Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkuak
Setelah pertemuan itu, Ethan langsung bergerak cepat. Ia langsung melakukan tes DNA untuk mengetahui kecocokan dia dan Arel sebagai ayah dan anak.
Hampir satu minggu ini dia menunggu. Selama itu dia tidak menemui Dira. Dia menahan dirinya. Karena baginya, untuk membuat Dira tidak bisa mengelak padanya, dia harus membawa bukti.
Hasilnya keluar hari ini. Ethan mendatangi rumah sakit terbaik di kota ini untuk mengambil hasil DNA antara dia dan Arel. Hari ini akan membuktikan semuanya.
Ia menjinjing amplop putih tebal yang berisi hasil tes dengan hati yang berdebar kencang. Kakinya terasa berat saat ia berjalan, walau hanya berjalan dari ruangan laboratorium ke ruang tunggu. Ia sudah menghabiskan hampir satu jam menunggu di sana, mencoba menenangkan diri dengan membaca apa saja di ponselnya, tapi tidak satu pun kata yang bisa masuk ke dalam pikirannya.
"Saya sudah memastikan tiga kali hasilnya, tuan Ethan," ucap Dr. Nitha, kepala laboratorium yang mengikuti dari belakang.
"Kecocokan genetik mencapai 99,9%. Anak bernama Arel itu benar-benar anak kandung anda."
Ethan menoleh perlahan, matanya sudah mulai terbakar oleh emosi yang terkumpul selama seminggu terakhir. Dia mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa. Dulu, dia pernah sangat menginginkan seorang anak dari Dira. Tapi hubungan mereka berakhir seperti itu. Sekarang, saat dirinya tidak lagi memikirkan masa depannya bersama wanita itu, ternyata anak mereka sudah sebesar itu. Hidup tanpa ayah.
Tanpa berlama-lama di rumah sakit, Ethan langsung mengambil kunci mobil dan mengemudi menuju kantor Zora. Sebenarnya
ia sudah tahu alamat rumah wanita itu dari hasil penyelidikan yang dia lakukan diam-diam oleh anak buahnya. Tapi siang begini, Dira tidak di rumah. Wanita itu di kantor.
Dia bekerja sebagai asisten Zora, tentu Ethan tahu di mana letak kantor Zora. Hatinya mendidih karena Dira yang tidak pernah bilang tentang kehamilannya. Ia mengemudi ugal-ugalan.
Bunyi klakson bersahutan ketika mobil Ethan menyalip tanpa sabar. Ia bahkan tidak peduli pada tatapan kesal pengendara lain. Bahkan ada yang sampai memaki keras. Dadanya terasa sesak, penuh oleh amarah, penyesalan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam, rasa kehilangan waktu.
Enam tahun.
Enam tahun ia tidak tahu bahwa darah dagingnya tumbuh tanpa dirinya.
Tangannya mencengkeram setir begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, amplop putih itu tergeletak. Bukti yang tak terbantahkan. 99,9%.
Arel adalah anaknya. Putra kandungnya.
Mobil berhenti mendadak di depan gedung kantor Zora. Ethan keluar tanpa mematikan mesin lebih dulu, lalu kembali untuk menguncinya dengan gerakan tergesa. Langkahnya panjang dan cepat memasuki lobi.
Resepsionis langsung menyapanya dengan ramah dan canggung karena wajah kaku pria itu. Sementara resepsionis yang satunya lagi seperti terpesona karena daya tarik Ethan. Pria itu tampak begitu menawan. Wajahnya enak sekali dipandang walau usianya sudah cukup berumur. Tapi, banyak orang yang melihatnya masih mengira kalau pria itu adalah pria matang yang belum berusia empat puluh tahun.
"Ada yang bisa saya bantu, sir?"
Wajahnya ke bule-bule-an. Seperti Matt. Beberapa orang pasti akan menyangka dia bule.
"Saya ingin mencari seorang karyawan bernama Dira. Dira Ananta." kata Ethan tidak sabaran.
Resepsionis itu sedikit terkejut mendengar nada suara Ethan yang tegang. Juga nama yang dikatakan pria itu. Nama Dira Ananta memang beberapa minggu terakhir ini sering menjadi buah bibir di kantor ini. Karena banyak yang iri dia bisa jadi asisten Profesor Zhou yang punya nama besar, padahal cuma lulusan universitas kecil dan tidak terkenal.
"Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanyanya hati-hati.
"Belum, katakan saja Ethan Ravello ingin bertemu."
Ethan Ravello. Nama itu kembali membuat kedua resepsionis tersebut kaget. Ethan Ravello adalah nama yang sering muncul bersama nama Damian. Kedua perempuan itu terus menatap Ethan dan lalu saling bertukar pandang.
"Kau tuli? Aku sedang bicara denganmu." nada suara Ethan tidak tinggi, tidak membentak, namun begitu menusuk.
"Ah, ba-ba ..."
Baru saja resepsionis itu hendak bicara dengan suara tersendat-sendat, wanita yang Ethan cari, alias Dira muncul dari balik lift yang baru saja terbuka.
Resepsionis itu melihatnya.
"Ah, itu Dira Ananta yang tuan cari." tunjuk si resepsionis cepat. Ethan langsung berbalik.
Tatapannya dan Dira bertemu. Dira kaget sekali. Heran kenapa pria itu bisa berada di tempat ini. Ah, mungkin mau bertemu dengan Zora. Tidak mungkin laki-laki itu berinisiatif menemuinya kan? Untuk apa?
Namun detik berikutnya, Dira sadar tatapan Ethan tidak bergeser sedikit pun darinya.
Bukan tatapan formal. Bukan tatapan kebetulan.
Itu tatapan seseorang yang tampak sedang menahan segala emosi dalam hatinya. Astaga, pria itu kenapa lagi? Apa dia sedang marah dan sengaja datang ke sini untuk melampiaskan amarah itu padanya?
Tidak, tidak. Ethan bukannya laki-laki yang tidak tahu tempat. Tapi, langkah pria perlahan mendekat. Setiap langkah seolah membuat udara di lobi menipis. Beberapa karyawan yang lewat ikut menoleh, merasakan aura tegang yang tiba-tiba muncul.
Dira ikut tegang. Tangannya meremas celana kain yang ia kenakan. Perlahan dia mundur, seakan mengambil aba-aba, lalu tanpa sadar ia malah kabur. Ke arah tangga menuju lantai atas.
"Dira!" suara Ethan menggema di lobi, cukup keras membuat beberapa kepala menoleh lebih jelas.
Dira tidak berhenti.
Tumit sepatunya beradu cepat dengan anak tangga. Nafasnya mulai memburu bahkan sebelum ia mencapai lantai dua. Ia tidak tahu kenapa ia lari. Refleks.
Ethan mengejar.
Langkahnya jauh lebih panjang. Dalam hitungan detik jarak di antara mereka makin dekat. Tepat di belokan tangga menuju lantai dua, tangan Ethan menangkap pergelangan Dira.
"Lepas!" desis Dira panik,
berusaha menarik tangannya.
"Kenapa kau kabur?" suara Ethan dalam, berat.
"Kenapa kau ke sini?" Dira balas bertanya.
"Ikut aku, kita perlu bicara." katanya tegas.
"Aku sedang kerja."
"Aku tidak peduli."
"Lepasin Ethan!" Suara Dira meninggi, pergelangan tangannya terasa sakit karena genggaman Ethan terlalu kuat.
"Aku bilang tidak Dira! Tidak!"
Suara keduanya berhasil menjadi perhatian beberapa karyawan. Bahkan seorang petugas keamanan yang biasanya bertugas di kantor itu mendatangi mereka.
"Maaf, ini ada apa ya?" tanya lelaki berseragam itu. Ethan menatapnya tajam.
"Bukan urusanmu." katanya dingin.
Petugas keamanan itu sedikit tersentak, tapi tetap berdiri di tempatnya.
"Pak, mohon jangan membuat keributan di area kantor."
Dira memanfaatkan momen itu untuk menarik tangannya lebih keras tapi Ethan terlalu kuat. Ethan masih fokus dengan laki-laki itu.
"Kalau aku membuat keributan di sini, seluruh gedung ini sudah hancur di tanganku."
Si petugas keamanan dan beberapa karyawan yang mendengar itu kaget luas biasa. Dan Dira langsung sadar, kalau dia tidak ikut dengan pria itu, Ethan benar-benar akan kesetanan seperti di pesta Bima terakhir kali mereka ketemu.
"Baik, baik. Aku ikut. Aku ikut. Jangan buat keributan di sini." katanya akhirnya.