Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU RUMAH TETANGGA
Malam makin larut saat angkutan umum terakhir menurunkan Enzo di mulut gang pemukiman. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari celah selokan basah, beradu dengan ketukan pelan langkah kaki Enzo yang menelusuri lorong sempit berlantai semen. Lampu-lampu jalan berdaya rendah memancarkan cahaya kuning temaram, membias di atas dinding-dinding rumah kontrakan yang berderet rapat.
Enzo tiba di depan kamar kontrakannya di sudut paling belakang. Di samping deretan kamar sewa milik Bu Salmah itu, berdiri sebuah rumah permanen berlantai dua yang tampak lebih terawat dan luas. Rumah itu milik Pak Hendra—seorang pejabat dinas lokal yang cukup terpandang—dan istrinya, Tante Rika. Meskipun letaknya berdampingan persis, kehidupan di balik pagar besi rumah permanen itu selalu terasa asing dan tertutup bagi para penghuni kontrakan.
Enzo memutar anak kunci, membuka pintu kayu kamarnya yang berderit pelan, lalu menyalakan lampu pijar di langit-langit. Udara pengap langsung menyambutnya. Pemuda itu melepas kemeja lusuhnya yang berbau debu jalanan, menyampirkannya di sandaran kursi kayu tua, lalu berjalan ke sudut kamar mandi untuk mencuci wajah dan lengannya dengan air dingin.
Saat ia sedang mengeringkan wajahnya menggunakan handuk kecil yang sudah tipis, jam dinding plastik murah di kamarnya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Rasa lelah dari pekerjaan fisik di gudang tadi siang terasa menumpuk berat di bahunya. Enzo menghembuskan napas panjang, bersiap untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang melengkung.
Namun, sebelum punggungnya sempat menyentuh kasur, suara ketukan pintu yang terburu-buru terdengar memecah keheningan malam.
*Tok! Tok! Tok!*
Ketukan itu tidak terlalu keras, namun terdengar sangat cemas dan tidak sabar. Enzo mengerutkan keningnya, meraih kembali kaus hitam polos yang agak longgar, lalu memakainya cepat-cepat.
"Siapa malam-malam begini?" gumam Enzo heran.
Ia melangkah mendekati pintu, menggeser selot besi tua, lalu membuka daun pintu kayu itu perlahan.
Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dalam keremangan lorong. Wanita itu mengenakan daster kain batik panjang berwarna cokelat gelap dengan selendang rajut yang dilingkarkan canggung di bahunya. Rambut hitamnya yang mulai diselingi uban tipis diikat asal-asalan ke belakang. Wajahnya yang anggun dan bersih tampak pucat, dengan bulir-bulir keringat dingin menempel di dahinya. Ia adalah Tante Rika.
"Enzo... maaf banget ya Tante mengganggu jam istirahat kamu," bisik wanita berusia empat puluh dua tahun itu dengan nada suara cemas dan napas yang terengah pelan.
"Tante Rika?" tegur Enzo terkejut, refleks melangkah mundur satu tapak demi menjaga jarak sopan. "Ada apa, Tante? Ada masalah di rumah?"
Tante Rika meremas kedua telapak tangannya di depan dada, matanya bergerak panik melirik ke arah pintu samping rumahnya yang terbuka lebar. "Iya, Enzo... kran air di dapur belakang mendadak patah pas Tante mau cuci piring. Airnya menyembur deras banget, Tante nggak bisa matikan stop krannya karena dratnya macet karatan. Sekarang airnya udah meluap sampai ke area ruang makan..."
Enzo memperhatikan jemari Tante Rika yang gemetar halus. Ada kepanikan yang teramat sangat dari cara wanita itu berbicara—sebuah reaksi yang agak berlebihan untuk sekadar masalah kran air bocor, namun sangat dipahami Enzo mengingat Tante Rika berada di rumah sebesar itu sendirian.
"Pak Hendra belum pulang, Tante?" tanya Enzo polos.
Raut wajah Tante Rika mendadak berubah redup selama sepersekian detik. Senyum canggung yang dipaksakan muncul di bibirnya yang agak kering. "Bapak... Bapak masih ada urusan dinas luar kota sampai lusa, Enzo," jawab Tante Rika pelan, memalingkan pandangannya ke bawah. "Tante bingung mau minta tolong sama siapa lagi malam-malam begini. Bu Salmah udah tidur rapat..."
Enzo tidak membuang waktu untuk bertanya lebih jauh. Ia membalikkan badan, menyambar kunci inggris tua dan tang jepit berkarat dari dalam kotak perkakas plastik kecil di bawah mejanya.
"Biar saya cek sekarang, Tante," kata Enzo tegas seraya melangkah keluar kamar dan mengunci pintunya.
"Aduh, terima kasih banyak ya, Enzo..." bisik Tante Rika lega seraya berjalan cepat menuntun Enzo menuju pintu samping rumahnya.
Enzo melangkah masuk melewati pintu dapur samping yang terbuka. Begitu kakinya menapak di atas lantai keramik bersih rumah Tante Rika, pendengarannya langsung disambut oleh suara gemericik air yang deras. Air jernih tampak sudah menggenang setinggi mata kaki di area dapur bersih, meluap pelan menuju batas karpet ruang keluarga.
Di sudut dapur, sebuah kran besi di atas tempat cuci piring patah di bagian leher pipa, menyemburkan air cukup tinggi ke udara dan membasahi lemari gantung kustom di atasnya.
"Stop kran utamanya di mana, Tante?" tanya Enzo seraya menyingsingkan lengan kaus hitamnya hingga ke siku.
