Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - SAPAAN LEMAH GEMULAI
Embusan angin pagi berembus kencang menyapu permukaan bak truk pick-up rakitan yang melaju stabil menyusuri jalan raya utama luar kota. Debu spora kekuningan dan aroma amis darah segar yang sempat melekat pekat di pakaian para penyintas perlahan memudar, tergantikan oleh bau minyak mesin, aroma karet ban terbakar, dan hawa segar dedaunan dari pohon-pohon tepi jalan.
Di atas bak besi terbuka yang terlindung oleh barikade plat baja tebal setinggi dada, lima penyintas duduk bersandar di atas lantai pelataran truk. Steve meregangkan lengan kirinya pelan, menyunggingkan senyum lega saat merasakan denyutan panas akibat infeksi di bahunya telah surut sepenuhnya berkat suntikan antibiotik. Endru masih memangku dua ransel medis merah berisi pasokan obat-obatan vital dengan sikap protektif, sementara Nancy membetulkan posisi kacamata tebalnya seraya memperhatikan pemandangan bangunan Kota Mati yang perlahan tertinggal di ufuk timur.
Luna berdiri tegap di sudut depan bak truk, memandangi jalur jalanan di depan dengan pandangan taktis yang tenang. Busur recurve kesayangannya tersandang santai di bahu tegapnya, menandakan tingkat kewaspadaan yang tetap terjaga kendati bahaya langsung telah berlalu.
Jendela kaca berkawat ram yang menghubungkan bak belakang dengan ruangan kabin pengemudi mendadak digeser makin lebar dari dalam. Kepala Onad muncul sedikit dari celah jendela tersebut, memiringkan lehernya dengan gaya khas yang meliuk-liuk gemulai. Kacamata hitam berbingkai merah menyala yang tadinya bertengger kusam di atas dahinya kini diturunkan hingga menempel di pangkal hidung tirusnya.
"Duh, Gusti... ini rombongan penyintas bencana atau rombongan kontestan acara pencarian bakat sih?" panggil Onad dengan nada vokal nyaring yang meliuk-liuk jenaka.
Steve mendongak dari duduknya, menyunggingkan cengiran lebarnya saat mendengar teguran konyol yang memecah keheningan tersebut. "Maksudmu bagaimana, Onad?"
Onad memanyunkan bibirnya yang tipis, mengibaskan telapak tangannya yang dilapisi sarung tangan kain merah menyala ke udara dengan gerakan serba lentur dan berlebihan.
"Ya ampun, Abang Kekar! Dari tadi pas Eke ngintip lewat kaca spion tengah, komposisi rombongan kalian ini estetik banget tahu tidak!" jerit Onad seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada Abang Kekar yang berotot gagah, ada Mbak Komandan yang cantik tapi galak, ada Mbak Kacamata yang mukanya pinter banget, terus ada brondong imut yang meluk ransel merah kayak meluk guling kesayangan!" lanjut Onad seraya memutar matanya heboh.
Endru yang merasa tersindir langsung merona merah hingga ke ujung telinganya. Pemuda berkacamata itu makin merapatkan dua ransel medis merahnya ke dalam pelukan dada, menundukkan kepalanya kaku di samping Nancy karena merasa serba salah.
"S-saya bukan brondong, Mbak... eh, Mas Onad..." bisik Endru dengan vokal canggung yang sangat halus.
"Aduh, aduh, panggil Eke Onad aja deh, Sayang! Jangan Mbak-Mas gitu dong, ntar Eke berasa kayak petugas kasir swalayan yang lagi bertugas!" seru Onad seraya terkekeh manja, mengedipkan sebelah matanya centil ke arah Endru.
Nancy yang duduk tepat di sebelah Endru tak tahan untuk tidak menutupi mulutnya dengan telapak tangan, melepaskan tawa kecil yang sangat riang. Tawa manis Nancy membuat wajah Endru makin memerah padam, namun sudut bibir pemuda itu perlahan ikut terangkat menyunggingkan senyuman canggung.
"Jangan digoda terus dong, Onad. Kasihan Endru, mukanya sudah merah kayak kepiting rebus begitu." tutur Nancy lembut seraya menepuk pelan bahu Endru untuk menenangkannya.
"Ih, Mbak Kacamata Cantik langsung membela nih ye! Ada yang terlibat cinta lokasi rupanya di tengah gempuran zombie berkepala jamur!" goda Onad seraya menjulurkan lidahnya jenaka.
"Onad, fokus ke jalanan di depan dulu." potong Luna seraya melangkah mendekati jendela kabin, meski sudut bibir mantan taruna itu ikut menyunggingkan senyum tipis yang tak tertutupi.
Onad memosisikan jemari tangannya yang lentur di atas lingkar setir, menggoyangkan pundaknya mengikuti irama getaran mesin diesel truk yang melaju halus.
