PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBILAN PULUH HARI
Nadine Kirana baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres ketika Axel Pratama meletakkan sebuah kartu debit hitam di atas meja.
Benda kecil itu tampak biasa. Tidak ada hiasan mencolok, hanya sebuah kartu dengan nama pemilik yang tercetak rapi di bagian depan.
Namun, cara Axel mendorongnya ke arah Nadine membuat gadis itu langsung curiga.
“Apaan ini?”
“Kartu debit.”
Nadine menatapnya datar. “Gue tahu itu kartu debit. Maksud gue, kenapa lo memberikannya ke gue?”
“Buat bayar tagihan rumah sakit.”
Jawaban Axel begitu santai, seolah-olah ia baru saja menawarkan sebotol air mineral, bukan sesuatu yang bisa mengubah keadaan keuangan keluarga Nadine.
Mereka duduk berhadapan di sudut perpustakaan SMA Garuda. Di antara keduanya terbentang dokumen kontrak yang telah Nadine baca berulang kali sejak siang tadi.
Pertemuan itu seharusnya hanya digunakan untuk memeriksa dokumen final dan memastikan semua aturan yang mereka sepakati sudah tercantum dengan benar.
Nadine tidak pernah menyangka pembicaraan tersebut akan berakhir dengan sebuah kartu debit di atas meja.
“Berapa isinya?” tanya Nadine hati-hati.
“Dua puluh juta.”
Nadine terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian ia mendorong kartu itu kembali ke arah Axel.
“Lo gila?”
Axel mengangkat sebelah alis. “Pertanyaan yang cukup sopan.”
“Gue serius.”
“Gue juga.”
“Gue cuma butuh membayar pengobatan Ibu.”
“Gue tahu.”
“Kalau begitu, kenapa dua puluh juta?”
Axel menyandarkan punggungnya pada kursi. “Gue nggak tahu berapa biaya yang bakal dibutuhkan selanjutnya. Jadi, daripada lo harus bolak-balik memikirkan uang setiap kali ada tagihan baru, gue isi sekalian.”
Nadine memandang kartu itu lagi.
Tagihan rumah sakit ibunya mencapai Rp4.800.000. Tabungan yang berhasil ia kumpulkan hanya Rp1.350.000. Selisihnya sudah cukup membuatnya kesulitan tidur selama beberapa malam.
Sekarang, Axel menawarkan dana yang jauh melampaui kekurangannya.
Seharusnya ia merasa lega.
Akan tetapi, yang muncul justru kegelisahan.
“Gue nggak bisa menerima uang sebanyak ini begitu saja.”
“Kenapa?”
“Karena ini bukan uang sedikit.”
“Buat gue, jumlah itu bukan masalah.”
“Itu masalah buat gue.”
Jawaban Nadine membuat Axel berhenti memainkan ponselnya.
Gadis itu menarik napas sebelum melanjutkan.
“Lo mungkin terbiasa menyelesaikan masalah dengan uang. Tapi gue nggak terbiasa menerima bantuan sebesar ini dari orang lain, apalagi seseorang yang baru saja menawarkan hubungan kontrak kepada gue.”
“Lo pikir gue sedang mencoba membeli lo?”
“Gue nggak tahu. Itu sebabnya gue bertanya.”
Tatapan mereka bertemu.
Biasanya, Axel cukup pandai mengendalikan percakapan. Ia bisa membuat orang lain kehilangan kata-kata hanya dengan tatapan dingin dan nada suaranya yang datar.
Namun, Nadine tidak sedang berusaha mengalah atau mencari alasan untuk menyenangkan hatinya.
Ia hanya ingin memastikan bahwa keputusan yang diambilnya tidak akan membuat hidupnya semakin rumit.
Axel mengetuk meja satu kali dengan telunjuknya.
“Dengerin gue, Nadine. Gue menawarkan kontrak karena gue butuh pacar pura-pura. Lo mempertimbangkannya karena lo butuh uang untuk membantu ibu lo. Kita sama-sama tahu alasan kita ada di sini.”
“Gue tahu.”
“Gue nggak mau lo menerima uang ini karena merasa berutang perasaan sama gue.”
