Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Hadiah di balik pintu terkunci
Suasana ruang makan yang formal baru saja mencair saat Tuan Adiguna dan Nyonya Widya memutuskan untuk menikmati teh di paviliun taman, membiarkan "putra" mereka mengantar sang "cucu" kembali ke kamar untuk beristirahat.
Begitu kaki mereka menapak di lantai dua yang sunyi, Bram tidak lagi menjaga jarak sopan.
Ia merapatkan tubuh Aluna ke sampingnya, tangan besarnya mendekap pinggang gadis itu, menuntun langkah Aluna yang masih terasa goyah dan perih.
Begitu pintu kamar Aluna tertutup, bunyi klik kunci yang beradu terdengar seperti dentang lonceng yang menandai dimulainya zona terlarang.
Atmosfer ruangan seketika berubah; oksigen seolah memuai, digantikan oleh aroma maskulin Bram yang mendominasi dan aroma vanila dari kulit Aluna yang menguar akibat keringat dingin.
Bram tidak membiarkan Aluna menjauh. Ia justru mendorong punggung gadis itu hingga membentur daun pintu yang kokoh.
"Kau luar biasa di bawah sana, Aluna," bisik Bram, suaranya rendah dan serak, tepat di depan bibir Aluna.
"Cara kau merajuk tentang Clara... cara kau memojokkanku di depan Ayah... itu sangat cerdas."
Aluna mendongak, napasnya memburu. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan agar kita aman, Daddy."
Bram terkekeh rendah, sebuah tawa yang sarat akan gairah gelap. Ia mendorong Aluna ke atas ranjang sutranya yang dingin.
Di bawah temaram lampu kamar, kulit Aluna yang putih pucat tampak bersinar, mengundang setiap sentuhan kasar dan posesif dari pria yang kini menindihnya.
Kemeja Bram sudah tersampir entah di mana, memperlihatkan otot punggungnya yang menegang saat ia mulai mencumbu setiap inci tubuh Aluna yang gemetar.
"Hadiahmu, Aluna... ini hadiah untuk sandiwara hebatmu," bisik Bram serak, napasnya memburu di ceruk leher Aluna.
Gairah yang tersulut sejak di meja makan tadi meledak tanpa ampun. Aluna mengerang rendah, jemarinya mencengkeram sprei hingga kusut saat Bram menyatukan tubuh mereka.
Rasa perih yang tersisa dari semalam seolah tertelan oleh gelombang panas yang baru. Penyatuan itu terasa begitu intens, seolah mereka sedang mencoba saling melenyapkan satu sama lain dalam kegilaan yang terlarang ini.
Namun, baru saja irama mereka mulai menyatu dalam sinkronisasi yang panas, sebuah suara dari lantai bawah menghantam mereka seperti petir di siang bolong.
"Hahaha! Kau benar, Clara! Aluna pasti akan sangat senang melihat buah ceri yang kau bawa ini!"
Suara tawa Nyonya Widya yang riang menggema melalui celah pintu, disusul oleh suara berat Tuan Adiguna dan nada bicara Clara yang santun.
Mereka sudah kembali dari taman dan kini sedang berkumpul di ruang tengah, tepat di bawah kamar tempat dosa itu sedang berlangsung.
Bram dan Aluna membeku seketika.
Otot-otot tubuh Bram mengeras, jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena gairah, melainkan karena alarm bahaya yang berdering di otaknya.
Ia menatap mata Aluna yang membelalak panik. Posisi mereka saat ini adalah definisi dari kehancuran jika ada yang berani melangkah naik ke atas.
"Bram? Aluna? Apa kalian sudah tidur?" teriak Nyonya Widya dari lantai bawah. "Clara ada di sini membawa buah!"
Bram terpaksa melepaskan penyatuan itu dengan sentakan yang kasar. Ia terduduk di tepi ranjang, menyugar rambutnya dengan frustrasi.
Sebuah erangan rendah dan kasar lolos dari tenggorokannya—erangan penuh gairah yang terputus di tengah jalan dan amarah karena privasinya diusik.
"Sial!" desis Bram pelan, suaranya sarat dengan frustrasi yang menyakitkan.
Ia menoleh pada Aluna yang masih terengah-engah dengan wajah kemerahan dan pakaian yang berantakan.
Bram segera menyambar selimut tebal, membungkus tubuh Aluna hingga ke leher.
"Dengar," bisik Bram sambil mencengkeram bahu Aluna, matanya menatap tajam.
"Pejamkan matamu. Pura-pura tidur sedalam mungkin. Jangan bersuara, jangan bergerak, apa pun yang terjadi jika mereka sampai berteriak memanggilmu dari tangga."
Aluna mengangguk dengan tangan gemetar, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
Ia segera meringkuk, membelakangi pintu dan memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya masih berdetak seperti genderang perang.
Bram dengan cepat memungut kemejanya. Ia mengancingkan pakaiannya dengan gerakan mekanis yang cepat namun rapi, memastikan tidak ada satu pun tanda di tubuhnya yang terlihat.
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel kamar mandi dalam hitungan detik untuk menghilangkan rona panas di wajahnya.
Setelah memastikan semuanya tampak "normal", Bram membuka kunci pintu kamarnya dan keluar menuju koridor. Ia berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah ruang tengah di mana ketiga orang itu sedang menunggu.
"Ibu! Ayah! Clara!" suara Bram terdengar stabil dan dingin, meskipun di dalam hatinya ia ingin sekali mengusir mereka semua.
"Jangan terlalu berisik. Aluna baru saja tertidur. Dia sangat kelelahan."
Clara mendongak, menatap Bram yang berdiri di atas sana. Matanya yang jeli menangkap sedikit kekacauan di sela-sela kemeja Bram yang mungkin dikancingkan terlalu terburu-buru, namun ia tetap tersenyum manis.
"Oh, maafkan kami, Pak Bram. Saya hanya ingin mengantarkan berkas dan sedikit buah untuknya," ujar Clara dengan nada yang sangat sopan.
"Letakkan saja di meja ruang tengah, Clara," sahut Bram tanpa ekspresi. "Aku akan turun sekarang untuk bicara soal berkas itu. Biarkan Aluna istirahat, jangan ada yang naik ke kamarnya."
Bram melangkah menuruni tangga dengan wibawa yang dipaksakan, meninggalkan Aluna yang masih bersembunyi di balik selimut di kamar atas, berjuang untuk menenangkan sisa-sisa gairah dan ketakutan yang nyaris menghancurkan hidupnya.