NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Rotan Patah

"Aku bukan polisi, Laras. Sudah kubilang."

Suara itu datang dari ujung koridor, dekat mesin minuman. Damar berhenti di belakang tiang.

Minggu siang, dua puluh delapan September. Dia baru keluar dari ruang dokter dengan perban baru di rusuknya dan surat izin pulang yang dia paksa ditandatangani. Dia tidak berniat menguping. Tapi suara adiknya punya nada yang hanya dia kenal: nada sebelum menangis.

"Kakak bohong."

"Aku tidak bohong. Aku tidak pernah pakai seragam seumur hidupku. Kecuali seragam SMA, dan itu juga sering kulepas."

"Kakak bohong," ulang Laras. "Kakak cuma nggak mau ngaku."

Hening. Lalu suara Arka, lebih pelan, tanpa senyum yang biasa menempel di setiap kalimatnya.

"Kamu sudah besar, Laras. Jangan cari orang yang tidak ada."

Langkah kaki menjauh. Damar keluar dari balik tiang dan melihat adiknya berdiri sendirian di depan mesin minuman, menatap kaleng teh yang belum dia ambil.

Damar tidak menghampirinya. Dia hanya mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan untuk Reza.

Cari tahu Arka Ardana pernah kerja di mana sebelum Gema. Semuanya. Sampai tujuh tahun ke belakang.

***

Rabu sore, telepon dari Menteng datang.

Bukan dari Eyang. Eyang tidak pernah menelepon sendiri. Telepon itu dari sekretaris pribadinya, seorang laki-laki tua yang sudah melayani keluarga ini sejak sebelum Damar lahir, dengan suara yang selalu terdengar seperti sedang membacakan undangan pernikahan.

"Eyang mengundang Pak Damar ke Menteng malam ini. Pukul tujuh. Keluarga besar akan hadir."

"Ada acara apa?"

Jeda sebentar. "Mas Gilang sudah pulang dari rumah sakit."

Damar menutup telepon.

***

Ruang tengah rumah Menteng penuh malam itu.

Lima belas orang, mungkin lebih. Om-om dan Tante-tante yang hanya dia temui di Lebaran. Sepupu-sepupu yang namanya dia lupa. Semua duduk di kursi-kursi jati yang disusun melingkar, seperti penonton yang menunggu sebuah pertunjukan. Tidak ada yang berbicara keras. Tidak ada yang menatap langsung ke arahnya ketika dia masuk.

Di tengah lingkaran itu, Gilang duduk di kursi roda.

Kedua kakinya terbungkus gips sampai ke paha, ditopang papan penyangga. Wajahnya kuyu. Bianca berdiri di belakang kursi rodanya, satu tangan di bahu Gilang, wajahnya pucat dan matanya merah, seolah dia sudah menangis selama berhari-hari.

Begitu melihat Damar, Gilang menangis.

"Eyang. Itu dia. Damar menabrakku." Suaranya serak dan bergetar. "Dia sengaja. Dia lihat aku di dalam mobil dan dia tetap menginjak gas. Dokter bilang aku mungkin tidak bisa jalan lagi, Eyang. Seumur hidup."

Tangisnya pecah lagi. Bianca mengusap bahunya.

Eyang duduk di kursi paling besar, kursi dengan sandaran tinggi berukir yang dulu milik ayahnya sendiri. Dia memakai beskap gelap dan blangkon, seperti setiap kali dia memanggil keluarga untuk urusan yang menurutnya penting. Di pangkuannya, melintang di atas kedua lututnya, ada sebatang rotan tua. Warnanya cokelat gelap, mengilat oleh tangan yang memegangnya selama puluhan tahun.

Damar mengenal rotan itu. Dia pernah melihatnya di lemari kaca di ruang kerja Eyang, di samping keris dan kotak perhiasan nenek. Dia tidak pernah melihatnya dikeluarkan.

"Damar," kata Eyang. Suaranya pelan. Seperti biasa. "Kemari, cucuku."

Damar berjalan ke tengah lingkaran dan berhenti di depan kursi Eyang.

"Saudaramu bilang kamu menabraknya." Eyang mengusap rotan di pangkuannya dengan jari-jarinya yang kurus. "Apa itu benar?"

