Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
Keesokan harinya eca perlahan terbangun, dan melihat theo berada di samping kasurnya dengan tertidur, tanpa theo sadari dia memegang tangan eca semalaman.
"Aduh, kepala gue sakit banget" ecq mengeluh sambil memegang kepalanya
"Loh...gue ada di mana?"
Suara serak itu seketika memutus benang tidur theo yang tipis. Kelopak matanya terbuka, menampakkan pupil hitam pekat yang sempat linglung sebelum kesadarannya terhimpun utuh.
Menyadari tautan jemarinya sendiri yang mengunci tangan perempuan itu sejak fajar menyingsing, theo menarik tangannya secepat kilat, menyembunyikannya ke saku celana dengan rahang mengetat kaku.
Sensasi hangat di kulit telapak tangannya meninggalkan getaran aneh yang buru-buru ia abaikan demi menjaga sisa gengsinya. theo menegakkan punggungnya yang pegal akibat berjam-jam duduk menunggui ranjang itu, lalu melayangkan sorot mata sinis yang menutupi kelegaan dalam dadanya saat melihat binar kesadaran lawan bicaranya.
"Kamar gue. Dan lo beruntung masih bisa melek setelah bikin keributan semalaman suntuk,"
cibir theo dengan suara rendah yang masih parau khas bangun tidur.
Ia bangkit berdiri, meregangkan otot lehernya hingga berbunyi gemeretak, sengaja menciptakan jarak agar perempuan itu tidak menangkap semburat kecanggungan di wajahnya. theo meraih gelas berisi air hangat di atas nakas, menyodorkannya tanpa basa-basi.
"Minum dulu. Nggak usah banyak gerak kalau nggak mau kepala lo makin meledak."
Eca dengan segera mengambil gelas yang di berikan theo, dengan senyumnya yang menawan eca yang reflek melihat kebaikan theo tiba-tiba membelai rambut atas theo dengan tulus lembut dan lemah.
"Terimakasih ya, gue akan menuruti apa yang lo mau untuk balasan kebaikan budi lo ini"
"Tapi... apa dompet gue sudah ditemukan?gue sangat membutuhkannya, karena di dalam isi dompet itu ada foto nene gue yang sudah meninggal"
Sentuhan jemari halus di pucuk kepalanya menghantarkan sengatan aneh yang melumpuhkan reaksi theo seketika. Tubuhnya membeku, napasnya tertahan di tenggorokan saat kelembutan tanpa pamrih itu menyapu helaian rambutnya yang berantakan. Tak pernah ada seorang pun yang berani menyentuhnya seintim dan selembut itu—terlebih seorang perempuan yang kemarin sore masih ia anggap pengganggu jalanan.
theo segera memundurkan kepalanya selangkah, mendengus kasar seraya mengusap tengkuknya demi mengaburkan kegugupan yang mendadak melanda dadanya.
"Nggak usah pegang-pegang, tangan lo masih lemes begitu sok mau nurutin kemauan gue,"
desis theo ketus, mengalihkan sorot matanya ke arah jendela yang mulai disinari mentari pagi. Ia melipat kedua tangan di depan dada, berusaha keras menyusun kembali topeng arogansinya yang sempat retak berantakan.
Mendengar alasan di balik benda merah muda tersebut, kilatan sinis di matanya meredup, tergantikan kesungguhan yang tertahan.
"Anak-anak gue udah ngepung wilayah pelarian copet itu subuh tadi. Dompet lo aman, lagi dibawa Rian ke sini."
theo meliriknya sekilas dari sudut mata.
"Sekarang habisin air lo, terus istirahat. Jangan banyak tingkah dulu."
Eca yang terus tersenyum melihat tingkah laku theo malu-malu itu membuatnya semakin penasaran tentang kehidupan lelaki itu.
"iya..iya...bawel,terimakasih banyak sudah sangat menolongku dan merawatku"
"Ngomong-ngomong lo tinggal di sini sendirian?"
Sorot mata theo menggelap sesaat ketika pertanyaan itu menyentuh ruang pribadinya. Kamar luas bergaya minimalis ini memang terasa terlalu sunyi untuk dihuni satu kepala, hanya menyisakan dengung pendingin ruangan dan aroma citrus samar. Ia menyeringai tipis, memasang kembali raut pongah yang sempat meluntur beberapa saat lalu.
"Kepo banget lo. Rumah sebesar ini jelas punya keluarga gue, tapi bokap-nyokap lebih sering di luar negeri ngurus bisnis,"
ujar theo santai, membiarkan nada datarnya menutupi kekosongan yang sebenarnya enggan ia bahas.
