Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemput Terang-terangan 18.
Suara deru mesin motor sport hitam itu perlahan menjauh, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang mendadak mencekik di depan gerbang SMA Pelita Bangsa.
Novia masih berdiri mematung. Tatapannya kosong, menatap aspal jalanan tempat ban motor pacar Caca baru saja melintas.
Ditinggal sendirian saat dunianya sedang porak-poranda rasanya seperti dilempar ke tengah laut tanpa pelampung.
Caca adalah satu-satunya ruang aman yang tersisa setelah huru-hara di kantin dan toilet tadi. Kini, ruang itu pun mendadak tertutup oleh perayaan anniversary dua bulan yang sama sekali tidak Novia ketahui.
Novia menghela napas panjang, meremas tali tas ranselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Angin sore berembus agak kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang berantakan.
Rasa lelah yang sempat teralihkan oleh emosi kini datang lagi, melipatgandakan berat di kedua pundaknya. 'Gue cuma mau pulang. Tidur. Dan pura-pura kalau hari ini gak pernah ada' batinnya lelah.
Baru saja Novia hendak melangkah menuju halte angkutan umum yang berjarak seratus meter dari gerbang, sebuah klakson mobil berbunyi pendek.
Tin!
Sebuah sedan hitam metalik yang sangat Novia kenali meluncur lambat, lalu berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil bagian depan perlahan turun, menampilkan sosok cowok dengan rahang tegas dan tatapan mata sedingin es.
Reyhan.
Cowok itu sudah melepas dasi OSIS-nya. Dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, memberikan kesan acak-acakan yang justru membuatnya terlihat berkali lipat lebih menawan. Namun, yang membuat fokus Novia tersita adalah tangan kanan Reyhan yang masih terbalut perban putih bersih, mencengkeram lingkar kemudi dengan erat.
"Naik," perintah Reyhan. Nada suaranya datar, tanpa intonasi, mirip seperti saat dia memerintah Novia untuk membersihkan lantai kantin tadi siang.
Novia bergeming. Dia menatap ke dalam mobil, lalu melirik ke sekitar gerbang sekolah.
Meski jam pulang sudah lewat lima belas menit yang lalu, masih ada beberapa gerombolan siswa yang nongkrong di depan pos satpam dan warung seberang jalan.
"Nggak usah. Gue naik angkot," tolak Novia pelan namun sarat akan penolakan. Dia tidak ingin mengambil risiko lebih besar setelah ancaman Laura di toilet.
Reyhan mendengus samar. Tatapannya menajam, mengunci manik mata Novia yang mulai menyiratkan kepanikan. "Gue gak suka ngulang kalimat gue, Novia. Naik sekarang atau gue turun dan tarik lo masuk."
"Rey, lo gila?!" bisik Novia setengah tertahan, memajukan tubuhnya agar suaranya tidak terdengar orang lain. "Laura baru aja nyergap gue di toilet. Dia udah curiga setengah mati. Kalau ada yang lihat kita pulang bareng, rahasia kita selesai!"
"Gue gak peduli sama Laura," potong Reyhan cepat. Suaranya terdengar mutlak. "Dan gue gak akan biarkan istri gue telantar di pinggir jalan sore-sore begini dalam kondisi kayak mayat hidup. Naik, Novia. Jangan bikin gue hilang kesabaran."
Kata 'istri' yang diucapkan Reyhan dengan begitu kasual—meski suaranya sangat rendah—sukses membuat jantung Novia berdetak abnormal.
Ada rasa hangat yang aneh sekaligus ngeri yang menjalar di dadanya. Namun, sebelum dia sempat berdebat lagi, Reyhan sudah memindahkan tuas gigi dan bersiap membuka pintu kemudi.
Panik kalau Reyhan benar-benar nekat turun, Novia akhirnya menyerah.
Dengan gerakan cepat dan setengah panik, dia membuka pintu penumpang depan, menyelinap masuk, dan menutupnya rapat-rapat.
Begitu pintu tertutup, keheningan instan menyergap.
Reyhan tidak langsung melajukan mobilnya. Dia berbalik setengah badan, menatap Novia yang langsung memalingkan wajah ke arah jendela. Detik berikutnya, tangan kiri Reyhan bergerak menyeberangi jarak di antara mereka.
Novia sempat menahan napas, mengira cowok itu akan melakukan sesuatu yang intim.
Ternyata, tangan Reyhan hanya menarik sabuk pengaman di samping bahu Novia dan memasangkannya hingga terdengar bunyi klik.
