Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN PENGHILANG RASA AMAN
Dunia seolah berhenti berputar tepat di depan mata Yasmin. Dadanya bergemuruh hebat, bukan karena lelah setelah prosesi panjang yang baru saja usai, melainkan karena kenyataan pahit yang baru saja menghantamnya. Ia tak pernah menyangka bahwa sosok "permintaan" Pak Tomi—laki-laki yang pernah dibicarakan dengan nada penuh ketegangan itu—ternyata adalah Tama. Kakak kandung Arya.
Laki-laki yang seharusnya menjadi orang asing baginya, kini berdiri di dalam lingkaran hidupnya dengan cara yang paling tidak masuk akal.
Dengan napas yang masih tersengal kecil, Yasmin membalikkan badan, mencoba mengabaikan gemuruh di kepalanya. Ia hendak melangkah menuju kamar barunya, kamar yang kini harus ia bagi bersama Arya sebagai sepasang suami istri. Namun, baru satu langkah kakinya berayun, sebuah cekalan yang kokoh namun lembut mendarat di lengannya.
Yasmin tersentak. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena sentuhan itu terasa begitu kuat sekaligus terlarang.
Ia pun menoleh perlahan, dan di sana, Tama berdiri tepat di hadapannya. Pria itu tidak melepaskan genggamannya. Sebaliknya, ia justru menatap Yasmin lekat-lekat dengan seulas senyuman tipis yang sulit diartikan—sebuah senyum yang seolah mengatakan bahwa ia telah memenangkan permainan ini.
"Mau ke mana buru-buru, Yasmin?" bisik Tama pelan, suaranya serak namun penuh penekanan. "Bukankah kita belum benar-benar saling menyapa?"
Yasmin membeku. Di ujung lorong, pintu kamar Arya masih tertutup rapat, namun di sini, di bawah remang lampu koridor, Tama menahannya dengan cara yang membuat jantung Yasmin seolah ingin melompat keluar.
"Aku sudah membayarmu lebih dulu..." Kata Tama pelan, namun penuh penekanan. "... kenapa harus Arya yang..." matanya memandang Yasmin dari atas kepala hingga ujung kaki. "... menikmati tubuhmu lebih dulu? Kamu... berhutang padaku."
Yasmin menggeleng. Darahnya seolah tersedot habis dari wajahnya, meninggalkannya dalam pucat yang pasi. Cekalan tangan Tama yang masih menggenggam lengannya terasa seperti besi panas yang mengunci geraknya.
Ketegangan itu memuncak saat suara derap langkah kaki terdengar berirama dari arah tangga. Semakin dekat, semakin nyata. Yasmin tahu betul irama langkah itu—itu adalah Arya.
Bukannya melepaskan atau menjauh, Tama justru menarik tubuh Yasmin dengan sentakan yang tak terduga. Sebuah pelukan paksa yang begitu erat hingga Yasmin merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
Yasmin yang gemetar, mencoba meronta, jemarinya mencengkeram lengan kemeja Tama, namun tenaga pria itu jauh lebih besar. Pelukan itu bukan sebuah perlindungan, melainkan sebuah kurungan yang menyesakkan.
Kemudian, Tama merunduk, mendekatkan bibirnya tepat di telinga Yasmin. Hawa napasnya yang hangat terasa kontras dengan dingin yang merayap di tengkuk Yasmin.
"Kamu harus membayarnya, sayang." bisiknya, suaranya rendah namun penuh penekanan yang tajam, seolah setiap kata adalah belati. "Awas saja kalau sampai Arya tahu."
Yasmin mematung. Ancaman itu berdesis di telinganya tepat saat bayangan Arya muncul di ujung koridor. Yasmin hanya bisa menggeleng lemah dalam dekapan Tama, matanya memanas oleh air mata yang tertahan. Ketakutan itu kini berganti menjadi kengerian yang nyata; ia terjepit di antara dua saudara, di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempatnya bernaung, namun kini terasa seperti penjara bawah tanah yang gelap.
****
"Sayang?"
Suara berat nan lembut itu memecah keheningan koridor yang mencekam. Arya berdiri di sana, beberapa langkah dari ujung tangga, menatap sang istri dengan kening berkerut heran.
Pandangannya langsung tertuju pada Yasmin yang berdiri kaku di ambang pintu kamar mereka. Wanita itu tampak seperti raga tanpa jiwa; wajahnya pias, seputih kapas, dengan kedua tangan yang saling meremas gemetar.
Ia sendirian di sana, mematung dalam sunyi yang ganjil, sementara bayangan Tama sudah menghilang tertelan kegelapan lorong sesaat sebelum Arya menapakkan kaki di lantai itu.
"Kamu kenapa? Kok mukanya pucat sekali? Kamu sakit?" tanya Arya lagi, langkahnya berderap cepat mendekat, penuh kecemasan yang tulus.
Yasmin tersentak hebat. Ia menarik napas pendek yang patah-patah, mencoba menguasai gemuruh di dadanya yang rasanya ingin meledak. Bisikan ancaman Tama tadi masih terngiang jelas di telinganya, seolah pria itu masih berdiri tepat di belakangnya, mengawasi setiap gerakannya.
Saat jemari hangat Arya menyentuh bahunya yang dingin, Yasmin hanya bisa menggeleng lemah. Ia ingin berteriak, ingin menceritakan betapa mengerikannya kakak iparnya sendiri, namun lidahnya mendadak kelu. Ancaman Tama kini telah menjadi jerat yang mencekik lehernya seketika.
"A-aku... aku cuma agak pusing, Mas," dusta Yasmin dengan suara yang nyaris hilang, tak berani menatap mata suaminya yang penuh binar kasih itu.
Arya menyunggingkan senyum tipis, sebuah binar penuh kasih yang seharusnya menenangkan, namun bagi Yasmin terasa seperti beban yang menghimpit dada.
Dengan gerakan lembut, Arya meraih dagu Yasmin, mengangkat wajah pucat itu agar netra mereka saling bertemu. "Kita belum melewati yang satu ini, Sayang," bisiknya lembut, suaranya rendah dan serak, namun menyiratkan kebahagiaan seorang pengantin baru yang akhirnya memiliki waktu berdua.
Ya, seharusnya ini menjadi momen yang paling membahagiakan. Namun bagi Yasmin, seketika dunia di sekelilingnya seolah runtuh. Sentuhan lembut Arya yang penuh kasih justru terasa menyengat kulitnya, bukan karena ia tak mencintai suaminya, melainkan karena bayangan Tama masih bergelayut mengerikan di pelupuk matanya.
****