"Benar."

Seseorang di belakangnya menarik napas tajam.

"Dia menyetir sedan hitam ke arahku dengan kecepatan delapan puluh," kata Damar. "Di pertigaan jalan lintas timur Bintan. Di siang hari. Ada saksi tiga orang, dan ada rekaman kamera dasbor. Dia menabrak sekretarisku sampai tulangnya retak. Lalu dia memundurkan mobil untuk menabrak kami lagi." Dia menatap Gilang. "Aku menabraknya lebih dulu."

"Bohong!" teriak Gilang.

"Rekaman dashcam ada," kata Damar tanpa menoleh. "Pengacaraku sudah memegangnya sejak hari Selasa. Kalau Eyang mau melihatnya, aku kirim malam ini."

Eyang tidak menjawab.

Dia mengangkat rotan itu dari pangkuannya dan berdiri. Pelan. Dibantu tongkatnya, meskipun dia tidak membutuhkannya.

"Di rumah ini," katanya, "ada aturan yang lebih tua dari kamera dasbor. Darah tidak menumpahkan darah. Saudara tidak mencelakakan saudara. Siapa yang melanggarnya, menerima hukuman di depan keluarga." Dia mengangkat rotan itu. "Berlutut, Damar."

Damar tidak berlutut.

Ruangan itu sunyi. Semua orang menahan napas.

"Berlutut," ulang Eyang.

"Tidak."

Rotan itu turun.

Menghantam punggungnya, di bawah tulang belikat. Damar tidak bergerak. Kemejanya tipis, dan dia merasakan kulitnya terbelah di bawah kain itu, panas dan basah.

"Minta maaf kepada saudaramu."

"Dia yang mau membunuhku."

Kedua. Lebih keras. Damar memejamkan matanya. Bukan karena sakit. Karena ruangan itu terasa sangat kecil tiba-tiba, dan dindingnya sangat dekat, dan bau rotan tua itu bercampur bau semen basah yang datang dari ingatan yang terlalu lama.

Ketiga. Keempat.

Dia tidak menghitung. Seseorang di kursi-kursi itu yang menghitung, dengan bisikan yang gemetar. Lima. Enam.

Jahitan di rusuknya robek lagi. Dia tahu dari rasa hangat yang merembes di sisi kanan.

"Eyang."

Suara itu datang dari pintu.

Semua kepala menoleh.

Anala berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan kruk di bawah kedua lengannya. Gips putih di kaki kanannya terlihat mencolok di bawah ujung rok hitamnya. Wajahnya pucat. Napasnya sedikit terengah-engah, seperti orang yang baru saja berjalan terlalu jauh dengan kaki yang tidak bisa dia pakai. Di belakangnya, di koridor, Laras berdiri dengan tangan menutup mulut.

"Eyang," kata Anala lagi. Suaranya tidak keras. Tapi setiap orang di ruangan itu mendengarnya. "Kalau dipukul lagi, dia bisa mati."

Bisik-bisik menyebar di antara kursi-kursi jati seperti angin di antara daun.

Itu sekretarisnya.

Perempuan yang di Batam itu.

Perempuan yang tinggal di Pondok Indah.

Eyang menatap Anala dari seberang ruangan. Matanya tidak berubah. Tidak ada marah, tidak ada kaget. Hanya tatapan yang sama seperti seseorang yang menatap noda di taplak meja.

"Perempuan itu," katanya pelan, "tidak diundang ke rumah ini."

"Saya tahu, Eyang," jawab Anala. "Saya juga tidak akan lama."

Eyang mengangkat rotan itu lagi.

Ketujuh.

Rotan itu menghantam punggung Damar, dan di tengah bunyi pukulan itu, ada bunyi yang lain. Kering. Pendek. Seperti tulang yang patah.

Rotan itu terbelah. Separuhnya jatuh ke lantai marmer, berguling sebentar, lalu diam di dekat ujung sepatu Damar.

Tidak ada yang bergerak.

Eyang menatap separuh rotan di tangannya. Rotan yang dia pegang selama puluhan tahun. Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu berubah di wajahnya, sesuatu yang sangat kecil, yang hanya bisa dilihat oleh seseorang yang sudah mempelajari wajah itu seumur hidupnya.

