NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Malam Sebelum Badai

Malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam, suasana di dalam rumah kontrakan kecil milik keluarga Tera terasa sangat tenang. Sunyi yang merayap di sela-sela dinding tripleks tipis itu hanya ditemani oleh suara detak jam dinding murah dan deru napas teratur dari sudut ruangan.

Pak Hasyim sudah terlelap di atas kasur lantai tipisnya. Wajah pria tua itu menyiratkan kelelahan yang luar biasa setelah seharian penuh memeras keringat, mengangkut karung-karung berat di pasar induk demi menyambung hidup keluarga kecil mereka.

Di sudut lain ruangan yang sempit itu, Bu Sulis sedang sibuk. Tangan ringkihnya dengan penuh kasih sayang memasukkan beberapa potong pakaian hangat, jaket tebal yang warnanya sudah agak memudar, dan peralatan mandi dasar ke dalam tas ransel kain milik Tera.

Semuanya dipersiapkan dengan teliti untuk keberangkatan bakti sosial medis besok subuh.

Sementara itu, Tera sendiri duduk termenung di sudut meja belajar lipatnya. Pandangannya terpaku pada sebuah benda yang tampak sangat kontras dengan isi kontrakan mereka yang memprihatinkan.

Sebuah termos kecil berlapis kulit premium berwarna hitam arang berdiri kokoh di sana. Termos hadiah dari Sean, yang di dalamnya masih menyisakan kehangatan susu almond madu tempo hari.

Benda mewah itu sengaja Tera bawa pulang dan tidak dia bagikan ke perawat lain di rumah sakit, sebuah tindakan egois kecil yang jarang sekali dilakukan oleh seorang Tera yang biasanya selalu berbagi.

"Nduk... Tera," panggil Bu Sulis dengan suara lembut, memecah keheningan. Perempuan paruh baya itu berjalan mendekat lalu duduk di samping anak gadis tunggalnya, di atas tikar anyaman yang sudah mulai terkelupas.

"Semua keperluan untuk besok sudah Ibu rapikan di dalam tas. Besok subuh kamu harus bangun lebih awal agar tidak ketinggalan bus rombongan rumah sakit. Perjalanan ke daerah perbukitan itu jauh, jalannya pasti berkelok-kelok."

"Iya, Ibu sayang. Terima kasih banyak ya sudah repot-repot merapikan semuanya," jawab Tera sambil memeluk lengan ibunya dengan penuh kasih sayang, menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berat di bahu sang ibu.

Bu Sulis menatap wajah anaknya secara mendalam. Ada binar kecerdasan di mata Tera, namun ada juga keletihan yang tersembunyi.

Pandangan Bu Sulis kemudian beralih, turun ke arah termos mewah yang berada di atas meja lipat. Sebuah senyuman penuh arti—senyuman khas seorang ibu yang telah memakan banyak asam garam kehidupan dan memiliki kebijaksanaan mendalam—terukir di bibirnya yang mulai keriput.

"Tera_, Ibu mau bertanya sesuatu padamu, Nduk. Tapi kamu harus menjawabnya dengan jujur pada Ibu," ucap Bu Sulis pelan, nadanya berubah menjadi lebih serius namun tetap lembut.

Tera mengernyitkan alisnya bingung. Dia melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan tatapan bertanya-tanya.

"Tanya apa, Bu? Tanya seperti biasanya. Kenapa pakai rahasia-rahasiaan segala? Ibu membuat Tera tegang saja."

"Tentang Tuan Muda Sean itu_" ucap Bu Sulis pelan.

Mendengar nama itu disebut, jantung Tera mendadak melewatkan satu detak. Ada sengatan listrik aneh yang menjalar di dadanya setiap kali nama pria itu terucap di rumah ini.

"Ibu perhatikan, akhir-akhir ini dia sangat sering sekali muncul di kehidupanmu, Tera," lanjut Bu Sulis, matanya menatap lurus ke dalam manik mata anaknya.

Wajah Tera seketika merona merah kembali. Di bawah temaram lampu bohlam lima watt yang menggantung lesu di langit-langit kontrakan, semburat merah di pipinya tidak bisa disembunyikan.

Dia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan heboh, mencoba mengusir spekulasi yang mulai terbangun.

