Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Emas dan Jalan yang Dipilih
Waktu berputar cepat di atas Puncak Es Salju.
Bocah yang sepuluh tahun lalu terbuang di Hutan Terlarang kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Hu Jin memiliki raut wajah tegas, mata hitam jernih yang menatap tajam, serta pembawaan tenang yang jauh melebihi usianya. Namun di balik ketenangan itu, ia dikenal jahil di Puncak Es—mulai dari memetik buah spiritual langka milik tetua sebelah, sampai memasang jebakan es untuk binatang buruan.
Meski tanpa menyentuh jatah sumber daya sekte sepeser pun, bakat kultivasi bawaan Hu Jin berkembang amat pesat di bawah bimbingan langsung Qian Renxue.
Hari ini adalah hari yang ditentukan: Ujian Tulang. Ajang penentuan bakat bagi anak-anak berusia sepuluh tahun untuk menguji takdir mereka di Sekte Teratai.
Di pelataran Puncak Es, Qian Renxue berdiri anggun. Di depannya, Hu Jin sedang berkacak pinggang seraya mengunyah sehelai rumput spiritual dengan santai.
"Hu Jin, berdiri yang benar," tegur Qian Renxue, walau matanya tak mampu menyembunyikan kehangatan alami seorang pengasuh. "Pendaftaran Ujian Tulang sebentar lagi dimulai, dan kau masih sembrono begini?"
Hu Jin tertawa kecil, melipat kedua tangan di belakang kepala. "Guru, kenapa cemberut terus? Nanti wajah cantikmu cepat berkerut. Ujian itu cuma formalitas."
"Lancang bicaramu," sahut Qian Renxue seraya menepuk dahi Hu Jin pelan dengan gagang kipas esnya. Namun di dalam hati, ada rasa bangga yang mendalam. Ia tahu betul seberapa keras anak ini menyiksa diri berlatih tiap malam di tengah hembusan angin beku.
Tawa kecil Hu Jin mendadak reda. Ia merapikan jubahnya, lalu tiba-tiba berlutut dan membungkuk dalam-dalam di atas lantai es—sebuah penghormatan formal yang amat jarang ia lakukan.
Qian Renxue tertegun. "Hu Jin... apa yang kau lakukan?"
Hu Jin mendongak, menatap mata gurunya dengan kesungguhan yang tak pernah terlihat sebelumnya.
"Guru," ucap Hu Jin mantap. "Sebelum pergi ke Aula Utama, ada yang ingin kukatakan. Selama sepuluh tahun ini... Guru tidak hanya mengajariku membaca dan berkultivasi. Guru memberiku rumah."
Mata Hu Jin berbinar tulus. "Bagi Hu Jin, Guru adalah guru terbaik di dunia. Dan... sudah kuanggap seperti ibuku sendiri."
Pertahanan es di hati Qian Renxue runtuh seketika.
Dada wanita itu berdesir hangat. Perasaan haru dan bangga bercampur menjadi satu, diiringi rasa cemas yang samar—perasaan ketika melihat burung muda yang selama ini dilindungi di bawah kepaknya siap mengepakkan sayap menembus badai.
"Anak bodoh... bicara apa kau ini," bisik Qian Renxue pelan, mencoba menahan uap hangat yang mendesak di sudut matanya. Ia mengusap lembut rambut Hu Jin. "Ayo. Jangan buat orang-orang di aula menunggu."
Aula Utama Sekte Teratai dipenuhi ratusan pasang mata. Di tengah ruangan, berdiri pilar batu kristal raksasa yang memancarkan aura kuno—Batu Penguji Tulang.
Saat gilirannya dipanggil, Hu Jin melangkah maju dengan tenang di bawah tatapan sinis Tetua Liao dan jajaran tetua senior. Ia mengulurkan tangan, menempelkan telapak tangannya pada permukaan batu yang dingin.
WUUUUUSH
Seketika, cahaya emas menyilaukan meledak dahsyat dari dalam pilar! Batu kristal itu bergetar hebat, memancarkan raungan samar menyerupai gema naga kuno yang membubung menembus atap aula, membakar langit Puncak Es!
"Cahaya Emas Murni! Tulang Kaisar Langit!" teriak tetua penguji dengan suara gemetar takjub. "Ini... bakat tingkat mitologi! Jenius yang hanya muncul puluhan ribu tahun sekali!"
Gempar luar biasa meledak di seluruh aula! Tetua Liao terperanjat bangkit dari kursinya dengan wajah pucat pasi. Bakat sebesar ini jelas akan menjadikan Hu Jin sebagai calon penguasa masa depan sekte.
Namun, di tengah gelombang kekaguman itu, Hu Jin justru menarik tangannya kembali. Ia berbalik menatap Tetua Gu dan Tetua Liao dengan raut dingin.
"Aku sudah membuktikan keberadaanku di sini," ucap Hu Jin dengan suara lantang yang menggema tegas. "Tetapi... aku menolak menjadi murid resmi Sekte Teratai. Hari ini, aku memutuskan untuk keluar dari sekte."
Keheningan yang memekakkan telinga jatuh seketika, disusul jeritan ketidakpercayaan dari para tetua.
"Apa?! Kau gila?!" bentak Tetua Liao. "Bakat tiada tanding dan kau memilih keluar?!"
Qian Renxue melangkah maju cepat, matanya terbelalak. "Hu Jin, apa maksudmu?!"
Hu Jin menatap gurunya dengan senyum tipis yang sarat makna.
Ia paham betul peta politik sekte ini. Kehadirannya yang 'tanpa asal-usul' selalu dijadikan cangkang oleh Tetua Liao untuk menekan Qian Renxue terkait urusan perjodohan. Jika ia bertahan di sini, ia hanya akan menjadi sandera politik yang mengikat kebebasan gurunya, sekaligus membuat kultivasinya sendiri mandek di dalam kurungan aturan sekte.
Ia harus ditempa di alam liar jika ingin menjadi elang yang membelah langit.
"Sekte Teratai terlalu sempit untukku," ujar Hu Jin dengan nada percaya diri, sengaja menyembunyikan alasan pengorbanannya. "Aku ingin melihat seberapa luas dunia di luar sana."
Hu Jin membungkuk hormat sekali lagi ke arah Qian Renxue yang berdiri mematung di kejauhan.
Tanpa ragu sedikit pun, sang pangeran terbuang berbalik membelakangi kemegahan Sekte Teratai—melangkah mantap menuju dunia luar yang liar demi mengukir jalannya sendiri.