"Eyang," kata Bianca, melangkah maju dari belakang kursi roda. Suaranya penuh air mata. "Tolong, Eyang. Mas Gilang sudah cukup menderita. Kalau Mas Damar tidak dihukum, bagaimana Mas Gilang bisa..."

"Pergi," kata Damar.

Dia tidak menoleh ke arahnya. Dia hanya mengucapkan satu kata itu.

Bianca berhenti di tengah kalimat. Wajahnya memerah. Dia mundur ke belakang kursi roda Gilang, tangannya gemetar di bahu tunangannya.

Damar menatap Eyang.

Punggungnya terbakar. Darah dari rusuknya sudah sampai ke pinggang. Tapi dia berdiri tegak, dan dia menatap laki-laki tua itu tepat di matanya. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sejak dia berumur tujuh belas.

"Sebenarnya," katanya, "Papa dan Mama meninggal karena apa?"

Ruangan itu tidak hanya sunyi. Ruangan itu membeku.

Tujuh belas tahun. Dia kembali ke rumah ini setelah tiga tahun di Bekasi, tiga tahun setelah lima belas hari di ruang bawah tanah, dan rumah itu sudah tidak sama. Kamar orang tuanya terkunci. Foto-foto mereka diturunkan dari dinding. Seorang anak perempuan berumur empat tahun berdiri di ujung tangga dengan boneka di pelukannya dan bertanya kepadanya, dengan suara kecil yang tidak mengerti apa-apa, "Mas, meninggal itu apa?"

Tidak ada yang menjelaskan kepadanya. Tidak ada yang menjawab adiknya. Hanya ada kata kecelakaan, diucapkan sekali di meja makan dan tidak pernah lagi. Dan selama tiga tahun dia tidak di rumah ini, Eyang sudah memilih pewaris yang lain. Seorang cucu yang tidak pernah diculik, tidak pernah dibuang, tidak pernah bertanya.

"Kecelakaan," kata Eyang akhirnya. Suaranya datar. "Kamu sudah tahu itu."

"Aku tahu itu yang Eyang bilang."

Eyang meletakkan separuh rotan yang tersisa di atas kursi berukirnya. Pelan, hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh.

"Pertemuan ini selesai," katanya kepada ruangan. "Silakan pulang."

***

Dia menemukan Anala di serambi samping, di bawah lampu gantung kuningan, bersandar di pilar dengan kruknya.

Bianca berdiri di depannya.

Damar berhenti di ujung serambi. Mereka tidak melihatnya.

"Kamu pikir kamu siapa?" Bianca berbicara pelan, tapi setiap kata diucapkan dengan jelas. "Datang ke sini dengan kaki pincang, pura-pura jadi pahlawan. Kamu cuma pengganti, Nala. Di hatinya cuma ada satu orang. Dari dulu. Sampai sekarang."

Anala menatapnya dengan tenang.

"Terus kenapa?" katanya.

Bianca membuka mulutnya. Tidak ada yang keluar.

Anala menunggu sebentar, dengan sopan, seolah memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Ketika Bianca tetap diam, dia mengangguk kecil. "Selamat malam, Mbak Bianca. Semoga Pak Gilang lekas sembuh."

Bianca berbalik dan pergi. Tumit sepatunya berbunyi keras di lantai serambi.

Damar berjalan mendekat. Anala melihatnya. Dia tidak terlihat terkejut.

Dia menatap punggung Damar, kemejanya yang robek dan merah di beberapa tempat, dan untuk sesaat wajahnya tidak menyembunyikan apa-apa. Bibirnya menipis. Matanya basah. Lalu wajah itu kembali tertutup.

"Ayo pulang," katanya. "Punggungmu harus diobati."

Mereka berjalan ke mobil. Pelan, karena kruknya. Di tengah halaman, di bawah pohon sawo tua, Anala berhenti.

"Siapa 'satu orang' itu?" tanyanya pelan.

Damar tidak menjawab.

Dia menatap langit malam di atas Menteng, yang tidak punya bintang.

"Ulang tahunku tiga minggu lagi," katanya. "Temani aku ke Bromo."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!