Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 - Permintaan Terakhir untuk Galuh
Hujan sore di Vila Kenanga belum turun penuh ketika kanopi teras rumah deret mulai berbunyi ritmis menahan gerimis, dan di bawah tangga, sepasang sepatu hak Galuh Kusumah sudah berendam dalam genangan tipis di atas ubin batu. Wakil Presiden Grup Sedaya itu berdiri tegak dengan dagu terangkat, tetapi rok kerjanya yang merembes air dan riasan yang meluruh di pelipis sudah membongkar seluruh penampilan yang ia bawa dari menara kantor.
Ia menunggu sudah hampir empat puluh menit, dan tidak satu pun pelayan rumah deret yang menawarkan payung.
Di dalam, Puspita sama sekali tidak buru-buru. Ia menghabiskan bubur terakhir di mangkuk, menyeruput teh melati, lalu membaca pesan singkat Yusuf yang baru masuk. Saham Grup Sedaya jatuh lagi pagi ini, dan beberapa direksi mulai bersuara keras di grup percakapan mereka.
"Biarkan dia menunggu." Puspita menutup ponsel dan meletakkannya telungkup di meja.
"Nona, Wakil Presiden sudah menunggu di bawah sejak setengah jam lalu." Suara Tari terdengar dari seberang lorong, dengan lap pel di tangan yang masih meneteskan air ke lantai.
Puspita tidak menoleh.
"Sampaikan padanya, aku akan keluar setelah urusanku selesai."
Ia memang sengaja. Empat tahun lamanya ia dipaksa menunggu orang lain membuka pintu untuknya. Kali ini giliran kakak tirinya yang berdiri di bawah gerimis tanpa membawa apa pun selain harga diri yang sedang retak.
Puspita tahu persis apa yang membuat kakak tirinya rela berdiri tanpa payung selama ini. Tiga hari berturut-turut saham Grup Sedaya terus terjun, dan pemberitaan soal tamparan di halaman Kediaman Kusumah belum juga padam dari linimasa mana pun. Wakil Presiden yang biasanya disegani para direktur itu kini harus menjawab telepon mereka satu per satu, dan setiap panggilan yang tidak ia angkat akan menjadi bahan rapat berikutnya.
Ketika Puspita akhirnya menaiki tangga teras, Galuh menegakkan punggungnya dan mendongak.
"Aku datang untuk meminta maaf."
"Dari rautmu, kelihatannya tidak." Puspita berhenti di anak tangga terakhir, berjarak tiga langkah dari kakak tirinya.
"Aku minta maaf." Galuh menggigit kalimat itu keluar dari antara giginya, berat dan tertahan, seolah ia sedang menelan benda tajam.
"Aku tidak bermaksud menamparmu ketika itu."
Permintaan maaf itu terdengar seperti gertakan yang dipaksakan. Puspita menatapnya dengan mata lonjong yang tidak berkedip, rambut hitamnya terurai begitu saja di bahu piyama, dan sekujur tubuhnya memancarkan kenyamanan orang yang baru saja makan serta mandi air hangat.
Ia turun satu anak tangga demi satu anak tangga, mendekati Galuh tanpa terburu-buru, lalu mengangkat tangan kanannya.
Tamparan itu jatuh dengan bunyi yang keras dan bersih di pipi kiri Galuh. Telapak tangan Puspita memerah dalam sekejap.
Galuh mengenakan sepatu hak tinggi. Tubuhnya bergoyang dua langkah ke belakang sebelum keseimbangan berhasil ia tahan, dan tangannya langsung menutupi pipi yang membakar itu.
"Puspita!"
Di dekat pintu, Tari memegang lapnya sampai jari-jarinya memutih. Pelayan itu sudah bekerja di rumah deret beberapa bulan, tetapi belum sekali pun ia melihat tuan rumahnya mengangkat tangan pada siapa pun, apalagi pada saudara sendiri di bawah gerimis sore hari.
"Aku tidak bermaksud." Puspita berkata pelan, menirukan kalimat Galuh dengan nada datar tanpa satu pun perubahan emosi.
"Silakan pergi."
Galuh menatapnya dengan mata yang memerah.
"Kau senang sekarang? Apakah Hotel Grup Waskara sudah bisa melanjutkan kerja sama dengan kita?"
Puspita berhenti melangkah, lalu tertawa kecil tanpa suara.
"Galuh, kau sudah duduk di kursi wakil presiden, kenapa masih sesederhana ini? Kapan aku bilang aku memaafkanmu?"
"Aku keluar dari sini sekarang, seluruh Kota Serimpi akan tahu kau menamparku." Suara Galuh bergetar.
