Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10: Miliarder hutan turun gunung
Keputusan Shen Ruozi sudah bulat. Tinggal di dalam gua lembap di tengah hutan terlarang yang penuh dengan nyamuk sebesar jempol dan serigala kelaparan jelas bukan lagi pilihan hidupnya. Ditambah lagi, kini ia memiliki sebuah peti kayu berisi seratus sepuluh tael emas murni yang siap dicairkan.
Mengapa harus tetap bergaya miskin jika sekarang ia sudah berstatus sebagai miliarder baru? Setelah memastikan seluruh ramuan obatnya aman dan menitipkan wilayah hutan kepada hewan-hewan liar penghuni lama, Ruozi melangkah keluar dari zona nyamannya tanpa menoleh ke belakang lagi.
Perjalanan keluar dari hutan terlarang memakan waktu hampir setengah hari dengan berjalan kaki. Begitu ia berhasil melewati barisan pohon-pohon raksasa yang rimbun, pemandangan sebuah gerbang kayu besar pertanda desa perbatasan langsung menyambutnya.
Desa perbatasan wilayah barat ini tampak sangat ramai, dipenuhi oleh para pedagang keliling, karavan unta, serta para pemburu yang baru pulang dari hutan terlarang.
Ruozi menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma peradaban yang sudah lama tidak ia rasakan. Matanya langsung berbinar-binar cerah menatap deretan kedai makanan, terutama sebuah kedai bakpao kukus yang mengepulkan asap hangat di pinggir jalan utama desa.
Perutnya yang sejak pagi hanya diisi air sungai langsung berbunyi nyaring, menuntut haknya sebagai perut seorang orang kaya baru.
Ruozi menepuk buntalan kain di punggungnya yang menyembunyikan peti emas dengan wajah penuh percaya diri. Ia langsung melangkah lebar menuju kedai bakpao paling besar di desa tersebut. Namun, mengingat penampilannya saat ini masih sangat acak-acakan baju penuh tambalan hitam akibat arang gua, wajah agak cemong, dan rambut yang hanya diikat ranting pohon seadanya pemilik kedai langsung memasang wajah masam begitu Ruozi mendekat.
Pria paruh baya bertubuh tambun pemilik kedai itu langsung melambaikan tangannya dengan gerakan mengusir, seolah-olah Ruozi adalah pengemis jalanan yang hendak meminta sedekah. "Pergi, pergi! Jangan menghalangi pelanggan lain yang mau beli di sini! Kalau kau lapar, cari sisa makanan di tempat sampah belakang pasar sana, jangan bikin kotor kedai saya!" usir pemilik kedai itu dengan nada ketus dan meremehkan.
Mendengar penghinaan tersebut, jiwa ngegas Ruozi yang selama ini sanggup membuat Jenderal Tianxu pening langsung bergejolak hebat. Ia tidak berniat membalas dengan adu mulut yang melelahkan.
Dengan gerakan yang sangat dramatis dan penuh penekanan, Ruozi meraba kantong jubahnya, mengambil satu keping uang perak berukuran sedang hasil kembalian dari Lei Jin kemarin, lalu membantingnya ke atas meja kayu kedai hingga berbunyi klang! yang cukup keras.
Pemilik kedai itu langsung tersentak kaget, matanya melotot menatap kepingan perak berkilau yang nilainya cukup untuk membeli seluruh persediaan bakpao di kedainya selama tiga hari berturut-turut. Sikap meremehkannya lenyap dalam sekejap mata, digantikan oleh senyuman super ramah yang dipaksakan hingga pipi tembamnya bergetar menjijikkan.
"A-Ayaaa... mohon maaf sebesar-besarnya, Nona terhormat! Mata tua hamba ini memang sudah rabun sampai tidak mengenali tamu agung!" ucap pemilik kedai itu sambil membungkuk berkali-kali tanpa tahu malu, tangannya dengan cepat mengelap kursi kayu terdekat menggunakan kain pembersihnya. "Silakan duduk, silakan duduk! Bakpao rasa apa saja yang Nona inginkan? Hamba akan langsung menyajikannya yang paling hangat dan empuk dari kukusan!"
Ruozi langsung mendengus remeh melihat perubahan sikap pelayan publik versi kuno yang sangat materialistis ini. Ia menduduki kursi tersebut dengan gaya angkuh, lalu melipat kedua tangannya di atas dada. "Keluarkan semua jenis bakpao terbaik yang kamu punya sekarang juga. Ingat ya, kalau rasanya enggak enak atau dingin, uang perak itu bakal aku ambil lagi dan kedaimu ini bakal aku jelek-jelek kan ke seluruh pengembara hutan!" ancam Ruozi dengan gaya bos besar, memulai hari pertamanya di peradaban dengan sukses memamerkan kekuasaan uang.
Dalam waktu kurang dari lima menit, meja di depan Ruozi sudah dipenuhi oleh tiga kloter kukusan bambu berisi bakpao berbagai ukuran. Aroma daging cincang berempah dan kacang merah manis langsung menusuk hidungnya. Tanpa membuang waktu lagi, Ruozi langsung menyambar bakpao daging terbesar dan menggigitnya dengan brutal. "Hmm! Ini baru namanya makanan manusia! Kemarin di gua kalau enggak umbi bakar ya daging burung hambar," gumam Ruozi dengan mulut penuh, benar-benar tidak peduli pada etiket makan aristokrat.
Pemilik kedai yang berdiri di sampingnya hanya bisa tersenyum kecut sambil terus menuangkan teh hangat ke cangkir Ruozi. Setelah menghabiskan enam bakpao besar dalam waktu singkat hingga perutnya terasa begah, Ruozi meletakkan cangkir tehnya dengan hentakan pelan. Ia menyeka mulutnya dengan saputangan kain yang agak bersih, lalu bangkit berdiri sambil menggendong kembali buntalan peti emasnya.
Tujuan Ruozi selanjutnya setelah urusan perut selesai adalah toko pakaian. Berjalan-jalan di desa perbatasan dengan jubah compang-camping penuh noda arang gua benar-benar merusak reputasinya sebagai miliarder baru. Ia melangkah menuju sebuah toko kain dan pakaian jadi yang terlihat paling mewah di area pasar, dengan papan nama kayu yang diukir indah.
Begitu melangkah masuk, aroma wewangian lavender langsung menyambut hidung Ruozi. Namun, sambutan hangat itu tidak berlaku bagi penampilannya. Seorang pelayan toko wanita yang mengenakan gaun sutra murah langsung berjalan mendekat dengan wajah ditekuk, menghalangi jalan Ruozi sebelum gadis itu sempat menyentuh gantungan baju.
"Maaf, Gadis Kecil. Toko ini hanya menjual pakaian sutra kelas atas untuk para nyonya bangsawan dan keluarga kaya," ujar pelayan toko itu dengan nada ketus yang dibuat-buat anggun, matanya menatap jijik pada jubah robek-robek milik Ruozi. "Pakaian untuk rakyat jelata ada di pasar loak ujung jalan sana. Jangan sampai baju kotor Anda menodai kain mahal kami."
Di sudut toko, beberapa wanita bangsawan setempat yang sedang memilih kain sutra langsung menoleh dan menutup hidung mereka dengan kipas, sambil berbisik-bisik meremehkan kehadiran Ruozi. Ruozi yang mendadak menjadi pusat diskriminasi sosial versi kuno ini hanya bisa tersenyum tipis sejenis senyuman licik yang biasa ia pakai saat memeras Jenderal Tianxu di dalam gua.
"Oh, jadi toko ini cuma menerima pelanggan yang punya banyak uang ya, Mbak?" tanya Ruozi dengan nada riang yang dibuat-buat, sengaja berbicara dengan suara yang agak keras agar seluruh isi toko bisa mendengarnya.
"Tentu saja! Pakaian di sini harganya mulai dari beberapa keping perak hingga belasan tael emas. Orang sepertimu tidak akan sanggup membelinya bahkan jika bekerja seumur hidup!" balas pelayan toko itu dengan sombong, melipat kedua tangannya di dada.