Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Maaf Yang Dipaksakan
Kamil masih berdiri di sudut ruangan, kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya sesekali mengarah ke meja tempat berkas pencabutan laporan itu berada, lalu beralih ke Aldo yang duduk bersama kedua orang tuanya. Waktu terasa berjalan lambat, seolah sengaja menguji kesabarannya.
Suasana ruangan itu kaku. Tak ada yang benar-benar berbicara, hanya suara gesekan kertas dan helaan napas tertahan yang sesekali terdengar.
Tiba-tiba—
Pintu terbuka tanpa aba-aba. Semua kepala menoleh hampir bersamaan. Amanda masuk dengan langkah mantap, seolah ruangan itu memang miliknya. Tubuhnya tegap, percaya diri. Tang top yang melekat di tubuhnya menonjolkan siluet rampingnya, dipadu dengan jeans robek-robek yang memberi kesan santai sekaligus mencolok. Rambutnya tergerai rapi, dan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Sayang, saya bawakan cemilan kesukaan kamu.”
Suaranya ringan, nyaris seperti tidak ada beban apa pun di ruangan itu.
Kamil langsung menoleh. Alisnya sedikit terangkat, antara terkejut dan tidak percaya Amanda benar-benar datang ke tempat ini.
Sementara itu, Hakim yang berdiri tak jauh dari Kamil, menatap Amanda tanpa menyembunyikan penilaiannya. Matanya bergerak perlahan dari ujung kepala hingga kaki Amanda, ekspresinya datar, tapi jelas penuh pertimbangan—bahkan cenderung menghakimi.
Di sisi lain, Tante Leni mendengus pelan. Tatapannya tajam, langsung menusuk ke arah Amanda tanpa basa-basi.
"Tempat begini masih sempat-sempatnya dandan begitu,” katanya ketus, cukup keras untuk didengar semua orang. “Nggak tahu situasi.”
Ruangan itu kembali sunyi, tapi kali ini sunyinya berbeda—lebih tegang, lebih penuh gesekan yang tak terucap.
Amanda tidak langsung membalas. Ia hanya menggeser pandangannya sebentar ke arah Tante Leni, dia baru menyadari di sana ada Kamil. Sekarang ia fokus ke Kamil seolah komentar itu tidak cukup penting untuk diladeni.
Amanda melangkah mendekati Lamil, suara heels-nya terdengar jelas memecah sunyi. Ia berhenti tepat di depan Kamil, menatap laki-laki itu dengan sorot mata yang tajam—bukan lembut seperti sebelumnya, melainkan penuh emosi yang ditahan.
"Kamu itu sebenarnya mikir nggak sih sebelum bertindak?” ucap Amanda, nada suaranya meninggi, tapi masih terkontrol. “Aldo itu nggak pernah ganggu kamu. Nggak pernah cari masalah. Tapi kamu datang, mukul dia sampai kayak gini!”
Kamil mengeraskan rahangnya. Ia tidak menjawab, hanya menatap Amanda balik dengan tatapan datar, meski jelas ada bara yang tertahan di sana.
Amanda melanjutkan, kali ini suaranya sedikit bergetar.
"Kamu tahu nggak, dia itu lagi butuh istirahat, butuh ketenangan. Tapi kamu malah bikin dia masuk rumah sakit!” Ia menunjuk ke arah Aldo sekilas, matanya mulai memerah. “Kalau kamu punya masalah sama aku, harusnya kamu datang ke aku. Bukan ke dia.”
Ruangan itu seketika terasa semakin sempit.
Hakim memperhatikan tanpa menyela, sementara orang tua Aldo saling pandang, wajah mereka mulai melunak melihat bagaimana Amanda berdiri membela anak mereka.
Amanda pun tampak sedikit terkejut, meski ia berusaha tetap tenang. Tangannya yang semula mengepal perlahan mengendur.
Amanda masih berdiri tegak di depan Kamil, napasnya sedikit memburu setelah meluapkan emosinya. Tangannya masih menggenggam plastik berisi makanan yang tadi ia bawa, tapi kini seolah tak lagi ia sadari.
Ruangan itu sunyi.
Lalu, Tante Leni berdehem pelan.
"Makasih ya, Manda,” ucapnya tiba-tiba, nada suaranya berubah lebih lembut, meski tetap menyisakan jarak. “Atas perhatian kamu ke anak saya.”
Amanda menoleh, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu.
"Tapi…” lanjut Tante Leni, kali ini wajahnya kembali tegas. “Kami sudah sepakat. Laporan ini akan kami cabut.”
