"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 | LAYANG-LAYANG YANG PUTUS
"Matamu bisa terbakar kalau kau tidak memakai kacamata hitammu, Mi Amor," ucap Austin sambil memasangkan kacamata hitam berbingkai perak ke wajah Aleeza.
Sementara itu, Aleeza tampak fokus memegang gulungan benang, menerbangkan layang-layang besar di hamparan pasir pantai Spanyol di bawah terik matahari yang menyengat.
"Lepas, Austin. Aku tidak mau..." protes Aleeza meronta kecil.
"Pikirkan matamu, bodoh. Mataharinya sedang terik," balas Austin tak mau kalah, berdiri tepat di belakangnya dengan tangan melingkar di pinggang Aleeza untuk menjaga keseimbangan.
Namun, di tengah keseruan itu, perhatian Aleeza teralihkan sebentar. Dengan gerakan cepat, ia melepas kacamata hitam yang dipakaikan Austin dan melemparkannya begitu saja ke atas pasir. Austin mendengus kesal melihat ulah keras kepala tunangannya itu.
"Norman, kau membawa gunting?" panggil Austin tanpa mengalihkan pandangannya dari Aleeza.
Sebelum Aleeza sempat menyadari bahaya dari pertanyaan itu, Austin sudah menyambar sebuah gunting kecil dari tangan Norman. Dan.
KLEK!
Benang layang-layang di tangan Aleeza mendadak terputus. Layang-layang besar itu melesat terbang tinggi terbawa angin menjauh, meninggalkan Aleeza yang memegang gulungan benang kosong dengan mulut ternganga.
"Apa yang kaulakukan?!" pekik Aleeza kesal bukan main.
"Menurunkannya butuh waktu lama. Dan sekarang aku lapar. Kau tidak sadar kita melewatkan makan siang kita?" jawab Austin dengan senyuman miring yang sangat menyebalkan.
"Kau memang sengaja membuatku kesal, ya?!" geram Aleeza melotot tajam.
Sembari berjalan kembali ke arah dermaga, Aleeza merogoh saku celananya. "Di mana ponselku?" tanyanya panik, teringat bahwa selama bermain olahraga air ekstrem tadi, ia menitipkan ponselnya pada Austin.
Austin memberikan isyarat pada Norman, dan dalam hitungan detik, ponsel Aleeza sudah kembali berada di tangannya.
Begitu layar ponsel dinyalakan dan sandi dibuka, dahi Aleeza langsung mengernyit dalam. Puluhan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan teks dari Karina memenuhi layar notifikasinya:
Karina: Kau di mana
Karina: Kau tidak melupakan Julian, kan?
Karina: Bertemu Leonidas lagi? Aku kecewa padamu, Aleeza
Membaca rentetan pesan bernada tuduhan itu membuat dada Aleeza sesak. Rasanya begitu menyakitkan saat satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki justru berbalik menghakiminya karena mengira ia mengabaikan Julian Pria yang selama ini mereka anggap buta dan tak berdaya.
Tiba-tiba, Austin mendekat dari belakang, merangkul leher Aleeza dan ikut membaca layar ponsel yang menyala.
"Biarkan aku melihatnya," bisik Austin.
"Jangan ikut campur!" sergah Aleeza panik, berusaha menjauhkan ponselnya.
Namun gerakan Austin jauh lebih cepat. Pria itu merebut ponsel dari tangan Aleeza, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, dan membaca rentetan pesan dari Karina dengan mata biru tajamnya.
"Kembalikan!" protes Aleeza meradang.
Austin melirik sekilas ke arah pesan-pesan itu, menyunggingkan senyuman miring yang berbahaya, lalu dengan gerakan santai... melempar ponsel Aleeza jauh-jauh ke tengah laut lepas!
BYUR!
"YA TUHAN EL OSO! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Aleeza histeris, nyaris melompat menyusul ponselnya ke air.
Austin mengangkat kedua bahunya tak berdosa. "Benda itu merusak suasana hatimu, Mi Amor. Anggap saja aku sedang membelikannya yang baru yang berlapis berlian kalau perlu"
"Kau gila! Kau bisa membelikannya ponsel baru, tapi data di dalamnya tidak bisa kembali, bastard!" murka Aleeza, melayangkan pukulan bertubi-tubi ke dada bidang Austin.
Austin sama sekali tidak melawan. Ia justru menangkap pergelangan tangan Aleeza, menarik tubuh gadis itu rapat ke dalam pelukannya, dan berbisik lembut di dekat telinganya
"Seharusnya kau tidak perlu pusing memikirkan si Karina itu. Lagipula kenapa kau masih memikirkan pria buta itu jika kau sudah berada di sisiku?"
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa disadari oleh Austin maupun Aleeza.
Seketika itu juga, tubuh Aleeza membeku. Matanya membelalak lebar menatap Austin.
" T-tunggu darimana kau tahu Julian buta? Aku tidak pernah bilang kalau Julian itu..."
Austin tersenyum penuh arti. "Aku tahu segalanya tentangmu, Mawar Berduri. Termasuk fakta bahwa pria itu sebenarnya tidak pernah buta sejak sepuluh bulan lalu dan dia sengaja membohongimu".
Mendengar pengakuan itu, Aleeza kehilangan seluruh kata-katanya. Rahasianya, rasa bersalahnya, dan kebohongan Julian semuanya kini telah diketahui oleh pria paling berbahaya di dunia.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!