"Aduh, Ibu! Jangan berpikiran yang tidak-tidak!" seru Tera dengan suara setengah berbisik agar tidak membangunkan bapaknya. "Tuan Sean itu, dia melakukan semua itu murni karena dia merasa berutang budi padaku. Ibu kan tahu, aku yang menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan mobil yang mengerikan waktu itu. Dan dia itu orang kaya raya, Bu. Dunianya sangat kaku, penuh formalitas, jadi cara dia berterima kasih memang agak aneh, konyol, dan berlebihan seperti itu. Kami ini cuma berteman biasa kok, Bu! Sungguh, tidak ada hubungan apa-apa lagi!"

Bu Sulis tersenyum kecil, senyuman yang menyiratkan rasa maklum sekaligus kesedihan yang samar.

"Pertemanan biasa antara seorang pemilik dinasti raksasa terkaya di kota ini dengan seorang anak petani miskin penghuni kontrakan tripleks, Tera? Kamu itu cerdas sekali dalam urusan medis, Nduk. Kamu tahu dosis obat, kamu tahu anatomi tubuh manusia. Tapi dalam urusan membaca hati pria, kamu tampaknya masih sangat polos dan kekanak-kanakan."

Bu Sulis menarik napas panjang.

"Ibu hanya ingin mengingatkanmu, Tera. Jurang pemisah kasta sosial antara keluarga kita dan keluarga Tuan Sean itu terlampau sangat dalam dan lebar, bagai langit dan bumi. Pria seperti Tuan Sean, dia tidak hanya milik dirinya sendiri. Dia milik korporasi besarnya. Suatu hari nanti, dia pasti akan dikawinkan dengan putri dari kalangan bangsawan, selebritas, atau sesama konglomerat yang setara demi kelangsungan bisnis dan kejayaan mereka. Itu hukum alam di dunia mereka, Nduk."

Bu Sulis kembali menatap Tera, kali ini matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak ingin_, anak gadis Ibu satu-satunya yang sangat Ibu cintai ini, hatinya terluka atau patah di tengah jalan karena menaruh harapan terlalu tinggi pada sesuatu yang berada di luar jangkauan kita. Semua perhatian ini manis, tapi bisa menjadi racun yang mematikan bagi perasaanmu kelak. Selalu jaga jarak aman hatimu ya, Nduk."

Tera terdiam seketika. Kata-kata Bu Sulis bagaikan sebuah siraman air es di malam yang dingin, langsung menyentaknya kembali ke dalam realitas hidup yang nyata dan kejam.

Semua momen manis yang terjadi beberapa hari ini—tatapan intens Sean, perhatian tersembunyi yang pria itu berikan, dan suara tawa rendah Sean yang selalu terngiang di telinganya—mendadak terasa seperti sebuah fatamorgana indah di tengah gurun. Indah, namun bisa lenyap kapan saja digilas oleh kerasnya aturan kasta sosial dunia luar.

"Iya, Ibu_, Tera paham," ucap Tera dengan nada suara yang mencicit kecil. Seulas senyuman tipis yang dipaksakan terukir di bibirnya yang mendadak terasa kelu. "Ibu jangan khawatir. Tera tahu persis di mana posisi berdiri Tera sekarang. Tera tidak akan pernah membiarkan hati Tera hanyut oleh kemewahan atau perhatian konyol dari Tuan Sean. Fokus utama Tera hanya bekerja keras demi membahagiakan Bapak dan Ibu secepatnya. Hanya itu."

Suasana kembali sunyi. Namun, ketenangan di dalam kontrakan itu kini tidak lagi merasuki hati Tera. Pikirannya berkecamuk.

Tera baru saja hendak merapikan buku-bukunya ketika tiba-tiba ponsel lamanya yang diletakkan di atas kasur bergetar hebat. Layar ponselnya yang retak di bagian sudut menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat napas Tera tercekat.

Sean.

Tera tertegun. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Selama mengenal Sean, pria itu hampir tidak pernah meneleponnya secara langsung, apalagi di jam-jam istirahat seperti ini.

Biasanya Sean hanya mengirimkan pesan singkat, dingin, dan to the point melalui sekretarisnya atau pesan teks singkat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Tera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Tuan Sean?" bisik Tera, berusaha meredam suaranya agar tidak menggema di ruangan yang sempit.

"Kau belum tidur?" Suara berat dan bariton milik Sean terdengar dari seberang line telepon. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah-olah pria itu sedang berbisik tepat di samping telinga Tera.

