NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah selesai makan, Nathan dan Zira bersiap untuk pergi ke kampus. Zira berencana untuk belajar, sementara Nathan akan mengajar. Sebelum berangkat, Zira bertanya kepada Aryan, "Dek, mau berangkat bareng?" Aryan menjawab, "Boleh, Kak. Pak Yanto lagi sakit katanya." Nathan pun menimpali, "Ya sudah, bareng saja biar sekalian, Yan."

Ketiganya berpamitan kepada keluarga dan Salim sambil mengucapkan salam. Dalam perjalanan, mereka terlebih dahulu mengantarkan Aryan. Setelah tugas itu selesai, Nathan dan Zira melanjutkan perjalanan ke kampus. Saat mendekati tujuan, Zira berkata, "Mas, nanti aku turun di halte dekat kampus saja ya."

Nathan penasaran, "Kenapa memangnya, Dek?"

"Kan semalam aku sudah bilang alasannya ke Mas," jawab Zira.

Nathan mengangguk, "Ya sudah, terserah kamu. Berarti kalau di kampus kita biasa saja gitu?"

"Iya, seperti dulu waktu Mas belum nikah sama aku. Paham kan?" sahut Zira.

Sesampainya di halte, Zira bersalaman dengan Nathan sambil mengucapkan salam dan berkata, "Aku duluan ya, Mas."

Nathan menjawab singkat sambil tersenyum, "Waalaikumsalam."

Namun sebelum Zira sempat melangkah jauh, Nathan menahannya. Terkejut, Zira bertanya, "Ada apa, Mas? Ada yang ketinggalan?"

Tanpa sepatah kata pun, Nathan hanya tersenyum lalu dengan lembut mengecup kening Zira. Wajah Zira seketika memerah karena terkejut atas tindakan itu.

"Ini yang ketinggalan," kata Nathan seolah menjawab pertanyaan sebelumnya. "Kita harus biasakan hal seperti ini agar kita semakin dekat dan saling mengenal," lanjutnya.

Zira tersenyum malu sambil berujar pelan, "Ya sudah Mas, aku pergi dulu ya."

Ia pun melangkah pergi meninggalkan Nathan yang masih berdiri di halte dengan senyum hangat di wajahnya.

Zira berjalan ke kelas dengan santai, tapi tiba-tiba disambut oleh dua sahabatnya, Aliya dan Zita. "Cie elahh pengantin baru sudah berangkat aja gak honeymoon dulu zir," ucap Aliya dengan nada menggoda. Zira langsung kaget dan menoleh ke kanan kiri, takut ada yang mendengar.

"Suttt, diam takut ada yang dengar ya," ucap Zira dengan nada bisik. Aliya dan Zita terlihat penasaran, "Emang kenapa kalau ada yang denger zir?," tanya Zita.

Zira mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Gue lupa cerita sama kalian, aku dan Pa Nathan sepakat untuk menyembunyikan status kita waktu di kampus." Aliya langsung menanggapi, "Kayaknya Lo aja deh yang pengin di sembunyikan status pernikahan kalian yah kan?"

Zira tersenyum, "Iyah emang gue, kalian tau kan gimana fans fanatiknya Mas Nathan." Keceplosan Zira memanggil Nathan dengan sebutan "Mas" membuat Aliya dan Zita tersenyum.

"Khemm, sudah panggil mas aja nih," canda Aliya. Zita yang mendengar itu ikut tersenyum. Mereka bertiga kemudian duduk di bangku masing-masing, menunggu dosennya datang, yang tak lain adalah Pa Nathan.

Situasi di kelas menjadi lebih santai, tapi Zira masih sedikit khawatir tentang rahasia pernikahannya dengan Nathan.

Nathan memasuki kelas dengan percaya diri, senyum ramah menghiasi wajahnya. "Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan membahas tentang...," ucapnya sambil menulis topik di papan tulis.

Zira dan teman-temannya langsung fokus, mata mereka tertuju pada Nathan yang sedang menjelaskan materi dengan sangat baik. Suara Nathan yang lembut dan jelas membuat mereka semua tertarik.

"Jadi, apakah ada pertanyaan?" tanya Nathan, sambil memandang sekeliling kelas. Zira dan teman-temannya langsung diam, takut bertanya. Nathan tersenyum, "Tidak ada? Baiklah, mari kita lanjutkan..."

Kelas berjalan lancar, Nathan menjelaskan materi dengan sangat baik. Zira dan teman-temannya semakin fokus, mereka semua ingin memahami materi yang disampaikan.

Pelajaran akhirnya selesai, membuat Zira dan teman-temannya berencana untuk pergi ke kantin sebelum kembali ke tempat masing-masing. Namun, sebelum mereka sempat melangkah jauh, Nathan memanggil Zira dengan suara lembut penuh perhatian, memberikan sebuah pesan sederhana, "Dek, jangan lupa makan ya." Mendengar itu, Zira pun mengangguk pelan sebagai tanda ia mendengar, meskipun rasa malunya mulai tumbuh. Tidak jauh di sana, Aliya dan Zita memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu. Ia sudah bisa menduga bahwa kejadian ini akan segera menjadi bahan candaan di antara mereka.

