Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Pukul enam pagi, langit New York masih menyisakan kelam sisa malam ketika dering ponsel pribadi Dominic berdering tanpa henti di atas nakas apartemen Ester.
Dominic, yang baru saja melelapkan matanya selama beberapa jam setelah melalui malam yang panjang dan melelahkan, mengerang pelan.
Dengan mata setengah terpejam, ia meraba nakas, menyambar benda pipih tersebut, dan langsung menekan tombol hijau tanpa melihat nama pemanggilnya.
“Dominic Qiel Ashford! Cepat kembali ke mansion utama sekarang juga!" suara Penny—kakak kandungnya—menggelegar di ujung sambungan dengan nada panik, marah, dan bergetar hebat. "Jangan tunda semenit pun! Kalau kau tidak datang sekarang, Mommy akan benar-benar hancur!"
Sebelum Dominic sempat membuka mulut untuk bertanya, sambungan telepon itu diputus secara sepihak.
Rasa gelisah yang mendadak merayap membuat Dominic langsung beranjak dari tempat tidur. Ia mengenakan kembali pakaiannya dengan cepat di hadapan Ester yang masih terlelap dalam selimut, meninggalkan ciuman singkat di kening gadis itu, lalu melesat pergi menggunakan mobil sport-nya menuju kawasan elit Ashford.
Begitu Dominic mendorong pintu utama mansion megah keluarganya, suasana yang menyambutnya bukanlah keheningan pagi, melainkan ketegangan yang begitu pekat hingga mampu meremukkan tulang.
Di ruang tengah yang luas, seluruh keluarga inti telah berkumpul.
Sang ayah, Kaetos Ashford, duduk di sofa dengan wajah mengeras tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sang ibu, Parrie Ashford, terduduk lemas di sudut sofa dengan mata sembab dan isak tangis yang tertahan di tenggorokannya.
Di hadapan mereka, berdiri Florence Nightingale Berres.
Wanita itu tampak sangat pucat, mengenakan gaun tidur tipis dengan rambut tergerai berantakan, matanya bengkak seolah tidak tidur semalaman penuh—memancarkan aura korban paling menyedihkan di muka bumi.
Dominic baru saja melangkah masuk ketika sebuah hantaman telapak tangan yang keras mendarat mulus di pipi kanannya.
Plak!
"Bajingan!" teriak Penny histeris, menarik tangannya kembali dengan napas memburu. Wanita itu menatap Dominic dengan kilat kemarahan yang belum pernah dilihat Dominic seumur hidupnya.
"Kau menolaknya, memutuskannya secara sepihak kemarin, padahal dia sedang mengandung anakmu?! Kau benar-benar ingin menjadi pria bajingan, Dominic?!"
DUAR!
Dunia Dominic serasa runtuh seketika.
Kalimat itu menghantam kepalanya bagaikan sambaran petir di siang bolong.
"A-Apa maksudmu?!" ucap Dominic tergagap, mundur selangkah dengan mata melotot lebar. Ia menatap tajam ke arah sang ayah dan ibunya, mencari penyangkalan.
"Mom... Dad... apa yang dibicarakan Penny?!"
Kaetos Ashford mendengus dingin, mengangkat wajahnya menatap putra ketiganya dengan pandangan penuh kekecewaan yang teramat dalam.
"Nikahi dia, Dominic. Nikahi kekasihmu. Daddy tidak pernah mengajarkanmu menjadi seorang pria pengecut yang melepaskan tanggung jawabnya. Usiamu sudah 32 tahun, bukan waktunya lagi untuk bermain-main!"
Dominic menggelengkan kepalanya keras-keras, napasnya mulai memburu tidak teratur.
Ponselnya memang ia matikan sejak kemarin pagi saat ia mengantar Ester, dan baru ia hidupkan tadi pagi di apartemen.
Drama apa lagi ini?!
"A-Apa ini, Flo?" bisik Dominic tercekat, menatap lurus ke arah Florence yang berdiri di hadapannya dengan tatapan memohon penuh air mata palsu.
Namun Florence tetap bergeming dalam dramanya. Ia menunduk, menangis sesenggukan tanpa membuka mulut untuk membela Dominic.
Bugh!
Belum sempat Dominic mencerna kebingungannya, sebuah bogeman mentah yang keras melayang telak menghantam rahang kirinya.
"Argh!"
Dominic terhuyung ke samping, sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar.
Pelakunya adalah Huxley—suami Penny sekaligus paman kandung Florence. Pria itu berdiri dengan dada naik turun, mengepalkan tangan kanannya dengan penuh kemarahan.
"A-Apa-apaan ini, Hux?!" bentak Dominic kesal, mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan!"
"Nikahi dia, atau aku bersumpah akan menjauhkan mu dari anakmu dimasa depan, sialan!" ancam Huxley dengan suara menggelegar.
Di tengah kekacauan itu, di antara teriakan kemarahan keluarganya dan isak tangis ibunya, Dominic tiba-tiba mendongak... lalu tertawa.
Sebuah tawa hampa, sumbang, dan sarat akan keputusasaan yang teramat sangat. Tawa yang membuat seluruh orang di ruangan itu terdiam seketika.
"Bisa kau jelaskan pada keluargaku sekarang, Florence?" ucap Dominic dengan suara dingin yang menusuk tulang, menatap tajam wanita yang sudah sepuluh tahun menemaninya itu.
Florence mendongak perlahan, air matanya menetes di pipinya. "Aku... aku hamil, Dominic. Hasil pemeriksaan dokter tadi malam menunjukkan positif. Kita akan memiliki seorang anak..."
