Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Pesan di Antara Halaman
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang perlahan mulai aku kenal. Setiap sore aku menuju ke taman itu. Dan setiap kali Bima selalu ada di sana, entah sudah menunggu atau datang tak lama setelah aku tiba. Kehadirannya mulai terasa seperti bagian dari hariku yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Aneh rasanya bagaimana seseorang yang baru masuk ke dalam hidup bisa seakan sudah ada di sana sejak lama sekali. Kita belum pernah bertukar nomor telepon dan tidak pernah bertemu di luar taman itu. Tapi entah kenapa pertemuan kita di sana terasa cukup. Seolah tempat itu punya aturannya sendiri yang kita berdua pahami tanpa perlu diucapkan.
Sore itu langit bersih tanpa awan. Angin berhembus lembut menyisir daun-daun di sekitar kita. Aku datang dengan perasaan yang lebih tenang dari biasanya. Hari ini aku memutuskan untuk membawa buku yang sudah kubaca lama sekali, buku yang dulu pernah membuatku merasa tidak begitu sendirian saat masa-masa sulit. Saat aku sampai di sana Bima sudah duduk di bangku itu menunggu. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya menatap ke depan dengan tatapan yang tenang. Saat melihatku datang dia tersenyum dan menyisakan ruang kosong di sebelahnya seperti biasa.
"Hari ini kamu terasa lebih tenang," ucapnya begitu aku duduk di sampingnya.
Aku meletakkan bukuku di pangkuan sambil tersenyum. "Mungkin karena hari ini tidak ada hujan. Atau mungkin karena aku sudah berhenti bertanya-tanya apakah kamu akan datang atau tidak."
Bima tertawa pelan. "Kamu yakin aku tidak akan menghilang begitu saja?"
"Kalau memang itu pilihanku aku tidak bisa mencegahnya. Tapi untuk sekarang aku mau percaya saja pada apa yang aku rasakan," jawabku jujur.
Dia menatapku lebih lama dari biasanya. Matanya lembut tapi ada sesuatu yang berat di sana seolah dia sedang menahan ribuan cerita yang belum siap diucapkan. "Kamu hebat ya Aurora. Berani percaya pada sesuatu yang belum tentu dipahami sepenuhnya."
Aku membuka bukuku di halaman yang sudah aku tandai. "Buku ini adalah teman terbaikku waktu aku merasa sendirian dulu. Kata-katanya sederhana tapi selalu ada bagian yang seolah ditujukan khusus untukku. Kadang aku berpikir kalau cerita-cerita itu ditulis bukan sekadar untuk dibaca, tapi untuk mengingatkan kita bahwa apa yang kita rasakan itu pernah dirasakan juga oleh orang lain sebelum kita."
Bima menunjuk bukuku dengan pandangan penasaran. "Boleh aku lihat sebentar?"
Aku menyerahkan buku itu padanya. Dia memegangnya dengan hati-hati seolah itu benda rapuh yang mudah hancur. Dia membalik halaman-halamannya perlahan, matanya menyusuri setiap baris tulisan di sana. Saat sampai di halaman yang sudah aku tandai dia berhenti dan membacanya dalam diam. Aku tidak menyela. Aku membiarkannya masuk ke dalam dunia yang dulu sering aku kunjungi sendirian. Setelah beberapa saat dia menutup buku itu dan menatapku dengan senyum yang lembut.
"Kamu tahu Aurora? Setiap orang meninggalkan jejak di mana pun dia berada. Bukan sekadar jejak kaki di tanah, tapi sesuatu yang lebih dalam. Kata-kata yang diucapkan, kebaikan yang dilakukan, kehadiran yang menenangkan. Semua itu tersimpan di hati orang-orang yang pernah dijumpainya. Bahkan saat dirinya sudah tidak ada di sana lagi jejak itu tetap tinggal." Dia menyelipkan selembar kertas kecil di antara halaman buku itu lalu mengembalikannya kepadaku. "Sekarang buku ini punya satu cerita lagi. Bukan cerita yang ditulis pengarangnya, tapi cerita yang baru saja dimulai."
Aku menerima buku itu dengan hati yang berdebar pelan. "Kertas apa ini? Kamu menulis sesuatu?"
"Nanti saja bacanya. Saat aku sudah pergi dan kamu sendirian di rumah. Janji ya?" Dia menatapku dengan senyum yang memohon.
Malam itu saat aku sampai di rumah aku meletakkan bukuku di atas meja belajar. Kertas kecil itu menonjol sedikit dari sela halamannya. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat saat aku menariknya keluar. Tulisan tangannya rapi dan jelas. Tidak ada kata-kata yang berlebihan, hanya kalimat pendek yang sederhana namun membuat dadaku terasa hangat seketika.
"Ada 38.000 langkah yang harus kujalani. Dan langkah pertama adalah berani menyapamu hari itu. Sisanya sedang aku usahakan. Tunggu aku sebentar lagi ya. Aku sedang berusaha sampai ke hatimu dengan cara yang paling benar."
