Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 05
Foto pernikahan yang letaknya di dinding atas meja konsol, kini tergeletak di lantai bersandar pada tembok.
Sang pelaku penurunan pigura itu adalah Saila, dan Herlan membiarkan saja ketika menyaksikan foto istri pertama disingkirkan dari dinding kamarnya.
“Setiap malam sebelum tidur, selalu ku pandangi dengan binar kagum, hati bahagia sembari berdoa semoga rumah tangga dibangun diatas cinta itu langgeng, tapi rasanya sekarang ....” monolognya seraya berjongkok di depan pigura berukuran 50x60 centimeter.
Ia belai pipi pria berdiri gagah memakai jas dilengkapi simpul dasi berwarna navi. Senyum Herlan tampak menawan, dan mimik mukanya bangga memeluk gadis yang waktu itu baru berumur 19 tahun. “Cinta? Mengapa aku ragu ketika mendapati bukan lagi menjadi satu-satunya yang memenuhi sorot matamu Mas?”
Janti teringat bagaimana cara pandang suaminya ke istri muda — mendamba, dan berkabut hasrat menggebu.
“Dulu kamu berjanji, aku satu-satunya pemilik hatimu, sekarang apa masih sama?” tanyanya pada diri sendiri.
Ingatannya kembali menjelajah ke masa silam kala pertemuan pertamanya dengan pemuda bernama Herlan Doko.
Waktu itu umur Janti belum genap 19 tahun. Dia yang baru saja lulus sekolah menengah atas, memutuskan bekerja di warung makan milik pamannya Herlan, disanalah mereka bertemu lalu berkenalan.
Liburan seminggu pun ditambah menjadi setengah bulan. Pemuda tampan, kulit bersih dikarenakan bekerja dalam ruangan ber ac bukan di bawah terik matahari itu, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis pemalu berpipi memerah apabila dipandangi sedikit lama.
Sifat keibuan Janti membuat Herlan nyaman. Fisik si gadis mampu menarik perhatian — berkulit eksotis, memiliki bola mata coklat terang, rambut lurus panjang itu berhasil menjungkirbalikkan perasaannya.
Segala upaya dilakukan demi memikat gadis ranum yang belum pernah berpacaran. Rayuan, ajakan jalan, pujian, bahkan setiap hari Herlan memberi hadiah kecil namun berkesan di hati Arjanti.
Sebulan setelah perpisahan dikarenakan Herlan harus kembali ke kampung halaman beda kabupaten, pemuda itu datang lagi. Mencoba lebih intens mendekati, mengajak menjalin kasih, namun niatnya ditolak. Janti mengatakan enggan berpacaran.
Tiga bulan setelah penolakan, Herlan nekat bertamu ke rumah orang tua gadis yang dikejar secara ugal-ugalan. Niat diutarakan, dan semua keputusan ada di tangan Arjanti.
Orang tuanya memberinya hak untuk memilih dikarenakan yang akan menjalani biduk rumah tangga ya Janti sendiri.
Diusia masih belia, semua terlihat, terasa indah. Dia mengagumi keteguhan pemuda yang tak lelah mengejar. Pada akhirnya lamaran tanpa kehadiran orang tua si pemuda, diterima oleh Arjanti.
Tepat sebulan sebelum Janti berulang tahun yang ke-19, dia menikah dengan Herlan. Pernikahan sederhana, dihadiri orang tua dari kedua belah pihak, serta kerabat dekat saja.
Hiks, hiks ... tangis yang ditahannya sedari menjelang akad, akhirnya pecah. Janti memeluk pigura tak lagi berada ditempatnya.
“Hari ini hari pernikahan kita yang ke-4. Tak ada ucapan, doa, apalagi kejutan, kenapa kamu memilih menikah di tanggal ini Mas?!” suaranya setengah memekik.
“Empat tahun, bukan empat bulan Mas. Mengapa dihari spesial ini kamu hancurkan hatiku? Kenapa?!” tangisnya bertambah kencang.
Sayang, bukan maksud Mas mau menorehkan luka dihatimu, tapi semua karena keadaan. Mas gak tega melihatmu terus-terusan menahan sakit hati lantaran sindiran Mama yang menuntut anak. Janti, izinkan suamimu menikah lagi ya? Aku berjanji tidak akan ada yang berubah, kamu tetap pemilik hati ini.
Kalimat itu bergema di kepalanya. Sebulan yang lalu, Herlan meminta izin menikah lagi dengan alasan; menghentikan tuntutan ayah dan ibunya yang selalu menyudutkan Janti dikarenakan tak kunjung hamil.