Mendengar pengakuan itu, dada Dominic bergemuruh hebat. Rasanya ada batu besar yang menghantam rongga dadanya.
Hamil? batin Dominic menjerit penuh ketidakpercayaan.
Bagaimana mungkin wanita itu mengaku sedang mengandung anaknya, sedangkan selama sepuluh tahun berpacaran, mereka sama sekali tidak pernah tidur bersama?!
Ya. Selama satu dekade hubungan mereka berjalan, Florence selalu menolak setiap kali Dominic mencoba merangsek maju ke atas ranjang.
Alasan wanita itu selalu sama: Florence mengaku masih trauma dengan masa lalu keluarganya, ia takut tidak bisa membedakan bayangan pria masa lalunya dengan Dominic, dan ia tidak ingin menyakiti Dominic dengan membayangkan bayang-bayang masa lalu itu.
Sebagai pria yang mencintai dan menghormati Florence setengah mati, Dominic selalu mengalah. Ia selalu bersabar, selalu tulus, tidak pernah menuntut, bahkan tidak pernah membahas masa lalu Florence atau rasa sakit hatinya sendiri setiap kali Florence menuntutnya untuk bersikap seperti 'pria dari masa lalunya'.
Demi Tuhan, Dominic adalah pria paling bodoh yang rela menunggu dengan sabar selama sepuluh tahun!
Dan sekarang... apa yang dikatakan wanita itu di pagi ini? Hamil?
Apa wanita itu bisa menghamili dirinya sendiri?!
Tentu saja tidak mungkin! Itu adalah kebohongan paling busuk dan murahan yang pernah didengar Dominic seumur hidupnya—sebuah trik kotor untuk mengikat Dominic kembali ke dalam sangkarnya setelah kemarin Dominic memutuskan hubungan mereka secara mutlak di hadapan keluarga besar.
Wanita itu ingin menjebaknya!
"Kau berbohong, Florence!" bentak Dominic lantang, suaranya menggema ke seluruh sudut mansion.
"Itu Tidak mungkin! Bagaimana mungkin kau mengandung anakku?!"
Plak!
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Dominic, kali ini dari tangan kakaknya sendiri, Penny.
"Masih berani kau mengelak, Dominic?!" murka Penny dengan air mata kemarahan.
"Dia kekasihmu! Wanita yang kau cintai selama sepuluh tahun! Dan sekarang setelah dia mengandung anakmu, kau justru ingin mencampakkannya?!"
Dominic memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledakkan kepalanya.
"Aku tidak akan pernah menikahinya!" ucap Dominic penuh penekanan, menatap keluarganya satu persatu dengan sorot mata mutlak.
"Sudah cukup sepuluh tahun aku menyembah wanita itu! Hidupku bukan hanya sekadar urusan menuruti drama dan kebohongannya! Jika kalian tidak percaya, kita bisa melakukan tes DNA setelah anak itu lahir! Aku tidak mau merendahkan Florence dengan mengatakan bahwa kami tidak pernah tidur bersama di depan umum, tapi jika kalian memaksa... itulah kenyataannya!"
Mendengar kata-kata 'tes DNA' dan penolakan mentah-mentah itu, tangisan Parrie Ashford mendadak berubah menjadi histeris.
Ibu kandung Dominic itu bangkit dari sofa, berjalan terhuyung-huyung mendekati putranya, lalu jatuh berlutut di hadapan Dominic sambil memeluk kedua kaki putranya erat-erat.
"Mom... apa yang kau lakukan?!" kejut Dominic, berusaha menarik ibunya berdiri.
"Apa kau ingin Mommy mati saja, Dom?!" teriak Parrie histeris, menangis tersedu-sedu dengan air mata yang membasahi celana Dominic.
"Rasanya Mommy benar-benar tidak kuat... Hati Mommy hancur melihat putra kebanggaanku sendiri menolak mentah-mentah untuk mengakui darah dagingnya dan menolak bertanggung jawab pada wanita yang sudah bersamamu sepuluh tahun... Jika kau menolak pernikahan ini, bunuh saja Mommy sekarang, Dominic!"
Deg.
Dominic terpaku bagai disambar petir. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Ia menatap sang ibu yang kini tersungkur di lantai, menangis histeris memohon di kakinya, lalu mengalihkan pandangannya pada ayahnya yang membuang muka dengan raut wajah penuh kekecewaan mutlak, serta tatapan tajam dari Huxley dan saudarinya.
Keluarga Ashford telah diatur sedemikian rupa untuk menentangnya.
Florence berhasil memenangkan permainan kotor ini—menggunakan senjata pamungkas berupa air mata ibunya dan kebohongan tentang kehamilan untuk menjerat leher Dominic ke atas altar pernikahan yang paling dibencinya.
Dominic berdiri kaku di tengah ruangan yang megah itu.
Seluruh dinding marmer, lampu kristal, dan kemewahan mansion Ashford tiba-tiba terasa seperti penjara bawah tanah yang mencekik lehernya hingga mati.
Bayangan Ester Alba—gadis manis yang baru saja ia peluk erat dengan penuh ketulusan di apartemen subuh tadi—tiba-tiba melintas di kepalanya, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.
Dominic terjebak.
Sepenuhnya terjebak di dalam jaring laba-laba yang ditenun oleh kebohongan dan rasa berbakti pada orang tua.
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
makasih sudah up Thor 🙏
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