NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Ranting Patah di Hutan Hitam

​Matahari baru saja merangkak naik seukuran sepenggalah, namun udara di pelataran luar Sekte Langit Berkabut sama sekali tidak menghangat. Sinar mentari yang pucat itu seperti kehilangan taringnya saat menyentuh lautan salju.

​Di depan gudang perbekalan murid pelayan, belasan pemuda berpakaian rami abu-abu berdiri menggigil sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Napas mereka mengepulkan asap putih ke udara. Di depan mereka, Mandor Zhao—pria paruh baya dengan bekas luka melintang di pipi kirinya—berdiri dengan wajah masam.

​"Kosong," ucap Mandor Zhao, suaranya terdengar seperti besi berkarat yang bergesekan. Ia menendang keranjang bambu raksasa yang terguling di dekat kakinya. Hanya ada serpihan kulit kayu dan debu di dalamnya. "Diakon Ma memerintahkan seluruh persediaan kayu bakar kualitas menengah ditarik ke Paviliun Anggrek milik Tuan Muda Lin pagi ini. Katanya, tubuh Tuan Muda Lin yang baru menerobos Lapisan Kelima tidak boleh tersentuh angin dingin."

​Sebuah dengusan pelan namun penuh kepahitan terdengar dari barisan murid pelayan. Li Mu, yang berdiri tepat di sebelah Shen Yuan, menggertakkan giginya.

​"Tidak boleh tersentuh angin dingin? Dia kultivator Lapisan Kelima atau kembang tahu?" bisik Li Mu sinis. "Lalu bagaimana dengan kita? Malam ini suhu akan turun lagi. Tanpa kayu bakar, separuh dari kita akan mati membeku sebelum ayam berkokok besok pagi!"

​Mandor Zhao menatap tajam ke arah Li Mu, membuat pemuda berwajah kuda itu langsung menunduk bungkam.

​"Dunia ini tidak memedulikan rengekanmu, Li Mu," tegur Mandor Zhao dingin, mengulang hukum tak tertulis yang sudah merasuk ke sumsum tulang setiap penghuni sekte. "Jika tidak ada kayu, maka cari. Hutan Pinus Hitam di belakang Puncak Pedang Patah masih memiliki banyak kayu liar. Siapa yang bersedia pergi mengambilnya?"

​Keheningan seketika menyergap pelataran itu. Bahkan hembusan angin pun terasa menahan napas.

​Hutan Pinus Hitam bukanlah taman belakang rumah. Di musim dingin, salju di sana bisa setinggi dada manusia. Belum lagi ancaman Binatang Buas tingkat rendah yang kelaparan turun dari puncak gunung untuk mencari mangsa. Bagi murid pelayan di Lapisan Pertama hingga Ketiga Kondensasi Qi, memasuki hutan itu saat badai salju sama saja dengan mengetuk pintu gerbang neraka.

​Mandor Zhao mendesah kasar. Ia tahu perintah ini hampir seperti hukuman mati, namun ia hanyalah pion di bawah kekuasaan Diakon Ma. "Jika tidak ada yang per—"

​"Aku akan pergi, Mandor Zhao."

​Suara yang tenang dan datar itu memotong kalimat sang mandor. Semua kepala serentak menoleh. Li Mu menatap horor ke arah pemuda di sebelahnya.

​Shen Yuan melangkah maju, memisahkan diri dari barisan. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, tidak juga pahlawan yang sok gagah berani. Ekspresinya sama kakunya dengan lantai pualam di bawah kaki mereka.

​"Kau, Shen Yuan?" Alis Mandor Zhao bertaut. Ia mengenal pemuda ini. Rajin, penurut, tapi bakatnya seburuk kayu busuk. Tiga tahun mandek di Lapisan Ketiga. "Ini bukan tugas menyapu daun kering. Jika kau mati di sana, Sekte tidak akan membelikanmu peti mati."

​"Aku mengerti," jawab Shen Yuan seraya membungkuk hormat. "Namun jika tidak ada kayu bakar, kita semua akan kedinginan malam ini. Aku hanya mencoba berguna bagi sekte."

​Kalimat itu terdengar sangat rendah hati, sangat pas dengan citra 'Bocah Shen yang penurut dan tidak berbahaya'. Tidak ada yang tahu bahwa di balik tatapan menunduk itu, benak Shen Yuan sedang menghitung peluang. Ia butuh tempat sepi yang jauh dari pengawasan para Diakon untuk menguji kekuatannya. Hutan Pinus Hitam adalah panggung yang sempurna, dan alasan mencari kayu bakar adalah kedok yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

​Mandor Zhao terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada sebersit rasa iba di matanya, namun tertutupi oleh kerasnya realita. "Ambil kapak dan kereta dorong di belakang gudang. Ingat, jangan masuk lebih dalam dari batas batu merah."