“Selama ini aku memilih tuli terhadap caci maki ibumu, sindiran bapakmu, dan belajar ikhlas menjalani peran anak berbakti merawat ibu mertua meski selalu salah dimatanya. Semua kulakukan karena aku mencintaimu Mas,” ia keluarkan semua rasa sakit dalam dada.
Herlan adalah pria pertama, dan cinta pertamanya. Ia terlanjur mencintai sampai rela menahan sakit hati seorang diri.
Sakit sekali hatinya, bukan ucapan terima kasih atas setiap kebaikan secara cuma-cuma itu, namun tetap dicari kekurangannya. Terlebih belum juga hamil.
Janti menangis sampai tersedu-sedu. Meluapkan emosi, kesedihan, kecewa lewat suara tersendat-sendat, air mata membanjiri pipi.
Mata memerah itu memejam sebentar ketika melihat gumpalan tisu berceceran di lantai, dan selembar tepat di depan kakinya — lendir berwarna pucat seolah mengejek akan nasib menyedihkan.
“Tega kamu Mas!” Janti bergidik, bayang-bayang penyatuannya bersama Herlan ternodai dengan sosok wanita lain.
Lelah menangis, meratap, dia pun berusaha berdiri meski lutut terasa lemas, kaki goyah.
Gumpalan tisu itu ditendang masuk ke dalam kolong ranjang.
Sprei berantakan ditarik lepas, lalu bantal dan guling dilempar ke lantai.
Peraduan yang dia jaga kesuciannya, kini telah ternoda.
Aroma telur mentah bercampur dengan bau yogurt, menusuk hidung mungil wanita yang kembali meraung ketika mendapati cairan lengket, basah di kasur putih. Bukti percintaan tertinggal dan tak dibersihkan, atau memang disengaja agar dilihat Arjanti?
Janti enggan duduk maupun rebahan di kasur itu. Ia menyapukan pandangan pada ruangan luas lengkap dengan perabotan ranjang, lemari, meja rias, bufet televisi.
Terseok-seok kakinya mendekati lemari pakaian. Membuka pintu, lalu mengeluarkan tumpukan pakaiannya yang hanya memenuhi dua ruang saja.
Baju atasan, dan celana maupun rok, ditaruh diatas lantai. Kemudian Janti terduduk menghadap lemari.
Lipatan kaos di periksa demi mengambil sebuah kunci. Janti buka sebuah laci menyimpan banyak barang sengaja disembunyikan.
Buku agenda bersampul biru doff, dibuka dan lembaran berisi rincian pembayaran hutang sedari 2 tahun lalu, terbaca lagi oleh wanita yang diam-diam berusaha membeli kembali harga dirinya dalam cengkraman keluarga Doko, terutama Darti.
Tiga tahun lalu, demi pesta pernikahan mewah kakak kandungnya yang memaksa orang tua mereka menyediakan uang puluhan juta, Janti memberanikan diri meminjam ke suaminya.
Uang pun diberi tanpa ditagih dikembalikan, namun dibelakang Herlan, Darti meminta pembayaran dicicil setiap bulan.
“Satu tahun lagi hutang ini lunas, kuatkan aku Tuhan.” Ia peluk buku tersebut.
Janti juga mengambil beberapa amplop masih rapi, lalu dimasukkan ke dalam map bersama surat penting lain termasuk buku nikah.
Dengan sisa tenaga, hati nelangsa, dia mengemas barang-barang pribadi.
Pakaian Janti dipisah menjadi dua tempat penyimpanan. Ia mengambil koper dengan model ketinggalan zaman, membuka resletingnya, dan mulai memasukkan pakaian bisa dihitung jari jumlahnya. Map tadi juga dimasukkan ke sana.
Pakaian yang biasa dikenakan sehari-hari, ditaruh dalam tas kain besar, nanti akan disusun di lemari kamar lantai satu.
Setelah selesai membereskan pakaian, menyisakan baju suaminya di dalam lemari, sekarang Janti mengumpulkan pigura foto pernikahan, kebersamaannya dengan Herlan.
Lanjut barang-barang di meja rias. Ia terpaku memandangi pantulan dirinya sendiri pada cermin besar.
“Apa ini masih Arjanti yang sama dengan gadis belia berumur 19 tahun itu?”
.
.
Bersambung.
poligami kata agama, giliran ngomongin adil persi dirinya sendiri,,, kocak emang manusia....
Eitss...apakah nanti Jantinakan ketemu dama.mantannya Saila yg super.kayakah...
Tapimjanhan kasih tahu kak Ninh dulu mumpungvradaranya belum menyala..
Beda dari yang lain cara penyajian,bahasa dan juga penulisannya nggak ngebikin kita sebagai pembaca ngerasa bosan.
memilih hidup bermartabat daripada hidup yang terjajah dan selalu direndahkan
👍💪
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti