Karin gadis pemalas yang punya hobby nonton Drakor dan Dracin sepanjang masa remajanya, tidak menyangka bahwa nasibnya akan seperti di drama drama yang pernah ia tonton.
Diumur ke 20 tahun ia dipaksa menikah muda dengan Om Om yang di jodohkan Oleh Ayahnya.
Om Om itu adalah kolega bisnis Ayah Karin bernama Arjuna Prayoga.
Meskipun hanya berbeda 7 tahun tapi Karin yang saat itu masih kuliah, sangat sulit untuk menerima perjodohan dan pernikahan itu.
Apalagi Karin sudah memiliki pacar yang telah dipacarinya selama bertahun tahun bernama Kai Bagaskara seorang cowok populer dan sangat dicintainya.
Dapatkan Karin Lolos dari perjodohan yang disiapkan Ayahnya?
Ataukah pada akhirnya ia akan benar benar menikah dengan Om Arjuna?
Selamat membaca semoga kalian suka dengan karyaku, saranghae 🩷
BTW karena ini cerita tentang pernikahan Harap bijak sebelum membaca okey...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ipar Adalah......
Hai guys, please banget kalau kalian suka Karyaku, like dan komen ya biar aku semangat upnya, aku juga sangat senang kalau kalian berkenan Vote, seharian ini males update tapi karena banyak yang ingatkan up aku up demi kaliaaaaan, yuk lanjuuutttt....
...----------------...
...----------------...
Baru beberapa hari saja Sekar menginap di Apartemen mereka, Karin sudah merasa tidak nyaman.
Bukan hanya karena Sekar tak menghargainya, tapi Karena Sekar terus saja memprovokasi Karin.
Pagi itu sarapan sudah tersedia di meja makan, Bik Wati memang diperintah Arjuna untuk selalu sigap menyiapkan kebutuhan Karin, dari hari pertama Karin menginjakan kakinya di apartemen mereka, segala kebutuhan Karin memang selalu disiapkannya.
Namun bagi Sekar sikap Kakaknya itu terlalu memanjakan gadis itu.
"Rin, gue tau Lo anak Om Bagas, terbiasa hidup enak dan di manja, tapi sekarang Lo istrinya Kak Yayang, minimal bangun pagi dong, siapin kopi atau teh, gak semuanya harus di pegang Bi Wati kan." Cerocos Sekar saat sedang sarapan.
Karin terdiam dan seketika mengehentikan gerakannya menyendok sarapan, omongan Sekar memang tidak salah, tapi Karin memang belum tahu caranya harus bersikap. Karin merasa malu dan sekaligus merasa agak tersindir dengan pernyataan itu.
Arjuna mendelik tajam ke arah Sekar adiknya "Sekar Lo gak berhak ya atur atur istri gue." Ucapnya tegas namun tidak ada nada kebencian.
"Kak istri tuh kalau gak di didik nanti ngelunjak, Lo kan selalu di layani sama mami, dia juga sama di layani sama bundanya, masa dia gak ngerti kalau jadi istri harus gimana?" Sekar menatap ke arah Karin yang hanya diam.
"Bertahun tahun gue dan mami nunggu kabar baik Lo mau nikah, eh giliran nikah malah punya istri yang manjanya minta ampun kayak gini, mau sampe kapan, gue gak bilang dia harus ngerjain semuanya, tapi minimal dia bangun pagi!" Tukas Sekar yang kesal sekali melihat gadis manja itu bangun siang, dan tak mengurus Kakaknya sama sekali beberapa hari ini.
Arjuna jadi geram pada adiknya itu "De gue tau kondisi mental Lo lagi gak stabil dan galau, tapi Lo gausah melampiaskan amarah Lo ke istri gue." Ucap Arjuna yang kini melihat ke arah istrinya yang mulai berkaca kaca.
Karin makin menunduk, saat itu dia sudah tak nafsu makan lagi.
"Karin selesai makan ya Om, mba." Ujarnya sembari meletakan sendok garpu yang tadi masih di pegangnya.
Matanya masih berkaca kaca, Karin sedang menahan tangisnya.
"Sayang, gausah dengerin Sekar, ini rumahku, kamu bebas mau ngapain aja." Ucap Arjuna tapi Karin sudah melangkah pergi meninggalkannya dan Sekar.
"Lo liat kan gara gara Lo istri gue ngambek." Arjuna mulai naik darah.
Sekar diam, namun mulutnya komat Kamit meledek kakaknya itu, membuat Arjuna frustasi dibuatnya.
