Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 20
Subuh menjelang, Zheana terbangun seperti biasa untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Dia masih mengenakan jilbab instannya saat tidur namun saat melihat ke sebelah dia terlihat kaget. Menatap sisi tempat tidur di sebelahnya. Kosong. Bantal dan guling yang semalam ia susun rapi sebagai pembatas sama sekali tidak tersentuh. Sepertinya Khadafy tidak tidur di kamar.
"Mas Khadafy...?" bisik Zheana panik.
Dia segera masuk ek adalam kamar mandi dan setelah selesai beribadah dia keluar dan mendorong pintu dengan sangat pelan. Langkah kakinya tanpa alas bersentuhan langsung dengan lantai marmer yang dingin.
Pandangan Zheana seketika terkunci pada sofa panjang di ruang tengah. Di sana, Khadafy terlelap dalam posisi miring yang tampak menyiksa. Pria bertubuh tinggi tegap itu harus melipat sedikit kakinya agar muat di atas sofa, dengan selimut tipis yang meluncur hampir jatuh ke lantai. Kemeja semalam yang ia kenakan kini agak kusut, dan wajah tegasnya terlihat lelah.
Zheana menutup mulutnya dengan kedua tangan, dadanya dihantam rasa bersalah yang amat sangat.
'Ya Allah... Mas Khadafy benar-benar tidur di sofa semalaman?' batin Zheana meratapi kebodohannya sendiri.
Ia ingat betapa nyenyaknya ia tidur di atas kasur king size yang empuk dan hangat, sementara suaminya sang pemilik apartemen mewah ini justru menekuk tubuhnya di atas sofa dingin demi menjaganya agar merasa nyaman dan aman.
Dengan langkah sepelan mungkin, Zheana mendekati sofa. Ia membungkuk perlahan, meraih ujung selimut yang jatuh dan menariknya kembali hingga menutup dada Khadafy.
Saat jemari Zheana yang dingin menyentuh kain selimut di dekat bahu Khadafy, pria itu bergerak gelisah. Kelopak matanya perlahan terbuka, menampilkan manik mata tajam yang semula sayu karena kantuk, kini menatap lurus ke arah Zheana yang berdiri membeku di dekatnya.
"Zhea...?" suara Khadafy terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Pria itu memosisikan tubuhnya untuk duduk, mengusap wajahnya kasar seraya membetulkan kemejanya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam lima lewat sedikit, Mas..." jawab Zheana terbata, refleks mundur satu langkah karena malu tertangkap basah.
"Mas Khadafy... kenapa tidur di sini? Kenapa nggak tidur di kamar semalam?"
Khadafy menyisir rambut bagian depannya yang sedikit berantakan dengan jemarinya, lalu menoleh pada Zheana dengan tatapan tenang.
"Kamu tidur nyenyak semalam?" bukannya menjawab, Khadafy justru bertanya balik.
"Zhea tidur nyenyak banget, Mas... Tapi bukan itu masalahnya!" celetuk Zheana dengan raut wajah amat tidak enak hati. Bibirnya mencebik kecil, matanya berkaca-kaca menatap Khadafy.
"Zhea merasa berdosa sekali... Zhea ini istri Mas Khadafy, tapi Zhea malah menguasai kamar dan membiarkan suaminya tidur kesakitan di sofa semalaman. Badan Mas pasti pegal-pegal, kan?"
Khadafy memiringkan kepalanya, menatap Zheana yang memasang raut bersalah dengan binar geli di matanya. Bibirnya mengukir senyum tipis yang amat menawan.
"Badanku baik-baik saja, Zhea. Sofanya empuk," dusta Khadafy pelan untuk menenangkan istrinya, meski sejujurnya lehernya terasa agak kaku. Ia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Zheana.
"Semalam aku menyelesaikan beberapa dokumen kantor sampai larut di meja kerja. Daripada membangunkanmu yang sudah lelap, lebih baik aku tidur di sini."
"Tapi tetap saja, Mas..." bisik Zheana menunduk dalam-dalam.
"Harusnya Mas bangunkan Zhea..."
Khadafy melangkah satu kali mengikis jarak, memegang lembut kedua bahu Zheana.
"Dengarkan aku. Kamu baru saja melewati hari yang sangat berat kemarin. Kamu butuh istirahat tanpa cemas. Jadi, berhenti merasa bersalah, paham?"
Zheana mendongak, bertatap mata dengan Khadafy. Kehangatan di suara pria itu selalu berhasil meruntuhkan rasa takutnya. Ia akhirnya mengangguk pelan.
"Iya, Mas..."