Nadine sedikit terkejut mendengar kalimat itu.
Axel melanjutkan, “Lo nggak perlu membalas bantuan ini dengan apa pun di luar kesepakatan kita. Apalagi kalau lo nggak nyaman melakukannya.”
“Kalau gue menolak permintaan lo saat kita sedang berpura-pura menjadi pasangan?”
“Kalau permintaan itu melanggar aturan yang kita buat, lo berhak menolak.”
“Kalau lo marah?”
“Gue bisa marah.”
Nadine menatapnya tajam.
Axel mengembuskan napas.
“Tapi gue nggak berhak menggunakan uang itu buat memaksa lo.”
Jawaban tersebut membuat Nadine sedikit melonggarkan bahunya. Bukan berarti semua keraguannya hilang, tetapi setidaknya Axel memahami satu hal penting.
Bantuan finansial tidak memberinya hak untuk mengendalikan kehidupan orang lain.
“Kalau begitu, kita harus menambahkan aturan tentang kartu ini,” kata Nadine.
Axel melirik dokumen di tengah meja. “Masih ada lagi?”
“Harus ada.”
“Gue mulai curiga kontrak ini bakal lebih tebal daripada buku pelajaran.”
“Kalau lo ingin semuanya berjalan lancar, lo seharusnya bersyukur gue memikirkan hal-hal yang mungkin lo lupakan.”
Axel menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
“Baik, Bu Pengacara. Apa aturan berikutnya?”
Nadine mengabaikan sebutan itu dan membuka halaman kosong di buku catatannya.
“Pertama, kartu ini hanya boleh digunakan untuk kebutuhan yang sudah kita sepakati.”
“Biaya pengobatan ibu lo, kebutuhan pendidikan, dan kebutuhan mendesak lainnya?”
“Ya. Tapi bukan berarti gue harus menghabiskan seluruh uangnya.”
“Gue nggak pernah bilang lo harus menghabiskannya.”
“Kedua, kalau masih ada saldo, gue boleh menggunakannya untuk kebutuhan pribadi gue yang wajar. Tapi gue juga nggak akan menggunakan uang itu untuk membeli barang mahal hanya karena lo mampu membayarnya.”
Axel memiringkan kepala.
“Kalau lo butuh sesuatu, beli saja.”
“Kalau gue memang membutuhkannya, gue akan mempertimbangkannya. Gue nggak mau menggunakan uang hanya karena tersedia.”
“Keputusan ada di tangan lo.”
“Ketiga, kalau uangnya kurang, kita harus membicarakannya lebih dulu. Gue nggak mau tiba-tiba menggunakan seluruh dana tanpa penjelasan.”
Axel mengangguk.
“Setuju.”
Nadine menuliskan ketentuan tersebut dalam catatannya, kemudian mengangkat wajah.
“Dan satu lagi. Kartu ini bukan alasan buat mengatur siapa yang boleh gue temui, ke mana gue pergi, atau apa yang harus gue lakukan.”
Senyum tipis di wajah Axel menghilang.
“Lo benar-benar nggak percaya sama gue, ya?”
“Gue belum cukup mengenal lo untuk mempercayai hal sebesar ini.”
Jawaban itu terdengar jujur, bahkan mungkin terlalu jujur.
Namun, Nadine tidak berniat berpura-pura merasa nyaman hanya untuk menjaga perasaan Axel.
Laki-laki itu menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
“Adil.”
Satu kata.
Tidak ada perdebatan, tidak ada ancaman untuk menarik kembali tawarannya.
Axel mengambil kartu debit tersebut, lalu meletakkannya kembali di hadapan Nadine.
“Saldo awalnya dua puluh juta. Lo bisa memeriksa jumlahnya sebelum menggunakannya. Kalau ada pengeluaran untuk kebutuhan yang kita sepakati, simpan bukti transaksinya supaya semuanya jelas.”
Nadine menatapnya dengan lebih saksama.
“Sejak kapan lo memikirkan hal sedetail ini?”
“Sejak lo terus mengingatkan gue bahwa uang bukan alasan buat mengatur hidup lo.”
