NovelToon NovelToon
Sang Pemain

Sang Pemain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: SelToon

Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Janji Di Atas Perahu Bocor

Pada malam itu , Tuminting mati lampu.

Bukan pemadaman. Memang listrik di lingkungan mereka cuma menyala sampai jam 9 malam. Lewat dari itu , semua rumah pakai lampu petromaks atau lilin.

Rumah Bima gelap. Hanya ada satu lilin kecil di tengah ruangan yang apinya sedang bergoyang - goyang karena angin laut masuk dari sela papan.

Lutut Bima perih. Daun jambu yang ditempel Dodi tadi siang sudah kering dan gatal. Mira sudah tidur di sebelahnya , napasnya bunyi ngik ngik lagi. Asmanya kumat karena debu yang masuk dari celah - celah papan.

Bapak belum tidur. Bima bisa melihat siluet Bapak ada di luar , di dekat perahu.

Perahu Bapak namanya Sinar Mira. Catnya sudah mengelupas semua. Kayunya dimakan air asin. Di satu sisi ada lubang kecil yang ditambal pakai terpal bekas. Kalau hujan , perahu itu bocor.

Bapak sedang menambal lubang itu lagi pakai ter , dan pakai palu , dia kerjakan sendirian di bawah sinar bulan.

Bima keluar. Masih pakai celana pendek yang lututnya sobek.

"Pak."

Bapak menoleh dan tidak terlihat kaget. "Belum tidur ?"

Bima duduk di bibir perahu. Perahu itu goyang. Bau amis dan solar menusuk hidung.

Bima melihat tangan Bapak. Tangan yang penuh kapalan , kuku yang berwarna hitam. Ada luka baru di jempol , berdarah sedikit karena terkena paku.

"Apa sakit ?" Bima menunjuk luka itu.

Bapak melihat tangannya sendiri seperti baru sadar ada luka. "Nda. Sudah biasa."

Hening , hanya ada suara ombak dan suara palu Bapak yang dipukul pelan biar tidak membangunkan tetangga.

Lalu Bapak bicara lagi , tanpa melihat kearah Bima.

"Tadi siang , Bapak lia ngana main."

Bima kaget. Jantungnya dug dug lagi.

"Bapak pulang cepat. Dari ujung gang , Bapak lia ngana jadi kiper , lalu kamu jatuh."

Bima menunduk , malu. Dia kira aksi penyelamatan tadi itu keren , ternyata di mata Bapak itu cuma jatuh konyol.

"Tapi pas ngana tendang bola ke got , Bapak lia..." Bapak berhenti memalu. Dia akhirnya menatap Bima. Matanya di bawah sinar bulan terlihat basah. "Bapak lia ngana pe kaki. Kuat."

Bima tidak mengerti.

"Kaki ngana sama deng kaki Opa Johanis dulu" lanjut Bapak. Suaranya pelan sekali. "Opa kalau di perahu , ombak bagaimanapun dia tetap berdiri. Kaki ngana tadi juga begitu. Jatuh , tapi langsung berdiri lagi. Tidak lama berada di tanah."

Bima diam. Dia tidak pernah dengar Bapak bicara sepanjang ini.

Bapak mengambil bola plastik oranye Bima yang sudah kempes total dan sobek sedikit , yang Bima taruh di dalam perahu.

Bapak mengelus bola itu.

"Bima Arka Pradipta" Bapak berkata nama lengkapnya. Bapak jarang panggil nama lengkap. "Bapak cuma nelayan. Bapak cuma tau laut. Kalau laut marah , kita tidak bisa lawan , kita cuma bisa bertahan. Tapi bola... Bapak tidak tau tentang bola."

Bima mengangguk.

"Kalau ngana mau jadi pemain bola , boleh" kata Bapak. Kalimat itu keluar dengan berat. "Tapi janji satu hal."

"Apa , Pak ?"

Bapak menunjuk kearah perahu bocor itu , lalu menunjuk ke rumah papan mereka yang lampunya sudah mau padam.

"Jangan janji mo jadi hebat untuk orang lain , jangan janji mo jadi terkenal , janji mo jadi kuat untuk Mama deng Mira. Supaya kita tidak perlu lagi tidur deng ember bocor. Supaya Mira boleh berobat bukan pakai daun jambu."

Air mata Bima jatuh. Kali ini dia tidak tahan.

Dia pegang tangan Bapak yang kasar itu dengan dua tangan kecilnya.

"Janji , Pak. Bima janji."

Malam itu , di atas perahu bocor Sinar Mira , di bawah bulan , dan di antara bau amis ikan dan ter , anak 8 tahun dan bapak 42 tahun itu berjanji.

Bukan janji pemain bola dan ayahnya.

Tapi janji dua laki - laki Pradipta.

Bapak lalu ambil sesuatu dari kantong celananya. Sebuah paku besar dan seutas kawat.

Dia tusuk bola plastik oranye itu, lalu dia jahit sobekannya pakai kawat itu.

"Besok masih bisa pakai" kata Bapak sambil mengembalikan bola yang sekarang ada jahitan kawat mengkilap di tengahnya. "Tendangan got ngana."

Bima memeluk bola itu.

Dari dalam rumah , suara Mama memanggil pelan "Yosua , Bima , masuk. Angin so kuat."

Bapak menggendong Bima turun dari perahu.

Untuk pertama kalinya , Bima merasa dia tidak dipanggil Arka Lumpur.

Di pundak Bapaknya , malam itu , dia adalah Bima Arka Pradipta , sang anak kecil yang sedang bermimpi untuk menjadi pemain bola profesional suatu saat nanti.

#####################################

Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya

Happy reading

1
fabdul
thor kenapa ga update lagi?
fabdul
lanjut thor
fabdul
Sinta melihat kearah Nadia dengan tatapan bingung. "Om Bima, Tante ini siapa? itu enak dibaca nya thor 🥰
Jesselyn Runtuwene: Ok , nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
cerita mu seru thor cuman penulisan kurang menarik dan bikin pusing bacanya. tolong perbaiki ya thor ini cuman saran kalo pun tidak diperbaiki tidak apa-apa 🤗
Jesselyn Runtuwene: Oke , nanti dibaca ulang dan direvisi
total 3 replies
fabdul
Thor penulisannya lebih enak jika. Nadia, kamu masih ingat saya? jadi enak bacanya nggak ada spasi pas tanda koma di belakang nama Nadia dan kata Saya
Jesselyn Runtuwene: Ok siap nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
thor masukan sedikit ya. aku ga enak bacanya karena kebanyakan koma 🙏
Jesselyn Runtuwene: Bab 3 dan 4 sudah direvisi juga
total 3 replies
fabdul
lanjut
fabdul
😭😭
fabdul
bab masih sudah banyak ya thor, ketinggalan jauh
fabdul
semangat nulis nya
Jesselyn Runtuwene: Siap , makasih kak
total 1 replies
fabdul
thor novel mu ini sudah di kontrak?
fabdul: iya thor
total 2 replies
fabdul
wah semangat Bima
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
oh iya kah thor? berarti aku yang naik kapal laut ga diterima sama laut karena sering muntah dalam perjalanan 😭
fabdul: hahahaha 😭
total 2 replies
fabdul
maklum anak Kota baru turun gunung 😭
fabdul
😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!