"Di pojok bawah bak cuci piring, Enzo. Tapi kuncinya keras banget, Tante tadi coba putar pakai tangan malah lecet," jawab Tante Rika cemas seraya menunjuk ke celah pintu kayu di bawah tempat cuci piring.
Enzo langsung berlutut di atas lantai keramik yang basah, tidak peduli celana jinsnya mulai menyerap air dingin. Ia membuka pintu kayu di bawah tempat cuci piring, menyalakan senter dari ponselnya yang ia jepit di antara gigi, lalu mengamati pipa besi tua yang sudah tertutup kerak kapur cokelat.
Dengan cengkeraman tang jepit yang mantap, Enzo memegang leher stop kran yang macet. Pemuda itu mengencangkan otot fisiknya, menekankan tangannya dengan sudut yang tepat, lalu memutar tuas besi itu perlahan-lahan. Suara gesekan logam berkarat terdengar keras di dalam ruang dapur yang hening.
*Klek!*
Tuas besi itu akhirnya berputar separuh lingkaran. Semburan air deras dari kran yang patah di atas mendadak surut, berganti menjadi tetesan pelan yang akhirnya berhenti total.
Suasana dapur mendadak menjadi sangat lengang. Hanya ada suara napas Enzo yang agak memburu dan gemericik sisa air yang mengalir menuju lubang pembuangan lantai.
Enzo menghembuskan napas panjang, mengelap peluh di dahinya dengan lengan kausnya yang tidak terlalu basah, lalu bangkit berdiri seraya mematikan senter ponselnya. Kaus hitamnya di bagian dada dan paha celananya sudah basah kuyup akibat cipratan air tadi.
"Sudah mati airnya, Tante," kata Enzo seraya meletakkan tang jepitnya di tepi bak cuci piring. "Nanti besok pagi kran yang patah ini harus diganti drat baru. Malam ini stop krannya jangan dibuka dulu."
Tante Rika berdiri mematung di dekat meja makan, menatap kran yang sudah tidak menyemburkan air lagi dengan mata berbinar terharu. Ia mengambil selembar handuk kering yang bersih dari atas rak kain, lalu melangkah mendekati Enzo dengan terburu-buru.
"Ya ampun, Enzo... baju kamu sampai basah kuyup begini," bisik Tante Rika seraya menyodorkan handuk kering itu pada Enzo dengan kedua tangannya. "Maafkan Tante ya, malam-malam begini malah merepotkan kamu sampai kaya begini."
"Nggak apa-apa, Tante. Cuma basah air biasa, nanti juga kering," jawab Enzo ramah seraya menerima handuk tersebut dan mengelap rambut serta lehernya yang terkena cipratan.
Saat Enzo mengembalikan handuk itu, pandangannya tak sengaja mengedari ruang dalam rumah Tante Rika. Rumah dua lantai itu sangat indah, rapi, dan dipenuhi perabotan kayu jati yang mahal. Namun, di balik kemewahan itu, ada keheningan yang luar biasa tebal yang mengendap di setiap sudut ruangan. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada pernak-pernik anak muda, tidak ada tanda-tanda kehangatan keluarga. Rumah besar itu terasa dingin, kosong, dan hening seperti kuburan.
Enzo menatap Tante Rika yang sedang merapikan selendang di bahunya. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada Enzo, tetapi matanya menyimpan keletihan dan rasa kesepian yang amat dalam—rasa kesepian seorang istri yang terbiasa ditinggal sendirian di dalam rumah besar tanpa ada tempat untuk bersandar.
"Tante tinggal sendirian di rumah sebesar ini kalau Pak Hendra dinas?" tanya Enzo polos tanpa maksud menginterogasi.
Tante Rika tertegun sejenak. Sorot matanya redup, lalu ia mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis yang agak pahit. "Iya, Enzo. Anak Tante yang satu-satunya kan kuliah di luar pulau. Bapak juga sibuk banget sama urusan kantornya, jarang banget bisa pulang tepat waktu..."
Wanita itu menghentikan kalimatnya, mengusap ujung meja makan kayu dengan jarinya secara canggung, seolah baru saja menyadari bahwa ia terlalu banyak bercerita pada pemuda tetangga kontrakannya.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Enzo," sambung Tante Rika cepat, berusaha mengalihkan suasana. "Kalau nggak ada kamu, Tante benar-benar nggak tahu harus bagaimana malam ini."
"Sama-sama, Tante. Kalau ada apa-apa lagi yang rusak, panggil saya saja," balas Enzo jujur seraya tersenyum tipis.
Enzo menyambar perkakasnya, mengucapkan salam pamit, lalu melangkah keluar melewati pintu samping menuju lorong kontrakan. Saat ia berjalan menyusuri semen dingin dengan pakaian yang basah kuyup, ponsel tua di saku celananya bergetar pelan satu kali.
Enzo merogoh ponselnya, melirik layar kaca retak yang menyala redup di tengah kegelapan malam.
[Pembaruan Data Interaksi: Tante Rika (42 Tahun).]
[Status: Bantuan Teknis Berhasil.]
[Analisis Psikologis: Rasa aman dan dihargai terdeteksi pada target.]
[Tingkat Keterikatan Awal Terdeteksi: 8%]
Enzo menatap angka delapan persen itu sejenak sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia memutar kunci pintu kamarnya, melangkah masuk ke dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu. Sambil melepas kausnya yang basah, Enzo menatap dinding semen yang membatasi kamarnya dengan rumah besar Tante Rika. Di balik tembok tebal dan rumah mewah itu, ia kini tahu ada seorang wanita yang sedang duduk sendirian menatap keheningan malam.