"Siap, Ibu Komandan yang jelita! Tapi jujur ya, Jeng Luna, Eke tuh dari tadi gemetaran setengah mati tahu tidak waktu nabrakin moncong truk ke gerombolan makhluk berkerak jamur di depan apotek tadi!" kata Onad seraya memanyunkan bibirnya dramatis.
"Masa sih? Perasaan cara mengemudimu brutal sekali, sampai tiang kanopi apotek saja hampir kamu rubuhkan." timpal Steve terkekeh geli seraya menepuk dinding besi bak.
"Aduh, Abang Kekar tidak tahu aja penderitaan batin Eke yang sangat mendalam ini!" seru Onad memiringkan kepalanya dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Itu mobil ganteng kesayangan Eke baret-baret kena cakar kuku zombie tahu! Cat dasar merah marunnya lecet di mana-mana! Nanti kalau kiamat ini sudah kelar, Eke minta ganti rugi biaya salon mobil sama kalian ya!" lanjut Onad seraya menyapu keningnya dengan gaya lemah gemulai yang sangat kocak.
Gelak tawa seketika pecah membelah keheningan di bak belakang truk. Rian tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya yang mulas, Steve terkekeh kencang seraya menggeleng-gelengkan kepala kagum, sementara Nancy dan Endru saling bertukar pandang dengan senyuman lebar yang sangat hangat. Bahkan Luna, yang biasanya selalu tampil dingin, tenang, dan penuh perhitungan taktis, tak mampu menahan kekehan halus yang lolos dari tenggorokannya.
Ketegangan mencekam, trauma kepungan maut di Apotek Sentral, serta rasa takut akan kematian yang terus membayangi mereka selama berhari-hari seolah meleleh seketika disapu oleh celotehan konyol sang mekanik eksentrik. Di atas bak truk rakitan berlapis baja itu, atmosfer yang tadinya kaku dan tegang berganti menjadi kehangatan manusiawi yang sangat berharga.
"Tapi serius deh, kalian semua hebat banget bisa bertahan hidup sejauh ini." kata Onad dengan nada vokal yang perlahan agak melunak dan hangat.
"Waktu Eke menangkap siaran radio rakitan Mbak Nancy tadi pagi, Eke pikir cuma ada satu penyintas kesepian yang terjebak di gedung elektronik. Eh, pas Eke susul ke jalan raya utama, ternyata kalian sudah jadi rombongan sirkus yang sangat kompak begini." lanjut Onad seraya melirik lewat kaca spion tengah.
"Kami bertahan karena saling melengkapi, Onad." kata Luna dengan vokal mantap dan tenang.
"Steve adalah perisai pertahanan kami di barisan depan, Nancy memberikan navigasi peta dan teknologi, Endru menangani kebutuhan medis dan obat-obatan, sementara Rian membantu menjaga pasokan logistik kami." jelas Luna merangkum peran setiap anggota kelompoknya.
Onad memanyunkan bibirnya berpura-pura merajuk seraya memutar lingkar setir ke kanan. "Terus Eke dapat peran apa dong di kelompok ini? Masa Eke cuma jadi supir ganteng yang bertugas mengalihkan perhatian zombie sih?"
"Kamu pahlawan kami yang punya kendaraan paling keren dan tangguh di seluruh kota ini, Onad." puji Nancy dengan tulus dari balik kacamatanya.
"Dan komedian tunggal yang berhasil bikin kita semua lupa kalau dunia luar sedang kiamat." tambah Steve seraya mengacungkan jempol tegapnya ke arah jendela kabin.
Onad tersenyum lebar hingga matanya menyipit, membusungkan dadanya penuh rasa bangga seraya mengibaskan tatanan rambut tipisnya dengan gaya centil.
"Aduh, dibilang pahlawan jadi terharu nih Eke! Yaudah deh, demi rombongan kesayangan Eke ini, kita meluncur ke tempat persembunyian paling aman!" seru Onad penuh semangat seraya menekan pedal gasnya sedikit lebih dalam.
"Ke mana kita akan pergi, Onad?" tanya Luna memastikan arah tujuan.
"Bengkel tua milik almarhum paman Eke di ujung Distrik Barat. Tempatnya sangat tersembunyi, punya pagar besi tebal, dan yang paling penting... ada stok kopi hitam manis sama peralatan servis lengkap buat memanjakan mobil ganteng ini!" jawab Onad seraya mengedipkan matanya penuh rahasia.
TET-TERET-TET-TET!
Klakson konyol berirama riang itu kembali dibunyikan Onad, menyuarakan optimisme baru yang bergema di sepanjang jalanan sepi luar kota. Kelima penyintas utama duduk bersama di bawah langit fajar yang makin terang, menyadari bahwa kebersamaan, rasa saling percaya, dan tawa di tengah bencana adalah senjata paling ampuh untuk menjaga jiwa kemanusiaan mereka tetap hidup.