Aku membaca tulisan itu berulang kali. Angka itu kembali muncul lagi. 38.000 langkah. Apa artinya sebenarnya? Mengapa dia selalu mengaitkan pertemuan kita dengan angka yang begitu besar? Apakah itu jarak yang harus dia tempuh? Atau pengorbanan yang harus dia lakukan? Pertanyaan itu kembali berputar di kepalaku tapi kali ini rasanya tidak menakutkan. Justru aku merasa dia sedang berjuang untuk sesuatu yang penting. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang meragukan perjuangannya.
Hari-hari berikutnya setiap kali aku membuka buku itu selalu ada hal baru yang aku temukan. Kadang dia hanya menggambar bunga kecil di sudut halaman. Kadang dia menulis kalimat pendek yang membuatku tersenyum sendiri. "Semangat ya harimu. Aku juga sedang berjuang di sisimu walau tak terlihat." Atau "Kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Percayalah pada dirimu seperti aku mempercayaimu." Setiap pesan sederhana tapi selalu datang tepat saat aku paling membutuhkannya. Seolah dia tahu kapan aku sedang merasa lelah dan butuh sedikit semangat tambahan untuk melanjutkan hari.
Suatu sore hujan turun deras sekali. Aku ragu seharusnya pergi ke taman atau tidak. Bagaimana kalau dia tidak datang? Tapi kemudian aku teringat pesan terakhirnya yang terselip di bukuku. "Hujan bukan alasan untuk berhenti menuju sesuatu yang berharga." Aku membawa payung dan berjalan menuju taman itu dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Saat aku sampai di sana Bima sudah ada di sana. Dia berdiri di bawah pohon rindang yang menaunginya dari guyuran air hujan. Bahunya sedikit basah dan rambutnya meneteskan air tapi dia tersenyum begitu melihatku datang.
"Kamu datang," ucapnya terdengar lega.
"Kamu juga datang," jawabku sambil berdiri di sebelahnya di bawah naungan pohon itu. "Padahal hujan deras sekali. Kamu bisa saja tidak datang hari ini."
Bima menatap ke arah hujan yang turun membasahi tanah di sekitar kita. "Aku tidak mau kamu menunggu sendirian. Itu hal yang paling menyedihkan di dunia ini. Menunggu seseorang yang tidak berniat datang sama sekali."
Suaranya terdengar begitu dalam seolah dia sedang berbicara dari pengalaman yang menyakitkan. Aku menatapnya lekat-lekat. "Siapa yang pernah membuatmu menunggu terlalu lama Bima?"
Dia terdiam cukup lama sebelum menoleh padaku. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca tapi dia berusaha tersenyum. "Bukan orang lain Aurora. Tapi diriku sendiri. Aku yang selama ini terlalu takut untuk melangkah. Dan sekarang saat aku akhirnya berani aku menyadari waktu tidak selalu berpihak pada siapa pun yang terlambat."
Kalimat itu terasa seperti teka-teki yang belum siap dipecahkan. Tapi aku memilih untuk tidak menekannya saat itu. Aku hanya berdiri di sampingnya menikmati suara hujan yang menghantam dedaunan. Kehadirannya di sampingku terasa cukup. Kita tidak selalu harus mengobrol untuk merasa saling mengerti. Kadang berdiri berdampingan dalam diam sudah merupakan cara berkomunikasi yang paling jujur.
Saat hujan mulai mereda dia berbicara lagi dengan suara yang lebih lembut. "Terima kasih sudah datang hari ini. Bukan sekadar untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Karena kamu memilih untuk percaya meskipun banyak hal yang belum kamu pahami."
"Aku hanya melakukan apa yang hatiku katakan," jawabku pelan. "Dan hatiku bilang kamu layak ditunggu Bima. Entah dari mana aku dapat perasaan itu tapi aku mempercayainya sepenuhnya."
Dia mengangguk pelan lalu melangkah mundur sedikit untuk melihatku lebih jelas. "Suatu hari nanti kamu akan mengerti segalanya. Dan saat itu tiba aku harap kamu tidak menyesal sudah memilih untuk berdiri di sisiku selama ini. Karena setiap detik yang kita habiskan bersama ini adalah hal paling berharga yang pernah kumiliki."
Malam itu aku pulang dengan perasaan yang lebih kuat dari sebelumnya. Sesuatu sedang tumbuh di antara kita. Bukan sekadar suka atau tertarik sesaat, tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih tulus. Sesuatu yang terasa seperti rumah yang sedang kita bangun bersama perlahan dari kepingan-kepingan kepercayaan dan kebersamaan sederhana. Dan meskipun aku belum tahu ke mana arah dari semua ini aku tahu satu hal. Aku tidak akan menyesal sudah memilih untuk menunggunya. Karena di setiap pesan yang dia tinggalkan, di setiap senyum yang dia berikan, di setiap kehadirannya yang menepati janji, aku merasa dia sedang berjalan menuju aku dengan tulus. Dan itu sudah cukup untuk membuatku tetap berdiri di tempat ini, menunggunya sampai langkah terakhirnya selesai.