​"Terima kasih, Mandor."

​Dua batang dupa kemudian, Shen Yuan sudah berdiri di perbatasan Hutan Pinus Hitam. Hutan itu tampak seperti mulut raksasa yang bersiap menelan apa pun yang berani melangkah masuk. Pohon-pohon pinus berdaun gelap menjulang tinggi, dahan-dahannya merintih ditiup angin.

​Shen Yuan menarik napas panjang. Begitu ia melewati batas pandangan sekte, postur tubuhnya perlahan berubah. Punggungnya yang tadinya sedikit membungkuk kini tegak lurus. Langkahnya yang berat dan terseret di atas salju, tiba-tiba menjadi sangat ringan, nyaris tidak meninggalkan jejak yang dalam.

​Ia menutup matanya dan melepaskan kendali Kitab Penelan Surga yang sejak semalam menekan auranya.

​Wush!

​Gelombang udara di sekitarnya tersibak pelan. Qi murni berpusar di sekitar tubuhnya, menghangatkan aliran darahnya. Di Lapisan Kelima Kondensasi Qi, otot-ototnya terasa dipenuhi tenaga yang setara dengan sepuluh ekor banteng dewasa. Pendengarannya menajam; ia bisa mendengar suara ranting patah di kejauhan, kepakan sayap burung gagak salju, hingga gemericik mata air yang mengalir di bawah lapisan es tebal.

​Shen Yuan mencengkeram gagang kapak besinya. Kapak seberat dua puluh kati (sekitar 10 kilogram) itu kini terasa seringan sebatang ranting bambu di tangannya.

​Ia berjalan mendekati sebuah pohon pinus mati yang batangnya sebesar pelukan orang dewasa. Tanpa mengambil ancang-ancang kuda-kuda, Shen Yuan hanya mengayunkan kapaknya dengan santai ke arah batang pohon tersebut.

​BRAK!

​Pohon pinus raksasa itu bergetar hebat. Kapak basi yang biasanya hanya bisa menggores kulit kayu keras itu, kini menembus lurus hingga ke tengah batang, membelahnya dengan suara derak yang memekakkan telinga.

​Shen Yuan menarik kapaknya dan menatap mata pisaunya. Tidak ada sedikit pun retakan pada besi murah itu. Ia mengontrol tenaganya dengan menutupi mata kapak menggunakan lapisan tipis Qi, sebuah teknik dasar kontrol energi yang baru bisa dilakukan oleh kultivator Lapisan Keempat ke atas.

​"Tenaga fisikku meningkat drastis," gumam Shen Yuan mengevaluasi dirinya sendiri secara objektif. "Tapi, gerakanku penuh celah. Mengayunkan kapak dengan tenaga murni mungkin bisa menebang pohon diam, tapi tidak akan bisa menyentuh ujung baju kultivator yang memiliki Teknik Gerakan (Qinggong)."

​Ia sangat menyadari kelemahannya. Tiga tahun menjadi pelayan, ia hanya diajarkan teknik pernapasan dasar. Ia tidak memiliki Teknik Tinju, Teknik Pedang, apalagi Teknik Gerakan. Jika ia bertarung melawan Lin Feng yang juga berada di Lapisan Kelima namun dibekali ilmu bela diri tingkat menengah dari keluarganya, Shen Yuan tahu ia akan menjadi pihak yang terdesak. Kekuatan mentah tanpa teknik ibarat pedang tajam di tangan balita.

​Tiba-tiba, telinga Shen Yuan menangkap suara gemerisik aneh dari balik semak belukar yang tertutup salju, sekitar dua puluh langkah di arah jam tiga.

​Napasnya tertahan. Suara itu bukan suara angin. Itu adalah suara gesekan sisik kasar yang merayap di atas es.

​Shen Yuan berbalik perlahan, merendahkan pusat gravitasinya, dan menggenggam kapaknya dengan kedua tangan. Dari balik semak berduri, muncullah kepala segitiga seukuran kepalan tangan manusia dewasa. Lidah bercabangnya mendesis, mengumpulkan partikel panas di udara dingin.