Jarak mereka begitu dekat hingga Novia bisa mendengar deru napas Reyhan yang teratur. Harum tubuh cowok itu membuat kepalanya semakin pening.
"Lain kali, jangan pernah nantang Laura kalau lo gak punya tameng," ucap Reyhan rendah, tepat di samping telinga Novia, sebelum kembali ke posisi duduknya.
Novia menoleh cepat, matanya melebar. "Lo... lo tahu?"
"Gue Ketua OSIS, Novia. Apapun yang terjadi di lingkungan Pelita Bangsa, telinga gue selalu sampai ke sana," sahut Reyhan tenang sembari mulai menginjak pedal gas, membawa sedan hitam itu membelah jalanan sore. "Termasuk drama lo yang sok berani di toilet perempuan."
Novia mencibir, rasa gengsinya kembali terusik. "Gue gak sok berani. Dia yang duluan nyari perkara. Lagian, lo gak usah sok tahu. Tadi di kantin lo juga jahat banget, nyuruh gue bersihin lantai kayak babu!"
Mobil mendadak melambat saat melewati polisi tidur di dekat gerbang luar.
Reyhan menghela napas, jemarinya yang terbalut perban mengetuk kemudi dengan ritme konstan. "Gue lagi menyelamatkan muka lo, bodoh. Kalau gue gak bersikap dingin dan bikin cerita soal properti baksos, Laura gak akan berhenti sampai dia nemu bukti kalau kita tinggal serumah."
"Tapi gak perlu sekasar itu, Reyhan!" Nada suara Novia meninggi, matanya mulai berkaca-kaca saat rasa sakit yang dia tahan sejak siang akhirnya tumpah. "Lo gak tahu rasanya ditatap kasihan sama seisi kantin! Lo gak tahu rasanya dituduh yang enggak-enggak!"
Reyhan menghentikan mobilnya tepat di pembatas jalan luar sekolah karena lampu merah.
Dia menoleh sepenuhnya ke arah Novia. Tatapan matanya yang semula sedatar tembok perlahan melunak, menyiratkan secercah rasa bersalah yang teramat dalam yang selama ini selalu dia sembunyikan di balik topeng ketegasannya.
"Gue tahu," bisik Reyhan, suaranya mendadak serak. Tangan kirinya bergerak, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mendarat di atas pergelangan tangan Novia yang masih menyisakan bekas kemerahan akibat cengkeraman Laura tadi. Ibu jarinya mengusap kulit memar itu dengan sangat lembut, seolah takut menyakiti Novia lebih jauh.
Sentuhan itu terasa begitu nyata, begitu hangat, hingga mampu merontokkan seluruh dinding pertahanan yang Novia bangun sejak pagi.
Rasa sesak di dadanya mendadak menguap, digantikan oleh debaran yang kian tak keruan.
"Maaf," ucap Reyhan lagi, matanya menatap dalam ke manik mata Novia. "Maaf karena tangan gue yang luka ini malah bikin lo susah. Dan maaf... karena gue harus pura-pura gak kenal lo di depan mereka."
Novia terpaku. Hatinya seperti terkoyak menjadi dua bagian—satu bagian merasa terluka oleh realitas pernikahan rahasia mereka, dan sebagian lagi meleleh oleh perhatian kecil cowok di hadapannya ini. Dia ingin menarik tangannya, tapi kehangatan jemari Reyhan terlalu egois untuk dilepaskan.
Namun, momen intim di dalam mobil itu mendadak buyar oleh sebuah ketukan keras di kaca jendela samping Novia.
Tok! Tok! Tok!
Novia terlonjak kaget. Dia langsung menarik tangannya dari genggaman Reyhan dan menoleh ke samping.
Di luar sana, berdiri seorang cowok dengan seragam yang sama persis dengannya.
Tas ranselnya disampirkan di satu bahu, dan matanya membelalak lebar menembus kaca mobil yang untungnya agak gelap—namun tidak cukup gelap untuk menyembunyikan siluet dua orang di dalamnya jika dilihat dari jarak sedekat ini.
Itu Dimas. Teman sekelas mereka di kelas XII A sekaligus anggota seksi humas OSIS yang terkenal bermulut ember.
Dimas menempelkan wajahnya ke kaca, berusaha memastikan penglihatannya.
Jantung Novia rasanya berhenti berdetak saat melihat bibir Dimas bergerak membentuk sebuah kata yang sangat jelas terbaca dari gerak bibirnya:
"No... via?"
Dan mata Dimas perlahan bergulir ke arah kursi kemudi, menatap sosok cowok yang berada di samping Novia.
......................
...****************...
Tbc,