Entah mengapa, jawaban itu membuat Nadine kehilangan kata-kata selama beberapa saat.
Ia akhirnya memasukkan kartu tersebut ke dalam dompet kecilnya, bukan karena semua keraguannya telah lenyap, melainkan karena mereka sudah membicarakan batas-batas yang sebelumnya terasa begitu kabur.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Axel tidak langsung menjawab.
“Jangan berterima kasih dulu. Kita bahkan belum menyelesaikan kontraknya.”
Nadine kembali menatap dokumen di hadapannya.
Benar. Masih ada satu keputusan besar yang harus ia ambil.
---
Beberapa menit berikutnya dihabiskan untuk memeriksa setiap pasal.
Nadine tidak ingin ada satu kalimat pun yang bisa disalahartikan ketika mereka mulai menjalankan hubungan palsu itu.
Durasi kontrak: sembilan puluh hari sejak tanggal penandatanganan.
Kegiatan bersama: hanya acara sekolah, pertemuan keluarga, atau kesempatan lain yang telah disepakati sebelumnya.
Kehidupan pribadi: masing-masing tetap berhak menjaga pertemanan, menjalankan kegiatan, dan menentukan pilihan sendiri.
Komunikasi: tidak ada kewajiban melaporkan setiap aktivitas atau membalas pesan seketika.
Batasan fisik: tidak ada sentuhan tanpa persetujuan, sekalipun mereka sedang berada di depan orang lain dan harus terlihat seperti pasangan.
Keuangan: bantuan diberikan sesuai ketentuan yang disepakati, tidak boleh dijadikan alat untuk memaksa kepatuhan.
Pengakhiran: kontrak dapat diakhiri lebih awal sesuai ketentuan yang telah mereka setujui, tanpa ancaman atau tekanan. Setelah hari kesembilan puluh, kontrak berakhir otomatis kecuali keduanya secara bebas memilih untuk melanjutkan hubungan sungguhan.
Nadine membaca bagian terakhir dua kali.
“Setelah sembilan puluh hari, kita benar-benar selesai,” katanya.
“Kalau itu yang kita sepakati.”
“Bukan kalau. Kontraknya selesai. Kalau nanti ada yang berubah, kita bisa membicarakannya sebagai dua orang, bukan karena salah satu merasa berutang kepada yang lain.”
Axel terdiam sesaat.
“Baik. Setelah sembilan puluh hari, kontrak selesai.”
Nadine memperhatikan ekspresinya, berusaha menangkap apakah ada keberatan yang disembunyikan. Namun, Axel tidak menambahkan apa pun.
Ia mengambil pena, kemudian meletakkannya di dekat tangan Nadine.
“Lo yakin?”
Nadine menunduk.
Di balik angka-angka dalam tagihan rumah sakit, ada wajah ibunya yang selalu berusaha tersenyum meskipun tubuhnya mudah lelah. Ada impian untuk kuliah di luar kota. Ada pekerjaan di tempat fotokopi yang selama ini membantunya bertahan.
Ia tidak sedang mengambil keputusan karena menganggap Axel sebagai penyelamat.
Ia sedang memilih jalan yang menurutnya bisa membantu keluarganya, sembari berusaha menjaga masa depannya sendiri.
“Gue bersedia mencoba,” jawabnya. “Tapi gue ingin lo ingat semua aturan yang sudah kita buat.”
“Gue akan mengingatnya.”
“Bukan hanya hari ini.”
Axel menatapnya lurus.
“Gue mengerti.”
Nadine memegang pena itu.
Untuk sesaat, ia kembali memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi selama tiga bulan ke depan.
Ia bisa saja menjadi bahan gosip satu sekolah. Ia bisa saja terlibat dalam masalah keluarga Axel. Dan yang paling mengkhawatirkan, ia bisa saja mendapati dirinya terjebak dalam hubungan yang sejak awal hanya dirancang sebagai sandiwara.
Namun, ia juga tahu bahwa kesempatan untuk membantu ibunya tidak datang setiap hari.
Nadine akhirnya menandatangani namanya.
Setelah itu, Axel membubuhkan tanda tangan di bagian yang tersedia.
Selesai.
Sembilan puluh hari mereka resmi dimulai.
Tidak ada tepuk tangan, tidak ada musik dramatis, dan tidak ada janji manis. Hanya dua lembar dokumen yang kini memiliki tanda tangan mereka, serta sebuah kartu debit yang tersimpan di dalam dompet Nadine.
Namun, bagi Nadine, semuanya terasa jauh lebih besar daripada sekadar tinta di atas kertas.
Ia baru saja memasuki sebuah perjanjian dengan laki-laki yang belum sepenuhnya ia pahami.
Dan uang yang ditawarkan Axel mungkin akan meringankan beban keluarganya, tetapi tidak akan otomatis membuatnya merasa nyaman berada di dekat laki-laki itu.
“Besok kita mulai menjalankan bagian yang terlihat,” kata Axel sambil memasukkan salinan kontrak ke dalam map.
Nadine mengerutkan kening.
“Maksud lo?”
“Orang-orang harus percaya kalau kita benar-benar pacaran.”
“Gue tahu. Tapi kita tetap harus membicarakan caranya. Gue nggak mau lo tiba-tiba membuat pengumuman atau melakukan sesuatu yang membuat gue nggak nyaman.”
“Besok pagi gue hubungi lo dulu. Kita sepakati apa yang akan dilakukan di sekolah.”
Nadine mengangguk.
“Jangan tiba-tiba datang ke rumah gue.”
“Gue bilang bakal menghubungi lo dulu.”
“Gue cuma memastikan.”
“Dan gue sudah menjawab.”
Nadine menahan senyum kecil. Sikap Axel masih menyebalkan, tetapi setidaknya kali ini ia tidak mengabaikan batasan yang sudah dibicarakan.
Mereka meninggalkan perpustakaan secara terpisah.
Nadine harus kembali ke kelas untuk mengambil buku yang tertinggal, sedangkan Axel menerima panggilan dari Dimas di ujung lorong.
Sebelum berpisah, Axel memanggilnya.
“Nadine.”
Gadis itu menoleh.
“Di depan orang lain, jangan panggil gue Ketua Geng.”
Nadine mengangkat alis. “Lalu gue harus memanggil lo apa?”
“Axel.”
“Itu memang nama lo.”
“Gue tahu.”
“Jadi, apa masalahnya?”
“Gue cuma nggak mau lo terdengar seperti sedang memanggil ketua organisasi setiap kali kita bicara.”
Nadine akhirnya tersenyum tipis.
“Baiklah, Axel.”
Nama itu terdengar sedikit berbeda ketika diucapkan langsung kepadanya.
Axel terdiam sesaat, lalu mengangguk seolah-olah tidak ada yang istimewa dari percakapan itu.
“Besok,” katanya, “kita mulai.”
Nadine berbalik menuju kelas untuk mengambil buku yang tertinggal.
Ponselnya bergetar beberapa menit kemudian, menampilkan pesan dari ibunya yang menanyakan apakah ia sudah pulang.
Nadine membalas singkat, kemudian membuka dompetnya dan melihat kartu debit yang baru diterimanya.
Dua puluh juta rupiah.
Jumlah yang cukup untuk memberinya ruang bernapas, tetapi juga cukup besar untuk membuatnya berhati-hati.
Ia teringat ucapan Axel bahwa uang itu tidak akan menjadi alasan untuk mengatur hidupnya.
Nadine ingin mempercayai perkataan tersebut.
Namun, kepercayaan tidak bisa tumbuh hanya karena seseorang mengatakan hal yang benar. Kepercayaan harus dibuktikan, sedikit demi sedikit, melalui keputusan dan tindakan.
Besok, seluruh sekolah mungkin akan mulai memperhatikan mereka.
Besok, Nadine harus memainkan peran sebagai pacar Axel Pratama.
Dan mulai hari itu, ia harus menjaga satu hal agar tidak hilang di tengah sandiwara yang mereka bangun.
Dirinya sendiri.
Sebab sembilan puluh hari bisa berakhir sesuai kontrak.
Tetapi konsekuensi dari keputusan mereka mungkin tidak akan sesederhana itu.