​Itu adalah Ular Es Sisik Besi. Binatang Buas tingkat rendah, kekuatannya setara dengan kultivator Lapisan Ketiga. Bagi Shen Yuan di masa lalu, bertemu makhluk ini sama saja dengan bertemu malaikat maut. Sisiknya sekeras pelat baja, dan racun dinginnya bisa membekukan aliran darah dalam hitungan detik.

​Ular itu menatap Shen Yuan dengan pupil vertikal kuningnya. Insting binatangnya merasakan ancaman, namun rasa laparnya jauh lebih mendominasi. Tanpa peringatan, tubuh panjang itu melenting seperti pegas yang dilepaskan. Mulutnya menganga lebar, memamerkan sepasang taring melengkung yang meneteskan bisa berwarna biru pucat, melesat langsung ke arah leher Shen Yuan.

​Kecepatannya mengerikan, menyobek angin dengan suara swush yang tajam.

​Bagi mata kultivator Lapisan Ketiga, serangan itu hanyalah bayangan kabur. Namun, di mata Shen Yuan yang kini didukung oleh indra Lapisan Kelima, lintasan terbang ular itu terlihat sangat jelas, seolah waktu melambat.

​Namun, alih-alih mengayunkan kapaknya untuk membelah ular itu, sebuah pemikiran gila melintas di benak Shen Yuan.

​Kitab Penelan Surga. Jangan meminjam, tapi rampaslah. Bisakah ia merampas energi dari makhluk hidup?

​Shen Yuan melepaskan kapaknya ke atas salju. Ia mengangkat tangan kanannya yang kosong, mengalirkan seluruh energi dari Dantian-nya ke telapak tangan. Benih hitam di dalam perutnya berputar liar, merespons keinginan tuannya.

​Tepat saat taring ular itu tinggal sejengkal dari lehernya, tangan Shen Yuan melesat maju seperti kilat dan mencengkeram leher ular itu dengan sangat presisi.

​HISS!

​Ular itu memberontak ganas, melilitkan ekornya yang bersisik tajam ke lengan Shen Yuan, berusaha meremukkan tulang manusia di genggamannya.

​"Telan," desis Shen Yuan pelan, suaranya sedingin es di sekitarnya.

​Seketika, sebuah gaya isap yang menakutkan meledak dari telapak tangan Shen Yuan. Ular Es Sisik Besi itu membelalakkan matanya yang kuning, seolah merasakan ketakutan primordial yang tak tertandingi.

​Energi sedingin es di dalam tubuh ular itu ditarik keluar secara paksa. Kabut biru mengalir deras dari sisik-sisiknya, menembus pori-pori kulit Shen Yuan, merayap menelusuri meridiannya, dan jatuh ke dalam benih hitam di Dantian-nya.

​Proses itu terjadi kurang dari tiga tarikan napas.

​Tubuh ular yang tadinya kuat dan melilit erat itu mendadak lemas. Sisik-sisik besinya kehilangan warna cerahnya, berubah kusam, lalu rapuh. Ketika Shen Yuan membuka genggamannya, bangkai ular itu jatuh ke atas salju. Tidak ada darah, tidak ada luka luar. Makhluk itu mati karena seluruh esensi kehidupan dan energi spiritualnya telah dikuras habis hingga ke titik nadir.

​Shen Yuan mundur selangkah, menatap telapak tangannya sendiri dengan perasaan campur aduk. Ada rasa takjub yang luar biasa, namun disusul oleh keringat dingin yang mengucur di punggungnya.

​Energi yang baru saja ia hisap terasa sangat murni setelah disaring oleh benih hitam, menambah setetes air ke dalam lautan kekuatan Lapisan Kelimanya. Namun, metode ini terlalu dominan. Terlalu jahat.

​Jika sekte aliran lurus (Ortodoks) melihat kemampuannya merampas nyawa dan energi seperti ini, ia tidak akan diadili sebagai pencuri; ia akan diburu sebagai Iblis dari Aliran Sesat.

​"Kekuatan ini adalah pedang bermata dua," batin Shen Yuan, mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku tidak boleh menggunakannya sembarangan di depan manusia. Tidak sampai aku cukup kuat untuk membungkam langit itu sendiri."

​Ia mengambil napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia menendang bangkai kering ular itu ke dalam tumpukan salju yang dalam, menghilangkan jejak. Kemudian, ia mengambil kapaknya kembali.

​Hari ini tujuannya adalah mencari kayu bakar, dan sekarang saatnya bekerja. Karena untuk menebas kepala musuh-musuhnya di masa depan, Shen Yuan harus memastikan perutnya dan teman-teman sesama pelayannya tetap hangat malam ini.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!