Saat ini ia dilema, Sekar memang dalam kondisi yang tidak stabil karena baru saja di selingkuhi Wiliam dan juga bercerai, namun istri kecilnya pun tak harus menjadi korban atas perasaan tak senang adik kandungnya.
Arjuna bergegas meninggalkan Sekar di meja makan, menyusul istri tersayangnya yang kini berjalan ke arah parkiran.
"Rin." Panggil Arjuna pada istrinya yang makin jauh meninggalkannya.
"Sayang." Panggilnya ia berlari untuk mengejar langkah istrinya yang agak jauh di depan.
"Karin Sayang" Ucapnya namun Karin tetap mengabaikannya.
"Karin istriku." Seketika Arjuna menarik Tubuh kecil Karin dari belakang di peluknyanya gadis itu dari arah belakang, dan diciumi tengkuknya.
Kepala Karin hanya sampai sebatas dada pria itu saking mungilnya.
"Lepas Om Lepasin Karin." Teriak Karin kesal.
"Gak akan Om lepasin, kini dia malah menggendong Karin dengan satu tangannya."
"Karin bisa jalan sendiri tau." Ucapnya agak berteriak.
Namun sang suami tetap kekeh menggendongnya hingga sampai di depan mobil mereka.
Pintu mobil terbuka, Arjuna meletakan tubuh Karin ke kursi mobil berpindah dari gendongannya.
Karin hanya diam tidak bicara, sementara Arjuna mulai melajukan mobilnya mengantar Karin ke Kampus.
Ditengah perjalanan.
"Rin om minta maaf atas nama Sekar ya." Ujarnya lembut penuh rasa sesal. "Sekar cuma lagi depresi, jadi omongannya tajam, om minta maaf ya sayang sekali lagi."
"Tapi itu bukan salah om, dan Mba Sekar juga enggak salah, emang Karinnya bukan istri yang baik." Ucapnya.
Butiran air mata kini menetes di pipi Karin.
"Tuh kan, Karin jadi nangis lagi, gimana Om bisa tenang Rin."
Gadis itu mengusap air matanya, agar suaminya tidak khawatir, namun yang ia rasakan hatinya kini merasa sangat sedih dan kecewa pada keadaannya sendiri.
Dia tidak pernah minta ada di kondisi sekarang, dia tidak pernah minta jadi istri Om Arjuna, dia tau dia memang manja, dia juga memang bukan istri yang baik, tapi dia tidak sengaja dia hanya tak tau caranya bersikap sebagai istri, Karena pernikahan ini bukan karena maunya dan bukan karena kesiapannya. Bila bukan karena paksaan ayah harusnya kini dia masih jadi dirinya yang belum berstatus istri orang.
"Om gak perlu mikirin perasaan Karin." Ucapnya mencoba tegar.
Arjuna terdiam, ia kasihan sekali pada gadis ini, dibanding siapapun tentulah dia yang paling mengerti perasaannya.
Pria mapan itu menghentikan laju mobilnya.
"Sayang apa bisa hari ini ijin gak usah ngampus aja yuk." Ajaknya.
Karin menggeleng.
"Kamu ikut om ke kantor om aja ya sayang, nanti disana Karin istirahat sebentar, Om selesaikan beberapa urusan dengan cepat, lalu kita pergi jalan jalan gimana?"
"Ayolah Rin, sehari ini aja, nanti om akan telpon langsung dosenmu, minta tugas sebagai kompensasi absen di hari ini, om bantu kerjakan tugasnya, ya sayang." Ucap Arjuna agak memaksa Karin.
"Om gak tega ninggalin kamu dalam kondisi sedih gitu harus masih belajar seharian." Bujuknya lagi.
Karin akhirnya menurut iapun memang tak semangat untuk belajar karena moodnya terjun payung.
Arjuna mengelus rambut istrinya "Nah gitu dong anak pintar, seharian ini Om akan manjakan kamu, dan buat Karin senang ya."
Karin mengangguk.
...----------------...
...----------------...
Sesampainya di kantor, semua orang mulai menyapa Arjuna Prayoga sang CEO AP Tech, kini dengan bangganya CEO dingin yang beberapa tahun ini tak pernah membawa satupun wanita ke Kantor memperkenalkan Karin sebagai istri tercintanya.
Banyak yang menganga tak percaya karena gadis itu begitu muda dan imut, terlihat mustahil telah menikah dengan CEO dingin mereka.
Namun nampaknya karyawan di kantor tersebut menyukai Karin.
Tak ada tatapan mengejek ataupun tidak bersahabat seperti di drama drama perkantoran yang Karin sering tonton, mereka nampak hanya sibuk dengan urusan pekerjaan mereka.