"Dan kau pasti akan memanfaatkan media."
"Bagaimana pun juga, kau yang menamparku lebih dulu." Puspita membetulkan ujung piyamanya.
"Bukankah wajar aku membalas? Lagi pula tamparanku tidak merugikan Keluarga Mahesa sedikit pun."
"Yang kuketahui, gara-gara perbuatanmu itu saham Grup Sedaya masih terus jatuh." Nadanya sedikit menyindir.
"Mungkin sebentar lagi keluar dari lima besar."
"Apa maumu sebenarnya?" Suara Galuh melorot.
"Sebelumnya sudah kubilang." Puspita menoleh, dan matanya yang tenang membuat udara di antara keduanya terasa lebih berat dari biasanya.
"Berlutut dan mohon padaku."
Dari pintu masuk, Tari dan seorang pelayan kebersihan lain membeku dengan lap di tangan. Puspita menambah kalimatnya tanpa menoleh pada mereka.
"Lakukan di depan mereka yang sedang mengepel ini, supaya permintaan maafmu benar-benar kudengar. Biar ada saksinya."
"Kau bermimpi!"
Guruh menutupi teriakan itu dari balik awan rendah, dan sesaat kemudian gerimis yang tadi hanya setengah hati berubah menjadi titik hujan yang lebih besar serta lebih berat.
Puspita tahu betul betapa mahalnya harga diri Galuh di matanya sendiri. Sekalipun orang itu diancam dengan cara apa pun, mustahil ia berlutut di hadapan siapa pun. Tetapi justru itulah yang ingin Puspita patahkan.
Empat tahun lalu, betapa angkuhnya Galuh berdiri di hadapan mereka semua. Kini, betapa terhinanya yang akan Puspita buat di hadapan setiap orang yang berani memandangnya.
Hanya dengan begitu dendam yang mengendap di dadanya bisa mereda sedikit.
Musim hujan di selatan memang selalu terasa panjang. Puspita berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah deret tanpa menoleh lagi.
Ia berhenti sejenak di balik tirai jendela setinggi langit-langit di ruang tengah, tempat dari mana seluruh halaman bisa terlihat jelas, dan menunggu di situ tanpa mengubah posisinya sedikit pun. Ia memang tidak pernah melewatkan akhir dari setiap pertarungan yang ia mulai sendiri.
Di luar, Galuh masih belum pergi. Ia berdiri di tempat yang sama begitu lama sampai akhirnya tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu berjalan bergoyang ke arah gerbang taman.
Baru sampai di gerbang, matanya menangkap sebuah sedan hitam yang berhenti di ujung jalan kompleks. Gerimis kembali turun tipis. Pintu pengemudi terbuka lebih dulu, dan seorang pria berjas keluar sambil memegang payung plastik kantor yang masih terlipat, lalu membukanya untuk majikannya.
Wibisono Kusumah turun dari kursi belakang dengan setelan direksi yang belum sempat ia ganti. Ia berdiri di bawah payung plastik itu, kering dan tegak, sementara putri sulungnya berdiri beberapa langkah di depannya dengan tubuh yang basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung jari kaki.
"Kau sudah datang ke sini untuk memohon maaf, lalu masih berani berdiri menghadang seperti ini?" Wibisono menatap bekas merah di pipi Galuh dengan wajah yang semakin gelap.
"Aku besarkan kau dari kecil supaya kelak kau jadi orang yang begini?"
Galuh tidak menjawab. Matanya kosong menatap ayahnya, lalu berpindah ke bayangan Puspita yang bergerak di balik kaca pintu sebelum kembali tertutup.
Belum berselang lama, Wibisono kembali ke dalam mobil tanpa menawarkan payung sedikit pun. Sedan itu berputar pelan di ujung jalan dan meninggalkan halaman rumah deret.
Galuh menoleh kembali dalam hujan. Wajahnya sepucat dinding yang baru disiram air, dan bekas tamparan di pipinya terlihat jelas di bawah lampu jalan, seolah seseorang menempelkan cap di situ untuk menandai sesuatu yang tidak bisa dihapus.
Ia mendekati tangga teras sekali lagi, seolah baru mengambil keputusan yang lama ia tunda, lalu menutup matanya rapat-rapat.
Dan tanpa menunda, kedua lututnya menekan ubin basah di bawah langkah teras.
Hujan kini turun penuh, menutupi halaman rumah deret dengan tirai air yang tidak tembus pandang. Di balik kaca, Puspita memandang sosok yang berlutut itu sejenak, lalu berbalik pergi tanpa satu pun kata penutup. Baginya, hari itu hanyalah langkah pertama dari sekian banyak langkah yang masih harus diselesaikan.