"Bagus. Sekarang aku mau mandi dulu, ada jadwal rapat pagi jam delapan," ujar Khadafy melepas pegangannya di bahu Zheana, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Melihat punggung suaminya yang menghilang di balik pintu, Zheana menarik napas panjang. Rasa tidak enak hatinya tidak bisa hilang begitu saja jika ia hanya diam. Matanya beralih menatap area dapur bersih yang tampak sangat rapi dan jarang tersentuh.
"Aku harus buatkan sarapan buat Mas Khadafy," gumam Zheana mantap.
Dengan cepat Zheana melangkah ke dapur, membuka lemari pendingin besar dua pintu milik Khadafy. Beruntung, kulkas itu terisi penuh oleh bahan makanan segar yang tampaknya disiapkan rutin oleh asisten rumah tangga ada telur, roti gandum, keju, mentega, buah-buahan, sayuran, dan beberapa potong dada ayam segar.
Zheana menyingsingkan lengan bajunya. Rasa canggung yang semalam membelenggu seketika sirna begitu ia berada di wilayah kekuasaannya, dapur. Jemarinya yang terampil bekerja cepat dan cekatan. Ia mencuci sayuran, mengocok telur, meracik bumbu sederhana, serta memanggang roti hingga aroma gurih dan wangi mentega yang menggugah selera mulai memenuhi seluruh penjuru apartemen.
Dua puluh menit kemudian, Khadafy keluar dari kamar tidur. Pria itu sudah rapi memakai kemeja biru gelap yang digulung rapi hingga ke siku, celana bahan hitam, dan rambut yang tertata rapi serta basah segar.
Langkah Khadafy terhenti di ambang lorong. Hidungnya menghirup aroma lezat masakan yang tak pernah ada di apartemennya selama ini. Pandangannya terkunci pada sosok Zheana yang sibuk di balik meja kitchen island, membelakanginya seraya menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
Suasana dingin dan sepi yang biasanya menyambut pagi Khadafy di tempat tinggalnya ini, mendadak berubah menjadi begitu hangat dan hidup. Ada getaran asing yang menghangatkan dadanya, sebuah perasaan rumah yang sesungguhnya. Apakah bersama dengan Niken juga akan seperti ini? Ah, spertinya tidak, bahkan Niken membuatkan kopi untuknya saja enggan.
"Mas Khadafy?" tegur Zheana saat berbalik dan mendapati suaminya berdiri mematung menatapnya. Zheana tersenyum manis, memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Sudah selesai mandinya, Mas? Pas banget, sarapannya baru selesai."
Khadafy menarik napas dalam, lalu melangkah mendekati meja makan. Matanya berbinar menatap hidangan di atas meja: omelet lembut berisi keju dan sayuran, roti gandum panggang dengan butter, salad segar, serta secangkir teh chamomile hangat yang berasap tipis.
"Kamu... memasak semua ini?" tanya Khadafy seraya memiringkan wajahnya menatap Zheana.
"Iya, Mas. Maaf ya kalau menunya kurang Mas suka," sahut Zheana agak gugup, menarikkan salah satu kursi bar untuk Khadafy.
"Zhea cuma pakai bahan yang ada di kulkas. Mas Khadafy biasa makan apa kalau pagi? Semoga rasanya cocok di lidah Mas..."
Khadafy duduk di kursi yang disiapkan Zheana. Ia meraih garpu dan pisau, lalu memotong sebagian omelet dan memasukkannya ke dalam mulut.
Zheana menahan napasnya, berdiri kaku di samping meja seraya meremas celemek kain yang dipakainya. Matanya tak lepas memperhatikan setiap gestur wajah Khadafy.
"Gimana, Mas? Kepedasan? Atau kurang garam?"
Khadafy mengunyah perlahan, lalu menghembuskan napas puas. Ia menengadah, menatap istrinya dengan sorot mata hangat yang dipenuhi rasa kagum.
"Enak sekali, Zhea," puji Khadafy tulus. "Ini sarapan terbaik yang pernah aku makan di apartemen ini."
Seketika, rona merah muda merekah heboh di kedua pipi Zheana. Napas lega lolos dari bibirnya, diiringi senyuman lega yang amat cantik.
"Alhamdulillah... Zhea senang kalau Mas Khadafy suka."
"Duduklah, kita makan sama-sama," panggil Khadafy menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Mulai sekarang, kalau kamu masak, kamu harus makan bersamaku. Jangan cuma melayaniku."
"Tapi Mas..."
"Ini perintah suami," potong Khadafy santai dengan sudut bibir terangkat tipis.
Zheana terkekeh pelan, lalu menarik kursi dan duduk di samping Khadafy. Pagi yang semula diawali dengan canggung dan rasa bersalah. Dunianya kini mulai berubah, dengan status yang juga sudah berubah. Dalam pikiran Zheana sederhana, dia hanya akan menjalankan kewajiban sebagai istri Khadafy sampai wanita yang di cintai Khadafy datang.