NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pizza Keju Penyemangat

Rapat dewan komisaris tadi benar-benar menguras energi. Jika bukan karena Nathaniel yang sesekali memberikan kode lewat dehaman atau catatan kecil di pinggir berkasnya, Alessia yakin ia sudah terpaku saat Komisaris Kim mempertanyakan efisiensi biaya renovasi.

"Terima kasih, Kak. Aku benar-benar harus banyak belajar lagi," kata Alessia tulus saat mereka melangkah keluar dari ruang rapat yang dingin itu.

Nathaniel hanya mengangguk singkat, raut wajahnya masih menunjukkan profesionalisme tingkat tinggi meski ia sendiri pasti merasa lelah. "Kau melakukannya dengan cukup baik untuk pemula. Sekarang, aku akan memfotokopi dokumen final ini dulu," sahutnya dengan nada yang sedikit lunglai, lalu melangkah menuju area cetak di ujung koridor.

Alessia menghela napas panjang, bahunya merosot saat ia berjalan melewati meja para staf administrasi. Wajahnya yang memerah karena gugup tadi kini tampak pucat karena kelelahan.

Seorang staf senior yang sedang merapikan berkas menyadari ekspresi sang putri mahkota. "Ms. Alessia... Anda tampak sangat lelah. Mau saya buatkan kopi? Atau mungkin teh hangat?" tawar staf itu dengan ramah.

Mata Alessia berbinar seketika. "Apakah boleh? Ah, itu akan sangat membantu..." jawabnya dengan tatapan lelah yang memelas.

Namun, baru saja staf itu hendak beranjak, Alessia tiba-tiba teringat sesuatu. Wajahnya mendadak panik, seolah teringat instruksi "militer" dari mentornya selama ini.

"Ah! Tidak, tidak perlu! Tapi aku harus membuat kopiku sendiri!" ucapnya setengah berteriak, teringat kata-kata Nathaniel bahwa seorang pemimpin harus tahu proses terkecil di perusahaannya, termasuk cara menyeduh kopi yang benar agar tidak bergantung pada orang lain.

Tanpa menunggu jawaban staf yang kebingungan itu, Alessia langsung berbalik dan terbirit-birit menuju pantry. Ia tidak ingin Nathaniel kembali dari area fotokopi dan menemukannya sedang bermanja-manja dengan fasilitas kantor.

Di dalam pantry yang sepi, Alessia berdiri di depan mesin kopi otomatis yang tampak sangat canggih. Ia menekan-nekan tombol dengan bingung, sesekali menoleh ke arah pintu, takut sang mentor tiba-tiba muncul dan memberikan "ceramah" tambahan soal kemandirian.

"Ayo, mesin kecil... jangan buat aku malu di depan Kak Nathan," bisiknya pada mesin kopi itu.

Bau aroma keju panggang yang gurih dan daging sapi yang juicy seketika memenuhi indra penciuman Alessia begitu ia melangkah masuk ke ruangannya. Di atas meja tamu, sebuah kotak pizza berukuran besar terbuka lebar, menampakkan lelehan keju yang masih hangat dan melimpah ruah.

Di samping kotak itu, terdapat selembar nota kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan tegas khas seseorang yang terbiasa menulis laporan presisi.

"Makanlah! Ini hadiah karena rapat dengan komisaris hari ini berjalan lancar. Jangan sampai ada sisa." (Nathan)

Alessia tidak bisa menahan senyum lebarnya. Rasa lelah dan kantuknya seolah menguap begitu saja. Tanpa membuang waktu, ia segera mencuci tangannya dan menarik satu potong pizza yang kejunya masih molor panjang.

"Wah... Kak Nathan benar-benar tahu cara menyuapku setelah sesi omelan di mobil tadi," gumam Alessia sambil mengunyah dengan lahap. Rasa daging sapi yang melimpah berpadu sempurna dengan saus tomat yang kaya rasa.

Sambil asyik menikmati potongan kedua, mata Alessia celingak-celinguk menatap ke arah pintu dan kaca pembatas ruangannya. Ia berharap sosok jangkung dengan jas hitam itu akan muncul, bersandar di bingkai pintu, dan memintanya untuk berbagi. Ia ingin sekali makan pizza lezat ini bersama Nathaniel sambil menertawakan wajah tegang Komisaris Kim tadi.

Namun, ruangan di luarnya tampak sibuk. Nathaniel tidak ada di mejanya. Sepertinya pria itu benar-benar langsung terjun ke lapangan untuk mengawasi tahap akhir renovasi lounge VIP agar tidak ada kesalahan sekecil apa pun.

Alessia menghela napas kecil, ada rasa sepi yang tiba-tiba merayap di tengah kelezatan pizzanya. Ia meraih ponselnya, mengambil foto potongan pizza yang tinggal setengah, lalu mengirimkannya ke nomor Nathaniel.

[Alessia]: Pizzanya enak banget! Makasih Kak Mentor yang galak tapi baik hati. Jangan lupa makan juga, jangan cuma jagain marmer aja! :P

Setelah mengirim pesan itu, Alessia kembali makan dengan semangat. Ia tahu, meskipun Nathaniel tidak ada di sisinya saat ini, pizza ini adalah caranya mengatakan bahwa ia bangga pada kemajuan Alessia.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah balasan singkat masuk.

[Nathan]: Fokus habiskan makananmu. Jangan sampai ada remah-remah di atas berkas penting. Aku akan kembali 30 menit lagi untuk mengevaluasi laporan mingguanmu.

Alessia tertawa kecil. "Dasar kaku," bisiknya, namun ia tetap mempercepat kunyahannya karena tidak sabar menunggu pria itu kembali.