Atau mungkin karena Bosnya ini sangat ketat jadi tak ada celah bagi Karyawan karyawan itu bergosip dan mengobrol selain tentang pekerjaan.
Sejak turun dari mobil sampai di depan ruangannya Arjuna tidak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun dari Karin.
Seharian ini Karin dibiarkan menonton drama, dan main handphone sepuasnya oleh suaminya itu.
Tak lupa diberikan banyak camilan juga makanan.
menjelang siang ia menyuruh Karin duduk di Kursi high back ala ala CEOnya dan dipakaikan Jas Tuxedo yang Arjuna Pakai di hari itu.
Arjuna senyum senyum gadis itu nampak tenggelam karena kursinya terlalu tinggi di badannya yang kecil mungil. Jasnya pun nampak menutupi seluruh tubuh mungilnya.
"Sayang coba muter." Katanya meminta Karin berputar.
"Buat apa?" Tanya Karin heran.
"Pengen liat istri Om kalau nanti jadi CEO gimana penampakannya."
Karin tersipu "Kan Om udah jadi CEO, Karin mau ngabisin uang om aja."
Arjuna terkekeh "Emang dasar anak pemalas yang gemesin." Katanya.
Kini ia mengangkat tubuh Karin dari kursi High back itu menggendongnya di depan seperti Koala.
Arjuna mulai duduk di kursi High back itu dengan Karin di pangkuannya.
Lalu Pria itu memutar kursinya hingga mereka berdua berputar putar di kursi CEO itu sebanyak beberapa kali putaran.
Tingkah random suaminya membuat Karin tertawa "Om kayak bocil ih." Ledeknya.
"Seru gak?" Katanya masih sambil berusaha memutar kursi itu.
"Iya." Ucap Karin kini moodnya mulai membaik.
Saat Kursi itu mulai berhenti berputar, Arjuna meletakan kedua tangannya di pipi Karin.
Dia menatap bola mata hitam milik Karin lalu meletakan bibirnya di bibir Karin.
Sentuhan hangat bibir Arjuna membuat bibir kecil Karin yang ranum dan berwarna pink alami itu juga terasa hangat, Arjuna mengecupnya dengan sayang dan cukup lama.
"Rin jangan sedih lagi ya, kalau Karin sedih Om ikut sedih loh." ujarnya seraya memeluk wanita pujaan hatinya.
Karin mengangguk.
"Karin gak harus terbebani sama omongan si Sekar ya, Karena Karin gak wajib menyenangkan oranglain selain om dipernikahan kita, ngerti?"
"Iya Om." Jawab Karin patuh.
"Inget ya sayang, proritas kamu adalah Om, Om gak kekurangan Uang untuk bayar ART yang bisa melayani kamu dan Om, Om juga enggak berharap Karin terpaksa melayani kebutuhan Om, Om yakin lama lama Karin akan dewasa."
Arjuna menatap istrinya lembut berusaha mengurai kekecewaan yang mungkin saat ini sedang menumpuk di hatinya.
"Ja jadi Om enggak kecewa karena punya istri kayak Karin, yang gak bisa apa apa?" Tanya Karin sambil balik menatap bola mata indah suaminya.
"Ya enggak dong sayang, Om kan sehat, om bisa mengurus diri om sendiri bahkan om akan mengurus kamu dan anak anak kita nanti Rin.
Karin terbelalak mendengar kata kata terakhir suaminya.
Arjuna tersenyum lagi lalu bertanya "Karin tau gak apa yang paling om butuhkan sekarang?"
Karin menggeleng karena tidak tahu.
"Apa Om?"
"Yang paling om butuhkan adalah cintanya Karin, Om harap lambat laun kamu akan mencintai suamimu ini ya Rin, Kalau kamu sudah mencintai Om, maka tanpa diajari pun Karin akan mulai memperhatikan Om juga peduli sama Om."
Sorot mata Pria itu hangat sekali ketika mengatakannya, tapi Karin merasa sedikit sedih.
"Om maafin Karin ya karena masih mencintai orang lain." Ucapnya jujur.
"Iya gak apa apa sayang, semua kan butuh proses." Ucap Arjuna sabar.
"Karin juga gak mau seperti ini Om, Karin merasa sangat bersalah." Sesalnya.
"Gak apa sayang, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya, dan sebentar lagi tibalah giliran Om yang akan kamu cintai."
Karin mengangguk "Karin akan berusaha mencintai Om, Karin janji" Ucapnya sembari memberikan jari kelingkingnya.
Arjuna menyambutnya dengan menautkan jemari kelingking miliknya.
"Kalau udah janji gak boleh bohong ya sayang."
"Iya."