"Belum. Saya sedang merapikan baju untuk bakti sosial besok subuh," jawab Tera jujur, tangannya meremas ujung kaus katunnya yang longgar. "Ada apa, Tuan? Apakah ada masalah darurat di rumah sakit? Atau_, ada dokumen yang tertinggal?"

Terjadi keheningan sejenak di seberang sana. Tera hanya bisa mendengar suara helaan napas Sean yang berat dan konstan. Keheningan itu terasa aneh, namun entah mengapa memberikan rasa nyaman yang tidak biasa.

"Tidak ada masalah di rumah sakit," ucap Sean akhirnya. "Aku hanya_, ingin menelepon mu."

Tera mengernyitkan alisnya, rasa heran mulai menguasai dirinya. "Hanya ingin menelepon? Ini sudah larut malam, Tuan Sean. Dan besok subuh-subuh sekali saya harus berangkat ke perbukitan. Ini sama sekali bukan gaya Anda."

"Aku tahu," sahut Sean cepat. Nada suaranya malam ini terdengar berbeda. Tidak ada keangkuhan atau nada memerintah yang biasanya melekat erat pada dirinya. Suara Sean malam ini terdengar... lembut, penuh pertimbangan, dan sarat akan sesuatu yang tidak bisa Tera artikan.

"Kau cemas?" tanya Sean tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat Tera terkesiap.

"Apa?"

"Aku bisa merasakan dari suaramu, Tera. Kau sedang cemas. Ada nada ragu dan ketakutan yang kau sembunyikan," kata Sean dengan nada yang teramat yakin.

Pria itu seolah memiliki kemampuan magis untuk menembus dinding pertahanan Tera, seolah dia tahu persis bahwa beberapa menit yang lalu hati Tera baru saja diobrak-abrik oleh kenyataan pahit tentang kasta sosial yang disampaikan ibunya.

Tera menelan ludah secara paksa, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.

"Saya hanya_, sedikit gugup tentang medan di perbukitan besok. Ini pertama kalinya saya mengikuti bakti sosial di daerah terpencil dengan medan yang kabarnya cukup ekstrem. Hanya cemas yang wajar, Tuan."

"Jangan bohong, Tera. Aku tahu ada hal lain yang mengganggu pikiranmu," potong Sean lembut namun tegas. "Tapi apa pun itu, dengarkan aku baik-baik. Besok, jaga dirimu dengan baik. Jangan bertindak ceroboh. Fokus saja pada tugas medismu, dan jangan pernah melepaskan ponselmu dari jangkauan tanganmu."

Tera mengerutkan kening, merasa pembicaraan ini berlangsung terlalu lama dan terlalu personal untuk ukuran seorang Sean Nugraha.

"Tuan Sean, Anda bertingkah aneh malam ini. Mengapa Anda berbicara sedikit lama dan mengatakan hal-hal seperti ini? Seolah-olah besok akan terjadi sesuatu yang buruk."

Sean terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar se-ksi namun menyiratkan misteri yang pekat.

"Tidak ada yang buruk. Aku hanya ingin memastikan bahwa aset berhargaku—orang yang sudah menyelamatkan nyawaku—kembali dalam keadaan utuh tanpa lecet sedikit pun. Mengerti?"

"Saya bukan aset Anda, Tuan," balas Tera, sedikit kesal namun ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, perlahan mengikis es dingin yang sempat ditanamkan oleh nasihat ibunya.

"Terserah apa katamu, Dokter Tera. Sekarang, tidurlah. Istirahat yang cukup. Sampai jumpa besok," ucap Sean sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.

Tera menurunkan ponselnya dengan perlahan, menatap layar yang kini sudah kembali gelap. Panggilan itu berlangsung selama hampir sepuluh menit—sebuah rekor baru dalam sejarah interaksinya dengan Sean melalui telepon.

Keanehan sikap Sean malam ini, perhatiannya yang terselubung, dan bagaimana pria itu seolah tahu bahwa jiwanya sedang dilanda kecemasan mendalam, membuat hati Tera kembali bergetar hebat.

Nasihat ibunya tentang 'jarak aman' mendadak menjadi kabur. Sikap Sean malam ini seolah meruntuhkan kembali benteng pertahanan yang baru saja coba dia bangun dengan susah payah.

Jangan lupa komen like dan hadiahnya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!