari luar.

Mawar tertinggal sendirian, gemetar hebat di atas kasur, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Ia terkungkung dalam ketakutan yang mendalam, terbelenggu oleh ancaman yang kini terasa semakin mustahil untuk dilawan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!