Ia melangkah ke meja belajar, meraih jaket kulitnya yang tergantung sembarangan di sandaran kursi. Tangannya meraba saku dalam, lalu melemparkan sebungkus kecil permen rasa min ke atas selimut sang gadis—permen yang dulu pernah disodorkan padanya saat mereka pertama kali berselisih di jalanan.
"Makan itu biar lidah lo nggak pait. Jangan banyak nanya hal nggak penting kalau tenaga lo belum pulih beneran."
theo menatap ke arah pintu kamar mandi, berniat membersihkan diri dari sisa kepenatan semalam.
"Gue mandi dulu. Kalau Rian datang bawa barang lo, jangan asal buka pintu."
Sambil tersenyum melihat permen yang ia pegang, eca mengingat kembali kejadian waktu di minimarket kemarin, tidak di sangka kalau dia akan berakhir di tolong oleh laki-laki asing ini yang sebelumnya dia panggil bocah ternyata justru paling terlihat dewasa dalam menjaga orang lain disaat genting.
"Lucu juga dia" gumam eca sambil tersenyum
"Aduh gawat, gue kebelet pipis, gue harus kearah mana coba di rumah yang sebesar ini?"
Karena suhu tubuh yang sudah menurun, eca kebelit pipis Ia berlari keluar, tetapi bingung dengan letak toiletnya, tanpa tidak disengaja Ia masuki ke kamar mandi yang sedang di pakai theo dalam keadaan sudah bertelanjang bulat.
Dengan terburu-buru Ia lalu masuk dengan cepat tanpa mengetuk pintu kamar mandi terlebih dahulu, di saat itulah Ia sontak terkaget saat melihat theo tepat di hadapannya saat ini.
"Aaaargh........ma-maaf, gue gak tau lu ada di kamar mandi ini,"
"tenang aja gue gak lihat apa-apa"
'sial'
Gemericik pancuran air mendadak kalah bising oleh derit pintu yang terdorong kasar. theo tersentak hebat, refleks melilitkan handuk gelap ke pinggangnya sebelum uap hangat sempat menyamarkan keterkejutannya. Air menetes deras dari rambut hitamnya yang basah kuyup, mengalir melewati lekuk dada bidang hingga garis perutnya yang liat.
Sorot matanya berkilat tajam membelah kabut uap air, rahangnya mengeras menahan campuran rasa malu dan amarah yang meletup serentak ke ubun-ubun. Rasa canggung yang luar biasa membakar telinganya hingga merah padam, mematahkan kendali dirinya yang biasa tenang dan dominan.
"Tutup pintunya, bego!"
raung theo dengan suara menggelegar, jemarinya mencengkeram tepi wastafel marmer dengan urat-urat tangan yang mencuat tegang.
"Nggak lihat apa-apa mata lo rabun! Keluar sekarang atau gue lempar lo ke luar rumah!"
theo melangkah satu kali ke depan dengan seringai gusar yang bercampur kepanikan kentara, menendang pintu kayu tersebut hingga tertutup setengahnya untuk menghalangi pandangan. Napasnya memburu cepat, bukan karena lelah, melainkan gejolak darah yang berdesir liar mendapati privasinya diterobos begitu saja.
"Sorry, gue nggak tahu kalau lo di situ, habisnya rumah segede ini nggak ada orang yang bisa gue tanyain" sahut eca sambil nunjuk di sekeliling rumah theo
Urat-urat di pelipis theo berkedut menahan desakan emosi yang campur aduk. Tangannya menyambar kaus abu-abu dari gantungan, menyarungkannya ke tubuh yang masih lembap tanpa sempat mengeringkan tetesan air di bahunya. Rasa panas menjalar hebat dari balik leher hingga menyengat cuping telinganya, meremukkan sisa wibawa yang susah payah ia bangun sejak semalam.
Ia menyentak daun pintu hingga terbuka lebar, memamerkan figur jangkungnya yang berdiri menghalangi lorong. Rambutnya masih basah meneteskan air ke lantai pualam, sementara pandangannya menusuk lurus ke arah sang gadis dengan sorotan tajam sarat kejengkelan yang kentara.
"Toilet tamu ada di ujung lorong bawah, dekat dapur. Gunakan mata lo kalau jalan, bukan asal terobos kamar orang,"
geram theo rendah, suaranya sarat intimidasi yang dipaksakan untuk menutupi rasa canggungnya.
Lelaki itu melangkah maju dua tapak, menyilangkan tangan di dada seraya menyipitkan mata sinis.
"Sekarang buruan ke sana sebelum lo bikin noda konyol di karpet kamar gue. Kelar urusan lo, balik ke ranjang—jangan berkeliaran sembarangan lagi."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