———

Tepat tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan Alessia terbuka. Nathaniel melangkah masuk dengan presisi waktu yang nyaris menakutkan. Jika ada penghargaan untuk pria paling tepat janji sedunia, Nathaniel pasti akan berdiri di podium pertama tanpa saingan.

Ia tidak langsung duduk, melainkan berdiri di sisi meja dengan tangan terlipat di depan dada, menanti tugas rutin mereka. "Laporan mingguan, Nona Sinclair. Aku perlu meninjau progres vendor lifestyle sebelum kita mengirimkannya ke Ayahmu," ucapnya dengan nada profesional yang tak tergoyahkan.

Alessia, yang masih asyik dengan potongan pizza terakhir di tangannya, segera meraih map laporan dengan tangan kirinya. Ia menyodorkannya pada Nathaniel sambil terus mengunyah dengan pipi yang menggembung lucu.

Nathaniel menerima map itu, namun matanya tidak langsung tertuju pada deretan angka di sana. Ia justru menghela napas panjang melihat noda saus dan lelehan keju yang tertinggal di sudut bibir Alessia. Tanpa berkata apa-apa, ia dengan sigap menyodorkan selembar tisu tepat di depan wajah Alessia.

"Bersihkan itu. Kamu masih bayikah? Makan seberantakan itu di ruang kerja," kata Nathaniel, suaranya terdengar datar namun ada nada geli yang tertahan di sana.

Alessia menerima tisu itu dengan cengiran lebar, mengusap mulutnya dengan asal. "Kak! Ini karena aku bahagia banget! Sudah lama sekali aku tidak makan pizza karena diet ketat yang disarankan tim branding," ungkap Alessia dengan nada dramatis.

"Pizza ini rasanya seperti surga setelah berbulan-bulan makan salad."

Nathaniel menarik kursi dan duduk di hadapan Alessia, akhirnya mulai membuka lembar demi lembar laporan mingguan itu. "Diet itu untuk kesehatan, bukan untuk menyiksa diri. Jika kamu terlalu lelah karena kurang nutrisi, otakmu tidak akan bisa berpikir jernih di depan para komisaris."

Ia berhenti sejenak pada halaman kedua, lalu melirik Alessia dari balik dokumen. "Tapi jangan jadikan ini alasan untuk makan pizza setiap hari. Cukup sebagai hadiah atas keberhasilan hari ini saja."

Alessia mengangguk-angguk patuh, merasa hangat bukan karena suhu pizza, melainkan karena perhatian kecil dari mentornya itu. "Siap, Mentor! Jadi, bagaimana laporanku? Ada yang perlu direvisi lagi sebelum aku kirim ke Ayah?"

Nathaniel kembali menekuni kertas di tangannya, sesekali menandai beberapa poin dengan pulpen peraknya. Keheningan di ruangan itu terasa nyaman, jauh berbeda dengan ketegangan saat bersama Noah atau para komisaris tadi. Di sini, di ruang kerja yang mulai temaram oleh senja Seoul, hanya ada mereka berdua dan aroma pizza yang tersisa.

Nathaniel mengangguk pelan, matanya masih menatap layar tablet tempat ia memeriksa draf akhir laporan mingguan tersebut.

"Ini sudah cukup baik, poin-poin keberatan komisaris tadi sudah terakomodasi dengan rapi. Aku akan segera mengirimkannya pada Tuan William sekarang juga," kata Nathaniel dengan nada puas yang jarang ia tunjukkan.

Alessia menyesap sisa kopi buatannya sendiri, lalu teringat sesuatu. "Oh iya Kak, tadi waktu makan siang Noah bilang kalau dia sudah mengirim surel tentang detail desain showroom dan beberapa aksen interiornya ke alamat email Kakak. Katanya agar Kakak bisa tinjau dulu teknisnya. Tolong forward ke aku ya, aku penasaran ingin lihat visualisasinya."

Mendengar nama Noah kembali disebut, gerakan jari Nathaniel di atas layar seketika terhenti. Ada jeda sesaat sebelum ia menghela napas pendek. Ia teringat notifikasi yang masuk ke ponselnya beberapa saat lalu, sebuah email dengan subjek formal namun dikirim oleh pria yang menurutnya terlalu "berisik" itu.

"Sudah masuk. Aku sudah membacanya sekilas," jawab Nathaniel dingin. Ia membuka aplikasi email di tabletnya, jarinya bergerak dengan ketegasan yang berlebihan saat menekan tombol forward.

"Tolong perhatikan bagian material pencahayaannya, Alessia. Seperti yang aku katakan di Jeju, jangan sampai estetika yang dia tawarkan justru mengorbankan kenyamanan pengunjung mall kita. Jangan hanya melihat karena desainnya terlihat 'keren' atau 'modern' di mata teman kuliahmu."

Alessia terkekeh melihat wajah serius mentornya. "Iya, Kak Mentor. Aku akan mempelajarinya dengan sangat teliti, janji! Aku tidak akan membiarkan Noah menang begitu saja kalau soal kualitas."

Nathaniel akhirnya mengirimkan email tersebut. "Sudah terkirim. Segera periksa, dan jangan lupa beri catatan jika ada yang menurutmu tidak sesuai dengan standar Sinclair. Aku tidak ingin kita memberikan persetujuan hanya karena rasa sungkan sebagai teman lama."

Nathaniel berdiri, merapikan kursinya, dan bersiap untuk kembali ke divisinya sendiri. Namun, sebelum melangkah keluar, ia menoleh sebentar.

"Dan satu lagi... cuci tanganmu sebelum menyentuh tablet atau laptop. Aku tidak mau ada noda minyak pizza di perangkat kerjamu."

Alessia hanya bisa tertawa sambil melambaikan tangannya yang memang masih sedikit berminyak. "Siap, Kak! Dasar super teliti!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!