Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Rumah di Ujung Arus
Jip tua Hael menderu membelah kabut tebal yang menyelimuti pinggiran kota. Jalanan aspal perlahan berubah menjadi jalan setapak berbatu yang licin karena lumut dan embun. Di sebelah kanan mereka, aliran sungai besar terdengar menderu, suaranya seperti bisikan ribuan rahasia yang ingin ditenggelamkan. Hael tetap membisu, jemarinya mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara Sora menatap nanar ke arah kegelapan di depan.
"Itu dia," bisik Sora saat matanya menangkap bayangan bangunan tua yang nyaris roboh di ujung jalan.
Bangunan itu dulunya adalah bengkel jam kakek Liora—sebuah struktur kayu dan batu yang kini tampak seperti kerangka raksasa yang meranggas. Mercusuar kecil di dekatnya sudah lama mati, namun puncaknya tetap berdiri angkuh menantang langit malam. Hael menghentikan mobilnya beberapa meter dari bangunan itu.
"Kamu yakin dia di sini?" tanya Hael. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara arus sungai.
Sora mengangguk pelan. "Dia pernah bilang, jika panggung balet tidak lagi menginginkannya, dia ingin kembali ke tempat di mana waktu kakeknya berhenti. Tempat di mana tidak ada penonton, tidak ada tepuk tangan, hanya ada suara air."
Mereka turun dari mobil. Udara di sini jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Sora menyalakan senter besarnya, cahayanya membelah kegelapan dan mendarat pada pintu kayu yang sudah miring. Di sana, di depan teras yang rapuh, tergeletak sebuah kruk logam.
Sora tersentak. "Liora!"
Ia berlari masuk, mengabaikan teriakan peringatan dari Hael tentang lantai kayu yang sudah lapuk. Di dalam, bau kayu busuk dan debu menyesakkan dada. Ribuan bangkai jam dinding yang sudah berkarat bergantung di sana, menciptakan pemandangan yang mengerikan—seperti pemakaman bagi waktu yang telah lewat.
Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap langsung ke sungai yang meluap, seorang wanita terduduk di lantai. Gaun gadingnya kini kotor oleh debu, dan rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini terurai berantakan menutupi wajahnya. Liora Thalassa tidak menangis. Ia hanya menatap kosong ke arah aliran air di bawah sana.
"Liora, hentikan!" Sora berseru, napasnya tersengal.
Liora menoleh perlahan. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya senter Sora. "Sora? Kenapa kamu yang datang? Kenapa bukan Ezra?"
Sora melangkah mendekat dengan hati-hati. "Ezra sedang dalam perjalanan pulang, Liora. Dia sangat mencemaskanmu. Tolong, menjauhlah dari jendela itu."
Liora tertawa kecil, suara tawa yang terdengar pecah dan hampa. "Dia mencemaskanku? Atau dia mencemaskan 'ide' tentang aku sebagai primadonanya? Kakiku sudah hancur, Sora. Dokter di Paris bilang aku mungkin bisa berjalan, tapi aku tidak akan pernah bisa menari di atas ujung jari kakiku lagi. Bagi Ezra, aku adalah musik yang sudah sumbang. Dia hanya belum menyadarinya."
Hael berdiri di ambang pintu, memperhatikan drama itu dengan tangan bersilang di dada. "Jadi ini alasanmu? Melarikan diri ke sini agar pria itu merasa bersalah seumur hidupnya?"
Liora menatap Hael dengan tajam. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehilangan, Tuan Antik."
"Aku tahu segalanya tentang kehilangan," balas Hael dingin. "Aku menghabiskan hidupku mengoleksi benda-benda milik orang mati. Dan aku tahu bedanya benda yang rusak karena usia, dengan manusia yang merusak dirinya sendiri karena ego."
Sora berlutut di samping Liora, mengabaikan ketegangan antara Hael dan wanita itu. Ia memegang tangan Liora yang sedingin es. "Liora, dengarkan aku. Kamu bukan sekadar penari. Kamu manusia. Ezra mencintaimu—dengan cara yang menyakitkan bagiku, ya—tapi dia benar-benar mencintaimu. Jangan biarkan malam ini menjadi akhir yang tragis hanya karena kamu takut menghadapi masa depan tanpa panggung."
Liora menatap Sora, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kenapa kamu menyelamatkanku, Sora? Aku sudah mengambil semua waktunya darimu. Aku sudah membuatmu menjadi bayangan selama bertahun-tahun. Bukankah seharusnya kamu membiarkanku jatuh?"
Sora terdiam sejenak. Ia teringat koin yang terjepit di retakan beton di puncak bukit. Ia teringat tatapan Hael yang menginginkannya menjadi nakhoda bagi dirinya sendiri.
"Karena jika aku membiarkanmu jatuh, aku akan selamanya terikat pada rasa bersalah," ucap Sora dengan suara yang kini stabil. "Aku menyelamatkanmu agar aku bisa benar-benar melepaskan Ezra. Agar saat dia kembali nanti, aku bisa menatap matanya dan berkata bahwa tugas jangkarku sudah selesai. Aku tidak ingin memilikinya karena dia merasa berhutang budi atau berduka atasmu. Aku ingin bebas, Liora."
Liora terpaku mendengar kejujuran itu. Ia perlahan meraih tangan Sora, membiarkan Sora membantunya berdiri. Di luar, suara mesin mobil lain terdengar mendekat dengan terburu-buru. Lampu sorot mobil itu menyilaukan ruangan yang gelap.
Ezra telah tiba. Lebih cepat dari yang diperkirakan.
Hael mendengus, ia menatap Sora dengan pandangan yang sulit diartikan. "Panggung utama sudah siap, Sora. Sang pangeran sudah datang untuk menjemput putrinya yang hilang."
Sora menarik napas panjang. Inilah momen yang dikatakan Hael. Momen di mana ia harus memutuskan: tetap menjadi bagian dari cerita mereka, atau berjalan keluar dan memulai ceritanya sendiri.