Dengan cepat mencoba mengakhiri momen yang terasa canggung itu, Nathan berkata lagi sambil bersiap-siap beranjak pergi. "Yaudah, Mas ke kantor dulu, Assalamualaikum." Zira hanya mampu menjawab dengan nada sedikit gugup, "Waalaikumsalam."

Tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menggoda, Zita dengan nada bercanda berujar, "Dek gak tuh!" sambil tertawa keras, diikuti oleh Aliya yang tak kalah heboh. Zira hanya tersenyum canggung namun tetap melangkah bersama mereka sambil menuju ke kantin untuk menikmati waktu santai bersama.

Zira hanya tersenyum dan menggigit bibirnya, merasa sedikit malu dengan candaan Zita dan Aliya. "Hush, diam aja kalian," ucap Zira dengan nada bisik, sambil menepuk-nepuk bahu Zita.

Aliya dan Zita terus tertawa, "Hmm, kayaknya ada yang lagi jatuh cinta deh," canda Aliya, sambil mengelipkan mata. Zira hanya menggelakkan kepala, "Gak usah sok tau deh."

Mereka bertiga akhirnya sampai di kantin, memilih tempat duduk yang nyaman. "Mau makan apa, zir?" tanya Zita, sambil membuka menu makanan. Zira memesan makanan favoritnya, "Nasi goreng aja, please."

Aliya dan Zita memesan makanan yang sama, "Tiga nasi goreng, please," ucap Aliya kepada pelayan kantin. Mereka bertiga kemudian menunggu makanan sambil mengobrol tentang kegiatan kampus.

Mereka sedang asyik menikmati makanan di kampus, suasana santai tersebut tiba-tiba terpecahkan dengan kehadiran Rafa yang menghampiri mereka dan berkata, "Ayo, kita pergi ke kafe setelah pulang dari kampus. Jarang-jarang kan kita punya waktu buat kumpul bareng seperti ini." Ajakan Rafa disambut oleh Zita, yang tampak antusias. "Benar juga apa yang Rafa bilang, selama ini kita terlalu sibuk dengan mata kuliah sampai-sampai lupa buat refreshing. Eh, Zira, kamu ikut gak?" tanya Zita, sembari melirik ke arah temannya.

Zira berpikir sejenak sebelum menjawab dengan ragu, "Nanti aku coba izin dulu deh. Tapi gak tahu nih boleh apa gak." Sontak Rafa menimpali dengan nada penasaran, "Ah, bukannya mama Sarah biasanya selalu ngizinin kamu buat main, kan?" Zira menggeleng pelan sambil menjelaskan, "Gak selalu sih, tergantung mood-nya aja." Namun sebenarnya, dalam hati Zira ia berencana untuk meminta izin dari suaminya terlebih dahulu sebelum memutuskan.

Di tengah-tengah obrolan mereka, Zira membuka ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk suaminya. Ia mengirim chat dengan santun, "Assalamualaikum Mas. Hari ini aku pulang kampus rencananya mau mampir ke kafe dulu bareng Aliya, Zita, dan Rafa." Setelah pesan dikirim, Zira menunggu dengan sabar. Namun, sesaat melihat layar ponselnya, ia hanya menemukan tanda centang dua abu-abu di sebelah pesan tersebut – tanda bahwa pesannya belum terbaca.

Melihat reaksi Zira yang tampak sedikit gugup, Rafa pun bertanya, "Gimana, Zira? Mama Sarah sudah balas belum?" Zira mengembuskan napas pelan sambil menjawab, "Sabar dulu lah, Raf. Kayaknya Tante Sarah pasti lagi sibuk kerja atau ada urusan lain kan di rumah." Tidak ingin tinggal diam, Zita mencoba memberikan komentar untuk menghibur suasana. "Iya benar, jangan buru-buru. Nah, jangan ganggu deh kalau pasti lagi ada hal penting."

Aliya yang duduk dekat Zira tiba-tiba berbisik pelan kepadanya, "Kayaknya Mas Nathan lagi sibuk banget deh sekarang. Dia tumben lama banget balesnya." Zira mengangguk pelan sambil tetap menatap layar ponselnya. Meski merasa cemas menunggu jawabannya, ia berusaha tetap tenang sembari bercengkrama dengan teman-temannya yang terus berbagi cerita ringan.

Zira mulai menyadari perubahan dalam kehidupannya. Jika dulu ia bisa pergi ke mana saja tanpa harus meminta izin terlebih dahulu, hanya sekadar memberi tahu Mama Sarah jika perginya cukup jauh, kini setelah menikah, ia harus meminta izin ke suaminya setiap kali ingin pergi ke suatu tempat.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!