Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Ingatan Masa Lalu dan Sebuah Transaksi 2
Tatapan Ye Xuan berhenti pada sebuah kotak kayu berukir indah di dalam etalase utama. Di dalamnya terdapat sebuah akar ginseng yang terlihat sangat kering dan berkerut. Label harga di depannya tertulis, Ginseng Darah Gunung Bersalju - Usia 50 Tahun - 20.000 Yuan.
"Hahhhhh..." Ye Xuan menghela napas pelan, lalu mengetuk kaca etalase itu dengan buku jarinya. "Paman, keberanianmu dalam menipu pelanggan di kawasan ini cukup mengesankan. Apakah kau tidak takut ada kultivator pemarah yang menghancurkan tokomu?"
Tangan pria tua itu yang sedang memegang pipa tembakau tiba-tiba berhenti di udara. Dia akhirnya menatap wajah remaja berseragam sekolah lusuh di depannya. Matanya memancarkan sedikit aura permusuhan.
"Bocah, apa yang kau bicarakan? Jangan sembarangan membuka mulut jika kau tidak ingin gigimu rontok," ancam pria tua itu dengan suara berat. Dia meletakkan pipanya, memancarkan sedikit tekanan energi Qi tingkat dasar untuk menakuti Ye Xuan.
Bagi orang awam, tekanan itu akan membuat mereka sesak napas. Namun bagi Ye Xuan yang memiliki mental baja, tekanan Qi rendahan itu bahkan tidak terasa seperti hembusan angin.
"Ginseng itu bukan Ginseng Darah berusia 50 tahun," ucap Ye Xuan dengan sangat tenang. Dia menatap langsung ke mata pria tua itu tanpa berkedip. "Itu hanyalah Akar Merah biasa dari lereng bukit selatan yang direndam dengan darah ayam jantan yang dicampur bubuk belerang selama seminggu, lalu dikeringkan dengan cara dipanggang. Garis serat di bagian pangkalnya terputus, dan warnanya terlalu gelap untuk sebuah Ginseng Darah asli yang seharusnya memancarkan sedikit warna merah transparan jika terkena cahaya."
Keheningan yang sangat canggung langsung menyelimuti toko itu.
Wajah pria tua itu seketika pucat pasi. Matanya melotot lebar seolah melihat hantu. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya. Tekanan Qi-nya langsung lenyap tak berbekas.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu proses pembuatannya sedetail itu?!" batin pria tua itu menjerit panik. Bahkan tabib senior di kawasan ini pun tidak ada yang menyadari pemalsuan tingkat tinggi yang dia buat, tapi seorang bocah SMA gelandangan bisa membongkarnya hanya dengan sekali lihat dari balik kaca etalase!
Ye Xuan tersenyum tipis, sangat dingin dan penuh perhitungan. "Jika ada keluarga beladiri yang membeli barang palsu ini untuk terobosan kultivasi dan mereka mengalami serangan balik... menurutmu, apakah kepalamu masih akan menempel di lehermu besok pagi, Paman?"
Pria tua itu menelan ludah dengan susah payah. Kakinya sedikit gemetar. Dia menyadari bahwa remaja di depannya ini bukanlah orang sembarangan. Pandangan mata bocah ini seperti monster tua yang sudah hidup ratusan tahun.
"Apa... apa maumu?" tanya pria tua itu dengan suara bergetar, menyerah sepenuhnya.
"Mudah saja," jawab Ye Xuan. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan kedua tangannya di atas kaca etalase. "Satu set jarum perak akupunktur kualitas menengah, sebuah jubah hitam panjang bertudung, dan lima ratus yuan uang tunai. Berikan padaku sekarang, dan rahasiamu akan aman."
Pria tua itu mengertakkan giginya. Lima ratus yuan dan satu set jarum perak bukanlah jumlah yang besar dibandingkan dengan nyawanya. Tanpa banyak bicara, dia bergegas ke ruang belakang.
Beberapa menit kemudian, dia kembali dan meletakkan sebuah gulungan kain kulit berisi jarum perak yang berkilau tajam, sebuah jubah hitam yang sering dipakai petarung jalanan, dan lima lembar uang kertas merah di atas meja.
Ye Xuan mengambil barang-barang itu dengan santai. Dia memasukkan uangnya ke dalam saku, lalu memasang jubah hitam itu menutupi seragam sekolahnya. Terakhir, dia menarik tudung jubah itu hingga menutupi sebagian besar wajahnya, menyisakan sepasang mata gelap yang memancarkan aura membunuh yang tenang.
"Terima kasih atas kerja samanya, Paman. Sampai jumpa lagi."
Kringgg...
Ye Xuan melangkah keluar dari toko, kembali membaur dengan kegelapan malam Kota Jinghai, meninggalkan pria tua itu yang jatuh terduduk di kursinya dengan napas tersengal-sengal.
Pukul sebelas malam. Rumah Sakit Swasta Jinghai, Pusat Perawatan VVIP.
Lantai teratas rumah sakit ini telah diblokir sepenuhnya dari publik. Puluhan pria berpakaian jas hitam dengan postur tubuh tegap dan otot yang menonjol berjaga di setiap sudut lorong. Mereka bukanlah penjaga keamanan biasa, melainkan para kultivator bela diri tingkat rendah yang disewa langsung oleh Keluarga Song. Hawa membunuh dan kewaspadaan yang sangat tinggi terasa pekat di udara.
Di dalam kamar rawat inap terbesar yang terlihat seperti suite hotel bintang lima, suasana dipenuhi oleh keputusasaan.
Berbagai macam mesin medis modern berdengung dan berbunyi secara ritmis. Di atas ranjang pasien berukuran besar, terbaring seorang pria tua dengan rambut beruban. Dia adalah Song Tianming, Patriark Keluarga Song.
Kulit pria tua itu berwarna biru pucat, urat-urat di wajahnya menghitam dan menonjol keluar. Tubuhnya bergetar pelan meskipun dia sedang tidak sadarkan diri. Ruangan itu terasa sangat dingin, seolah ada balok es raksasa yang diletakkan di tengah-tengah kamar.