Seketika, ekspresi Amanda berubah. Alisnya berkerut. “Maksud Tante… dicabut?”
"Iya,” jawab Tante Leni mantap. “Kami tidak mau direpotkan dengan sidang, bolak-balik urusan hukum. Capek. Kami ingin Aldo fokus sembuh saja.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Kamil dengan dingin.
"Kalau soal Kamil… biarlah nanti Allah yang menghukumnya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya terasa ke seluruh ruangan.
Amanda langsung menggeleng, jelas tidak terima.
"Enggak bisa gitu, Tante,” ucapnya cepat, suaranya kembali meninggi. “Ini bukan masalah sepele. Aldo dipukul sampai masuk rumah sakit, dan… selesai begitu saja?”
Tante Leni menatap Amanda, kali ini sorot matanya lebih tajam.
"Kami yang jadi korban, Manda. Kami juga yang berhak menentukan.”
"Tapi ini nggak adil!” sahut Amanda, emosinya kembali memuncak. Ia melangkah sedikit maju.
"Orang seperti dia harusnya dikasih pelajaran. Kalau sekarang dibiarkan, nanti dia bisa ngelakuin hal yang sama ke orang lain."
Kamil yang sejak tadi diam, kini menatap Amanda dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara tersinggung dan… sesuatu yang lain.
"Aku nggak akan diam,” lanjut Amanda, suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan. “Aku sayang Aldo. Dan aku nggak mau orang yang nyakitin dia lepas begitu aja.”
Tante Leni menghela napas panjang, jelas mulai kehilangan kesabaran.
"Kamu ini siapa, Manda?” ucapnya dingin. "Pacar saja, kan?”
Ucapan itu seperti tamparan. Amanda terdiam sesaat.
"Kami orang tuanya,” lanjut Tante Leni, tegas. "Kami yang merawat dia dari kecil, kami yang tahu mana yang terbaik buat dia. Jadi keputusan ini tetap kami ambil.”
Suasana kembali memanas, tapi kali ini bukan antara Kamil dan siapa pun—melainkan antara Amanda dan batas yang tak bisa ia lewati.
Di sudut ruangan, Kamil masih berdiri. Diam. Tapi kini ia tidak lagi jadi pusat masalah.
Suasana yang semula panas itu belum benar-benar reda. Amanda masih berdiri dengan napas naik turun, jelas belum menerima keputusan yang baru saja diucapkan Tante Leni.
“Aku nggak setuju, Tante. Ini bukan hal kecil—”
“Cukup.”
Suara itu memotong tegas.
Hakim melangkah maju, kini benar-benar mengambil alih situasi. Tatapannya lurus ke arah Amanda, tidak kasar, tapi penuh kendali. Aura wibawanya langsung terasa, membuat ruangan yang semula riuh emosi kembali menahan diri.
"Maaf ya, Mbak,” ucap Hakim tenang, tapi setiap katanya jelas dan tidak bisa dibantah. “Memang Mbak pacarnya. Kami paham Mbak peduli.”
Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang justru membuat ucapannya terasa lebih berat.
"Tapi di sini, orang tua korban dan korbannya sendiri sudah memaafkan.”
Hakim sedikit menggeser map berisi berkas di atas meja, menepuknya pelan.
"Dan semuanya sudah ditandatangani.”
Amanda terdiam, matanya langsung beralih ke berkas itu, seolah berharap ada yang bisa ia bantah dari sana.
"Jadi,” lanjut Hakim, kali ini nadanya lebih tegas, “kami akan serahkan ini ke polisi. Dan kasus ini… selesai.”
Kata selesai terdengar seperti palu yang diketukkan.
Amanda mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan emosi yang belum tersalurkan.
"Selesai buat kalian,” gumamnya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Buat aku, ini belum selesai.”
Tak ada yang langsung menanggapi.
Tante Leni hanya mengalihkan pandangan, seolah tidak ingin memperpanjang lagi. Suaminya pun memilih diam, mendukung keputusan itu tanpa kata.
Di sisi lain, Kamil masih berdiri di tempatnya. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menarik napas panjang—bukan karena lega sepenuhnya, tapi karena beban yang sejak tadi menggantung akhirnya dijatuhkan… meski meninggalkan sesuatu yang belum benar-benar usai.
Hakim menatap Amanda sekali lagi, kali ini lebih dingin.
"Kalau Mbak masih punya keberatan,” ujarnya singkat, “itu di luar urusan kami.”
Dan di situlah, garis itu benar-benar ditarik.
mantappp